Epitaph (44)

9

Epitaph[47]

 

Sirine ambulan meraung-raung memasuki komplek perumahan Laras di Bandung bagian tenggara. Beberapa orang di rumah Laras yang mendengar raungan itu sontak berdiri dan mengabari atas kedatangan rombongan.

 

Di depan rumah Laras sendiri sudah dipasang tenda meneduhi jalan dengan kursi-kursi lipat untuk tetamu tersebar di bawahnya. Para tetangga, kawan Arman, kawan Ria, sanak saudara Laras serta beberapa kawanku tampak sudah berkerumun di sana.

 

Maka berhentilah ambulan tepat di depan pagar rumah Laras. Sirine masih juga meraung-raung. Bapak Laras turun. Humam segera membuka pintu belakang ambulan. Beberapa orang yang berdiri menyongsong di belakang ambulan telah siap dengan posisi tangan seolah hendak mengangkat peti mati. Namun ketika pintu belakang terbuka, mereka terkesiap, ternganga: karena tak menemukan peti mati yang mereka bayangkan!

 

“Lho, mana petinya?!” tanya mereka. 

Tak lama aku turun, membopong sebuah tas kecil berwarna hitam: berisi kerangka Laras. Semua yang melihat hanya tercengang. Belum tau apa musti dikata.

Sambil membopong tas aku terus masuk ke dalam ruang tamu. Sebuah meja rendah berukuran panjang telah dipersiapkan tepat di tengah runag tamu. Dengan perlahan kuletakkan tas kecil berwarna hitam itu di atasnya. Mama Laras yang menyosong dari ruang dalam demi melihat anak gadisnya hanya tinggal berbilah-bilah tulang di dalam tas sekecil itu, bukan kepalang histerisnya: menjerit, meraung, memanggil-manggil nama Laras berulang-ulang.

 

“Laras… Laras… Laras…” jeritnya histeris.

 

Semua yang mendengar merasa terentak serta tak bisa menyembunyikan perasaan sedihnya. Tanpa ada yang mengomando: semua yang ada di sana mau tak mau bersepakat untuk turut tersayat-sayat hatinya. Suasana begitu pilu, mencekam, mengharukan dan menyayat hati. Sungguh aku tak kuasa melukiskan kejadian sore itu.

 

Mama Laras menghambur pada tas kecil itu. Memeluknya. Mengusap-usapnya. Menangis, histeris, meraung-raung, namun sungguh tak berani membuka isi tas itu. Tak ada orang lain yang berani mencegah adegan mama. Hanya kakak mama yang mencoba menenangkan mama Laras. Suasana betul-betul mengharukan. Aku sendiri tak kuat berlama-lama di ruang tamu itu.

 

“Laras… Laras… Laras…” jerit mama makin histeris.

 

Semua yang ada di ruangan itu masih membisu. Tetes-tetes air mata mulai berjatuhan menggerimisi pipi pemiliknya. Bapak Laras hanya terkelu melihat istrinya menangis histeris seperti itu.

 

Tak tahan dengan suasana ruangan serta bergemuruhnya hati yang tercabik-cabik, aku memilih ke luar ruangan. Mencomot sebatang rokok, dan mulai menyulut di pojok halaman rumah. Beberapa kawan menghampiri dan memelukku. Tetangga-tetangga mulai menyerbu ke dalam.

 

Aku tak mengira akan begini kejadiannya. Laras memang telah lagi ditemukan. Telah lagi pulang. Namun kepulangannya hanya berupa tulang-belulang yang tak mewujud perempuan yang pernah begitu kukasihi sepenuh hati.

 

Tak pernah aku menyangka: pertemuan di stasiun saat mengantar Laras pergi ke Jakarta tempo hari, merupakan pertemuan yang terakhir kalinya. Betul-betul untuk terakhir kalinya.

 

Masih kuingat senyumnya. Masih begitu kurasa kecupan dan pelukan hangatnya. Masih sangat kuingat semua. Mataku mulai berkaca-kaca. Isapan rokokku sudah tak jelas temponya. Kawan-kawanku yang kebetulan masih berada di dekatku, mencoba memahami suasana hatiku.

 

Bersambung…

 

(Seluruh cerita Epitaph dapat dilihat di: Nukilan).

 

© Daniel Mahendra

 


 

[47] Inggris: tulisan di batu nisan. Indonesia: tulisan singkat pada batu nisan untuk mengenang orang yang dikubur di dalamnya.

