Seberapa Sering Anda Datang ke Makam?

Ya, seberapa sering Anda datang ke makan? 1 tahun sekali? 6 bulan sekali? 1 bulan sekali? Atau sudah tak ingat lagi? Aku termasuk orang yang sering datang ke makam. Walah, ngapain? Minta wangsit? Sayangnya aku belum sebodoh itu dan menganggap irasional terhadap orang-orang yang dengan bodoh “meminta petunjuk” pada orang yang sudah mati di kuburan.

 

Ya. Aku termasuk orang yang sering datang ke makam. Lebih suka pada senja hari. Lebih suka lagi bila makam yang kukunjungi merupakan makam orang yang kukenal dekat. Selain mendoakan, di sana aku bisa duduk termenung-menung di samping nisannya. Menghisap rokok dan melamun membayangkan pengalaman apa saja yang pernah terjalin dengan orang yang tertidur tenang di dalam sana.

 

Kalau sudah seperti itu, aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam, berbatang-batang rokok, dan beribu-ribu kata mencelat dari rumah pikiranku. Aku kerap membayangkan: “berdialog” dengan orang-orang yang terbaring tidur di sana seolah sedang berdialog dengan hidup itu sendiri. Karena kita saat ini memang sedang dan akan menuju ke sana juga pada akhirnya.

 

Aku terlalu suka duduk termenung-menung di pemakaman. Awal Agustus lalu, dalam sebuah perkunjungan ke Jakarta, di sore hari yang cerah aku meminta Windy untuk mengantarkanku ke pemakaman Karet Bivak, Jakarta Pusat.

“Ke Karet?”

“Iya.”

“Ngapain?”

“Aku lagi kangen Pram nih.”

 

Matahari mulai pamit pulang. Memberikan kesempatan pada senja untuk menunaikan tugasnya. Angin berkesiur dan dahan-dahan pohon yang jatuh tengah disapu penjaga kuburan.

 

Aku membeli dua kantong plastik kembang tabur dan sebotol air mawar. Sebetulnya aku tak tahu betul apa fungsi air mawar itu. Apa manfaatnya bagi tanah pekuburan jika disiram air wangi seperti itu. Tapi aku membeli saja. Terkadang kita memang kerap melakukan sesuatu tanpa pernah lagi berpikir apa gunanya bukan?

 

Windy memilih duduk di samping makam. Membiarkanku menyalurkan rasa rinduku pada almarhum Pramoedya Ananta Toer. Makam sastrawan yang berulang kali dicalonkan sebagai nominasi peraih penghargaan Nobel Sastra itu pun kutaburi kembang, lantas kuguyur dengan air kesejukan. Aku bersimpuh di nisannya. Memanjatkan doa-doa dan menyapa: “Hai, Bung! Masih ingat aku?”

 

Selebihnya, dengan Windy hanya ngobrol soal Pram sembari membakar rokok sampai Maghrib datang berkumandang. Ya, aku memang terlalu suka mengunjungi makam.

 

Sore tadi kembali aku datang ke makam yang tak seberapa jauh jaraknya dari rumah. Suasana mulai agak lengang. Meski masih menyisakan beberapa pengunjung yang datang menyambangi orang-orang yang mereka kasihi. Besok bulan puasa. Ini kesempatan terakhir bagi orang-orang untuk mendatangi makam-makam yang tergolek kesepian.

 

Seperti biasa, kedatangan para pengunjung merupakan rezeki tersendiri bagi warga sekitar. Tak aneh bila tiba-tiba penduduk sekitar berubah profesi menjadi pembersih kuburan. Ada yang membawa cangkul, arit, sendok semen, sapu lidi, sampai lap kotor. Mereka bisa mendadak sibuk, membersihkan dengan suka hati, dan tiba-tiba menjadi begitu perhatian seolah yang meninggal adalah keluarga mereka sendiri.

 

Seorang pengunjung bisa didatangi empat, lima, tujuh, sampai sepuluh orang pembersih. Membuat bingung pengunjung: berapa nilai uang yang layak untuk diberikan sebagai ucapan terima kasih. Tapi aku sudah terbiasa dengan hal seperti ini. Aku cukup memberikan beberapa lembar untuk mereka tentukan sendiri pembagiannya. Tinggal cari yang tampak lebih berwibawa di antara mereka.

