Kalau Bisa Lebih, Mengapa Mesti Biasa-biasa Saja?

Beberapa hari yang lalu seseorang mengirimkan SMS. Isinya sederet kalimat berupa judul tesis yang akan ia ajukan. Ia sedang minta masukan. Karena sedang di kendaraan dan juga karena SMS ke PDA, adalah sulit untuk membalasnya secara langsung saat itu juga.

 

Tapi sejak SMS siang itu, karena kesibukan, aku malah lupa untuk membalas dan memberi masukan seperti yang ia minta. Karena malam harinya, yang biasanya sebelum tutup hari kugunakan untuk mengecek SMS-SMS yang masuk dalam seharian penuh, malah luput sama sekali. Maka, ini lah kesempatanku untuk menjawab:

 

Sayang sekali, aku mesti jujur mengatakan bahwa judul yang kau sodorkan sangat-sangat sederhana. Bukan judul tesis. Tapi tak lebih tipikal sebuah skripsi S1. Aku tak mengatakan tidak bermanfaat, tapi kalau itu yang dijadikan penelitian, rasanya tesismu itu sekadar untuk lulus S2 semata. Tak lebih. 

Sayang sekali, aku mesti jujur mengatakan bahwa itu bisa saja dijadikan penelitian, tapi efeknya sangat terbatas. Orbitnya tak luas. Secara akademis pun tidak memberikan kontribusi yang berpengaruh bagi berkembangan ilmu secara holistik.

Dalam kasusmu, kenapa tidak anak autis saja yang kau teliti. Saat ini seberapa banyak masyarakat luas yang mengenal anak autis? Kebanyakan dari kita hanya tahu bahwa ada anak autis di sekitar kita. Tapi seperti apakah anak autis itu? Alih-alih cara berkomunikasi dengan anak autis, sedang bagaimana anak autis saja tidak semua masyarakat mahfum. Adalah menarik jika kau mengangkatnya dari pola komunikasi.

 

Dengan begitu, kau tak semata melakukan penelitian sekadar syarat untuk lulus S2. Ada sesuatu yang lebih yang kau lakukan. Tak semata angka-angka yang pada akhirnya hanya dijadikan ukuran. Tak kalah penting adalah: penelitianmu punya kans untuk terbit sebagai buku. Ya kan?

 

Kalau kita bisa melakukan lebih, kenapa mesti biasa-biasa saja? Kalau bisa juara satu, kenapa mesti juara dua? Bukankah manusia diciptakan sama. Yang membedakan justru usahanya. Seberasa besar ia berusaha, justru di situlah sebuah kualitas ditimbang-timbang kadarnya.

 

Sampai dengan hari ini, aku selalu menyukai analogi memanggil pelayan di sebuah kafe. Pernah mendengar analogi ini? Begini. Kalau aku masuk ke sebuah kafe, lalu aku teriak: “Mas!” pada pelayan, sang pelayan pasti akan kelimpungan tolah-toleh mencari asal suara. Tapi kalau aku menyalakan korek gas sembari memanggil: “Mas!”, sang pelayan bakal tau arah suara tersebut berasal. Tapi dari semua cara itu, bukan itu yang kulakukan. Yang kulakukan adalah: aku menyalakan obor! Obor yang kunyalakan sembari berteriak lantang: “MAS!!” Apa yang terjadi? Sang pelayan bukan saja menoleh dan berjalan ke arahku, tapi lari! Ia lari ke arahku dengan segera!

 

Terbayangkan maksud cerita analogiku itu? Dalam konteks yang tepat, carilah perhatian lebih, baik di lingkungan akademis, pekerjaan, maupun karya. Berbuatlah lebih. Tunjukan lebih. Maka percayalah: kau akan mendapatkan yang lebih pula. Kau yang melakukan. Semesta hanya meresponnya. Semakin biasa-biasa saja kau berbuat, semakin biasa pula semesta merespon serta mengembalikan apa yang kau suguhkan. Semakin hebat yang kau perbuat, semakin hebat pula hal-hal yang dikembalikan oleh semesta pada dirimu. Bukankah Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika bukan kaum itu sendiri yang berusaha merubahnya.

 

Nah, ini lah masukanku. Kau yang memintanya. Aku hanya menanggapi. Sudah barang tentu kau tak mesti percaya pada semua apa yang telah kututurkan. Aku hanya memberikan masukan. Semua kembali kepadamu. Bukankah kau pilot dari pesawat yang sedang kau terbangkan. Jadi: semua ada padamu.

 

Ah ya. Betapa pun apa yang nantinya kau pilih, sesuatu yang tak boleh kau nafikan adalah: lakukan apa yang memang betul kau sukai. Jangan melakukan sesuatu yang tak kau sukai. Biasanya hasilnya akan berbeda.

