penganyamkata.net
current   |   rss

Kalau Bisa Lebih, Mengapa Mesti Biasa-biasa Saja?

Published July 27, 2008

Beberapa hari yang lalu seseorang mengirimkan SMS. Isinya sederet kalimat berupa judul tesis yang akan ia ajukan. Ia sedang minta masukan. Karena sedang di kendaraan dan juga karena SMS ke PDA, adalah sulit untuk membalasnya secara langsung saat itu juga.

 

Tapi sejak SMS siang itu, karena kesibukan, aku malah lupa untuk membalas dan memberi masukan seperti yang ia minta. Karena malam harinya, yang biasanya sebelum tutup hari kugunakan untuk mengecek SMS-SMS yang masuk dalam seharian penuh, malah luput sama sekali. Maka, ini lah kesempatanku untuk menjawab:

 

Sayang sekali, aku mesti jujur mengatakan bahwa judul yang kau sodorkan sangat-sangat sederhana. Bukan judul tesis. Tapi tak lebih tipikal sebuah skripsi S1. Aku tak mengatakan tidak bermanfaat, tapi kalau itu yang dijadikan penelitian, rasanya tesismu itu sekadar untuk lulus S2 semata. Tak lebih. 

Sayang sekali, aku mesti jujur mengatakan bahwa itu bisa saja dijadikan penelitian, tapi efeknya sangat terbatas. Orbitnya tak luas. Secara akademis pun tidak memberikan kontribusi yang berpengaruh bagi berkembangan ilmu secara holistik.

Dalam kasusmu, kenapa tidak anak autis saja yang kau teliti. Saat ini seberapa banyak masyarakat luas yang mengenal anak autis? Kebanyakan dari kita hanya tahu bahwa ada anak autis di sekitar kita. Tapi seperti apakah anak autis itu? Alih-alih cara berkomunikasi dengan anak autis, sedang bagaimana anak autis saja tidak semua masyarakat mahfum. Adalah menarik jika kau mengangkatnya dari pola komunikasi.

 

Dengan begitu, kau tak semata melakukan penelitian sekadar syarat untuk lulus S2. Ada sesuatu yang lebih yang kau lakukan. Tak semata angka-angka yang pada akhirnya hanya dijadikan ukuran. Tak kalah penting adalah: penelitianmu punya kans untuk terbit sebagai buku. Ya kan?

 

Kalau kita bisa melakukan lebih, kenapa mesti biasa-biasa saja? Kalau bisa juara satu, kenapa mesti juara dua? Bukankah manusia diciptakan sama. Yang membedakan justru usahanya. Seberasa besar ia berusaha, justru di situlah sebuah kualitas ditimbang-timbang kadarnya.

 

Sampai dengan hari ini, aku selalu menyukai analogi memanggil pelayan di sebuah kafe. Pernah mendengar analogi ini? Begini. Kalau aku masuk ke sebuah kafe, lalu aku teriak: “Mas!” pada pelayan, sang pelayan pasti akan kelimpungan tolah-toleh mencari asal suara. Tapi kalau aku menyalakan korek gas sembari memanggil: “Mas!”, sang pelayan bakal tau arah suara tersebut berasal. Tapi dari semua cara itu, bukan itu yang kulakukan. Yang kulakukan adalah: aku menyalakan obor! Obor yang kunyalakan sembari berteriak lantang: “MAS!!” Apa yang terjadi? Sang pelayan bukan saja menoleh dan berjalan ke arahku, tapi lari! Ia lari ke arahku dengan segera!

 

Terbayangkan maksud cerita analogiku itu? Dalam konteks yang tepat, carilah perhatian lebih, baik di lingkungan akademis, pekerjaan, maupun karya. Berbuatlah lebih. Tunjukan lebih. Maka percayalah: kau akan mendapatkan yang lebih pula. Kau yang melakukan. Semesta hanya meresponnya. Semakin biasa-biasa saja kau berbuat, semakin biasa pula semesta merespon serta mengembalikan apa yang kau suguhkan. Semakin hebat yang kau perbuat, semakin hebat pula hal-hal yang dikembalikan oleh semesta pada dirimu. Bukankah Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika bukan kaum itu sendiri yang berusaha merubahnya.

 

Nah, ini lah masukanku. Kau yang memintanya. Aku hanya menanggapi. Sudah barang tentu kau tak mesti percaya pada semua apa yang telah kututurkan. Aku hanya memberikan masukan. Semua kembali kepadamu. Bukankah kau pilot dari pesawat yang sedang kau terbangkan. Jadi: semua ada padamu.

 

Ah ya. Betapa pun apa yang nantinya kau pilih, sesuatu yang tak boleh kau nafikan adalah: lakukan apa yang memang betul kau sukai. Jangan melakukan sesuatu yang tak kau sukai. Biasanya hasilnya akan berbeda.

 

Kau boleh melupakan semua masukanku ini. Tapi paling tidak satu hal yang mesti kau pegang adalah: jangan pernah menyerah!

 

Itu saja. Sukses selalu untukmu.

 

Salam,

D.M. 

27 Juli 2008 | 04.17 wib