Epitaph (13)

Hingga jauh sebelum aku lulus SMA, aku sudah menentukan pilihan dan memohon pada orang tuaku untuk boleh melanjutkan sekolah ke IKJ. Orang tuaku pada dasarnya setuju-setuju saja. Lagi pula memang minatku di sana. 

Saat itu koleksi filmku sudah ratusan banyaknya. Aku begitu sangat tergila-gila pada film. Maka tak terbayang jika aku musti kuliah dengan mengambil disiplin ilmu seperti kebanyakan orang. Mau jadi apa aku nanti? Sementara di satu sisi, kuliah di IKJ, berapa biayanya? Tentu selangit untuk ukuran orang tuaku. Dan hidup di Jakarta? Wow! Sudah kuduka apa yang hendak dikatakan bapak saat itu:

“Ikut UMPTN[22] dulu!” tegasnya.

“Tapi Pak,”

“Ikut UMPTN dulu.”

“Laras pingin kuliah di IKJ, Pak. Laras pingin mendalami film…” aku mulai merajuk.

“Bapak tau, tapi apa salahnya kamu ikut UMPTN.”

“Lalu bagaimana kalau Laras lolos dan kena di PTN[23]…”

“Kamu buktikan dulu …”

“Ya kalo kena berarti Laras nggak jadi kuliah di IKJ dong…”

“Kena atau tidak, itu soal lain. Tapi paling nggak kamu sudah membuktikan kemampuan kamu. Baru kita bahas soal kuliah di IKJ.”

“Janji?” aku mulai girang.

“Kapan Bapak pernah ingkar janji?”

“Yee… Bapak mah suka lupa. Dulu waktu Laras minta dibelikan handycam, Bapak bilang iya nanti dibelikan. Trus Bapak lupa sendiri. Waktu akhirnya Laras nanya lagi, Bapak bilang handycam tanggung, lebih baik kamera film sekalian. Ya kalo itu ‘kan sama aja nggak jadi. Lha kamera film harganya berapa… Lagian ‘kan Laras minta dibelikan  handycam cuma buat belajar doang…”

“Lagian waktu itu kamu cuma sibuk nonton film melulu ketimbang belajar bagaimana pembuatan film itu sendiri.”

“Siapa bilang? Makanya Laras pingin masuk IKJ, Pak…”

“Makanya ikut UMPTN dulu, Laras…”

“Iya deh, iya…”

“Ambil Unpad[24]. Jangan lupa, tahun depan Bapak sudah serah terima. Kita semua pindah lagi ke Bandung. Nggak lucu ‘kan kalau kamu justru kuliah dan tinggal sendiri di Jember[25], sementara kita semua pindah lagi ke Bandung.”

“Iya…”

“Jangan daftar ITB[26].”

“Ha? Napa?”

“Ya kamu ‘kan A3[27].”

“Yee… kalo itu mah nggak usah dikasih tau atuh, Pak. Napa nggak UI[28] aja sekalian.”

“Jangan…”

“Napa?”

“Kamu nggak akan mampu!” jawab bapak terbahak.

“Ihh, Bapak jahat!!” ujarku sewot sembari memukuli lengan bapak yang ngeloyor menjauh.

 

Dan dengan pasrah aku pun ikut mengantri formulir serta mendaftar UMPTN. Tak aneh bila ketika ujian tentu saja kukerjakan dengan ogah-ogahan. Kalau ada soal yang sulit kujawab, bukan main girangnya aku. Semakin banyak soal yang sulit, semakin girang saja rasanya.

 

“Gimana ujiannya?” tanya bapak sepulang aku ujian.

“Sip Pak…”

“Sip gimana?” mama ikut menimpali.

“Sip banget, Ma…!” ujarku mengerling. Bapak hanya melongo.

 

Bersambung…

 

(Seluruh cerita Epitaph dapat dilihat di: Nukilan).

© Daniel Mahendra



[22] Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri.

[23] Perguruan Tinggi Negeri.

[24] Universitas Padjadjaran.

[25] Kabupaten di Propinsi Jawa Timur, luasnya 2.948,5 km2, ibu kotanya Jember.

[26] Institut Teknologi Bandung.

[27] Jurusan Sosial dari pembagian jurusan SMA pada saat itu.

[28] Universitas Indonesia.

This entry was posted in Nukilan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Epitaph (13)

  1. Chandra says:

    Tampilan blog-nya kok jadi kaya koran, Mas?

  2. @ Chandra:
    Ini memang bukan blog, ini koran! :D

  3. dn saya salut pada pendirianmu sobat

  4. Chandra says:

    @ Mas DM :
    Kalo koran pake ditambahin humor-humor kartun gitu dong Mas, biar meriah… :)

  5. @ Achoey sang khilaf:
    Ahoi, Kawan.

    @ Chandra:
    Gitu yah? Hmm-hmm. Ya-ya. Ini sedang mengumpulkan pendapat tentang theme baru ini. Thanx.

  6. windy says:

    yee bikin penasaran nih…pake bersambung segala….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>