Epitaph (43)
Keluar rumah sakit pukul 01.00 dini hari. Mas Oki langsung menelpon bapak Laras di Bandung. Mengabarkan: hasil pembicaraan dengan pihak Kodam telah menghasilkan kesepakatan bahwa kerangka tersebut boleh dibawa pulang. Hanya untuk membawanya dibutuhkan surat izin jalan yang hanya bisa didapatkan dari dokter forensik.
Mas Oki meminta pada bapak Laras untuk membuat ‘surat kuasa’ atas kerangka Laras yang nantinya dikuasakan pada mas Oki guna membawanya. Setelah menelpon bapak Laras, mas Oki mengontak keluarga pak Birhi yang sudah berkumpul di Medan. Mengabarkan hal yang sama tanpa musti dilengkapi surat kuasa.
Esok siangnya pukul 11.30 mas Oki kembali menelpon bapak Laras di Bandung, mengabarkan: saat ini ia sedang berada di rumah dokter Edi. Meminta bapak Laras agar segera mengirim surat kuasa tersebut pada alamat SATGAS SAR Pemda TK I Sumatra Utara dengan alamat Jalan Sei Belutu Medan.
Pukul 12.15 mas Oki kembali menelpon agar surat kuasa dikirim melalui faks ke Hotel Polonia Medan untuk kamar nomor 239.
13.25 mas Oki menelpon kembali, menanyakan apakah faks sudah dikirim.
21.30 mas Oki menelpon, saat ini masih di kediaman dokter Edi.
Jam 23.30 mas Oki mengabarkan bahwa semua sudah final. Besok pagi kerangka Tedi dan Laras sudah bisa dibawa dan langsung terbang ke Jakarta. Sementara kerangka pak Birhi akan langsung dibawa keluarga karena akan dimakamkan di Medan. Tak luput mas Oki mengontak posko IKJ Jakarta guna menginformasikan segala sesuatunya yang sudah didapatkan.
Pagi 7 April 1996 bapak Laras melesat ke Jakarta. Ia membawa ambulan dari Yayasan Bunga Kamboja, Bandung. Langsung melesat ke bandara. Aku, Gili, Yudin, dan kawan-kawan IKJ langsung menuju bandara Soekarno Hatta. Sebagian berangkat secara terpisah, dengan kesepakatan: tidak ada penyambutan secara terang-terangan dalam bentuk apa pun.
Informasi tentang bagaimana teknis kerangka tersebut dibawa memang disengaja mas Oki tidak disebar luaskan. Bahkan aku sendiri tidak tahu. Ini memang merupakan kesepakatan. Tak aneh bila beberapa kawan IKJ ada yang menunggu di pintu bagian cargo. Mereka membayangkan kerangka-kerangka itu dimasukan ke dalam peti mati. Sementara kawan lainnya menunggu tersebar secara terpisah. Aku berhasil bertemu dengan bapak Laras. Semua mata memancarkan bentuk penungguan.
Akhirnya pesawat yang membawa kerangka Laras dan Tedi mendarat di bandara Soekarno-Hatta Jakarta setelah melesat dari Polonia Medan. Dari kejauhan nampak mas Oki berjalan bersama kawannya dari Hankam itu. Di punggung keduanya tergantung tas ransel. Sementara tangan keduanya tampak menenteng sebuah tas kecil berwarna hitam sebesar travel bag. Kawan-kawan IKJ langsung menyerbu. Aku tak kalah antusias.
“Mana?” tanya kawan-kawan.
Kawan mas Oki hanya melirik mas Oki, tak menjawab.
“Kerangkanya gimana, Mas?” tanyaku.
Mas Oki tak menjawab. Ia berhenti pada suatu jarak. Hanya matanya melirik pada tas hitam yang ditenteng di tangannya.
Semua mengikuti arah lirikan mas Oki, lantas sontak terkesiap dan bukan alang kepalang kagetnya! Semua mata terbelalak!! Terkelu!! Sebagian menutup mulutnya!! Sebagian meraba keningnya!! Aku sendiri langsung memburu travel bag itu.
Laras?! Laras?! Di dalam tas sekecil ini?! Tulang-belulangmu?! Dalam tas sekecil ini?! Tetesan air mata sudah tak terbendung lagi. Laras!! Begitu cara manusia memperlakukan manusia? Begitu cara manusia menghormati sesama manusia? Sungguh tak kuat aku mengungkapkan perasaanku. Kawan-kawan IKJ langsung merubungnya. Yang lain masih menunggu di pintu cargo.
Mas Oki langsung menyalami bapak Laras. Bertiga dengan kawan Hankam, mereka memisahkan diri dan berbicara pada jarak terpisah.
Dalam iring-iringan, aku menggotong travel bag itu menuju ambulan. Sementara kerangka Tedi musti langsung berganti pesawat menuju Yogyakarta dan terus ke Klaten, Jawa Tengah.
Di sekitar ambulan sudah berkumpul saudara-saudara Laras yang tinggal di Jakarta. Kawan-kawan IKJ yang menunggu-nunggu di pintu kargo sudah diberitahu. Mereka merapat ke ambulan.
Aku menaikan travel bag itu ke bagian belakang ambulan. Meletakkannya di sana. Kawan-kawan Laras mulai mengintip travel bag itu dari kaca jendala. Tak mengira sama sekali: Laras hanya tinggal tersisa dalam travel bag kecil itu. Saudara-saudara Laras sendiri mulai ada yang menitikkan air mata di sekitar ambulan.
Aku sendiri langsung memisahkan diri. Mengambil sebatang rokok dan menyulut di suatu jarak yang sedikit menjauh. Gili yang melihat aku menyingkir mencoba menghampiri, namun ia urungkan. Ia memahami apa yang sedang kurasakan. Tapi barangkali ini bukan saat untuk bersentimentil-sentimentil, ia tetap mendatangiku.
“Kal,” panggilnya.
Aku tergeragap menyadari ada yang memanggil dari belakang. Aku mengusap mataku. “Ya?” jawabku terisak.
Gili langsung memelukku.
“Larasmu, Kal. Larasmu sudah kembali!” aku membalas pelukannya. Erat.
Air mataku tumpah sudah sejadi-jadinya.
JARAK JAKARTA-Bandung hanya ditempuh dalam beberapa jam saja melalui Puncak. Aku duduk di sebelah tas Laras di dalam ambulan. Kadang memeluknya sembari tiduran dan tak henti-hentinya menyeka tetesan air mata yang terasa tak pernah kering.
Bapak Laras duduk di depan. Di belakang ada aku, Gili, Barli, dan Humam, dua kawan Laras juga di IKJ. Di belakang mobil ambulan beriring-iringan mobil mahasiswa IKJ, termasuk Yudin dan beberapa saudara Laras yang tinggal di Jakarta, mengikuti sirine yang meraung-raung.
Bersambung…
(Seluruh cerita Epitaph dapat dilihat di: Nukilan).
© Daniel Mahendra


Wah kok bersambung..udah deg2-kan bacanya
Diahs last blog post..Resep Semar Mendem
hiks… hiks… hiks…
iyalah.. kun juga deg degan..
tp yg penting… ooooooommmmm buka ymnya.. kun butuh bantuan mu..plis sekarang bgt…
ga deg degan sih… cm ikutan kata2 yg diatas itu. kun ga ngerti.. cm lg da perlu aja.. hohoho..