Archive for September, 2008

Cake Buah di Malam Lebaran

Malam, ketika masih mendekam di ruang kerja di perpustakaan rumah, tiba-tiba dari arah bawah ada mobil berhenti di depan pagar. Seorang perempuan mengetuk pintu. Perempuan?! Olala, aku tak punya janji dengan siapa-siapa.

Sebutir kepala menyembul, tersenyum. Tangannya membawa bungkusan besar berisi kue dengan 10 buah stroberi mengelilingi 9 butir anggur di mana di tengahnya berdiam sepucuk stroberi merah yang nongkrong sendirian.

“Dan?”
“Hei, Grace!”
“Ini ada kiriman,”
“A-a-a… aku tau dari mana…” potongku tertawa.
“You know-lah…”
“Alah, paling dia titip, kamu juga yang beli.”
“Ya iyalah. Masa’ iya dia terbang dari Denpasar ke Bandung cuman buat ngasih kue ini.”
“Hehehe.”

Setelah kuucapkan terima kasih, ia pun pamit pulang, dan aku membawa bungkusan besar berisi kue itu ke ruang perpustakaan. Ada sepucuk kartu di atasnya. Seperti sudah kuduga, bingkisan ini dari Windy. Sudah jadi kebiasaannya, kalau menjelang lebaran atau saat aku ulang tahun, ia kerap mengirim hal yang bukan-bukan. Hehe. Entah itu tiramisu, kue-kue kering, atau apa saja. Dan si Grace itu, selalu jadi kurirnya (Hihihi. Thank you, Grace!).

Continue Reading »

30 September 2008

berserobok dengan masa lalu yang tak pernah berkesudahan
tiba-tiba sontak terhenyak:
apa yang sudah kita lakukan selama ini?

memoleskan bedak dan gincu
pada wajah yang memang tak cantik
padahal kita tak pernah bisa melupakan yang sudah-sudah

siapa yang mampu membasuh luka yang menganga?
kalau melupakan adalah satu seni tersendiri dalam hidup
yang tak semua orang dapat melakukannya

mestikah kita kubur dalam-dalam
pura-pura tidak tahu,
serta berjalan menelikung dan hilang di tikungan jalan?

Continue Reading »

9 Tahun Kesunyian

Setiap menjelang Ramadhan hendak berakhir, aku selalu merasa resah. Yang namanya lebaran, orang yang menjalani pasti menyambutnya dengan suka cita, seperti halnya hari raya pada agama-agama lain. Maka lebaran, orang mulai berkemas, pergi ke kota tempat orangtua tinggal, sibuk persiapan bersama keluarga, atau beres-beres kantor karena hendak ditinggal libur berhari-hari.

Tapi tidak bagiku. Saat menjelang lebaran justru adalah saat-saat yang menyesakkan bagiku. Paling tidak untuk 9 tahun terakhir ini. Setiap orang yang kutemui selalu menunjukkan wajah berseri-seri. Mereka hendak pulang. Ya, pulang. Entah itu ke luar kota, ke kampung halaman, yang pasti pulang. Setiap aku menelpon teman, rata-rata jawabnya: “Hari ini kerja terakhirku. Besok sudah mesti berangkat.” Oh, haruskah selalu seperti itu?

Waktu kecil aku memang kerap mengalami hal-hal seperti itu. Setiap menjelang lebaran, kami sekeluarga berkendara ke Semarang lewat jalur selatan. Kadang sampai dua mobil dengan keluarga lainnya. Dan selama perjalanan melewati kota-kota baik di Jawa Barat maupun Jawa Tengah, aku merasa hubungan kami sekeluarga teramat sangat dekat. Sampai saat ini hal itu masih kuanggap saat-saat menyenangkan dalam hidupku.

