Epitaph (33)
Dua milik Laras. Sebuah berisi pakaian. Sebuah lagi sepertinya merupakan tas kerja. Di dalamnya terdapat dokumen-dokumen, naskah kerja, dan agenda harian. Kubuka agenda itu. Terselip tiga lembar boarding pass[45] atas nama Laras Saraswati, Tedi Kurniawan dan Yudinami. Rupanya Laras yang menyimpan tiket kedua temannya saat berangkat dari Jakarta tempo hari. Semua bertanggal 14 Agustus, kelas ekonomi Y, pesawat Simpati Air dengan nomor penerbangan SG813, Gate A1. Laras duduk di kursi 9C, Tedi di kursi 9E dan Yudin di 9F. Tak kutemukan Boarding Pass milik pak Birhi.
Selain catatan kerja, pada agenda itu tak kutemukan petunjuk apa pun yang berhubungan dengan keseharian Laras di hari-hari terakhirnya. Namun ada selembar kertas yang terlipat rapi dalam agenda itu. Aku mencoba membukanya, dan: terbelalak!!
Bukankah ini sajak bikinanku yang kuberikan padanya saat SMA di Jember dulu? Ia menyelipkan pada agendanya? Dan membawanya ke Medan? Tanpa sadar aku kembali membacanya. Mau tak mau bayangan tentang Laras terkuak kembali. Teringat saat-saat pertama kali bertemu dan berkenalan dengannya di Jember dulu.
Kala itu masih di SMA. Dari jendela kelas kulihat seorang gadis melintasi lapangan basket. Gadis bersepatu gunung dan sedikit kelaki-lakian itu. Rambutnya yang lurus jatuh sepunggung. Bahunya mungil menggoda. Kulitnya yang terang membungkus tubuhnya yang berkelebat di bawah siraman matahari tanggung.
Sudah beberapa purnama aku memperhatikannya. Sosoknya selalu memaksa mataku untuk memperhatikannya dari kejauhan. Saat itu aku tak tahu bagaimana harus berkenalan dengannya. Kalau kuperhatikan, ia selalu melintasi lapangan basket kala bel istirahat sekolah. Ke ruang koperasi siswa. Aha! Berarti dia memang anak koperasi.
Aku memutar otak, apa yang bisa kujadikan alasan untuk pergi ke sana. Aku tak punya alasan. Beberapa bulan lalu ketika tanpa sengaja aku dalam satu ruangan di ruang OSIS dengannya, aku terlalu malu untuk berkenalan atau sekadar menyapa. Dan ia hilang begitu saja. Aku mengutuki diriku yang dengan bodoh membiarkan kesempatan seperti itu berlalu. Tapi kini tiba-tiba aku mendapat ide: aku akan pura-pura melihat cerpen terbaruku yang dimuat di sebuah koran lokal. Sebetulnya aku sudah melihatnya di rumah. Tapi mungkin ini salah satu cara agar aku bisa betul-betul berkenalan dengannya.
Aku masuk ke ruang koperasi dengan sikap dingin. Aku tak pintar berbasa-basi memang. Maka sikap dingin adalah yang paling aman buatku, untuk tidak perlu bersapa-sapa. Ini sekadar menjajaki. Kulihat gadis Laras dengan sepatu gunungnya sedang berdiri di balik meja kaca.
Ohohoho! Jangan pura-pura tidak kaget Laras. Ekor mataku menangkapmu terperanjat sejak pertama kali kedatanganku. Jangan kau tutupi itu. Maka sesuai rencanaku, aku mencomot sebuah koran dari rak di atas meja kaca. Dengan santai kubuka-buka lembar demi lembar koran tanpa memedulikan orang-orang sekitar.
“Ada tulisanmu dimuat, Kal?” Ella, anak kelas dua itu menegur.
“Eh? He-eh.” jawabku pendek.
“Pantes kamu ke sini.” tambah Ella lagi. Aku hanya tersenyum.
