Malam selepas doa bersama di Taman Budaya Medan, aku dan Yudin kembali ke hotel tempat ia menginap selama ini.

 

“Malam sebelum paginya mereka terbang dengan helikopter, kami sempat putar-putar naik becak, Kal. Cari duren.” sela Yudin.

“Naik becak?”

“Ya. Itu semua ide Laras. Dia pingin mengenang masa kecilnya di kota ini barangkali.”

“Hmmm…”

“Kal,” panggil Yudin pelan.

“Ya?”

“Ehm, ada yang ingin aku bicarakan. Penting.” bisiknya.

“Kenapa harus bisik-bisik?” tanpa sadar aku pun ikut berbisik. Tingkah laku Yudin kulihat mencurigakan.

“Nanti saja di dalam.”

 

Dan kami mulai masuk ke kamar hotel.

“Ada apa, Din?” tanyaku mulai penasaran.

“Sebentar,” ucapnya sembari memeriksa jendela kamar.

“Ada apa sih?” aku jadi makin curiga.

“Emh, begini.” bisik Yudin pelan. “Sorry, sebelumnya aku ingin tau: kamu akan berapa lama di Medan?”

“Ha? Berapa lama? Ya sampai helikopter itu ketemu, Din. Kok pertanyaanmu aneh?”

“Iya, aku tau. Pasti terdengar aneh. Dan kamu berencana untuk ikut turun dengan tim gabungan pecinta alam?”

“Iya. Rencananya begitu. Kenapa?”

“Emh, oke. Begini Kal.” mendengar penuturan Yudin yang bertele-tele, aku jadi meremang dibuatnya. Apakah ada sesuatu yang genting? Aku tak sabar menyimak.

“Untuk sementara ini hanya buat kamu, Kal. ” ia menarik napas sejenak. “Saat aku mengepak barang-barang Tedi dan Laras, di samping tas kerja Laras kutemukan beberapa rol film. Isinya menurut Laras berupa kegiatan selama kita syuting di Medan, juga hasil jepretan Laras saat berkunjung ke rumah tetangganya di Medan dulu.”

“Lalu?”

“Aku masih ingat betul, rol-rol film itu kumasukan ke dalam tas kerja Laras.”

“Lantas?”

“Rol-rol itu dirampas.”

“Dirampas? Oleh siapa?”

“Aku nggak berani memastikan, Kal. Dua orang, rambut mereka cepak. Mereka datang ke hotel dengan alasan melakukan pemeriksaan untuk penelusuran katanya.”

“Dari…” aku tak melanjutkan kalimatku.

“Bisa jadi, Kal.”

“Ow!”

“Awalnya aku sempat menolak. Karena ini sudah masuk pada teritori pribadi, berupa barang-barang. Tapi mereka meyakinkan bahwa tak ada barang yang akan mereka ambil. Mereka hanya ingin mendapat petunjuk. Aku tak bisa mengelak, Kal.”

“Lalu kamu tau dari mana kalau rol film itu mereka rampas?”

“Setelah mereka menggeledah semua tas, lalu mereka pergi sambil mengucapkan terima kasih. Aku lalu merapihkan lagi tas-tas itu. Memang tak ada barang berharga yang hilang. Bahkan uang milik Laras atau Tedi yang masih tersimpan dalam tas pun tak mereka sentuh.

Aku jadi heran, apa yang mereka cari sebetulnya. Tapi setelah kuingat-ingat, ternyata rol-rol film itu telah raib. Nggak ada lagi. Aku jadi curiga, bahwa ada pihak yang ingin menghilangkan bukti.”

“Bukti?”

“Ya bukti. Persoalannya bukan foto Laras dengan tetangganya itu. Atau dokumentasi kerja kita selama di Medan. Tapi, begini, Kal.” suara Yudin makin pelan, “Sebelum helikopter take off, aku sempat memotret mereka di sisi heli beberapa kali. Bahkan saat heli take off pun aku memotret berkali-kali.

 

Nah, pagi itu setelah mereka terbang, dari Bandara Polonia aku nggak langsung ke hotel. Aku mampir ke tempat cuci cetak. Karena film di kamera sudah habis, aku langsung saja mampir ke tempat cuci cetak. Mumpung lewat pikirku. Jadi sekalian aja.”

 

“Aha! Aku mulai mengerti sekarang. Lalu, di mana foto-foto itu?”

“Itu dia, Kal. Sejak adanya pemeriksaan itu, aku nggak berani ke tempat cuci cetak itu. Film itu belum kuambil. Karena aku merasa dalam beberapa hari ini aku selalu dikuntit orang.”

“Dikuntit?”

