Aku begitu terkesima dan terpesona begitu usai membaca kertas keramat itu. Kata-kata yang meluncur deras dan puistis memaksaku untuk terus membaca berulang-ulang. Seperti sebuah nyanyian merdu. Mengerti tidak mengerti isi kertas itu tidaklah jadi soal. Yang jelas kertas keramat itu kudekap erat-erat. Aku mencoba merasakan kehangatanmu lewat kata-kata puitis itu.
Aku merasa hidupku akan semarak. Aku begitu bahagia. Sukar dilukiskan.
Tahukah kamu, Kal, kalau sajakmu selalu kubawa-bawa ke mana pun aku pergi. Di sekolah, di rumah, kusimpan di kantong baju, kubuka, kubaca, lalu kulipat kembali. Aku betul-betul bisa merasakan kehadiranmu lewat sajak itu.
Ya, hanya sebuah sajak. Tak lebih.
Hari-hari berikutnya Haikal malah memilih pulang naik bis kota ketimbang naik motor bersama Bunali seperti biasa. Tinggal Bunali yang mencak-mencak sewot.
“Biar bisa pulang bareng Laras, Li…” alasannya pada Bunali di tempat parkir. “Kamu bawa saja motorku ke mana kamu suka.”
“Nggak biasanya kamu gini sama perempuan!” heran Bunali.
“Alah… udah deh…”
“Kamu serius sama Laras?”
“Yang ini lain, Li…”
“Ke setiap perempuan kamu juga selalu ngomong gitu!”
“Hahaha!! Udah sana pulang…”
Betul saja. Beberapa kali kami terlihat pulang bersama. Malah samasama menyeberang jalan dari pintu gerbang ke halte depan sekolah. Di mana berpuluh mata memandangi kami. Aku betul-betul menikmati kedekatan ini.
“Nah, sekarang gantian kamu yang mbayar karcis bis, Kal. Kemarin ‘kan udah aku. Besok biar aku lagi.” tukasku agar besok bisa pulang naik bis bersama Haikal lagi.
SUASANA DINGIN masih terasa di awal tahun baru. Awal segalanya dimulai kembali.
Remaja Haikal baru saja membongkar ranselnya. Mengeluarkan isinya. Setelah beberapa hari kemarin menikmati udara pegunungan bebas. Menciumi bau Gunung Semeru. Melepaskan segala penat setahun penuh. Menguburnya di sana. Di puncaknya. Lalu menggantungkan ransel kebanggannya itu untuk sementara.
Maka pada satu Januari malam kuputuskan untuk nekat menelponnya kembali. Aku sudah tidak tahan. Aku merasa Haikal sulit dijangkau. Ia punya orbit sendiri. Ia tampak stabil dalam galaksinya. Ia bukan tipe pengejar. Kuinjak-injak apa itu rasa gengsi. Perasaan tanpa prinsip itu. Kalau mau jujur, ya jujurlah. Tak perlu memelihara rasa munafik kalau memang menyukainya. Bagaimana jadinya nanti, itu soal lain. Yang terpenting selami dulu prosesnya. Meski tentu tetap menggunakan segala perhitungan.
“Ya, saya sendiri.” jawabnya di telpon.
“Apa kabar?”
“Baik-baik saja. Dengan siapa saya, oi… kamu! Hai…” tawanya mulai terdengar.
“Lupa ya”
“Nggak-nggak… Di mana ini?”
“Di rumah. Gimana liburan akhir tahunnya? Aku dengar naik gunung ya?”
“He-eh. Kok tau?
“Soal gampang itu…” aku mengulangi lagi.
“Dasar!”
“Rapotnya gimana, Kal?”
“Ya… gitulah. Kamu?”
“Biasa-biasa aja.”
“Liburan ke mana?” ganti Haikal yang bertanya.
“Nggak ke mana-mana. Makannya kangen nih sama temen-temen.”
“Kangennya sama temen-temen doang…” sepertinya noraknya mulai kumat.
“Sama kamu juga kangen!” sudah nggak perlu berbasa-basi, pikirku.
“Ehm, nggak ke mana-mana?”
“Kan sudah kubilang enggak.”
“Maksudnya malam ini…”
“Enggak, napa emang?”
“Boleh main ke rumah?”
“Nggak salah denger aku? Sudah enam bulan kenal kok tiba-tiba pingin ke rumahku?”
“Mungkin momentumnya memang malam ini.” ujarnya terdengar lebih norak.
Haiyah! Pake momentum segala, batinku dalam hati. “Ya udah, dateng aja.” nggak sabar juga aku.
“Nomor dua, ‘kan?”
“He-eh. Pokoknya pagernya warna item.”
“Oke.”
Tak berapa lama Haikal sudah membuka pager warna hitam rumahku. Ketika kakinya mulai melangkah menaiki teras rumah, aku menyembul dengan senyum mengembang.
Tak perlulah diceritakan di sini ketika kami duduk berdua di sofa ruang tamu. Nanti kalian iri mendengarnya. Yang jelas malam ini aku bahagia sekali. Romantis! Barangkali orang-orang yang lewat rumahku akan melirik iri. Kalau diperbolehkan pasti meminta barang secuil kegembiraan kami.
Bersambung…
(Seluruh cerita Epitaph dapat dilihat di: Nukilan).
© Daniel Mahendra




oh….masuk pagar ya? atau hanya di luar pagar? hihihi