Beberapa hari lalu, seorang kawan bertanya padaku: “Bagaimana cara mengetahui seperti apa puisi yang baik itu?”

 

Terus terang saja, aku sedikit bingung menjawab pertanyaan tersebut. Soalnya adalah: lha  bagaimana caranya? Aku kan bukan pakar puisi. Juga bukan kritikus sastra. Bahkan sekiranya aku memang kritikus sastra sekalipun, apakah betul bisa menjawab dengan setepat-tepatnya? 

Bagaimana mengetahui sebuah puisi dianggap baik? Memangnya bagaimana puisi yang baik itu? Apa ada rumusnya? Bagiku puisi adalah genre sastra yang sangat pribadi. Teramat sangat individu. Siapa yang bisa menilai suatu puisi lebih baik dari puisi lainnya? Sama halnya sekiranya kita membedakan suatu puisi lebih jelek dari puisi lainnya.

Dulu, WS Rendra setengah mati keheranan kenapa sajak-sajaknya tidak pernah dimuat di majalah oleh HB Jassin, sang paus sastra itu. Adakah sajak Rendra sebegitu jeleknya sehingga tak layak muat? Meski demikian, Rendra tetap menulis sajak. Tetap berkarya. Dan sejalan waktu, ia bisa membuktikan bahwa sajaknya pada akhirnya bisa diterima publik.

 

Kini, apa yang keluar dari mulut Rendra seolah sebuah sajak. Setiap ia menulis sajak, orang akan menganggap itu karya seorang penyair besar. Dan bisa jadi ada orang yang sekonyong-konyong berkata: “Jelas saja bagus, kan dia penyair besar.” Padahal menurutuku tidak praktis demikian. Bukankah Rendra tidak sekonyong-konyong jadi penyair besar. Ia berproses.

 

Jadi bagaimana puisi yang bagus itu?

 

Semangatku biasanya kerap jompak terbakar ketika membaca sajak-sajak Chairil Anwar atau Wiji Thukul. Aku pun bisa jatuh cinta setengah hidup pada sajak-sajak Sapardi Djoko Damono, atau tersenyum geli mendengarkan Joko Pinurbo beraksi di atas pentas. Lain waktu malah bisa berkaca-kaca ketika menghayati Jalaluddin Rumi.

 

Tapi sepuluh tahun lalu, aku masih perlu mengernyitkan dahi ketika membaca sajak-sajak Goenawan Mohamad yang terkumpul dalam Misalkan Kita di Sarajevo. Sembari bertanya dalam hati: “Maksud orang ini apa sih?”

 

Dari nama-nama di atas yang kusebutkan sebelum nama Goenawan Mohamad (GM), apakah berarti sajak mereka lebih bagus? Dan sajak GM jelek? Apakah karena nama-nama yang kusebutkan sebelum nama GM sajaknya sangat realis sehingga mudah kucerna praktis bisa dikatakan bagus? Ketimbang sajak GM yang begitu penuh metafora maka disebut jelek?

 

Kukira ini bukan soal realis atau metafora. Tapi soal amunisi yang ada di kepala kita tatkala kita membaca sebuah karya. Sejalan dengan waktu, makin bertambahnya amunisi di kepala, -entah itu lewat bacaan, menyaksikan pagelaran puisi, kontemplasi, pengalaman, serta penghayatan makna kehidupan, aku mulai memahami apa yang coba disodorkan dalam sajak-sajak GM.

 

Sehingga, kalau boleh dengan gegabah menyimpulkan, baik tidaknya sebuah puisi, meski sangat individu, adalah kembali kepada diri kita sendiri, pembacanya: apakah ada relasi nilai ketika membacanya. Antara puisi dan diri kita.

 

Ada suatu rasa, suatu perasaan di mana kita merasa terwakili ketika kita membaca sajak tertentu. Boleh jadi kita akan mengatakan: “Sajak ini bagus betul,” atau orang sekarang bilang: “Gue banget!” Karena kita merasa diri kita yang seorang ini muncul di sajak bikinan si penyair. Atau keadaan serta kondisi tertentu begitu lincah dan pas digambarkan oleh sang penyair. Maka dengan tanpa syarat kita bisa serta merta mengatakan bahwa sajak yang baru kita baca itu: bagus.

 

Dengan demikian, bagus tidaknya sebuah sajak tidak praktis semata muncul dari nama besar. Dari tangan penyair yang sudah ternama. Bahkan orang yang seumur hidupnya belum pernah membikin sajak sekalipun (barangkali nggak pernah jatuh cinta dia!), kalau tiba-tiba ia membikin sajak dan kita nilai bagus, ya baguslah sajaknya. Bukankah kita pembacanya kan?

 

Jadi ini soal amunisi? Menurutku sih begitu. Lantas bagaimana dengan redaktur sastra atau budaya di koran-koran dan media massa yang tugasnya mengelola serta mengatur bakal sajak siapa yang berhak dimuat? Ya tentu mereka punya segudang amunisi. Ya semoga saja begitu. Tapi pasti tetap ada unsur subyektifitas kan? Yah, namanya juga manusia. Kalau kita ikhlas, bolehlah sesekali kita anggap sebagai sebuah kewajaran.

 

Bukankah orang dinilai dari karyanya. Bukan omongannya. Soal bagus atau tidak, biarlah orang lain yang menilai. Menulis kan soal keberanian. Satu orang menghadapi ribuan pembaca. Dan dari yang ribuan itu: berhak memuji, mengkritik, juga mencaci. Kalau tidak kuat, ya habis. Kalau kuat, orbitnya makin luas.

 

Jadi terus berkarya? Yeah. Karena tanpa karya, masa’ kita mau dinilai sebagai hewan yang pandai semata? Kalau bukan karena karya, 100 tahun yang akan datang, siapa yang masih mengenal nama kita? ;)

 

26 Juli 2008 | 05.25 wib