Antara Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Frankfurt
Published July 12, 2008
Hidup adalah pilihan? Aku setuju. Dan untuk sebuah pilihan, seseorang memang mesti berani mengambil keputusan. Apapun konteksnya. Entah itu soal pendidikan, pekerjaan, karir, sosial, pernikahan, bahkan agama.
Satu hal yang tidak bisa kita pilih adalah bahwa kita terlahir sebagai manusia. Apa boleh buat, Tuhan telah menciptakan kita lahir dan dilahirkan oleh manusia. Bukan setan, jin, atau iblis. Sudah barang tentu tugas kita sebagai manusia, ya menjadi manusia. Ya toh?
Bicara soal pilihan hidup serta manifestasinya dalam bentuk keputusan, akhirnya hari Jum’at 11 Juli 2008 kemarin aku telah memutuskan untuk mengambil satu keputusan yang bakal mempengaruhi perjalanan hidupku ke depan, setelah mendapat tawaran dari penerbit Surabaya dan Jakarta.
Beratkan pilihan itu? Tidak juga. Namun paling tidak membuat sebuah perbedaan yang signifikan dalam tahun-tahun ke depan jika aku memilih salah satu dari tawaran itu. Ada sebuah perbedaan yang sangat mendasar jika aku memutuskan bekerja dan hidup di Surabaya, seperti halnya jika memutuskan bekerja dan hidup di Jakarta.
Sebuah penerbit di Surabaya memang menawari pekerjaan dan tinggal menetap di sana. Kalau kupilih, praktis hijrah ke ibukota Jawa Timur yang secara sosial maupun habitat sudah begitu akrab denganku. Tapi adakah alasan hebat yang membuatku mesti menerima tawaran tersebut dan hidup menetap di Surabaya?
Lalu soal tawaran Jakarta? Yup. Lagi-lagi sebuah penerbit menawariku memegang sebuah penerbitan di Jakarta. Di sana ditawari dua imprint meliputi buku-buku umum. Jakarta, hmm… mestikah aku hijrah ke Jakarta? Yang secara geografis paling banter hanya ditempuh selama 1,5 hingga 2 jam saja dari Bandung. Tapi tinggal di Jakarta?
Memang, secara sosial dan habitat aku tak begitu punya persoalan yang berarti dengan Jakarta. Jabatan serta kapasitas yang ditawarkan tentu lebih bergengsi. Salary? Jelas mengikuti. Habitat kesenian pun cukup menggiurkan dengan tinggal di Jakarta. Banyak kawan penulis, penyair, dan pekerja seni yang sudah cukup akrab. Tapi hidup di Jakarta? Hufh! Hufh! Hufh!
Satu-satunya hal yang sangat menggiurkan jika aku menerima tawaran penerbit Jakarta adalah: tiket untuk berangkat ke Frankfurt pada Oktober 2008 mendatang jelas telah di tangan. Sementara jika tawaran penerbit Jakarta tak kuambil, aku mesti menggunakan Law of Attraction soal Frankfurt dan jelas di luar penerbit tersebut. Olala, betapa dilemanya.
Tapi, apakah hidup semata mengejar tour de Europe? Aku mesti memastikan lagi tujuan karirku. Keliling dunia memang impianku. Tapi satu hal yang tak bisa ditawar-tawar adalah: bekerja memang mesti dengan cinta. Dengan sepenuh hati. Sementara bekerja di penerbitan? Aku merasa tidak terlalu silau dengan jabatan serta gaji sekian digit menjulang.
Ouw, aku tetap butuh uang. Siapa orang tak butuh uang. Aku tetap ingin mempunyai ranch di pinggiran kota suatu saat nanti. Suatu tempat di mana orang dapat mengakses secara bebas untuk keperluan kesenian dan ilmu pengetahuan. Bukankah untuk keinginanku itu aku mesti tetap bekerja atas mimpiku tersebut. Aku tetap butuh uang. Namun uang hanyalah sebagai kendaraan, bukan tujuan. Tapi bekerja tidak menggunakan hati, ow-ow-ow…
Bukan aku tidak mau keluar dari zona nyaman. Di tempatku bekerja yang kukelola sekarang ini aku merasakan betul nikmatnya bekerja. Aku bisa menentukan waktu kerjaku sendiri. Berhadapan dengan dunia publishing namun bukan penerbitan. Dinamis, aktif, dan berjibaku dengan deadline.
Skill betul-betul teruji di sini. Ya, tempatku bekerja sekarang memang bagaikan kawah candradimuka dalam dunia penerbitan. Hanya orang gila yang betul-betul ingin bertahan di dalamnya. Dan yang memang bertahan, harga serta kapasistasnya makin diperhitungakan.
Ibarat seorang ibu, aku menyusuinya, memberi makan, menina bobokan, bermain bersama, menyayangi sepenuh hati, mengajari bernyanyi serta berjalan. Dan kini ia telah lagi lari-lari kecil. Haruskah aku meninggalkannya?
Namun ternyata ada yang lebih penting dari itu semua, yaitu kenikmatan dalam bekerja. Mestikah kita menukar kenikmatan kerja dengan kapasistas serta digit salary yang lebih menjulang?
Bukankah hidup tak semata angka-angka.
12 Juli 2008 | 20.40 wib