 

“Yang mana, Pak?”

“Dua-duanya.”

 

Dan mereka pun gopah-gapah sibuk tanpa perintah.

 

Ada dua makam yang kukunjungi. Makam almarhum bapak dan almarhum kakak lelakiku terbaring di sana. Mereka bersebelahan. Aku tidak pernah tahu, di alam sana, apakah kedunya saling berbicang dan minum kopi bersama seperti di dunia. Aku tidak pernah tahu. Mungkin jika aku kelak menyusulnya, baru aku tahu. Tapi, aku tentu sudah tak dapat lagi menuliskannya untuk kalian.

 

Setelah memanjatkan doa-doa secukupnya (bukankah setiap hari kita pun mendoakan orang-orang yang kita kasihi, terlebih orang yang telah tiada mendahului kita), aku pun mulai membakar rokok dan duduk bersiap mengembara ke alam pikiran yang tak seorang pun dapat turut menyertai.

 

Langit mulai gelap. Orang-orang mulai beringsut. Aku masih memandangi dua makam yang tergolek tanpa pernah tahu kapan hari kebangkitan akan dimulai. Mereka masih berbaring di dalam sana. Sambil mungkin berpikir: “Oh si bandel sedang mengunjungi kita.”

 

Terkadang aku kerap berpikir: akan mati dalam keadaan bagaimana aku nanti? Siapa yang pertama kali menyadari kalau aku sudah mati? Dan ketika kabar itu diumumkan, adakah yang peduli? Ketika upacara pemakamanku nanti, berapa orang yang akan mengantarkanku? Maka ketika aku telah lagi berbaring di sana, gerangan siapa yang kerap berkunjung? Hingga aku menuliskan hal ini, aku tidak pernah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

 

Kupandangi langit, senja baru saja usai menunaikan tugas sucinya. Maka malam bersiap menurunkan selimut gelapnya. Aku matikan rokokku dan mulai beringsut untuk segera meninggalkan makam.

 

“Aku pergi dulu, Pak.” pamitku pada bapak.

“Jaga diri baik-baik, buddy!’ aku menepuk pundak nisan kakakku.

 

Sebelum beranjak ke tempat parkir, sekali lagi kupandangi dua makam yang tergolek kesepian itu. Baru kuinsafi, aku begitu mencintai kedua orang itu justru saat mereka telah tiada.

 

Aku menghela nafas.

 

Tiba-tiba terngiang kalimat Gede Prama di telingaku: kematian ada bukan untuk menakuti kehidupan. Kematian ada untuk membuat hidup menjadi dalam.

 

Aku pulang. 

1 September 2008 | 01.37 wib

This entry was posted in Catatan Harian, Renungan and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

34 Responses to Seberapa Sering Anda Datang ke Makam?

  1. DV says:

    Tumben tulisan kita senada…
    Saya juga baru saja mempublikasi tulisan yang kurang lebih sama.

    DVs last blog post..Nyekar ke Makam, Salahkah ?

    Wow!! Begitukah? Kita sepemikiran rupanya.
    Baiklah. Nanti akan kutengok ke sana.

  2. iJul says:

    Ah. Jadi teringat dengan almarhum kakak yang hanya diberi kesempatan hidup selama 1 minggu, dan tanggal lahirku berada di antara hidup dan meninggalnya. Bertepatan? Atau ini juga yang membuat aku sangat peduli soal “child survival”? Dunno. Kapan ya terakhir aku nyekar? Ah. Terlalu sibuk dengan diri sendiri :( Satu lagi tulisan yang menyentuh, thanks!

    Maka selamanya kau kan selalu mengingatnya. Karena sepanjang hidupmu, ia selalu bersamamu. Namun berbahagialah. Karena hal tersebut dapat membuatmu makin dalam terhadap hidup. Bukankah begitu?

    Thanx, Yulia.

