Ai, ada satu lagi yang tak mungkin kulewatkan dari kegilaanku pada film, yaitu unsur musik latar film itu sendiri. Kesukaanku pada film pun membuatku memperhatikan detail musik yang ikut membangun atmosfir serta emosi sebuah film. Tak aneh bila aku selalu mengoleksi original motion picture and soundtrack dari film-film yang kuanggap bagus serta berkualitas. Sampai ratusan soundtrack film yang kukumpulkan. Baik film luar maupun produksi negeri sendiri.

 

Aku suka musik-musik film garapan James Horner atau John Williams. Soal John Williams, barangkali memiliki tempat tersendiri. Ia dapat disebut sebagai orang yang paling “terdengar” pada seluruh film Star Wars. Dialah komposer dan konduktor yang membuat Star Wars tersimpan dalam memori dengaran penonton. 

Musik Williams dianggap menjadi salah satu penguat karakter film tersebut. Misalnya Death Stars, pesawat sebesar planet yang ditumpangi tokoh bengis Darth Vader itu, melintas dengan penuh wibawa dan penuh ancaman di bawah iringan musik garapan Williams. Suasana berwibawa, dahsyat serta penuh ancaman itu merupakan interpretasi pribadi Williams.

Ia menerjemahkan citra visual dengan suara. Emosi yang ia dapat ia terjemahkan lewat idiom opera abad kesembilan belas. Untuk film yang bermuatan mitologi lintas kultural seperti Star Wars, Williams memilih musik yang berakar dari kultur Barat, semisal gaya opera Wagner. Maka jangan heran jika 41 unggulan Oscar pun pernah ia dapatkan. Lima di antaranya diganjar untuknya. Belum lagi 18 penghargaan Grammy yang pernah mampir padanya. Tak aneh bila Williams menjadi langganan sutradara semacam Steven Spielberg. Memang hampir seluruh film Spielberg digarap Williams dan kebanyakan menjadi film laris, termasuk tiga sekuel Indiana Jones-nya.

 

Sementera di Indonesia, kita tentu punya Idris Sardi, si biola maut itu. Putra Mas Sardi, seorang pelopor perfilman Indonesia yang juga seorang pemusik pertama yang mengkhususkan diri dalam ilustrasi musik sejak film Alang-Alang (1938).

 

Idris Sardi membuat ilustrasi musik pertama kali dalam film Pesta Musik Labana (1960) karya Misbach Yusa Biran. Kali pertama Idris memenangkan Penata Musik Terbaik lewat film Petir Sepanjang Malam (1967) dalam Pekan Apresiasi Film Nasional. Sejak itu ia banyak membuat ilustrasi berbagai film. Apalagi setelah ia kembali menang pada Festival Film Indonesia tahun 1973, Idris mulai kewalahan menerima permintaan sebagai Penata Musik. Tak aneh bila Idris tercatat sebagai orang yang paling banyak menerima penghargaan Piala Citra sepanjang pelaksanaan FFI.

 

Itu mengapa film begitu membiusku sejak usia kanak. Meski sebagai anak yang tinggal di Indonesia. Hingga kegilaanku mengkonsumsi film makin menjadi. Entah itu film di tv maupun yang diputar di bioskop.

 

Kalau suatu hari pacarku mengajak nonton film, sebelum film diputar aku sudah siap-siap mengeluarkan catatan, pulpen serta senter kecil di remangnya gedung bioskop. Ketika film berlangsung, aku selalu mencatat hal-hal menarik dari film yang kutonton. Baik jalan ceritanya, editing, pencahayaan, pengambilan gambar atau apa saja.

 

Giliran pacarku yang melengos kesal demi melihat kebiasaanku. Kalau tangannya sudah mulai merayap merangkul bahu atau mulai genit menyentuh hendak menggenggam tanganku, dengan halus aku selalu menepisnya. Barangkali dalam pikirannya tak lain: mengajak nonton seorang perempuan tak lebih daripada sekadar kencan belaka. Dasar!

 

Bersambung…

 

(Seluruh cerita Epitaph dapat dilihat di: Nukilan).

 

© Daniel Mahendra