This entry was posted in Nukilan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Epitaph (44)

  1. Zahra says:

    Kalo ceritat ini di filmkan gmn ya mas? Ada rencana ga ya? Bagus bgt pasti..
    Dan aq.. Klo liat filmny pasti gak henti2ny mengeluarkan kristal bening (hehe..Nyomot kata2ny mas daniel) dr mataku.
    Bgaimana nggak.. Tiap baca epitaph ini aja dah berderai-derai.. Gmn klo liat filmny..
    Moga bener2 ada rncn dibikin filmny ;)
    oya..Mas.. Catatan kakiny.. Yg 47 itu, nyambung di bag mana ya?

    Dalam skala besar, ada keinginan menjadikan cerita ini sebagai film layar lebar. Tahapannya sudah dicoba. Cerita ini awalnya dalam bentuk cerpen, lalu sekarang novel. Tapi aku masih ingin tes dulu dalam bentuk novel. Bagaimana pengaruh arus baliknya. Soalnya ini sudah menyangkut banyak institusi. Kalau sampai pengarangnya diculik, baru seru! ;)

    Catatan kaki 47 itu menerangkan arti dari judul Epitaph, Zahra. Thanx atas apresiasimu selama ini. Cerita Epitaph sudah nyaris memasuki bagian akhir. Bagian kedua dari novel ini: Epigraf. Masih berminat mengikuti? ;)

  2. Zahra says:

    Waah..Aq jadi yg pertama comment lagi.. Hihi..
    Tapi sayangny.. Pas mas daniel ultah kmarin aq gak bisa comment di posisi pertama.. :(

    Kan bukan soal pertama atau keberapanya, Zahra… :)

  3. suhadinet says:

    Sepertinya untuk menulis novel apalagi tetralogi (benar epitaph ini tetralogi ya Mas Daniel?)perlu energi besar ya? Mas Daniel, boleh tidak Mas Daniel beri saya tips, 5 hal yang paling penting harus disiapkan saat akan membuat sebuah novel? Ini kalau Mas Daniel berkenan lho.. He..he… (Bukan PR atau Tugas dari Pak Guru). :D

    suhadinets last blog post..Motivasi Belajar—Penguatan (Reinforcement), Apa Bedanya Dengan Umpan Balik (Feedback)?

    Pak Suhadi yang baik, aku baru saja menuliskan balasan terhadap comment ini, namun begitu kusadari ternyata begitu panjang balasanku tersebut. Sehingga akan terasa kurang sedap jika di baca di sini. Tiba-tiba terlintas untuk menuliskannya dalam bentuk tulisan utuh saja. Nah, untuk itu, 5 pertanyaan yang Pak Suhadi minta, akan kuposting dalam bentuk tulisan baru saja. Semoga tidak keberatan. Terima kasih.

  4. iJul says:

    Baca bagian ini lebih sedih dibandingkan waktu baca “selamat datang di pengadilan”. Tangisan yang sekarang lebih dalam. Remember that what doesn’t kill us only makes us stronger. Thanks for sharing (awas kalau aku ga kebagian bukunya. aku beli deh!). Salam hangat selalu x

    Yeaaahhh!!! Selain ceritanya kubuat lebih detil, aku memang lebih menggali kedalaman emosi di Epitaph versi novel ini.
    Untuk kamu gratis deh… :D

  5. zahra says:

    ouw… begitu ya mas…
    hihi… aq kurang teliti bacanya kalo gitu ;)

    Masih mas… masih… masih ingin mengikuti sampei akhir :)

    zahras last blog post..HIATUS satu bulan…

    Yup! :)
    Kalau sampai akhir, insya Allah memang akan kuselesaikan di blog ini. Tapi untuk Epigraf, aku masih belum memutuskan apakah akan kupublish juga di blog ini ;)

  6. suhadinet says:

    Senangnya, Mas Daniel mau posting dalam bentuk tulisan khusus. Bisa banyak bermanfaat nantinya, bukan cuma buat saya. Tapi, juga buat rekan-rekan lain.

    Soal tetralogi itu saya bercanda. Saya pernah terbaca kok di salah satu bagian blog Mas Daniel, kalau epitaph adalah trilogi. :lol:

    Itulah kenapa aku mempostingnya dalam bentuk tulisan yang berdiri sendiri, Pak Suhadi. Biar kita bisa sama-sama sharing :) Aku pun belajar dari banyak penulis dan rekan-rekan blogger.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>