 

Kau boleh melupakan semua masukanku ini. Tapi paling tidak satu hal yang mesti kau pegang adalah: jangan pernah menyerah!

 

Itu saja. Sukses selalu untukmu.

 

Salam,

D.M. 

27 Juli 2008 | 04.17 wib

This entry was posted in Renungan. Bookmark the permalink.

21 Responses to Kalau Bisa Lebih, Mengapa Mesti Biasa-biasa Saja?

  1. prameswari says:

    gak berlaku buat belanja tuh mas….
    kalo bisa dapet murah tapi bagus kenapa beli mahal tapi bagus………..
    hehehe

    Dasar tukang belanja! Huh!

  2. prameswari says:

    Menurut ade, kadang kita tidak bisa melihat ide seseorang hanya melalui topik yang dia sodorkan. Kita mesti melihat konsep dia secara keseluruhan dan kita bisa pastikan nilainya.Dari judul yang sederhana kadang terkandung suatu penemuan yang maha dasyat.

    Betul. Tapi aku sudah dengar konsepnya. Sudah ganti-ganti berapa kali itu judul tesis.

  3. DV says:

    Kok Prameswari bilang “ade”, jangan2 kamu Ade Irma Soeryani ya? Eh, maaf Mas Daniel :)

    DVs last blog post..Kenapa Terkadang Kami Dianggap GIla?

  4. natazya says:

    ga mao cerita cerita skripsi ah ama om ini…

    :lol:

    natazyas last blog post..JAW

    Hihihi… Skripsinya woi, selesein skripsinyaaa…!!! :p

  5. nita says:

    jangan2 itu sudah maksimal baginya sehingga kalo ia diminta menghasilkan sesuatu yg lebih tinggi lagi end result-nya malah akan buruk

    nitas last blog post..PENGAMANAN ISTANA NEGARA

    Hmmm… betul juga, Mbak Nita. Aku terlalu memasang standar berlebihan pada orang lain ya? Ya-ya-ya. Betul juga. Tidak semua orang sama. Tapi, tapi ya itu lah konsekuensinya kalau minta pendapatku. Salah sendiri. Hihihi!

  6. windy says:

    @DV: biar ga salah manggil don… biar ga salah jadi semuanya sama…. tanya dm jgn tanya prameswari…hihihi

  7. Cak Ri says:

    Mungkin sebenarnya sudah hebat, hanya mungkin juga belum mampu menyampaikannya dengan hebat, banyak kok orang orang super yang aku temui tapi kurang mampu mengkomunikasikan kemampuannya…..

    Emh, bisa jadi, Cak. Betul juga.
    Tapi ngomong-ngomong, jadi nikah nih, Cak? Hihihi. Thanx undangannya. Undangan zaman sekarang cukup pakai jpeg via email ya. Bagooosss…

  8. DV says:

    @Windy: Hohohoho… jadi si DM manggil loe juga Ade ?
    Berarti kalau si Prameswari adalah Ade Irma Suryani, loe sapa dong..?
    Adede Yusuf kah ? atau jangan2 Ade Juwita yang transgender itu, Ndi!

  9. windy says:

    @DV: Eh Don Dodol! Gw mah nggak penting mau jadi Ade Juwita atau Ade Irma Suryani sekalipun…krn gw tau itu mah cuma salah satu trik si dm ajah biar keliatan loveable seperti yg lu bilang, apa perlu kita list si ade-ade yg lain ? hihihihi

  10. DV says:

    @Windy: Wah, Windy mulai bersuudzon ama si Kakak Daniel nih tampaknya. Ati-ati loe ntar nggak dipanggil “Adek” lagi ama si abang baru tau rasa loe!

    Tapi ok lah, dari gigihnya perjuanganmu selama ini untuk “menyerang” DM semangkin menampakkan bahwa engkau sebenarnya belum siap undur diri dari gelanggang memperebutkan DM sebagai supremasi cintamu, kan ?

    Ya sudah, tataplah musuh2mu itu!

    DVs last blog post..Kenapa Terkadang Kami Dianggap GIla?

  11. windy says:

    @DV: baiklah….jadi mending kita tanya langsung ke mas daniel sang idola kita ituh… sebenernya siapa yg di pilih… ayo tentukan pilihanmu daripada terjadi pertumpahan darah di ranah perbloggeran….hhihihihi

  12. prameswari says:

    seru….seru

  13. prameswari says:

    kadang karena terlalu seru pertempuran antara DV, DM dan Windy di ajang per komen-an, sampai-sampai topik utama yang dibicarakan jadi gak keliatan… hehehe

  14. DV says:

    Keliatan aja, tinggal scroll ke atas maka tampaklah topik utamanya…
    Kecuali kalau memang topik utamanya terselubung.. sesuatu yang terselubung itu memang menggelikan.