Tiba-tiba anak-anak di ruangan koperasi mengerumuniku. Mereka melongok pada apa yang sedang kupelototi. Ekor mataku tetap memperhatikan Laras yang diam-diam ikut memperhatikanku. Tak lama ia pun ikut mengerumuni. Aha! Mendakat kau gadis! batinku.
“Wah, selamat Kal! Dimuat lagi.” ujar anak-anak mengomentari.
“Honornya jangan lupa traktir-traktir ya, Kal…” suara lain ikut menimpali. Lagi-lagi aku hanya tersenyum.
Tiba-tiba ada suara halus bertanya:
“Cerita sedih lagi?”
“Sedih?” aku menoleh, mencari siapa yang bertanya.
“Ya, sedih. Nada tulisanmu ‘kan selalu sedih.” Oho! ternyata kamu, gadis!
“Selalu?” aku mulai mendongak dan memandangnya secara serius. Matanya tak berkedip dan bercahaya. Ah, cahaya itu! Siapa pun bakal tau, pandangan seperti itu mengisyaratkan cinta. “Dari mana kamu tau?” tetakku menjajaki.
Kulihat ia sedikit tergeragap. “Ya… banyak yang bilang sih gitu.” jawabnya pendek.
Aha! Seperti sudah kuduga: kau baru membaca sedikit dari tulisanku yang tercecer di media, gadis, batinku tersenyum-senyum. Tapi permainan belum berakhir. Kembali aku menetaknya:
“Banyak yang bilang? Lalu, kenapa kamu ikut menyimpulkan dengan bilang seperti itu tanpa pernah membacanya?”
Lagi-lagi ia tergeragap. Hohoho! Kau mulai masuk dalam dialog yang kurancang ini, gadis.
“Ya maaf…” hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Aku mengangkat bahu seolah tak memedulikan dan kembali sibuk memelototi lembar koran.
“Kapan cerpen atau sajak kamu dibukukan?” rupanya ia tipe yang tak mudah menyerah. Baiklah gadis.
“Hmm… siapa yang mau baca buku yang isinya sedih melulu.” jawabku tetap tanpa melihat ke arahnya.
“Sedih?”
“Iya, sedih. Kamu tadi ‘kan bilang kalau nada tulisanku selalu sedih.” tukasku sembari tersenyum. Kembali aku yang memegang kendali pembicaraan. Aku merasa ia mulai gemas. Tawaku ingin meledak sebetulnya.
“Kamu anak kelas dua, ya?” tanyaku mencoba mancairkan suasana.
“Memangnya kenapa?”
“Pertanyaanku tadi belum dijawab.”
“Iya-iya… aku anak kelas dua, terus kenapa?”
“Ya nggak pa-pa. Aku waktu itu pakai pulpen kamu. Udah kukembalikan ‘kan?” kulihat matanya terbelalak. Skor kemenangan sepertinya sudah berada di pihakku.
“Tapi ada yang kurang!” jawabnya tiba-tiba.
“Kurang?” kini giliran aku yang terbelalak.
“Kamu ngerti bahasa Indonesia ‘kan? K-u-r-a-n-g!” tegasnya.
“Waduh?! Tapi sudah kukembalikan ke kotaknya…”
“Tetap saja kurang!”
“Aduh maaf, tapi apanya yang kurang?” aku mulai tergeragap.
“Kamu belum mengucapkan terima kasih kepadaku!” kulihat ia tersenyum penuh kemenangan.
“Sialan!” makiku tanpa sadar. Kulihat itu tersenyum senang. “Iya deh… terima kasih!” ucapku mengalah.
“Mau melanjutkan kemana setelah lulus nanti?”
“Hei… kamu dari tadi ngganggu aku baca, ya!” aku pun bukan tipe yang mudah menyerah gadis, batinku kembali bersorak sembari kutatap dalam matanya.