  3. Yoga says:

    Alfa
    ##

    Epitaph.. tulisan di atas nisan…Apakah yang akan ditulis orang diatas nisan saya kelak?
    (Hai saya jadi ingat tulisan tentang menyejarah? 50-100-200 tahun? sudah siapkah kawan? ;) )

    ##

    Semoga dengan mengingat kematian bukan kemudian menyurutkan langkah untuk hidup dan maju tapi sebaliknya, jadi pembakar semangat untuk hidup lebih baik, lebih bermanfaat, dan lebih indah. Sepakat dengan Gede Prama.

    Lantas apakah kematian itu perlu ditakuti? menjawab pertanyaan sendiri dengan sebuah pertanyaan, apakah saya dulu pernah bertanya pada Tuhan apakah kelahiran perlu ditakuti? Jika sudah saatnya ya sudah, hidup dan mati adalah bukti kesetiaan padaNya, tanpa diminta hanya diberi dan menjalani.

    ##
    Omega…

    Aha! Tulisan itu masih berenang-renang di tataran konsep, Mbak Yoga.
    Ya, aku sedang berlomba dengan kematian.

  4. zahra says:

    Memang bener mas…
    Kita akan merasa bahwa kita bener-bener mencintai seseorang justru ketika seseorang itu dah tiada…
    don’t know why…

    Hiks… jadi inget betapa jarangnya aq ke makam
    Terakhir kali pas idul fitri tahun lalu di kediri
    Kebiasaan di rumahku, laki-lakilah yang ke makam, Aqnya dilarang-larang dan gak boleh ikut ke sana
    Ah.. Aneh ya… Tapi aq nurut aja ;)

    zahras last blog post..Marhaban Ya Ramadhan (H-2)

    Paragraf pertama:
    Sebetulnya tidak juga, Zahra. Tergantung bagaimana perlakuan kita terhadap seseorang. Kita tetap bisa mencintai seseorang secara total tanpa mesti menunggu ia pergi dari kita bukan… :)

    Paragraf kedua:
    Berdoa kan tak perlu mesti di makam. Bisa tetap kita lakukan tiap hari toh. Tak tersekat ruang dan waktu ;)

  5. zahra says:

    Met menjalankan Ibadah Ramadhan…

    Moga Ramadhan tahun ini lebih baik dari tahun kemarin
    Dan kita selalu diberi kesehatan dan kemudahan oleh Allah dalam menjalankannya. Dan moga Ibadah kita barakah…
    Amin..Amin… Allahumma Amin…

    Mas… Mbakar rokoknya di pending dulu sampek maghrib tiba ya ;) hihi…

    zahras last blog post..Marhaban Ya Ramadhan (H-2)

    Amin, Zahra. Terima kasih. Semoga begitu pun dengan dirimu.

    Mbakar rokoknya di-pending? Sekarang Maghrib pun sudah sulit buat sekadar mbakar rokok. Hihihi.

  6. Ketika kita mengunjungi makam kita akan teringat bahwa pada suatu saat nanti kita juga akan berada disitu

    Betul, Mas Achmad. Itu mengapa aku merawi tulisan ini.

  7. marshmallow says:

    berziarah dimaksudkan untuk mengingatkan manusia bahwa ada kehidupan lain setelah kematian, saat semua musti dipertanggungjawabkan.
    jadi ziarah memang tak harus menjelang ramadhan saja.

    di alam kubur gak ada rokok sepertinya.
    jadi kalau sampeyan merokok di sana, itu namanya manas-manasin penghuninya, bikin mereka iri dan marah.
    mau dikutuk jadi pohon kamboja?

    Memang tak mesti menjelang Ramadhan. Itu mengapa aku senang berkunjung ke rumah-rumah tanpa alamat surat itu.

    Aduh, apa nggak ada pohon yang bagusan dikit? Dikutuk jadi pohon tomat aja, boleh? Lumayan kan buahnya. Bisa dibuat sambel tomat.

