penganyamkata.net
current   |   rss

Mengaktifkan Law of Attraction

Published June 26, 2008

 

Hingga kini Ijul adalah kawan yang cukup asyik untuk diajak berbincang soal Law of Attraction. Ia bisa memetakan cara menetapkan tujuan, proses menyelami keinginan, fokus pada apa yang telah ditetapkan, dan meraihnya. Tapi yang terpenting dari itu semua, selain mempraktekkan, ia membuktikannya!

 

Ia pernah bercerita, dulu ketika ia ingin menginjakkan kaki di kota Paris, ia selalu menyelipkan selembar uang franc di dalam dompetnya (Prancis kini sudah menggunakan euro). Praktis ke mana pun ia pergi, ia membawa serta dompetnya itu. Dan ketika hendak memerlukan sesuatu dari dalam dompet, ia selalu bertatapan mata dengan si franc itu.

 

Siapa nyana, pada akhirnya ia memang betul-betul menginjakkan kaki di kota Paris dan memanjat La Tour Eiffel. Tak aneh jika ia sudah keliling Indonesia. Dan kini ia selalu rajin mengirimiku cerita negara-negara Eropa mana saja yang telah ia injak tanahnya. Apa resepnya? tanyaku. “Law of attraction, Dear!” jawabnya pasti.

Almarhum bapak dulu pernah bertanya kepadaku: “Kamu kuliah bahasa Prancis, kapan bisa ke Prancis?” Ditanya seperti itu aku hanya nyengir. “Bapak nggak pernah belajar bahasa Prancis, tapi Bapak sudah naik Eiffel dan keliling Eropa. Kamu kapan?” Sampai sekarang, kalau ingat pertanyaan bapak, aku masih saja nyengir.

 

Aku terkadang memang kerap ngeri dengan diriku sendiri. Rupanya aku masih termasuk ke dalam bagian orang yang kurang bersyukur. Kalau kuingat-ingat, apa yang tak dikabulkan Tuhan atas segala permintaanku. Tanpa bermaksud menghitung-hitung pemberian Tuhan, rasa-rasanya lebih banyak dikabulkan ketimbang tidaknya.

 

Sehingga tak aneh jika aku kerap ngeri kalau mengangankan sesuatu yang bersifat negatif. Khawatir bakal jadi kenyataan. Maka memang lebih baik membayangkan yang positif-positif saja. Karenaa nyatanya, kalau aku sudah menginginkan sesuatu, dan aku sungguh menginginkannya, aku kerap membawanya secara total ke alam bawah sadar. Dan sesuatu itu betul-betul kerap menjadi kenyataan.

 

Baik. Kini aku hendak melakukan afirmasi. Penetapan ini memang sangat tiba-tiba. Mendadak sekali. Baru saja terjadi malam tadi. Waktu pencapaiannya pun hanya berjarak 3 bulan dari sekarang. Namun meski demikian aku ingin sekali melakukan hal itu.

 

Aku hanya ingin mengetes diriku sendiri: apakah betul aku dapat melakukan hal itu atau tidak. Aku yakin bisa, namun aku menyisakan ruang untuk kemungkinan hal tersebut tidak tercapai. Tak apa. Namanya juga hidup di dunia. Dijalani sembari tersenyum saja kan.

 

Ya, malam ini aku ingin melakukan afirmasi bahwa Oktober 2008 nanti aku akan berangkat ke Frankfurt, Jerman. Dibiayai? Tentu saja. Kalau biaya sendiri, buat apa. Banyak orang kaya bisa keliling dunia. Tapi bisa keliling dunia karena usaha kita dihargai, itu baru membanggakan.

 

Apakah aku terlalu gegabah memposting hal seperti ini ke dalam blog? Ya, sama seperti yang kalian kira: awalnya aku pun berpikir demikian. Tapi kalau disimpan sendiri (seperti semua dan segala selama ini), aku seolah tidak berani melakukan afirmasi. Dengan seperti ini aku sedang menantang diriku sendiri. Kalau tidak jadi, ya tak soal toh. Hidup di dunia kan tak semata soal senang-senang belaka. Tapi bukankah kita mesti bisa meminggirkan pikiran negatif.

 

Apakah 15 Oktober 2008 aku akan berada di Jerman? Aku sudah menetapkan afirmasi malam ini. Semoga begitu pun dengan kalian atas segala impian dan keinginan kalian. Auf Wiedersehen!

 

26 Juni 2008 | 00.30 wib 

Sumber foto.