Epitaph (41)

MALAM HARINYA Arman berhasil mengontak bapak Laras. Tanpa pikir panjang bapak Laras langsung pulang ke Bandung. Esoknya berangkat ke Jakarta, ke kampus IKJ.

 

Bapak Laras, mas Oki dari keluarga Tedi ditambah Leo, putra pak Birhi sudah bergabung di posko IKJ. Kami semua masih menunggu kabar konfirmasi dari Medan tentang hasil temuan heli tersebut. Masih belum didapat kepastian apa yang musti kami perbuat dalam keadaan sekarang ini. Segera terbang ke Medan atau bagaimana. 

Tapi tiba-tiba, datang kabar begitu mengejutkan: pihak Angkatan Darat Medan ternyata tidak mengakui adanya mahasiswa IKJ dalam helikopter tentara yang baru saja berhasil dievakuasi. Mereka tidak mau mengambil resiko jika tersiar kabar di media massa bahwa helikopter tentara yang merupakan inventaris negara dipinjamkan pada pihak sipil. Apalagi untuk kepentingan komersil seperti proyek pembuatan film dokumentar yang tak ada hubungannya sama sekali dengan kegiatan militer.

Puah!! Aku menyumpah-nyumpah. Kawan-kawan IKJ malah sudah saling melontarkan kata umpatan. Geram sekaligus jengkel: mengapa harus image yang menjadi persoalan. Padahal dalam hal ini kami jelas-jelas tidak menuntut apa-apa selain dapat memulangkan kerangka kawan-kawan kami.

 

Semua bingung, belum lagi tau apa yang musti segera dilakukan. Padahal sudah jelas koresponden RCTI menangkap rekaman gambar tim yang berangkat evakuasi pagi tadi di Buletin Siang. Sableng! batinku. Bukankah identitas mahasiswa IKJ sudah dengan jelas diketahui dan disiarkan media. Lantas mau apalagi?

 

Tapi, sebentar, pantas saja, aku teringat kejadian dua tahun lalu. Ketika itu Yudin, bukankah sempat memotret Tedi dan Laras sebelum heli take off. Terpampang jelas jenis dan nomor seri heli yang mereka gunakan. Pantas saja ada pihak yang merampas rol-rol film di hotel tempat menginap Yudin dan kawan-kawannya.

 

Sebelum meninggalkan Medan sesaat setelah dihentikannya pencarian heli, aku sempat mengambil hasil cetak film Yudin dan membawanya pulang ke Jakarta.

 

“Din, barang bukti!” seruku pada Yudin.

“Barang bukti?”

“Iya, foto-foto helikopter yang sempat kamu potret!”

“Ai, betul!”

 

Kawan-kawan yang sedang berkumpul seperti paham apa yang musti dilakukan dengan barang bukti berupa foto helikopter yang dipotret Yudin.

 

“Kita gunakan saja foto itu sebagai bukti bahwa helikopter itu memang membawa penumpang.” usul Yudin.

“Kita sebar ke media.” tambah Gili kawanku.

“Nanti dulu,” potong mas Karin. “Okelah bahwa kita punya bukti yang valid tentang itu. Tapi kalau sudah begini, yang kita hadapi ini militer. Dan institusi ini taruhannya. Artinya, kita jangan gegabah dulu buru-buru menyebar itu untuk membuktikan atau menekan agar diakui bahwa helikopter itu membawa penumpang mahasiswa IKJ.” terang mas Karin. “Kenapa tidak kita lakukan pendekatan diplomasi dulu. Maksudnya, ya kita bicara dululah dengan pihak Angkatan Darat di Medan.”

“Ya, siapa tau ini memang disengaja oleh pihak Angkatan Darat agar kesan seperti itulah yang dikomsumi media.” Leo putra pak Birhi mengakuri.

“Bisa jadi. Betul, kita memang jangan buru-buru melakukan semacam, katakanlah, konfrontasi. Kita coba adakan pembicaraan. Toh sekarang yang jadi tujuan kita ‘kan bagaimana kita bisa mendapatkan kerangka keluarga kita. Soal pembuktian, barangkali tahapan kita belum sampai ke sana” jelas bapak Laras.

“Okelah kalau begitu.” tiba-tiba mas Oki, kakak Tedi, angkat bicara. “Saya setuju untuk melakukan pembicaraan, siapa tau mereka memang bisa koorperatif. Hanya saja kalau kita langsung terbang ke Medan dan melakukan pembicaraan, rasanya kita pergi tanpa amunisi.”

