penganyamkata.net
current   |   rss

Epitaph (45-Tamat)

Published August 8, 2008

Bab 10

Sebelum Epilog

         

Senja masih memantulkan sinarnya yang misterius. Tanpa matahari, tanpa garis langit, tanpa awan yang menggelumbang. Hanya angin sore yang berkesiur mengirimkan sekabar kegetiran pada suasana pekuburan yang mulai senyap.

 

Aku masih berdiri di bawah sebatang beringin tua yang umurnya telah enggan berkembang lagi. Memandangi sebuah makam yang tergolek kesepian. Makam seorang gadis. Di kanan kiri makam berkeramik hitam itu mulai digodai dengan rumput-rumput liar yang mulai mencari perhatian. Seperti pada umumnya nisan, selalu memuat keterangan berupa nama, tempat tanggal lahir, serta tempat tanggal wafat. Namun nisan di hadapanku berpatrikan keterangan waktu yang tak lazim:

 

Laras Saraswati

Lahir: 01 Oktober 1972

Wafat: 22 Agustus 1994

Dimakamkan: 8 April 1996 

Aku terbelalak sejenak. Aku meraba nisan itu. Jadi semua ini benar? Jadi apa yang ditulis Haikal bukan sekadar cerita fantasi? Bukan sekadar khayali? Bukan sekadar imajinasi seseorang? Semua cerita ini sungguhan terjadi?

Seperti beberapa hari lalu saat ia lagi-lagi datang ke rumahku. Dengan segepok kliping koran dari berbagai media serta dokumentasi rekaman video. Tanpa banyak bicara ia langsung pergi lagi. Kaget juga disodori gepokan kliping koran yang memuat kronologis kejadian musibah jatuhnya helikopter tersebut. Berdesir sekaligus merinding juga hati ini dibuatnya. Haikal ingin menunjukkan bahwa apa yang ia tuliskan sungguh terjadi.

 

Aku terbata-bata demi mendapati kliping berita koran mengenai hal itu semua. Semalaman aku tak tidur. Meneliti kliping berita serta memutar dokumentasi video yang dibuat anak-anak IKJ.

 

Semua aku cocokkan antara tulisan Haikal dengan kronologis berita koran. Semua bertautan. Baik tanggal, bulan serta tahun. Juga nama-nama yang berseliweran, meski tak banyak yang bisa kukenal. Tapi bukankah bisa saja itu semata fantasi serta khayali Haikal. Ia mencoba mempertautkan semua kejadian itu pada kekasihnya yang memang bernama Laras Saraswati. Ia mencoba membangun sebuah cerita dari materi-materi yang memang ia miliki. Apa susahnya. Aku mau diseretnya ke pekuburan ini pun karena aku tergoda untuk membuktikan bahwa memang benar ada perempuan bernama Laras Saraswati. Kekasihnya yang telah meninggal itu. Tapi apakah memang begitu kejadiannya?

 

Kalau semua ini hanyalah fantasi belaka sementara aku dimintanya membuat novel dari catatannya itu, lebih baik lupakan saja. Aku tidak mau membuat cerita berdasarkan fantasi serta khayali semata. Aku bukan penghibur. Dan tak mau jadi penghibur. Aku menulis bukan untuk memberikan hiburan di mana orang bersenang-senang dengan tulisanku. Bahwa orang membutuhkan hiburan lewat karya sastra, ya boleh-boleh saja. Dan pengarangnya pun sah-sah saja menulis sesuatu untuk menghibur pembacanya. Tak ada yang salah. Tapi kalau yang Haikal maksud itu aku, lebih baik lupakan saja. Betapa mewahnya bersenang-senang lewat tulisan.

 

Dan aku mulai bersimpuh di sebelah nisan gadis itu. Tanganku kembali merabanya.

 

Kusulut sebatang rokok. Memutar ingatanku tentang segala yang Haikal tulis dalam catatannya itu. Adakah kerangka gadis yang tergolek di bawah makam ini memang sosok yang Haikal maksud dalam catatannya itu? aku bertanya-tanya dalam hati.

 

Angin pekuburan telah mendesirkan tembang lama tentang kematian. Aku masih lagi memandangi nisan gadis itu. Nisan yang yang berdiri tangguh di atas sebuah makam yang tergolek sunyi kesepian. Lagi-lagi aku meraba nisan itu. Suasana mulai berangsur gelap serta singup. Aku membuang rokokku. Berdiri dan memandangi nisan itu lekat-lekat. Lalu berjalan meninggalkan makam gadis itu sembari sesekali menengok ke belakang, ke nisan kesepian itu. Terus berjalan menjauh. Menjauh.

