Ayu Utami dan Bilangan Fu
Novelis Ayu Utami akan menerbitkan karya sastra baru pada akhir Juni 2008. Diberi judul “Bilangan Fu”, novel ini mengisahkan petualangan tiga anak muda yang memburu nilai-nilai spiritualisme. Nukilan bagian awal novel ini sudah bisa dipetik dari http://www.penerbit-kpg.com/bonus/bf.pdf.
Di sini dikisahkan sepak terjang Yuda, seorang pemanjat tebing dan petaruh yang melecehkan nilai-nilai masyarakat. Parang Jati, seorang pemuda berjari duabelas, yang dibentuk oleh ayah angkatnya untuk menanggung duka dunia. Marja, seorang gadis bertubuh kuda teji dan berjiwa matahari. Mereka terlibat dalam segitiga cinta yang lembut, di antara pengalaman-pengalaman keras yang berawal dari kejadian gaib—orang mati yang bangkit dari kubur—menuju penyelamatan perbukitan gamping di selatan Jawa.
Buku ini dijadwalkan beredar 30 Juni 2008 dengan harga resmi Rp55.000. Novel ini dapat dipesan sedari sekarang. Tersedia diskon 20% plus bebas ongkos kirim (DKI) untuk pemesanan sebelum 23 Juni 2008. Buku akan dikirim 30 Juni 2008. Formulir pemesanan ada di bagian belakang http://www.penerbit-kpg.com/bonus/bf.pdf.
Ayu Utami ialah novelis perempuan yang pernah menggemparkan dunia sastra Indonesia dengan novel “Saman” (1998) dan “Larung” (2001). KPG menawarkan paket “Ayu Utami 2+1” senilai Rp100.000. Paket ini berisi sekaligus novel “Saman” (Rp35.000), “Larung” (Rp45.000), dan “Bilangan Fu” (Rp55.000), tapi diberi nilai total Rp100.000 saja. Form pemesanan juga sudah disediakan di http://www.penerbit-kpg.com/bonus/bf.pdf.
Pada 20 Juli 2008 novel ini akan diluncurkan di Taman Ismail Marzuki dalam acara pembacaan penggalan novel oleh Landung Simatupang. Tersedia 50 undangan untuk 50 pemesan pertama novel ini. Untuk info pemesanan lebih jauh, silakan hubungi pesanan@penerbit-kpg.com atau 0815-9080660.
Salam hangat,
Penerbit KPG
Sumber tulisan: kpgbookmania@yahoo.com
Sumber foto: http://www.galeri-nasional.or.id


Saya menunggu terbitnya di Gramedia, bisa membaca sekilas dulu, menarik apa tidaknya.
Entahlah, beberapa kali membeli buku ternyata tak semua sesuai selera, biasanya saya beli jika ada resensinya…jadi bisa melihat apakah menarik atau tidak.
menarik juga rencana peluncurannya, mas daniel. apalagi landung simatupang akan membacakan sebagian novel ayu yang baru. pasti ramai. saya ketemu mas landung sudah amat lama waktu di UGM sekitar tahun 80-an. sayangnya, saya mesti pulkam ke ortu waktu liburan akhir tahun. jadi, nggak bisa mengikuti acara yang menarik itu.
tp klo menurut aku pribadi ya dan… dr semua novelis perempuan di ranah indonesia ini kok ya aku milih ayu utami ya…. kayanya lebih berbobot isi novelnya ga cuma sekedar keriaan doang kaya yg lainnya, pertama kenal ayu baca ttg samannya… wah sempet mainin emosi juga bacanya…. mudah2an novel terbarunya ga jauh beda yaa…
aku udah pesen kemaren.. aku udah pesen kemaren…
weeeeekkkkk…..
aku udah donlot nukilannya… aku udah donlot nukilannya…
@Windy: kamu kena imbas emosi SAMAN? Tentang cinta yang salah ituh?
Ouw, fantas.. fantas.. hehehehe
waduh, kebetulan ni lagi kering bacaan hehehe,
@ endah : dimana donlot nukilannya ?
@ bro daniel : kira – kira gimana penilaian menurut mas daniel dalam skala 1-10 ? biar jadi referensi hehehe
Wah, makin banyak aja “pr” buku yang harus dimiliki dan tentunya dibaca… Soalnya lagi nunggu “Perahu Kertas” nya Dewi Lestari juga. Buku kamu yang terbaru kira-kira bakal terbit kapan Niel? Nunggu aku pulang ya
@ Edratna:
Cara itu pun baik, Bu Ratna. Tak jarang aku membeli buku hanya kesengsem sama judul dan covernya. Begitu membaca isinya, mengumpat-ngumpat tiada tara hanya karena terjemahan Indonesianya begitu buruk.
