Dulu ketika diminta bekerja di sebuah penerbit besar di Bandung, suasana kantorku betul-betul “ajaib”. Ajaib yang kumaksud tak lain karena sepanjang aku bekerja kantoran, belum pernah aku mengalami suasana seperti di kantor itu. Kantor itu sejatinya bukanlah sebuah komplek perkantoran. Namun tak lebih sebuah kawasan umum di mana beberapa anak perusahaan terpisah-pisah satu sama lain, hanya saja masih dalam satu grup besar usaha.

 

Nah, yang membuatku terbelalak di hari pertama kerja di sana, di kantor itu setiap adzan Dzuhur tiba, orang-orang serentak menghentikan pekerjaannya. Berdiri, mengganti sepatu dengan sandal, dan pergi ke mesjid. Wow! Sementara aku yang masih kerasan di balik meja hanya bisa terbelalak (kawan-kawan di kantor itu pun terbelalak demi melihat ada orang masih duduk di balik meja!)

 

Ketika sampai pelataran kantor, aku lebih terbelalak lagi. Orang-orang dari berbagai kantor di komplek itu berbondong-bondong pergi ke mesjid. Jumlahnya ratusan. Seperti air bah yang tumpah menggenangi perumahan. Tidak laki-laki, tidak perempuan. Semua beramai-ramai pergi ke mesjid. Belum lagi ditambah masyarakat sekitar. Huah! Ini apa? tanyaku dalam hati. “Ini belum lagi Idul Fitri kan?” batinku terheran-heran.

 

“Inilah kebiasaan di sini. Setiap waktu sholat tiba, kita semua ke mesjid. Berjama’ah di sana.” ujar Deny, seorang editor di kantor itu.

“Tapi ini kan sholat Dzuhur? Kenapa bisa seramai ini? Seperti lebaran saja!”

“Itu sudah jadi kebiasaan. Mari.” ucapnya tersenyum sembari menggulung pipa celana.

Tidak bisa tidak, aku jadi terkagum-kagum. Yang seperti ini belum pernah kualami, batinku iri. Umumnya, saat jam 12 siang tiba, orang-orang memang menghentikan pekerjaan, masuk ke kendaraan dan pergi makan siang. Baru setelah itu sholat dan sebagainya. Tapi di sini sungguh lain.

 

Maka ketika sampai di mesjid, orang-orang betul tumplek di dalam. Melakukan sholat berjama’ah siang hari. Wow! Sembari sholat, aku masih saja terbata-bata. Begitu usai, masih juga ada sedikit khutbah kecil. Dan orang-orang itu, bukannya bubar, malah melakukan dzikir, melantunkan Qur’an, dan sholat sunah berkali-kali.

 

“Ini di surga, Pak?” tanyaku sableng pada seseorang yang duduk di sebelahku.

“Bukan, Nak. Ini mesjid … ” balas orang itu menyebut nama mesjid tersebut.

 

Begitu seterusnya. Setiap Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya, bahkan Subuh, polanya tetap sama. Orang berbondong-bondong sholat di mesjid. Sehingga pola sholat tepat waktu menjadi kebiasaan. Telat 15 menit dan tidak kebagian berjama’ah rasanya rugi tiada tara. Rasanya kalau boleh waktu diputar saja (ya, andai saja waktu bisa diputar!).

 

Kalau bulan puasa tiba, jam masuk kantor dipagikan. Sehingga jam pulang kantor disegerakan. Dengan begitu kami bisa berbuka puasa bersama keluarga di rumah. Sungguh nikmat.

 

Maka ketika sudah tak lagi bekerja di kantor itu dan mendirikan perusahaan saat ini, jujur saja ada rasa yang hilang. Memang kantor kami tetap dekat dengan mesjid. Sholat Dzuhur dan Ashar masih kerap di mesjid. Hanya saja: sekali-sekali! Terkadang malah cukup di mushola kantor saja. Itu pun sholat Dzuhur didirikan mepet-mepet waktu Ashar. Sholat Ashar ketika matahari nyaris tenggelam.

 

Lama-lama pola sholat tepat waktu pun bergeser menjadi sholat yang dimepet-mepetkan. “Yang penting kan sholat, daripada tidak?” begitu alasan kawan-kawan (termasuk aku) kerap berkilah.

 

Kalau bulan puasa tiba, kita nyaris selalu berbuka di kantor. Sahur pun bisa di kantor jika pekerjaan sedang menggunung. Dengan keluarga menjadi sesekali saja bertemu. Jelas ini menjadi tak indah lagi.

 

Dengan demikian praktis ada sesuatu yang hilang. Ada sesuatu yang dirindukan. Semacam kehausan rohani: betapa kita melulu mengejar dunia. Semata mementingkan pekerjaan. Merasa sunyi di keramaian. Sehingga aku kerap tercekat jika ada kawan yang berkata: “Bagaimana urusan dunia bisa lancar, kalau hubungan dengan Tuhan tidak lancar, eh? Jangan sampai nggak berkah ah.” Olala! Aku tersenyum kecut.

