Antara Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Frankfurt

Hidup adalah pilihan? Aku setuju. Dan untuk sebuah pilihan, seseorang memang mesti berani mengambil keputusan. Apapun konteksnya. Entah itu soal pendidikan, pekerjaan, karir, sosial, pernikahan, bahkan agama.

 

Satu hal yang tidak bisa kita pilih adalah bahwa kita terlahir sebagai manusia. Apa boleh buat, Tuhan telah menciptakan kita lahir dan dilahirkan oleh manusia. Bukan setan, jin, atau iblis. Sudah barang tentu tugas kita sebagai manusia, ya menjadi manusia. Ya toh?

 

Bicara soal pilihan hidup serta manifestasinya dalam bentuk keputusan, akhirnya hari Jum’at 11 Juli 2008 kemarin aku telah memutuskan untuk mengambil satu keputusan yang bakal mempengaruhi perjalanan hidupku ke depan, setelah mendapat tawaran dari penerbit Surabaya dan Jakarta.

 

Beratkan pilihan itu? Tidak juga. Namun paling tidak membuat sebuah perbedaan yang signifikan dalam tahun-tahun ke depan jika aku memilih salah satu dari tawaran itu. Ada sebuah perbedaan yang sangat mendasar jika aku memutuskan bekerja dan hidup di Surabaya, seperti halnya jika memutuskan bekerja dan hidup di Jakarta.

Sebuah penerbit di Surabaya memang menawari pekerjaan dan tinggal menetap di sana. Kalau kupilih, praktis hijrah ke ibukota Jawa Timur yang secara sosial maupun habitat sudah begitu akrab denganku. Tapi adakah alasan hebat yang membuatku mesti menerima tawaran tersebut dan hidup menetap di Surabaya?

 

Lalu soal tawaran Jakarta? Yup. Lagi-lagi sebuah penerbit menawariku memegang sebuah penerbitan di Jakarta. Di sana ditawari dua imprint meliputi buku-buku umum. Jakarta, hmm… mestikah aku hijrah ke Jakarta? Yang secara geografis paling banter hanya ditempuh selama 1,5 hingga 2 jam saja dari Bandung. Tapi tinggal di Jakarta?

 

Memang, secara sosial dan habitat aku tak begitu punya persoalan yang berarti dengan Jakarta. Jabatan serta kapasitas yang ditawarkan tentu lebih bergengsi. Salary? Jelas mengikuti. Habitat kesenian pun cukup menggiurkan dengan tinggal di Jakarta. Banyak kawan penulis, penyair, dan pekerja seni yang sudah cukup akrab. Tapi hidup di Jakarta? Hufh! Hufh! Hufh!

 

Satu-satunya hal yang sangat menggiurkan jika aku menerima tawaran penerbit Jakarta adalah: tiket untuk berangkat ke Frankfurt pada Oktober 2008 mendatang jelas telah di tangan. Sementara jika tawaran penerbit Jakarta tak kuambil, aku mesti menggunakan Law of Attraction soal Frankfurt dan jelas di luar penerbit tersebut. Olala, betapa dilemanya.

 

Tapi, apakah hidup semata mengejar tour de Europe? Aku mesti memastikan lagi tujuan karirku. Keliling dunia memang impianku. Tapi satu hal yang tak bisa ditawar-tawar adalah: bekerja memang mesti dengan cinta. Dengan sepenuh hati. Sementara bekerja di penerbitan? Aku merasa tidak terlalu silau dengan jabatan serta gaji sekian digit menjulang.

 

Ouw, aku tetap butuh uang. Siapa orang tak butuh uang. Aku tetap ingin mempunyai ranch di pinggiran kota suatu saat nanti. Suatu tempat di mana orang dapat mengakses secara bebas untuk keperluan kesenian dan ilmu pengetahuan. Bukankah untuk keinginanku itu aku mesti tetap bekerja atas mimpiku tersebut. Aku tetap butuh uang. Namun uang hanyalah sebagai kendaraan, bukan tujuan. Tapi bekerja tidak menggunakan hati, ow-ow-ow…

 

Bukan aku tidak mau keluar dari zona nyaman. Di tempatku bekerja yang kukelola sekarang ini aku merasakan betul nikmatnya bekerja. Aku bisa menentukan waktu kerjaku sendiri. Berhadapan dengan dunia publishing namun bukan penerbitan. Dinamis, aktif, dan berjibaku dengan deadline.

