8
Negoisasi
SIAPA YANG bakal mengira jika prosesnya begitu menggila. Dua hari kami yang di Jakarta terkatung-katung tanpa keputusan jelas. Yang kami ketahui hanya kabar yang sambung-menyambung bahwa negoisasi sedang dilakukan.
Mas Oki dan kawannya memang telah bertemu dengan pihak Kodam I Bukit Barisan. Tetapi pihak Angkatan Darat tetap bertahan bahwa helikopter yang telah mereka evakuasi tak terdapat penumpang di dalamnya. Mereka memang mengakui bahwa helikopter yang diketemukan di Gunung Sibayak adalah milik Angkatan Darat. Namun tak membawa mahasiswa IKJ seperti yang tersiarkan media massa. Pantas saja, ketika pencarian dua tahun lalu, tim tentara tidak mau bergabung dengan tim SAR swasta yang terdiri dari pecinta alam mahasiswa. Mereka bersikukuh helikopternya yang hilang jatuh di sekitar lokasi rutin latihan mereka.
Kami tetap terkatung-katung dan hampir frustasi karena tidak adanya kejelasan kabar. Padahal, helikopter jelas-jelas sudah lagi ditemukan. Banyak media massa pun menyiarkan identitas penumpang. Apa sulitnya. Kami dari pihak keluarga toh tidak menuntut apa-apa. Tidak terniat menjadikan ini sebagai kasus. Biar itu jadi urusan intern Angkatan Darat. Tapi ini soal manusia.
Dan yang tak kalah dahsyat, saat kami yang di Jakarta maupun pihak keluarga belum lagi mendapat kepastian apakah kerangka Laras, Tedi, dan pak Birhi dapat dibawa pulang, kerangka pilot serta co-pilot helikopter itu justru telah diterbangkan dan dimakamkan pada keluarga masing-masing di Jawa. Hebat benar!
* * *
Melalui pembicaraan yang alot dan cukup panjang antara kawan mas Oki dari Hankam dengan pihak Angkatan Darat, tawar-menawar pun terjadi. Akhirnya terbukalah semua. Kerangka-kerangka tersebut memang disimpan oleh pihak Angkatan Darat. Diamankan di Rumah Sakit Angkatan Darat. Menurut informasi yang kami terima, mereka dapat saja menyerahkan kerangka tersebut pada keluarga masing-masing, namun dengan beberapa syarat yang musti dipenuhi:
“Syarat?” tanya mas Oki mengernyitkan dahi. “Hmm, okelah. Apa itu?”
“Tidak ada pers. Kerangka ini betul-betul dibawa oleh pihak keluarga. Atas nama keluarga. Jangan sampai media tau.” terang Perwira Angkatan Darat itu.
“Baik. Itu saja?” tanya mas Oki.
“Belum. Sesampai di Jakarta, kami minta tidak ada penyambutan secara terang-terangan di bandara. Juga tidak ada semacam upacara pelepasan di kampus. Musti langsung dibawa ke rumah keluarga korban.”
Mas Oki pun menyanggupi syarat kedua. Meski dalam hati berpikir: adalah hak kami untuk memperlakukan apa yang hendak kami perbuat pada kerangka tersebut. Tapi demi kepulangan keluarga juga, ia menyanggupi syarat tersebut.
“Satu lagi,” ujar Perwira itu. “Kerangka tidak dibawa dengan menggunakan peti!”
Mas Oki tidak mengerti. “Lantas?!” tanyanya dengan nada sedikit meninggi.
“Dibungkus, dan dimasukkan ke dalam tas. Dan yang terpenting: di pesawat tidak menggunakan cargo, tapi ikut ke dalam kabin penumpang!”
Masya Allah!! Begitukah perlakuan manusia terhadap manusia? Luar biasa sekali! Syarat terakhir sempat mentah-mentah ditolak mas Oki. Karena bagaimana pun, kerangka tersebut tetaplah manusia. Bagaimana mungkin tulang belulang manusia dibungkus dan dimasukkan ke dalam tas, lantas dijinjing tak beda layaknya membawa barang. Mas Oki menolak syarat terakhir. Ia merasa tak tega jika musti memperlakukan kerangka manusia sedemikian ringan. Tapi itu pilihan terakhir yang mereka tawarkan. Sekali lagi: sungguh luar biasa!
“Kami mencoba koorperatif. Kami pun tidak bermaksud menahan kerangka korban. Justru kami tetap ingin agar kerangka-kerangka itu dapat kembali pada keluarganya, sebagai yang berhak. Tapi cobalah kita mencari jalan tengah. Keluarga dapat membawa kerangka-kerangka itu, sementara kami pun tak ingin hal ini sampai ke media. Sama-sama menguntungkanlah…” terang Perwira itu panjang lebar.
Mas Oki tercenung cukup lama. Tapi ini demi kepulangan kerangka pada keluarga juga, pikirnya. Ia yang mewakili keluarga korban yang lain merasa memiliki tanggung jawab untuk dapat berhasil membawa pulang kerang tersebut. Akhirnya ia menyetujui.
Usai pertemuan tersebut, malam itu juga dari markas komando daerah militer mas Oki dan kawannya diantar ke Rumah Sakit Angkatan Darat Medan untuk memastikan keberadaan kerangka-kerangka korban yang disimpan di sana.
Sampai rumah sakit, suasana sedikit tegang dan mencekam. Bukan karena rumah sakitnya yang menyeramkan, namun lebih pada suasana hati mas Oki yang akan melihat langsung kerangka-kerangka yang hampir dua tahun lamanya bersemayam di dalam lembah hutan.
Begitu memasuki kamar mayat, perwira Angkatan Darat itu membawanya ke pojokan ruangan. Di sana teronggok tiga rumpun kerangka milik pak Birhi, Tedi, dan Laras. Di samping masing-masing setiap rumpun teronggok barang-barang milik si pemilik kerangka.
Mas Oki sejenak tercekat. Terlebih melihat kerangka milik adiknya, Tedi. Tulang belulang adiknya itu terlihat yang paling lengkap dan utuh dibanding yang lain. Namun yang membuatnya terhenyak adalah: tengkorak adiknya telah pecah. Mas Oki terkelu. Ia meraba tulang belulang adiknya.
“Kerangka ini belum bisa dibawa sekarang. Musti ada surat izin jalan dari dokter forensik. Prosedur saja.” jelas perwira itu tiba-tiba.
Mas Oki hanya mengangguk. Dan kesemuanya meninggalkan kamar mayat yang senyap itu.
Bersambung…
(Seluruh cerita Epitaph dapat dilihat di: Nukilan).
© Daniel Mahendra




Saya mendengar & membaca ttg kecelakaan itu di koran, jadi penasaran…apakah penuturan runtutan kejadian ini nyata?
Yogas last blog post..Well.. Yeah… (Party & Shopping things)
Hiks.. Kejam!!..Kejam!! Sungguh perwira yang Kejam!! Gitu disebut perwira??
Bahkan di sebut sbagai manusia saja harusny masih di pertanyakan!
Hiks.. Kejam banget!
Zahras last blog post..Seandainya memori itu bisa di hapus…
Sebelum dalam bentuk teks?
….speechless.
Yogas last blog post..Well.. Yeah… (Party & Shopping things)