Ada sesuatu yang dilakukan. Pergi ke suatu tempat. Pulang. Atau mudik? Apalah istilahnya, tapi ada aktivitas yang membuat lebaran tampak berbeda ketimbang hari-hari lainnya. Kalau pun tidak pergi ke Semarang (atau Palembang), almarhum bapak mengajak kami keliling kota. Pergi ke suatu tempat. Membeli entah apa saja. Semua demi lebaran. Sangat terasa: lebaran adalah saat yang sungguh berbeda. Dan sudah barang tentu kami menyambutnya dengan suka cita.

Continue Reading »

Sunyi Senyap Menjelang Lebaran

Menjelang lebaran seperti ini biasanya arus blog menurun. Beberapa kawan yang biasanya berseliweran baik di blog, YM , maupun mailing-list mulai menunjukkan kuantitas yang “melemah”. Wajar, selain bisa jadi karena kebanyakan memang online di kantor, yang namanya liburan menghadapi hari raya, pasti disibukkan dengan banyak hal, terutama dengan keluarga.

Libur panjang selamanya menyesakkan. Tak ada aktivitas pekerjaan, tak ada kontak dengan dunia luar, melulu menghabiskan waktu sendirian. Sudah kuagendakan sejak jauh hari, libur lebaran kali ini akan kuhabiskan dengan membereskan perpustakaan pribadi yang super berantakan. Ada ribuan buku yang saling tumpang tindih turun dari rak.

Rak dibersihkan, dicuci, agar bisa dipasang kembali ke seluruh penjuru dinding. Duh, rasanya sudah tak ada lagi dinding tersisa. Semuanya melulu tertutupi rak yang mulai menyentuh langit-langit ruang. Sementara ribuan buku masih nongkrong di karpet bawah, berteriak-teriak tak sabar minta dikembalikan ke tempat asalnya. Seperti halnya asal manusia: tanah!

Hmm, ini jelas pekerjaan besar. Bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan. Karena aku hendak menata ulang perpustakaan pribadiku. Pekerjaan fisik barangkali tak bakal mengambil porsi waktu banyak. Tapi pengkategorian buku pasti akan menguras banyak pikiran dan energi.

Continue Reading »

Blings of My Life dan Sebuah Blurb

Bagaimana kekekuatan blurb untuk sebuah buku? Tentu bisa macam-macam. Sebagai daya jual? Puja-puji? Atau sekadar ucapan selamat? Bisa macam-macam. Tergantung maksud penerbit buku yang bersangkutan. Bisa juga tergantung penulisnya.

Penulis berbobot atau sudah lagi punya nama, tetap sah-sah saja menggunakan blurb bagi bukunya. Meski boleh saja orang berpikir: sebagai penulis, namanya barangkali sudah merupakan jaminan bahwa bukunya bakal laris manis di pasaran. Tapi bagaimana dengan penulis yang baru muncul di ranah perbukuan? Apakah blurb memang dapat dianggap sebagai penguat karyanya ketika dilempar ke pasaran?

Banyak sekali kita temui penulis yang, baik namanya maupun karyanya, baru beberapa kali berseliweran, namun di cover belakang bukunya memajang nama-nama penulis besar atau orang-orang dengan kapasitas yahud. Tapi ada juga yang memajang komentar teman-temannya sendiri. Apakah itu semua dapat dijadikan tolak ukur dalam menilai sebuah karya? Jawabannya (tentu) bisa iya, bisa juga tidak.

Tadi malam aku baru saja mendapatkan kiriman contoh cover buku baru karya Lala yang sebentar lagi bakal terbit. Judulnya Blings of My Life. Ketika kali pertama dimintai tolong untuk menuliskan endorsement, tentu yang pertama kutanyakan adalah jenis tulisannya. Maka ketika ia kirimkan juga softcopy naskah bukunya itu, dengan cepat naskah itu kusorongkan ke harddisk laptop, dan dengan selamat mendekam selama: hampir dua minggu tanpa sempat kubaca sama sekali. Ketika setiap hari ditagih-tagih terus, baru aku tersadar, aku belum lagi menunaikan apa yang ia minta.

Continue Reading »

Next Page »