“Wah… maaf,” ujarnya kikuk.
“Nggak-nggak… becanda. Ngapain cerpen ini kubaca lagi. Aku hanya memastikan: apa cerpen ini diedit sama redakturnya. Tadi kamu tanya apa? Oh, setelah lulus nanti, hmm, pinginnya sih ke Yogya. Tapi bisa jadi balik lagi ke Bandung. Pingin ngambil Jurnalistik. Kenapa?”
“Bandung? Balik lagi ke Bandung? Jadi kamu dari Bandung? Wah… aku juga dari Bandung!” cerocosnya tampak girang.
“Dari Bandung?”
“Ya, aku dan keluargaku hanya sementara di Jember. Paling nanti pindah ke Bandung lagi.”
“Wah… kalo’ aku kuliah di Bandung, trus kost di rumah kamu, bisa gratis dong!” godaku.
“Di mana-mana namanya kost itu bayar. Kalau gratis numpang namanya!”
“Ya udah, aku numpang aja!”
Dan kami pun sama-sama tertawa.
“Eh, aku punya soal-soal UMPTN. Bekas kakakku. Kalau mau, aku bisa pinjami.” tawarnya tiba-tiba.
“Emh… boleh.”
“Besok aku bawakan ya?”
“Yup!” jawabku pendek sembari membayar belanja koranku.
“Ketemu di perpustakaan istirahat pertama?”
“Yup!” aku sudah hendak meninggalkan ruang koperasi.
“Jangan lupa!”
“Yup!”
“Hei, kamu belum tau namaku!” serunya seolah ingin menahanku.
Tiba-tiba aku menoleh, berhenti, tersenyum kemudian menjawab: “Laras Saraswati!” ucapku pasti dan meninggalkannya.
Kulihat matanya terbelalak. Ah mata teduh itu. Mulai saat itu aku tau: aku akan selalu merindukan matanya yang bercahaya namun teduh itu. Tapi babak pertama sudah dimulai, batinku senang. Tinggal menunggu babak-babak selanjutnya.
Bersambung…
(Seluruh cerita Epitaph dapat dilihat di: Nukilan).
© Daniel Mahendra
[45] Pas Naik (ke kapal atau ke pesawat terbang)


Jadi ingat epitaph 17..
Subhanallah..
-zahra-
“still waiting the condition and position of laras”
Zahras last blog post..Membekas Di Hati….
dan… jgn kelamaan endingnya kaya sinetron… si donny udah nunguin noh… ntar mau di print sama dia katanya biar ga nangung nangung bacanya….
kenapa yah yg namanya laras, biasanya pake nama belakang saraswati.. kayaknya gak kreatif tuh…
Kok percakapannya ngulang sih Mas…
@ Zahra & Chandra:
Jadi inget Epitaph 17? Aha, cermat juga kamu, Zahra. Senang ada yang cermat!
Percakapan ngulang? Kalau begitu coba simak baik-baik: di Epitaph 17, siapa ya berkisah, dan adegan dilihat dari sudut pandang siapa? Sementara di Epitaph 33, siapa yang berkisah, dan adegan dilihat dari sudut pandang siapa?
See? Sejak Epitaph 29 (Bab 6-Sibayak), aku memang sengaja memutar balik tokoh yang bertutur (yang awalnya Laras menjadi Haikal), meski tetap menggunakan kata ganti orang pertama. Di akhir cerita, akan muncul pergantian plot yang tak akan terduga sama sekali
Teknis ini memang rada ribet dan tidak sederhana. Menyajikan adegan yang sama namun dilihat dari sudut pandang tokoh dan penutur yang berbeda. Karakter penokohan akan berbeda dalam memandang suatu adegan yang sama. Pengulangan? Ya memang sengaja. Aku sedang belajar menggunakan teknis ini. Teknis yang kalau kuperhatikan jarang dipakai oleh banyak sastrawan.