 

Skill betul-betul teruji di sini. Ya, tempatku bekerja sekarang memang bagaikan kawah candradimuka dalam dunia penerbitan. Hanya orang gila yang betul-betul ingin bertahan di dalamnya. Dan yang memang bertahan, harga serta kapasistasnya makin diperhitungakan.

 

Ibarat seorang ibu, aku menyusuinya, memberi makan, menina bobokan, bermain bersama, menyayangi sepenuh hati, mengajari bernyanyi serta berjalan. Dan kini ia telah lagi lari-lari kecil. Haruskah aku meninggalkannya?

 

Namun ternyata ada yang lebih penting dari itu semua, yaitu kenikmatan dalam bekerja. Mestikah kita menukar kenikmatan kerja dengan kapasistas serta digit salary yang lebih menjulang?

 

Bukankah hidup tak semata angka-angka.

 

12 Juli 2008 | 20.40 wib

This entry was posted in Catatan Harian, Ranah Kerja, Renungan. Bookmark the permalink.

74 Responses to Antara Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Frankfurt

  1. DV says:

    @Gelandangan: SETOJOOOO… mari kita doakan semoga Mas DM tenang di sana

    DVs last blog post..Berapa yang Harus Kita Bayar Untuk PEMILU 2009 ?

  2. windy says:

    amiiinn… jadi kapan selametan 3 hariannya….

  3. tamie says:

    Blom lama saya juga dihadapkan pd pilihan yg sulit tapi saya percaya sesungguhnya semua pilihan itu benar, tinggal bagaimana kita menjadikan pilihan itu sesuatu yg tidak akan kita sesali.
    btw,jadi milih yg mana? hhe, penasaran.

    nb. salam kenal!

    Nah, agar tak disesali di kemudian hari, itulah kenapa aku melakukan brainstorming di sini. Pilih yang mana? A-a-a… :D
    Salam kenal juga, Kawan!

  4. tamie says:

    kalo saya sih, antara depok dan bandung aj..

    tamies last blog post..Curhat Kuliah euy…

    Kenapa…?

  5. Chandra says:

    Sebenernya dah milih apa lom sih Mas?

    Ups, pertanyaan cerdas!! ;)

  6. DV says:

    Frakfurt itu apanya Garut ya ?
    @Chandra: DM udah milih! Dia milih untuk tetap memilih!

    Tepat di selatan Garut, Mas.

  7. Diah says:

    Sikap dan keputusan yang diambil harus tepat dan benar.jangan sampai ambil keputusan salah terus akan menyalahkan diri sendiri…semoga di beri kemudahan mas …

    :D

    Amin… Terima kasih, Mbak Diah.

  8. JW says:

    *menatap jijay ke arah foto sebelah kanan atas*

    Terima kasih… :)

  9. DV says:

    Buah Semangka buah kedondong
    ya iyalaaa masa ya iya dongggg

    Gariiinnnggg……

  10. DV says:

    Buah kedondong buah blewah
    Ya iya dong masa ya iyalah

    Kan Jalan Kiaracondong, bukan Jalan Kiaraconlah!
    (Hih, lebih garing! Haha!)

  11. orang nyasar says:

    surabaya ato jakarta? ya jelas jakarta. persaingan lebih seru, akses lebih mudah, dan lain2. Masalahnya kedua kota ini gak enak udaranya.

    Tapi kok banyak ya yang sedap tinggal di kota yang udaranya tidak enak…
    Ahoi, apa kabar Kawan?

  12. Chandra says:

    Dipilih…dipilih…dipilih…
    10ribu tiga…10ribu tiga…
    Mumpung murah…mumpung murah..