 

Kulihat Haikal berdiri di pinggir jalan bersandar pada pintu mobil. Sedari tadi ia masih menungguku di sana, memperhatikan aku, dan tak ikut menjenguk makam gadisnya. Aku keluar halaman pekuburan. Menghampirinya.

 

Aku memegang bahu kanannya. Namun tidak dapat berkata apa-apa.

“Jadi sekarang kamu percaya bahwa ada seseorang bernama Laras Saraswati?”

“Barangkali itu memang makam kekasihmu. Tapi masih ada yang tak kumengerti.”

“Soal apa?”

“Kalau memang seperti itu kejadiannya, kenapa Laras sempat merawikannya? Maksudku, di awal-awal catatan, seolah Laras yang menceritakan kronologis kejadian itu. Ia yang berkisah. Apa ia memang sempat menuliskannya? Secara detail pula. Bukankah helikopternya langsung jatuh masuk ke dalam lembah? Apa ada catatan ditemukan? Atau… semua itu hanya khayalimu belaka berdasarkan kecelakaan yang memang sungguhan terjadi barangkali?”

“Nggak ada catatan seperti itu ditemukan di bangkai helikopter.”

“Berarti ini hanya fantasi belaka.”

“Semua yang ada dalam catatan itu adalah kejadian yang sesungguhnya.”

“Aku masih nggak ngerti.”

“Itu kenapa aku datang kepadamu.”

“Untuk kubuat menjadi novel?”

“Persis.”

“Hmmfh… Kamu tau, Kal, catatanmu itu sudah merupakan novel itu sendiri.”

“Nggak, Ngi. Itu sekadar catatan. Fondasi cerita. Semua masih landasan awal dari bangunan cerita yang sesungguhnya. Catatan, kliping media, rekaman video, barang bukti, dan saksi-saksi kejadian hanyalah material dari cerita sesungguhnya yang bakal kau buat.”

“Gila. Kamu masih bersikeras agar aku membuat itu semua menjadi novel. Aku heran, kenapa tidak kamu saja yang membuatnya.”

“Aku nggak mampu. Akan menjadi sentimentil jika aku yang membuat.”

“Justru akan menjadi lebih hidup dan bernas!”

“Aku nggak mampu. Nggak kuat aku menuliskannya. Jangankan menuliskannya, mengingatnya pun aku nggak mampu. Dan jangan lupa, aku ada di dalamnya.”

“Hmmm…”

“Jadi bagaimana, Ngi?”

“Aku pikir-pikir dulu.” ujarku sembari menyalakan batang kedua.

“Ayolah… aku tau kamu tertarik.”

“Dari mana tuduhanmu itu kalau aku tertarik?”

“Dari matamu, Ngi. Aku tahu kamu sudah masuk ke dalam atmosfir cerita itu. Dan kau sudah lihat sendiri makamnya. Nggak mungkin nisan itu ditulis dengan tiga keterangan waktu seperti itu, ‘kan? Lahir-wafat-dan dimakamkan.”

“Okelah soal nisan.”

“Lalu?”

“Lalu antarkan saja aku pulang.”

 

Kemudian Haikal mengantarkanku pulang. Di halaman depan rumah kontrakanku masih belum lagi terpampang tulisan: ‘Langi, Pengarang, Bisa Ditunggu’. Tapi ia sudah mengkondisikan aku sebagai pengarang yang bisa dipesan serta ditunggu karangannya.

 

“Keluarga Laras masih tinggal di Bandung?” tanyaku sebelum turun dari mobilnya.

“Masih. Kamu mau ketemu?”

“Belum tahu. Nanti, mungkin.”

“Aha! Jadi kau memang akan membuat itu semua jadi novel ‘kan?” serunya terdengar bersemangat.

“Ehm… seperti tadi kubilang: aku pikir-pikir dulu, Kal.”

“Ah, come on, Ngi… Aku tahu kamu bakal bikin itu jadi novel. Aku nggak nuntut royalti apa-apa kalau novel itu sudah terbit. Semua hak kamu sebagai penulisnya.”

“Kalau setelah jadi novel lalu ada yang mau memfilmkan?” tukasku berolok.

“Ah, jadi novel saja dulu. Lagi pula aku ‘kan sudah bilang: semua sudah jadi hak kamu sebagai penulisnya.”