@ Sawali Tuhusetya:
Mas Landung Simatupang memang yahud, Pak Sawali. Kalau beliau ke Bandung kerap bertemu dan berbincang.
@ Windy:
Kukira ini soal selera, ndi. Menurutku tak hanya Ayu Utami yang karyanya tidak melulu menyodorkan soal keriaan. Ada banyak novelis perempuan Indonesia yang patut pula diperhitungkan bobot dan kadarnya.
@ Endah:
Ya ampun, bocaaahhh…
@ DV:
Pantas apa, Don? Huehehe…
@ Penyu:
Waduh, beribu maaf, Kawan, aku tidak bisa dengan gegabah memberi penilaian pada sesuatu yang belum kupelajari. Membaca saja belum. Kalau sudah keluar, barangkali bisa kita komentari dan diskusikan bersama.
@ iJul:
Deretan buku tak pernah ada habisnya, Jul…
Ouw, soal “Perahu Kertas”-nya Dewi, tidak dicetak dalam bentuk buku, Jul. Karya Dewi yang satu itu khusus ia buat untuk digital novel.
“Perahu Kertas” terdiri atas 12 bab yang dapat di-download oleh pelanggan XL (Indonesia tentu saja. Kamu yang di London, ya ntar aja lah… Hehe).
Lebih lengkapnya, bisa kamu tengok di sini: http://dee-55days.blogspot.com/
Soal bukuku, setiap bulan bukuku terbit. Tapi yang betul-betul akan kupromosikan, tunggu saja!
Nunggu kamu pulang!
maaf OOT lagi soal Dewi Lestari… justru di blog nya dia bilang Perahu Kertas bakal terbit versi cetak nanti bulan Oktober
Soal buku-buku kamu, aku ga usah beli toh?
Atau malah jadi lebih mahal gara-gara ada tandatangannya hehehe
lha itu kan udah dikasih tau oom dm di:
http://www.penerbit-kpg.com/bonus/bf.pdf.
halaman 1 sampai 11
halaman 12 form untuk pesan 3 buku ayu utami
halaman 13 form untuk pesan bilangan fu aja…
gara gara agak kecewa baca LARUNG saya jadi malas baca novelnya Ayu Utami selanjutnya… heum… mungkin bisa dicoba kembali
ngusung ttg seks lagi gak mas dm? ato udah lbh berbobot lg mungkin.
i nukilannya sih masih nyeritain tentang pencinta alam yg demen taruhan…
koleksinya kelingking buntung temennya, iga bapaknya temennya beserta salib nisannya.. wuih…
jadi pengen nantangin taruhan…
@ iJul:
Buatmu gratis, Jul…
@ Natazya:
Ya, mungkin bisa dicoba kembali. Kalau kali ini kecewa lagi, berarti sudah bisa menarik kesimpulan. Kualitas penulis terkadang memang berbeda-beda di setiap karyanya. Kadang.
@ Ino:
Wah, ya entah ya, Mas Ino.
@ Endah:
Kenapa kamu jadi ikut-ikutan taruhan?
ceritanya masih seputar lendir ga?
salam kenal, mas daniel
btw, bagi siapapun yang menghargai kemajemukan, buku ini layak dibaca, lepas dari ide-idenya – yang berjibun melelahkan, yang debateable
numpang tanya : ini malka yang di jl suci ?
numpang berbagi : membaca bilangan fu tak semudah mencerna saman. nikmat di lembar-lembar di awal, bingung kemudian
Beberapa pertanyaan dan catatan yang muncul dari pengalaman “bilangan fu” :
1. Menurut saya, sepertinya tanpa sadar, Yuda mencintai Parang Jati lebih dari yang dia tahu.
2. Kenapa dia harus “diakhiri” segampang itu????/
3. Jika bilangan fu adalah kebalikan yang melengkapi bilangan hu, mengapa di akhir cerita bilangan fu diidentifikasikan sebagai salah satu dari atom perangkai ozon, padahal kan ozon punya 3 atom, berarti Marja juga mewakili suatu bilangan dong?