    Jadi inget, dulu rasaan underwear di pasar baru harganya 10 ribu dapet 3 ya..? :D

    Astaga!! Chandra?!! Kelakuanmu…

  13. Chandra says:

    Edun euy si Mas!
    Dah dapet 62 comments uy! (63 sekarang!)
    Duh jadi ngen dapetin tanda-tangannya… :p

    Thuk!! *dijitak*

  14. DV says:

    @Chandra: Itulah! Orang terkenal macam DM ini cukup menghembuskan isu pindah kota maka ranah per-blogger-an akan ramai.

    Coba amati harga saham di BEJ sapa tau ikutan naek ;)

    Ehem! Ehem! Ada yang bicara?

  15. carra says:

    mas… mas… *sambil colek2* kalo ranch nya dah kesampean… jgn lupa undang akuw yaa… ^^ … *bagi oreo*

    carras last blog post..Picture Manipulating Part 2

    Wah, boleh-boleh. Nanti berkunjunglah sesukamu, Carra. Dengan syarat: bawa Oreo yang banyak! ;) Kudengar Oreo made in Yogya rasa Bakpia Pathok :p

  16. Chandra says:

    @DV : harga bensin juga harus ikutan diamati Mas..kalo tambah naek, mari kita gebukin bersama… :P

    Lho-lho-lho?! Kok aku yang digebukin?! Emangnya aku penimbun bensin apa?!

  17. dhekun says:

    om.. Frankfurt tuh apa. ?? :-/

    Hihihi… Kun!!! Aku jitak juga nih bocah. Tiba-tiba nongol tanya Frankfurt lagi. Hihihi. Frankfurt tuh nama kota di Jerman, Kun.

  18. dhekun says:

    om.. Frankfurt tuh apa. ?? :-/

    kuns last blog post..Menentukan Laku-Tidaknya Sebuah Buku

  19. dhekun says:

    oh… hihi.. trus om skrg dmn

    kuns last blog post..Menentukan Laku-Tidaknya Sebuah Buku

    Ya di depan komputer lah… Masa’ di bawah pu’un! :p

  20. dhekun says:

    om… YMnya jarang nongol lg. huh… kun bete kun bete… buka gera.. hihi ada kejutan. huwahahaha

    kuns last blog post..Menentukan Laku-Tidaknya Sebuah Buku

    Kejutan apa sih, Kun… Kok kamu jadi ngobrol di blog sih. YMku nyala terus. 24 jam! ;)

  21. dhekun says:

    oh iya yah… hihih

    kuns last blog post..Menentukan Laku-Tidaknya Sebuah Buku

    Dasar bocaaaaaaahhhhhhhhhh………….!!!

  22. Endah says:

    Oom kalo jadi ke Frankfrut aku dioleh2in batik ya.. halah YM nyala 24 jam, negur aja nggak hu hu hu.. dasar bukanpasarmalam…

    Endahs last blog post..Seputar Final Piala Euro 2008

    Ohhh…

  23. Lala says:

    Dilema ya?
    Seperti berdiri di persimpangan jalan dan nggak tahu musti memilih untuk berjalan ke arah yang mana….
    Tapi bukankah itu manusiawi?
    Karena kita nggak pernah tahu hidup bakal menggelinding ke arah mana sehingga membuat kita sedikit (atau sangat) ketakutan dalam memilih sesuatu.

    Hhh…
    Bagi saya, Mas Mahendra, life is a journey. Destinasinya satu, tapi cara menjalani hiduplah yang membuat jalan cerita tiap manusia terasa beda… terasa unik.

    Dan satu hal lagi…
    Bagi seorang saya… benar atau tidaknya, baik atau buruknya, suatu pilihan.. baru akan ketahuan kalau sudah kita jalani.
    Nah, kecuali kita paranormal (atau ilmuwan penemu mesin waktu), kenapa nggak kita kunyah saja sih hidup ini?
    Memangnya, what more can we do but enjoy it?

    …dan ya.
    It’s not always about numbers.
    Coz sometimes… or most of the times… Kenyamanan hati adalah yang paling penting…

    Enjoy the dilema, Mas!
    hehe.. tapi jangan lama-lama yaa… ayo, segera pilih! ^^

  24. morishige says:

    jadi, jadinya anda milih yang mana, mas?

    morishige, terakhir menulis Backpacking Ke Bali (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>