penganyamkata.net
current   |   rss

Epitaph (44)

Published August 3, 2008

9

Epitaph[47]

 

Sirine ambulan meraung-raung memasuki komplek perumahan Laras di Bandung bagian tenggara. Beberapa orang di rumah Laras yang mendengar raungan itu sontak berdiri dan mengabari atas kedatangan rombongan.

 

Di depan rumah Laras sendiri sudah dipasang tenda meneduhi jalan dengan kursi-kursi lipat untuk tetamu tersebar di bawahnya. Para tetangga, kawan Arman, kawan Ria, sanak saudara Laras serta beberapa kawanku tampak sudah berkerumun di sana.

 

Maka berhentilah ambulan tepat di depan pagar rumah Laras. Sirine masih juga meraung-raung. Bapak Laras turun. Humam segera membuka pintu belakang ambulan. Beberapa orang yang berdiri menyongsong di belakang ambulan telah siap dengan posisi tangan seolah hendak mengangkat peti mati. Namun ketika pintu belakang terbuka, mereka terkesiap, ternganga: karena tak menemukan peti mati yang mereka bayangkan!

 

“Lho, mana petinya?!” tanya mereka. 

Tak lama aku turun, membopong sebuah tas kecil berwarna hitam: berisi kerangka Laras. Semua yang melihat hanya tercengang. Belum tau apa musti dikata.

Sambil membopong tas aku terus masuk ke dalam ruang tamu. Sebuah meja rendah berukuran panjang telah dipersiapkan tepat di tengah runag tamu. Dengan perlahan kuletakkan tas kecil berwarna hitam itu di atasnya. Mama Laras yang menyosong dari ruang dalam demi melihat anak gadisnya hanya tinggal berbilah-bilah tulang di dalam tas sekecil itu, bukan kepalang histerisnya: menjerit, meraung, memanggil-manggil nama Laras berulang-ulang.

 

“Laras… Laras… Laras…” jeritnya histeris.

 

Semua yang mendengar merasa terentak serta tak bisa menyembunyikan perasaan sedihnya. Tanpa ada yang mengomando: semua yang ada di sana mau tak mau bersepakat untuk turut tersayat-sayat hatinya. Suasana begitu pilu, mencekam, mengharukan dan menyayat hati. Sungguh aku tak kuasa melukiskan kejadian sore itu.

 

Mama Laras menghambur pada tas kecil itu. Memeluknya. Mengusap-usapnya. Menangis, histeris, meraung-raung, namun sungguh tak berani membuka isi tas itu. Tak ada orang lain yang berani mencegah adegan mama. Hanya kakak mama yang mencoba menenangkan mama Laras. Suasana betul-betul mengharukan. Aku sendiri tak kuat berlama-lama di ruang tamu itu.

 

“Laras… Laras… Laras…” jerit mama makin histeris.

 

Semua yang ada di ruangan itu masih membisu. Tetes-tetes air mata mulai berjatuhan menggerimisi pipi pemiliknya. Bapak Laras hanya terkelu melihat istrinya menangis histeris seperti itu.

 

Tak tahan dengan suasana ruangan serta bergemuruhnya hati yang tercabik-cabik, aku memilih ke luar ruangan. Mencomot sebatang rokok, dan mulai menyulut di pojok halaman rumah. Beberapa kawan menghampiri dan memelukku. Tetangga-tetangga mulai menyerbu ke dalam.

 

Aku tak mengira akan begini kejadiannya. Laras memang telah lagi ditemukan. Telah lagi pulang. Namun kepulangannya hanya berupa tulang-belulang yang tak mewujud perempuan yang pernah begitu kukasihi sepenuh hati.

 

Tak pernah aku menyangka: pertemuan di stasiun saat mengantar Laras pergi ke Jakarta tempo hari, merupakan pertemuan yang terakhir kalinya. Betul-betul untuk terakhir kalinya.

 

Masih kuingat senyumnya. Masih begitu kurasa kecupan dan pelukan hangatnya. Masih sangat kuingat semua. Mataku mulai berkaca-kaca. Isapan rokokku sudah tak jelas temponya. Kawan-kawanku yang kebetulan masih berada di dekatku, mencoba memahami suasana hatiku.

 

Bersambung…

 

(Seluruh cerita Epitaph dapat dilihat di: Nukilan).

 

© Daniel Mahendra

 


 

[47] Inggris: tulisan di batu nisan. Indonesia: tulisan singkat pada batu nisan untuk mengenang orang yang dikubur di dalamnya.