Dulu ketika ia bekerja di perusahaan A, gajinya Rp10 juta per bulan. Ketika ada tawaran dari perusahaan B, perusahaan A berusaha menahannya dan menjanjikan kenaikan gaji sebesar Rp15 juta per bulan. Tetapi ia tetap mengambil tawaran perusahaan B sebagai direktur dengan gaji Rp3,5 juta per bulan.

 

Saat itu orang-orang tidak memahami jalan pikirannya. Bagaimana mungkin meninggalkan posisi dan gaji di perusahaan A, lantas bergabung sebagai direktur di perusahaan B dengan gaji jauh di bawah penghasilan sebelumnya. 

Tetapi ia tetap memilih keluar dan bergabung dengan perusahaan baru tersebut. Perusahaan barunya bukan lah perusahaan sehat. Ketika ia masuk, perusahaan itu telah menyisakan hutang sebesar lebih dari Rp2 milyar. Dan tak semua orang-orang lama di sana bisa menerima “orang asing” yang sekonyong-konyong datang dan menclok sebagai direktur utama. Tetapi itu telah jadi pilihannya.

Di tangannya, manajemen di perusahaan B ia rombak total. Kualitas SDM dibenahi, produktivitas digenjot, dan cash in mulai nampak nyata. Siapa nyana, hutang Rp2 milyar berangsur-angsur tercicil. Perusahaan B pun mulai menunjukkan taringnya. Gajinya pun naik, cuma Rp7 per bulan. Tetap saja masih di bawah gajinya di perusahaan sebelumnya.

 

Tapi ada satu hal yang menarik, ia ingin membuktikan bahwa dirinya memang mampu dan memiliki kualitas. Bahwa hidup ternyata tak semata gaji hasil kerja yang dibawa pulang ke rumah. Hidup adalah juga pembuktian diri. Bahwa: bukan di mana ladangnya, tetapi siapa petaninya, barangkali betul.

 

Di perusahaan lama bisa jadi gajinya bisa mencapai Rp15 juta per bulan. Di perusahaan yang baru, ia jauh di bawah itu. Tapi di perusahaan lama namanya tak muncul. Ia hanya cukup tenar sebagai kepala bagian di perusahaan itu. Tetapi di perusahaan baru, namanya mulai diperhitungkan di kancah nasional. Banyak orang mulai melihatnya sebagai orang yang betul ahli di bidangnya.

 

Tahun demi tahun ia jalani. Cobaan bukan tak mampir. Perlu beberapa tahun hingga akhirnya ia kembali bergaji Rp10 juta per bulan. Tapi namanya mulai diperhitungkan dan jadi rebutan. Banyak tawaran mampir padanya.

 

Tak sedikit perusahaan sejenis yang menawarinya posisi, gaji lipat kali yang ia terima, plus kendaraan dan rumah yang sesuai dengan pilihan sesuka hatinya. Tak jarang perusahaan yang mau menerimanya sekadar sebagai konsultan dengan tarif puluhan juta.

 

Ia memang telah bergaji sama seperti saat meninggalkan perusahaan lamanya. Meski ia harus melewati tahun-tahun yang pada dasarnya tetap terus berjalan.  Tetapi ada perbedaan yang sangat mendasar di sana. Ada cakupan lebih luas. Ada raihan lebih tinggi. Tidak sekadar seorang kepala bagian yang kerja 6 hari seminggu dan berlibur bersama keluarga di akhir minggu.

 

Kini perusahaan lamanya kembali menawarinya bergabung. Diberi perusahaan baru dengan kapasitas serta gaji lipat kali dari yang telah ia capai, sebuah mobil gres, dan saham. Ia berpikir, ia sudah menyehatkan perusahaan B. Kalau ia kembali menerima tawaran untuk bergabung dengan perusahaan A, adalah tetap merupakan haknya. Perbedaanya: kualitas dirinya sebagai individu sudah jauh lebih berbobot dari sebelumnya. Apa boleh buat, namanya telah menjadi jaminan, dan kualitas dirinya sudah jauh lebih diperhitungkan ketimbang jika dulu ia tetap bekerja di posisi lama di perusahaan A.

 

Hidup adalah pilihan. Dulu ia tetap bisa memilih: bertahan di posisinya di perusahaan A, atau bergabung dengan perusahaan B. Orang sinting mana yang mau meninggalkan gaji Rp10 juta per bulan dan bergabung dengan perusahaan baru dengan gaji Rp3,5 juta per bulan? Istri mana yang rela suaminya kembali membangun dari awal baik karir maupun penghidupannya?

 

Terkadang orang memang mesti melakukan hal paling ekstrem sekalipun untuk dapat maju dan berkembang. Semua adalah pilihan. Hidup tetap terus berlangsung, namun hanya membutuhkan satu keputusan untuk dapat merubah hidup seseorang.

 

Bukankah semua yang terhampar di dunia ini adalah pilihan bagi manusia. Kita bisa memilih apa yang terbaik untuk diri kita (dengan bimbingan Tuhan tentu saja, karena tanpa itu nonsens saja semua). Kita bisa memilih karir kita, pekerjaan kita, pasangan hidup kita, seberapa keras kita bekerja, dan seberapa berleha-leha kita terhadap hidup kita. Semua tetap pilihan.

 

Kita bisa memilih bekerja sampai subuh hari. Namun kita pun bisa memilih tidur cepat dan bangun pagi. Kita bisa memilih bekerja di zona aman tanpa mesti memikirkan risiko yang berarti. Demikian juga kita bisa memilih tantangan baru dalam hidup kita yang penuh dengan gejolak. Namun satu hal, perbedaanya adalah terletak pada hasilnya. Tak selamanya hukum matematika 1 + 1 selalu 2.

 

Semua ada di tangan kita, tetap dengan petunjuk Tuhan. Apakah kita berpikir untuk tetap menjadi orang biasa-biasa saja, atau orang di atas rata-rata, semua adalah pilihan. Tak ada yang memaksa. Karena yang paling parah adalah: jika kita sudah tak memiliki pilihan apa-apa lagi. 

26 Juni 2008 | 07.00 wib

Sumber gambar.