“Ya. Aku khawatir, sebetulnya itu yang mereka cari: foto-foto yang menunjukkan bahwa Laras dan Tedi naik helikopter Angkatan Darat. Lambang serta jenis helikopternya ‘kan nggak bisa berbohong.” terang Yudin makin berbisik.

“Oke-oke…”

“Aku nggak tau musti minta tolong pada siapa untuk mengambil hasil film itu. Aku khawatir aja jika jatuh ke tangan yang tak bisa mempertahankannya. Foto-foto itu bukti paling otentik, Kal, bahwa kami memang menggunakan helikopter Angkatan Darat.”

“Yang sejauh ini disangkal mereka?”

“Tepat, Kal!”

“Kenapa nggak kamu beritahu orang-orang PH? ‘Kan saat ini sudah mulai berdatangan ke Medan. Atau orang-orang di BUMN itu.”

“Nggak mungkin, Kal. Situasinya belum kondusif.”

I see.

“Itu kenapa aku tanya kamu akan berapa lama di Medan atau akan ikut turun bergabung dengan tim misi kemanusiaan atau tidak.”

“Hmmm… Ya-ya. Bukti pengambilannya nggak hilang ‘kan?”

“Aman, Kal.”

“Baiklah… baiklah…” ujarku berpikir.

“Maksudku, aku ingin kamu yang mengambilnya, Kal. Kalau aku jelas nggak mungkin. Itu sama saja dengan menyodorkan barang bukti namanya. Tapi kalau kamu, barangkali lain lagi soalnya. Meski sejak sore hingga malam ini kita memang terlihat bersama.”

“Itu bisa kita atur, Din. Kalau toh pun aku yang mengambil, nggak mungkin kubawa ke hotel ini. Sewaktu-waktu foto-foto itu bisa saja disita. Aku harus membawanya ke temapat lain.”

“Itu maksud pembicaraan ini, Kal.”

“Yup!” tukasku mantap. “Tapi kita jangan gegabah dulu, Din. Kita harus melihat suasana serta perkembangan.”

“Maksudmu?”

“Di depan publik, Angkatan Darat memang menyangkal dan menutupi bahwa helikopter mereka yang hilang membawa penumpang. Tapi di balik itu mereka ‘kan tetap bekerja sama dengan tim SAR swasta untuk tetap stanby di lapangan dan menurunkan personil untuk tetap membantu pencarian.”

“Itu betul. Lalu?”

“Nah, kita nggak perlu gegabah dulu dengan foto itu. Sejauh semua berjalan dengan tujuan pencarian, baik tim SAR swasta maupun tentara, ya kita ikuti saja dulu. Toh tujuan tentara pun ingin menyelamatkan helikopter dan penumpangnya. Tidak lepas tanggung jawab begitu saja. Soal mereka menyangkal di media, atau mengaku tidak tau-menau dengan tiga orang kru film yang hilang, kita kesampingkan saja dulu. Itu soal lain untuk saat ini.”

“Oke-oke, Kal.”

“Menurutku gitu, Din. Tapi yang terpenting, kita punya barang bukti yang belum saatnya kita keluarkan. Kalau kamu merasa negatif itu lebih aman di tempat cuci cetak, ya lebih baik di sana. Toh saat itu nggak ada yang tau kalo’ kamu mampir ke tempat cuci cetak itu ‘kan?”

“Iya. Kujamin nggak ada yang tau, karena saat itu helikopter belum dinyatakan hilang.”

“Oke. Menurutku lebih aman di sana ketimbang kita ambil.”

“Yup. Okelah kalau gitu.” tukas Yudin yang kini nampak mulai kembali santai.

“Kalau kita ambil sekarang-sekarang ini, mau kita taruh mana? Besok aku berencana turun dengan tim SAR. Jadi memang lebih baik dibiarkan di sana dulu.”

“Akur, Kal. Eh, kamu nggak lapar, Kal?”

“Dalam beberapa hari ini aku sudah lupa bagaimana rasanya lapar, Din.” jawabku sembari menyulut rokok entah batang keberapa.

“Ya terserahlah. Pokoknya kalau lapar bilang aja. Nanti kita cari makan keluar. Oya, ada baiknya kamu cek tas Laras.” tunjuk Yudin pada tumpukan tas yang teronggok di pojok kamar. Ia sendiri pergi ke kamar mandi.

 

Aku langsung bangkit berdiri. Menuju pojokan kamar.

 

Saat membuka tas itu, gemetar bukan main aku. Perasaanku tak karuan. Bukan bermaksud lancang membongkar tas milik kekasihku. Tapi untuk saat ini, siapa yang bertanggungjawab atas riwayat tas-tas itu kalau bukan aku, kekasihnya.

 

Bersambung…

 

(Seluruh cerita Epitaph dapat dilihat di: Nukilan).

© Daniel Mahendra