“Biar aku pelajari ulang dulu seluruhnya.” tukasku sembari turun dari mobilnya.

“Aha! Jadi juga kamu bikin novel. Bravo, Ngi!”

“Aku belum berani janji apa-apa dulu, Kal. ‘Kan sudah kubilang: aku pikir-pikir dulu.”

“Oke, Ngi, Oke.”

“Nggak mampir dulu.” ajakku menutup pintu mobilnya.

“Lain kali saja. Lagi pula aku nggak mau mengganggu waktumu untuk mempelajari kembali semua catatanku itu.” ujarnya meringis.

“Sialan!”

“Oya, hampir lupa, aku ingin menitipkan sesuatu padamu” potongnya sembari menyodorkan sebuah bungkusan kecil.

“Apa ini?”

“Nanti saja dibuka di dalam. Bungkusan ini jangan sampai hilang, Ngi. Kumohon. Dan satu lagi,” ia membuka kalung dog tag yang menggantung di lehernya. “Kutitipkan ini padamu.”

“Laras Saraswati?” aku membaca nama yang terpatri di lempengan kalung itu.

“Sampai nanti, Ngi.”

“Hmm..” dan mobil Haikal pun berlalu.

 

Sesampai di dalam kudapati meja perpustakaanku penuh dengan lembaran-lembaran catatan Haikal, gepokan kliping koran, serta video dokumentasi bikinan anak IKJ. Kubuka-buka lagi catatan itu. Kubolak-balik bundelan-bundelan kliping koran. Kubaca lagi bagian-bagian tertentu dari catatan itu. Antara fiksi dan realita coba kupilah-pilah. Mencoba mencari batas antara keduanya. Namun kalau benar tak ditemukan catatan apa pun mengenai kejadian itu, mengapa di awal-awal catatan, seolah seperti Laras yang berkisah? Kronologis juga mendekati detail. Lalu kisah di mana ia mulai keranjingan pada film, apakah mungkin ia juga yang menuliskannya? Apa perlunya? Aku semakin bingung. Ini catatan Laras atau Haikal? Kalau Laras, kapan ia merawikannya? Kalau Haikal, bagaimana mungkin ia bisa menggambarkan kejadian itu secara gamblang? Aku mencoba meraba-raba mencari pijakan pikiran. Kalau mau merunutnya, aku musti membaca ulang, membongkar dan menyusunnya kembali. Aku masih belum lagi tahu: apakah akan membuat novel dari semua materi ini atau tidak. Aku masih belum lagi tau.

 

Teringat dengan bungkusan yang diberikan Haikal sore tadi sebelum ia beranjak pergi, segera aku membukanya.

 

Astaga! Dengan hati-hati aku mengeluarkan isinya. Ternyata berupa dompet kulit yang sudah lapuk berisi remahan uang kertas yang sudah tak berbentuk lagi, dua buah SIM yang sudah pudar, KTP atas nama Laras Saraswati yang telah lagi buram di sana-sini, ATM yang tampak keriput, kartu mahasiswa dengan logo IKJ yang tulisannya sudah membayang di sana-sini, sampul paspor yang isinya sudah seperti bubur kering, serta foto Haikal yang sudah tak jelas gambarnya.

 

Aku bergidik. Bulu tipis di tengkukku meremang. Kalau semua itu benar, dompet ini berarti bersemayam selama hampir dua tahun di dalam reruntuhan helikopter, tertindih tulang belulang Laras, dan di dasar lembah kaki Gunung Sibayak. Selama hampir dua tahun! Dan kalung dog tag ini! Kalung dog tag ini! Kalung yang Haikal berikan sesaat sebelum ia pergi tadi, kukira sama saja riwayatnya.

 

Aku tergeragap. Apakah semua ini benar? Lagi-lagi pertanyaan itu yang terbit dalam kepalaku. Kupandangi meja perpustakaanku yang telah lagi penuh tertutup ratusan lembar catatan Haikal, gepokan kliping koran, serta beberapa keping kaset video dokumentasi bikinan anak IKJ.

 

Aku terbata-bata. Tanpa sadar aku mengucap lirih sebuah nama:

“Laras Saraswati…”

 

* * *

 

Bandung

Cerpen, September 1996.

Novel, Desember 2006.

 

Tamat.

 

(Seluruh cerita Epitaph dapat dilihat di: Nukilan).

 

© Daniel Mahendra