AKU MASIH menimang-nimang kertas sajak itu. Kertas sajak yang ia bawa serta dalam agendanya. Aku terharu. Lelaki manapun akan merasa terharu diperlakukan seperti itu oleh kekasihnya. Betapa ia menempatkan aku pada tempat yang begitu istimewa di ruang hatinya.
Laras memang punya banyak kawan lelaki. Begitu dekat dengan banyak kawan lelaki. Tetapi aku, kekasihnya, tetap ia tempatkan pada relung tersendiri yang ia patri begitu dalam. Ia kerap melibatkan aku pada kawan-kawan lelakinya yang banyak itu. Ia tahu betul bagaimana menghargai perasaan seorang lelaki yang kebetulan menjadi kekasihnya. Itu mengapa aku punya cukup banyak alasan untuk menghormatinya sebagai perempuan yang memang patut untuk dihormati.
Tak jarang kami jalan bareng dengan kawan-kawan lelakinya. Jadinya kami saling kenal satu sama lain. Akrab dan bersahabat. Aku yang selalu merasa introvert dan cenderung tak punya banyak kawan ini, begitu nyaman dengan siapa pun teman Laras. Tak ada secuil rasa cemburu atau pikiran negatif dalam kepalaku terhadap kawan-kawan lelaki Laras yang kebetulan jalan dengannya. Karena Laras selalu berusaha menciptakan atmosfir nyaman dan harmonis dengan tidak menafikan aku sebagai kekasihnya. Itu mengapa kawan Laras berarti kawanku juga. Begitu pun sebaliknya. Tak aneh bila aku begitu akrab dengan Yudin juga Tedi.
Saat kali pertama Laras pamit hendak pergi mendadak ke Medan untuk suatu pekerjaan film, aku malah bersyukur mengetahui Laras berangkat bersama Yudin dan Tedi. Karena dengan begitu ada yang turut menjaga Laras. Lelaki mana yang tak merasa tenang jika kekasihnya pergi bersama orang-orang yang patut dipercaya. Lelaki mana yang tak merasa tenang jika kekasihnya menunjukkan sikap dapat dipercaya. Kukira begitu pun sebaliknya. Meski harus kuakui: tak sedikit yang menyukai bahkan mendekati Laras secara terang-terangan. Namun ketakutan-ketakutan seperti itu nyaris tak muncul sama sekali pada diriku terhadap Laras. Bukankah pada ujung-ujungnya, kebahagiaan juga yang dicari manusia?
Ah, Laras, kenapa aku jadi sentimentil begini. Kenapa aku jadi teringat pada segala apa yang telah kamu persembahkan di masa hidupmu. Tidak Laras, tidak. Kamu belum mati. Aku di sini untuk menjemputmu. Perjalanan kita masih lagi panjang. Apa yang sudah kita lalui masih seujung kuku. Masih begitu banyak yang akan kita rencanakan di masa mendatang. Masih begitu nyata gambaran tentang kita di hari depan, seperti yang selalu kita idamkan bersama. Kau dengan dunia filmmu dan aku dengan dunia jurnalistikku. Bukankah kita pernah membayangkan sebagai sejoli yang berarti. Tak semata sebagai pasangan untuk kebutuhan hidup belaka.
Ya Laras. Kita akan tetap bersama. Membangun dunia baru. Membangun mimpi baru. Bukankah kita selalu sepakat untuk terus berani bermimpi? Bersamamu aku merasa hidup ini terdiri dari beragam musim. Dan tak pernah sekalipun kau tinggalkan aku pada musim-musim itu. Kau selalu iringi aku pada masa-masa sulit maupun senang. Pada masa-masa sedih terlebih bahagia.
Tak pernah kau nafikan aku sebagai lelaki, sebagai kekasih, terlebih sebagai manusia. Kau hormati aku sebagaimana tak pernah hilang hormatku terhadapmu. Kita memang tak luput bertengkar, namun perselisihan selalu saja bisa kau redakan dengan bicara. Segala apa yang kurang pada diriku, dapat kau imbangi dengan kasih sayangmu. Segala apa yang tak kusuka pada dirimu, dapat kau tunjukkan dengan pengejawantahan cinta. Bersamamu aku telah lupa seperti apa arti dari rasa kesepian.
Apa yang sudah kita lalui selama ini masih lah belum apa-apa, Laras. Namun demikian, meski betapa singkat kuantitas hubungan kita, dapat kurasakan benar segala cinta yang pernah kau dan aku hadirkan. Adakah salah perempuan sepertimu ditangisi kepergiannya? Tunggulah, Laras. Tunggulah.
Tak bisa kugambarkan bagaimana perasaanku saat ini. Di mana kamu, Laras… Aku tak tau di mana kamu berada. Di hutan? Di lembah? Di dasar jurang? Entahlah.
Dan tanpa sadar mataku mulai berkaca-kaca.
PAGINYA SETELAH sarapan dan menyiapkan perlengkapan yang kuperlukan, aku dan Yudin mendatangi posko tim SAR swasta di Jalan Wolter Monginsidi Medan. Aku berniat mulai turun ke lapangan, bergabung dengan rekan-rekan tim pecinta alam. Aku mencoba berkenalan dengan banyak kawan anggota pecinta alam yang datang dari berbagai kampus dan kota itu.
“Kamu sudah yakin memutuskan turun ke lapangan, Kal?” tanya Yudin kembali memastikan.
“Itu tujuan utamaku ke Medan, Din.”
“Aku belum mungkin ikut, Kal. Aku harus terus menjaga kontak dengan Jakarta.”
“Ya, aku ngerti. Memang kamu malah sebaiknya jangan ikut turun.”
“Ya ampun!”
“Lho, kenapa, Din?”
“Nggak, nggak pa-pa. Jadi inget aja, waktu pak Birhi, Laras dan Tedi mau terbang, aku pingin ikut, mereka malah menyarankan nggak usah. Sekarang, kamu juga menyarankan supaya aku nggak usah turun.”
“Hahaha! Kalo itu kebetulan, Din. Jangan dipertautkan. Sempatkah kamu membayangkan kalau saat itu kamu ikut terbang, Din? Apa jadinya?”
“Pyuh!! Aku nggak bisa ngebayangin, Kal. Tapi kalau disuruh milih, aku lebih baik terbang bersama mereka, meski entah bagaimana keadaan mereka saat ini.”
“Hei-hei-hei, ngomong apa kamu!”
“Sorry, hanya bingung aja, Kal, dengan keadaanku. Aku merasa terombang-ambing. Pulang ke Jakarta, jelas belum mungkin. Aku ragu aja kalau cepat-cepat pulang, karena semuanya belum jelas. Bertahan di sini, aku sendiri nggak tau sampai kapan.”
“Semua ada akhirnya, Din. Semua yang bermula ‘kan selalu berakhir. Aku paham kenapa kamu merasa begitu. Seminggu penuh kamu bekerja bersama mereka. Dan kamu saksi terakhir penerbangan mereka. Aku paham.”
“Aku akan tetap di hotel yang sama, Kal. Perusahaan film sudah mengabari: untuk sementara aku bisa tinggal di sana.”
“Sip kalo gitu. Aku berangkat ya. Doakan semua lancar, Din.”
“Hati-hati, Kal!”
“Sip!”
Bersambung…
(Seluruh cerita Epitaph dapat dilihat di: Nukilan).
© Daniel Mahendra