4. Saya jadi ingin kembali ke alam dan menyelami budaya saya sebagai orang jawa, terima kasih parang Jati.
5. Saya jadi ingin menjadi lugas dan dinamis seperti Yuda
6. Saya jadi ingin memiliki kekasih seperti Marja,,, hahahahahahahahahahahah
dan saya juga punya review pribadi
pengalaman “bilangan fu”
bisa diliat di
http://erryprasetyo.wordpress.com
saya sedih sekali ketika membaca bagian parang jati mati. sungguh, dia adalah tokoh yang sangat ideal bagi saya. hanya saja, apa yang dipikulnya begitu berat, tapi ia begitu teguh. keteguhannyalah yang akhirnya membuatnya “terbunuh”.
aretas last blog post..terlambat
aku udah beli buku nya. di leksika lenteng agung. harga nya jadi 54000, kena discount 10%..kata2nya kaya banget.bagus.
Up date news yang terakhir, kabarnya Ayu Utami mendapat penghargaan Khatulistiwa Award karena buku ini.
yogayangsedangblogwalking.com
Yogas last blog post..Hujan Turun Sore Ini
selama ini ayu utami adalah novelis idola saya, bnr2 gue bgt! tp sjk dulu saya bertanya2, kpn novel ke3 dari trilogi ‘Layla Tak Mampir ke New York” bakal terbit? sampai sekarang kan baru saman n larung. thx..
Mungkin saya paling terlambat membaca buku baru Ayu ini, berhubung baru bisa beli kemarin pas pulang ke Jakarta, tapiiiiiii jujur aja sedikit kecewa, bukan tidak puas, bukan, mungkin Ayu di buku ini bertutur lebih “dewasa” di bandingkan dalam Saman & Larung, dan pastinya jauh lebih memaksa untuk berpikir apalagi dibandingkan dengan Si Parasit Lajang dan script RUU APPnya, walaupun tetap bersinggungan dengan kenyataan hidup sehari-hari yang kita hadapi. Mungkin rasa kecewa itu karena novel ini tidak sedinamis SAMAN, terlalu banyak kata-kata yang berputar-putar, atau mungkin juga karena kemampuan membaca saya yang semakin berkurang.
Sama seperti Silva, saya masih terus menanti novel ke 3 dari trilogi Layla.
Ngomong-ngomong tentang indeks buku tempo hari, aku ingat sekarang, Bilangan Fu termasuk buku fiksi yang memiliki halaman indek. Aku nggak tahu, apakah ini disebabkan oleh idealisme Ayu Utami dan keyakinanya bahwasnya pasarnya tak akan terlalu mempertimbangkan harga bukunya, jik aiya, maka ini pengecualian atas pendapatmu dan Pak Hery Azwan waktu itu, yaitu adanya halaman indek akan menyebabkan harga buku jadi lebih mahal. Bagimana menurutmu Dan? Trims.
Yoga, terakhir menulis Ketika Wain Besar Surut
Saya hanya ingin meralat apa yang saya tulis sebelumnya, ketika saya mencoba membaca ulang Bilangan Fu dengan mengurangi beban pikiran lain di kepala, ternyata sedikit kekecewaan pada saat awal hilang yang tersisa adalah keterpikatan dan jerat yang semakin dalam.
saya sudah membaca novel itu, hanya dalam jangka waktu 5 hari. Sangat inspiratif dan bagus. Isinya tetap mengacu pada realita yang sekarang ini, mungkin juga perbandingan antara ilusi dan kenyataan.
Saya tertarik pada tokoh-tokoh yang selalu diciptakan ayu utami dalam karya-karyanya. Oleh karena itu, saat ini larung sementara berada dalam genggaman anda. Pengen banget ketemu ayu utami. Saya juga suka nulis lho…
saya sudah membaca novel itu, hanya dalam jangka waktu 5 hari. Sangat inspiratif dan bagus. Isinya tetap mengacu pada realita yang sekarang ini, mungkin juga perbandingan antara ilusi dan kenyataan.
Saya tertarik pada tokoh-tokoh yang selalu diciptakan ayu utami dalam karya-karyanya. Oleh karena itu, saat ini larung sementara berada dalam genggaman saya; saman dah selesai kemarin. Pengen banget ketemu ayu utami. Saya juga suka nulis lho…
hhehehe..saya sudah baca buku ini…bagus kok, banyak tahu tentang dunia pemanjatan. Cuma emang rada mikir sih…apalagi pas udah masuk ke ranah politik dan militer…huhuhhuhu. Tapi bagus kok