    Seperti si Windy, ketika ke Bandung, kupikir topik gamblangnya adalah ingin berlibur bertiga, eh ternyata ada agenda terselubungnya yaitu .. ehm, ehm.. tak enak diungkapkan di sini, rahasia betiga!
    Tosss Ndi!

  15. windy says:

    bilang don…. bilang…. kasih barbuk…. barbuk manaaa…. siapa yg takuuttt….

  16. wah
    kita harus tetap semangat
    jadilah yg terbaik :)

    achoey sang khilafs last blog post..Satu Sisi Perjalanan Seorang Anak (Fiksi)

    Begitu ya, Kang? Tentu saja. Tapi terbaik? No. Don’t be the best, but better. Kalau jadi yang terbaik, berarti selesai. Berhenti sampai di situ. Tapi kalau better, berarti tumbuh. Terus makin baik, makin baik, makin baik. Itu yang lebih kupercaya.

  17. wah, kayaknya masi daniel mendapatkan tambahan profesi baru sebagai konsultan tesis nih, hehehehe :lol: tesis kalau bisa memang ndak hanya sekadar untuk mengugurkan kewajiban sebagi syarat mendapatkan ijazah s2, melainkan juga ada nilai tambah, terutama yang relevan dengan keahilan dan spsifikasi bidang yang digelutinya.

    Walah, ya ndak tho, Pak Sawali. Lha wong hanya dimintai masukannya aja kok. Tapi ya itu yang ta’ maksud, memang mesti ada nilai tambah. Dan tentu saja yang relevan dengan keahlian dan spesifikasi bidangnya. Matur suwun, Pak guru.

  18. edratna says:

    Sejak ngeblog, banyak sekali saya mendapat pertanyaan, tentang ybs sedang menulis untuk skripsi, thesis dsb nya. Anehnya dia menanya pada salah satu postingan, dan benar-benar pertanyaan dan isi postingan jauh berbeda. Gejala ini sebetulnya telah saya lihat sejak sekitar tahun 90 an, saat saya menjadi seorang manager di suatu Bank, yang banyak menerima mahasiswa magang. Anak buahku sering malas kalau membantu mereka, karena mereka begitu tak acuhnya, dan setiap kali dijelaskan kayaknya ga perhatian. Tapi untuk universitas tertentu (yang masuk the big five’s) menunjukkan bobot yang berbeda…sesuai dengan namanya.

    Menurut saya, banyak sekali saat ini universitas yang dapat target dan dinilai dari banyaknya mahasiswa yang lulus, padahal lulus saja tidak cukup untuk bersaing di dunia kerja yang begitu ketat persaingannya. Jadi, saya tak heran kalau ada postingan blog, yang isinya orang mengeluh pada suatu perusahaan karena mereka dikeluarkan dari perusahaan itu saat training….kayaknya mereka tak baca aturan saat training (sebagai karyawan baru) bahwa masih sistim gugur…..karena saat ini perusahaan harus terus meningkatkan kualitas SDM nya kalau tetap ingin hidup di kancah persaingan yang makin ketat ini.

  19. Rinurbad says:

    Kenapa mesti biasa-biasa aja? Karena udah bikin bagus pun, diacak-acak dosen sampai akhirnya bentuknya nggak dikenali lagi dan bukan karyaku lagi deh..malezzzzz..

    Nah-nah-nah, itu dia, Rin. Kadang hal seperti itu sering kali terjadi. Jamak banget. Nggak jarang ada mahasiswa yang justru lebih pinter dari dosennya. Tapi tentu saja dosennya tak mau kehilangan muka hanya karena mahasiswanya jauh lebih cerdas. Yang terjadi: bisa ditebak sendiri! ;)

  20. Rafki RS says:

    Sungguh inspirasi yang sangat luar biasa dan diceritakan dengan analogi yang mudah dimengerti.

    Terima kasih, Pak Rafki. Terima kasih.

  21. andalusia says:

    mas, berlaku juga gak buat skripsi?

    habisnya banyak banget yg bilang, “skripsi mah jangan terlalu idealis, percuma, mana ada yang mau baca skripsi??”

    padahal…saya kan cuma ingin melakukan yg terbaik…

    *hehehe…maaf malah curhat^^

    Yeah! Aku hargai pendapatmu. Bukan semata skripsi. Tapi soal bagaimana kita bersikap dalam memandang sesuatu. Orang yang berkata: “skripsi mah jangan terlalu idealis, percuma, mana ada yang mau baca skripsi??”, tujuannya terlampau instan. Sangat jangka pendek sekali cara berpikirnya. Kalau kita tinggal seorang diri di rumah, siapa yang tahu kalau kita tetap sholat atau tidak? Tapi kita tetap melakukan itu bukan karena dilihat atau tidaknya oleh orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>