“Maksudnya?” tanya mas Karin.

“Ehm, saya nggak tau apa cara ini bisa diterima, tapi saya coba usul, bagaimana kalau saya mengajak seorang kenalan di Hankam[46] untuk sama-sama ke Medan, dan melakukan pembicaraan. Toh betul, tujuan kita hanya ingin agar kerangka keluarga kita dapat kembali pada kita. Tidak ada tujuan lain selain itu. Bukan bermaksud melakukan penekanan dengan mengajak serta kenalan saya dari Hankam, tapi paling tidak bargaining kita lebih lancar saja.”

“Bagaimana yang lain?” tanya mas Karin.

“Saya setuju.” jawab bapak Laras.

“Leo?” tanya mas Karin pada putra pak Birhi.

“Baiklah.”

“Oke.” sambung mas Oki lagi. “Usul saya, kita tidak perlu beramai-ramai ke Medan. Ini usul saya: bagaimana kalau saya dan kawan saya saja yang berangkat ke Medan?”

Bapak Laras mengangguk. “Kalau itu memang yang terbaik.”

“Kalau kami sepertinya tetap akan ke Medan sekeluarga. Karena rencananya kerangka ayah akan kami makamkan di Medan.” tukas Leo.

“Hmm, baiklah kalau begitu. Jika memang disepakati, saya ke Medan memang atas nama keluarga. Jadi pendekatan kita lebih persuasif. Yang lain tetap di Jakarta. Bagaimana?” tanya mas Oki.

 

Semua yang hadir di ruang posko IKJ mengakuri. Tak lama mas Oki mengeluarkan telepon genggamnya, berjalan pada suatu jarak, dan mulai mengontak kenalannya di Hankam Jakarta.

 

Tanpa sadar dan hampir secara bersamaan kami yang berkumpul menghela napas. Untuk sementara jalan keluar bisa kami dapatkan.

 

Dalam hati aku ingin sekali terbang ke Medan. Menjemput kerangka Laras. Tulang belulang Laras. Tak pernah kubayangkan sebelumnya, kekasihku Laras yang kucintai, kukasihi sepenuh hati kini tinggal tulang belulang. Tanpa daging, tanpa kulit. Laras, tinggal tulang belulang… Aku tak percaya. Tak percaya.

 

“Kamu musti makan, Kal.” Gili mengingatkanku. “Dari kemarin kamu nggak makan.”

Aku tergeragap kaget dari lamunan. “Kamu saja duluan.

 

ESOK HARINYA mas Oki dan kawannya dari Hankam itu terbang ke Medan. Keluarga pak Birhi menyusul dengan penerbangan berikutnya. Sengaja agar tak bersamaan. Tetap menurut rencana, jika kerangka pak Birhi sudah berhasil didapatkan, mereka hendak memakamkannya di Medan. Bapak Laras sendiri pulang ke Bandung. Aku yang akan tetap di Jakarta.

 

* * *

 

Bersambung…

 

(Seluruh cerita Epitaph dapat dilihat di: Nukilan).

 

© Daniel Mahendra



[46] Departemen Pertahanan dan Keamanan.

This entry was posted in Nukilan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Epitaph (41)

  1. Zahra says:

    “Puah?!” begini ya yang diucapin kalo menyumpah?
    Hihi.. Baru tau aq..

    Yup..Yup..Bener..Foto itu bukti otentikny..Jgn smp dirampas juga oleh mereka
    “aq kok jd ikut2 emosi ya [-( ”

    He..em.. Klo aq jadi haikal.. Aq pasti ndak mau ngapa2in, ndak mau makan..Pokokny gak peduli ma diri sendiri, istilah jawany ndak “kolu”..

    Menjemput tulang belulang sang kekasih..
    Hiks..Betapa sedihny..Tak terbayang dah..Hiks..

    Zahras last blog post..Seandainya memori itu bisa di hapus…

    Betul kamu ikut-ikut emosi, Zahra? Hmm-hmm-hmm.
    Ya, menyumpah yang aman ya begitu itu menurutku. Hehe.
    Waduh, ‘ndak kolu’ sampe dibawa-bawa. Ya jangan. Mesti tetap bisa berpikir realistis.
    Ya, menjemput tulang belulang sang kekasih. Pernahkah membayangkan hal itu? Kesedihannya tak bisa dibayangkan. Mesti dialami sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>