YA, AKHIRNYA aku memang menjalin hubungan dengan Haikal. Kami menetapkan 14 Februari sebagai hari resmi hubungan kami. Meski semua itu tak kami sengaja. Kebetulan saja. Kami tak pernah kenal apa itu Valentine’s Day.
Sejak menjalin hubungan dengan Haikal, tak jarang aku diajaknya menyaksikan pagelaran teater di kampus Unej. Diajaknya pula aku menemaninya latihan teater di Sabtu sore. Kadang kami ke pantai Watu Ulo di selatan Jember. Atau mendaki sekadar menghirup kawah Ijen. Di hari-hari tanpa kesibukan, ia kerap mengajakku menelusuri kota Jember. Berjalan kaki menelusuri gang-gang kota, jalan-jalan kecil, jembatan-jembatan, sungai atau menikmati padang tebu, hingga berburu nasi pecel di Garahan.
Aku suka lelaki ini. Sebutan paling tepat untuknya barangkali: membumi. Ia tak suka hiburan malam, ia rikuh kalau diajak ke pusat pertokoan. Kalau ada kawan perempuanku yang kebetulan merayakan malam ulang tahun, ia sudah memasang tampang memelas,
“Banyak orang pasti ya…” keluhnya.
Maka dengan mesra aku menggamit tangannya, “Jangan pake flanel dan jeans, Sayang. Punya celana katun ‘kan?” rayuku manja. Kalau sudah seperti itu, ia hanya manda.
Lelaki tetaplah manusia. Sekuat-segagah apa pun, lelaki tetaplah memiliki sisi halus, sisi manja, dan minta diperhatikan dan butuh tempat bersandar serta pegangan. Jangan hanya perempuan yang membebankan tugas-tugas seperti itu hanya pada lelaki semata toh.
Maka di masa 6 bulan usia hubungan kami, berangkatlah Haikal ke Bandung meneruskan kuliah. Ia memang gagal di UMPTN. Tapi minatnya tak berubah untuk menggeluti dunia Jurnalistik. Ia masuki Fakultas Ilmu Komunikasi Jurusan Jurnalistik. Aku sendiri mulai naik ke kelas tiga SMA. Hubungan kami pun jadinya tak lebih dari sekadar bersurat atau bertelpon.
Haikal ternyata gila bersurat (jauh di kemudian hari aku terbelalak mendapati dokumentasi surat-surat Haikal terarsip begitu rapi dengan katalog yang memudahkan mencari tema dari masing-masing setiap isi surat. Begitu pun bill-bill telpon di wartel. Dengan cermat ia susun berdasarkan urutan tanggal. Belakangan aku malah menemukan tiket bis kota, bis antar kota, tiket kereta api yang kesemuanya ia dokumentasi lengkap dengan keterangan pergi bersama siapa saat itu. Gila!).
Dalam seminggu ia dapat mengirimkan satu hingga dua pucuk surat. Maka bersuratlah kuasa kami.
Selain menulis tentang kesehariannya kuliah di Bandung, terkadang isi surat-surat Haikal mendekati sebuah cerita, kalau tak mau disebut aneh.
Salah sebuah suratnya yang begitu kusuka adalah ketika ia menceritakan pengalaman kali pertama pindah ke kota Jember. Surat itu nyaris sudah tak berbentuk surat. Lebih pada bentuk cerita, malah mendekati cerpen. Tapi dengan begitu aku jadi terhibur tidak hanya karena kabar kesehariannya, namun lebih dari itu:
Dear Laras,
Aku punya cerita. Sebuah cerita lama tentang seorang bocah. Saat itu si bocah masih lagi mengenakan celana pendek birunya. Duduk di kelas dua SMP paruh akhir. Sebangku ia dengan seorang Ketua OSIS yang juga Pemimpin Redaksi majalah sekolah (bukan majalah dinding).
Karena kegilaannya pada bacaan dan terangsang serta tertantang untuk melakukan sesuatu yang sama, suatu hari ia mengeluarkan mesin ketik bapaknya. Diambilnya beberapa lembar kertas HVS. Taktuk-taktuk ia mengetik. Sebuah pengalaman berkemah ia rawikan dalam bentuk cerita pendek.
Bangga ia dengan hasil tulisan pertama dalam 14 tahun hidupnya di dunia, esok paginya lekas-lekas saja ia bawa cerpen itu pada kawan sebangkunya, Deris.
“Ris, bisakah cerpen ini dimuat di majalah sekolah?” begitu pintanya bangga.
Sejenak Deris membaca, sekilas dan sebentar saja: “Hih, tulisan seperti ini nggak bakal masuk di majalah. Murahan!” ujar Deris, si Pemimpin Redaksi itu.
Betapa kaget ia mendengar ucapan Deris. Betapa hancur kebanggannya. Betapa remuk hatinya. Cerpen pertama yang ia buat dalam 14 tahun masa hidupnya hanya digolekkan tanpa kekaguman apa-apa. Betapa menggelegar emosinya. Namun betapa ciut nyalinya. Ia dibunuh oleh hasil karyanya sendiri.
Tak tau apa musti dilakukan, sepulang sekolah ia berdiam diri. Merenung. Ia bukan bocah yang mudah menyerah sebetulnya. Saat itu sudah hari-hari terakhir masa sekolah. Maka ketika libur yang teramat panjang itu datang berkunjung, ia hanya mengurung diri dan diri di dalam kamar.
Ia mengetik dan mengetik. Menulis dan menulis. Yang terdengar dalam kamarnya hanya suara taktuk-taktuk mesin ketik. Ia gila akan tulisan. Ia tak mau diremehkan, disepelekan, direndahkan, dinafikan begitu saja. Ia akan buat Pemred itu terheran-heran akan dirinya. Ia pun akan kagetkan dirinya sendiri.
Bersambung…
(Seluruh cerita Epitaph dapat dilihat di: Nukilan).
© Daniel Mahendra




Kau memang sungguh-sungguh si Penganyam Kata.
Aku suka caramu menganyam, dan teruslah menganyam…
Ini Bang Suhunan Situmorang pengelola http://blogberita.net/ kah?
Ai, biasa saja lah, Bang. Tak bagus-bagus amat. Tapi beribu terima kasih atas penilaiannya…
Aku hanya pengembara di blog-blog keren yang semakin hari semakin banyak bertebaran di alam maya, kawan… Memang sesekali, bila dibolehkan sang pemilik blog, aku numpang nulis dan berkomentar. Aku sendiri belum punya blog, semata-mata karena bodoh urusan internet dan blog-memblog
Padahal sudah lumayan jumlahnya buku-buku ttg IT kubeli di TB Gramedia, nyatanya mereka lebih sering kupandangi, membuat anak lelakiku acap menertawaiku
Tetapi saat istri dan anak-anakku sudah lelap, aku selalu pergi menjelajah dunia blog, yang kian hari kian banyak menemukan blog menarik, mencerdaskan, memukau, termasuk ‘Penganyam Kata’ ini. Teruslah menulis, kawan…