 

Betul juga. Ngeri sekali aku mendengar kalimat itu. Kita bisa saja tetap sukses, kaya, dan serba bisa. Tapi kalau semua itu tidak berkah, untuk apa? Jangan-jangan tanpa kita sadari kita ini tak lebih dari sekumpulan hewan yang pandai semata. Uh!

 

Maka kehadiran teman-teman yang masih lagi mengingatkan menjadi begitu berharganya. Bepergian dengannya selalu terasa tenang. Ia bisa tiba-tiba mengusulkan menunda rapat yang tengah berlangsung demi mendengar suara adzan. Atau tiba-tiba minta belok ke tempat istirahat di km 19 ketika mobil sedang melesat kencang di tol Cikampek. “Kita sholat Isya dulu…” ujarnya tersenyum menenangkan.

 

Ya, orang-orang semacam itu selalu menerbitkan rasa hormatku. Siapa pun dia. Kalau aku sedang asyik chatting di YM, tiba-tiba lawan bicaraku pamit undur diri.

 

“Kemana?”

“Aku mesti ke gereja dulu.” balasnya mohon diri.

 

Terbit rasa kagum pada dirinya. Tidak bisa tidak, orang yang perbuatannya sesuai dengan perkataannya memang memiliki tempat tersendiri di mataku.

 

Maka ketika di pameran buku Ikapi awal Agustus lalu melewati stan penerbit Islam yang (herannya) selalu memutar CD-CD pengajian, aku tiba-tiba merinding bukan main. Ada sesuatu yang telah lama ingin kulakukan, tapi belum juga terucapkan secara lisan. Masih tersimpan di alam pengendapan, namun begitu ingin kukeluarkan. Cepat-cepat aku beringsut dan pulang ke kantor.

 

Di ruang kerja, aku mulai browsing sana-sini. Seorang kawan yang masuk dan melihat meja kerjaku berserakan aneka brosur mendadak mengernyitkan mata.

 

“Hei, mau ngapain nih?”

“Emh… enggak.” kilahku berusaha menutupi.

“A-a-a… ini nggak biasa.” kerjarnya ingin tahu. “Serius nih?”

“Emh…”

“Ayolah…”

“Hmmm… sepertinya iya.”

“Wauuuwww…”

“Jangan mengolok-olok!”

“Bukan… dahsyat!”

“Aku rindu sekali, Cuy. Sangat rindu. Seperti ada yang memanggil-manggil. Sudah lama sebetulnya. Terus menyentak-nyentak.”

“Umroh atau haji?”

“Umroh lah…”

“Kenapa tidak haji saja sekalian?” ia masih saja cengar-cengir.

“Aih! Belum sampai ke sana aku. Belum nyampe.” ujarku sembari mengetuk-ngetuk dada. “Aku masih seperti ini.”

“Masih seperti ini bagaimana?”

“Yah, masih belum tertiblah…”

“Justru supaya nantinya tertib…”

“Belum nyampe, Cuy… Masih belum bersih.” kembali aku mengetuk-ngetuk dada.

“Ya-ya-ya… jadi kapan?”

“Belum tau, tapi ini yang paket Ramadhan ternyata lebih mahal. Baru tau aku.”

“Sendirian?”

“Tentu saja sendiri…”

“Makanya nikah…”

“Setan!!”

Dia hanya ngakak.

 

Kini bulan Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Tinggal 2 hari lagi kalau puasa jatuh pada 1 September 2008. Aku belum lagi tahu apakah aku akan sampai di Ramadhan tahun ini. Kalau aku meninggal di hari Minggu tanggal 31 Agustus 2008, berarti aku tidak sampai di Ramadhan kali ini. Tapi semoga Yang Maha Hidup masih memperpanjang usiaku.

 

Ah ya. Gara-gara merawi tulisan ini aku jadi teringat mesti membersihkan makam almarhum bapak. Berarti paling lambat mesti hari Minggu nanti.

 

Nah, agar tidak telat, kini aku ingin memohon maaf kepada semua saja yang pernah kukenal di atas bumi ini. Sudah barang tentu ada perkataan, perbuatan, maupun rasa yang sekiranya menyinggung serta membuat hati tak berkenan. Dengan segala rendah hati aku memohon maaf. Ramadhan sudah di depan mata. Semoga aku, kamu, dan kalian semua yang menjalani dapat menjalankan bulan Ramadhan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Amin.

 

Sepuluh jari setangkup sembah,

Tabik!

 

Daniel Mahendra

30 Agustus 2008 | 00.39 wib

 

Kusadari akhirnya kerapuhan imanku

Telah membawa jiwa dan ragaku

Ke dalam dunia yang tak tentu arah

 

Kusadari akhirnya Kau tiada duanya

Tempat memohon beraneka pinta

Tempat berlindung dari segala mara bahaya

 

Oh Tuhan mohon ampun

Atas dosa dan dosa selama ini

Aku tak menjalankan perintahMu

Tak pedulikan namaMu

Tenggelam melupakan diriMu

 

Oh Tuhan mohon ampun

Atas dosa dan dosa sempatkanlah

Aku bertobat hidup di jalanmu

Tuk penuhi kewajibanku

Sebelum tutup usia kembali padaMu

kembali padamu