  8. Cak Ri says:

    makam gak makam asal ngumpul….., eh makan gak makan ding…

    Oalah, Cak… Kumpul-kumpul itu enaknya dibarengi dengan makan-makan tho. Nggak seru! :P

  9. tanti says:

    “Baru kuinsafi, aku begitu mencintai kedua orang itu justru saat mereka telah tiada”

    Just be sure,
    mereka pasti senang telah dikunjungi
    mereka pasti bahagia karena selalu diingat dan sangat dicintai
    :)

    Kurasa mereka menyadari kedatanganku. Aku tau itu ;)

  10. nita says:

    saya ziarah biasanya waktu paskah. menebar bunga, memercikkan air mawar, dan berdoa di makam. tapi gak pernah bisa berlama2 di makam, selain suasana sendu bikin hati saya gak enak, nyamuk2nya juga lumayan agresif. saya gak pernah nyaman dg kematian makanya suka nulis soal kematian…agar lebih familier dan terbiasa, menerimanya sbg salah satu bagian tak terelakkan dlm hidup

    nitas last blog post..RUMAH BERKARAKTER

    Sesuatu jika sudah kita biasakan, pasti menjadi terbiasa dan tak aneh lagi. Yang ngeri-ngeri kan biasanya cuma bumbu cerita dalam kehidupan. Kuburan tetaplah tanah lapang yang ditanami manusia.

  11. suhadinet says:

    Jadi ingat cerpen Mas Daniel tentang makam itu…. Apa ya judulnya, lupa saya.

    Nyekar ke makam? Saya setahun 2 kali, pas hari raya idul fitri dan hari raya idul adha.
    Tapi kadangkala ada juga sih di sela-selanya. Soalnya makam ayah saya di sebelah mesjid. Kalau jum’atan, bisa langsung kelihatan.

    suhadinets last blog post..Perahu Ini Telah Melempar Sauh

    Cerpen? Ouw. Rumah Tanpa Alamat Surat, Suhu.

    Wah, beruntung sekali bisa dekat begitu. Bisa setiap saat melongok kalau begitu.

  12. mascayo says:

    selagi masih kumpul sama emak dikampung, saya sering diajak emak nyekar kemakam abah
    sekarang saya jarang ajak anak saya nengok neneknya dikampung, padahal masih ada pula
    telalu sibuk sendiri? tak tahulah
    tapi tulisan ini menyentuh saya untuk segera pulang menengok emak .. ndak perlu tunggu lebaran tiba ..

    Terima kasih, Mas.
    Sesekali ajaklah anak-anak ke sana. Agar ia tau asal-usulnya.

  13. ario saja says:

    dalem banget artinya boss

    Terima kasih, Kawan…

  14. williamz says:

    mm..
    kadang sesuatu terasa berarti disaat kita tidak lagi memiliki..

    sering sering aja ke makam, sebelum kang wahab, berkuasa di negeri ini, xi..xi..xi..

    Aku nggak ngerti nih…

  15. pinky says:

    Sabtu kemarin aku ke makam bapak di jeruk purut gak terasa udah 8 tahun dia di sana…..

    Sudah 8 tahun? Wah…
    Jangan pernah putus mendoakan beliau, Pinky.

  16. Lala says:

    Sejak Mami meninggal, berziarah ke makam menjadi agenda tetap tiap bulan, padahal dulunya hanya setahun dua kali :(

    Kalau saya di sana nggak berlama-lama seperti Mas DM. Awalnya sih memang sering curhat sama Mami di sana… tapi lama kelamaan, saya milih curhat pas mau tidur aja.. :)

    Dan ke makam sering-sering? Berlama-lama? Sambil menghabiskan berbatang-batang rokok sambil mengenang kembali siapa yang tertidur di bawah sana? Hm, itu pilihan Mas. So, what? Asal bukan untuk nyari inspirasi togel sih, fine fine ajaaaahhhhhhh…. :)

    Whaa? Curhat di kuburan? Ya-ya-ya, lebih baik jangan diteruskan, La. Nanti dianggap aneh kamu. Hehe.

  17. DV says:

    Ke makam jangan lama-lama Mas Daniel.
    Nanti ada yang kehabisan rokok dan ngambek lalu.. ah ada KODOK LONCAT :) )

    Hehe. Kodok loncat itu ide belakangan, Don. Untung ada kodok loncat. Kalo nggak, bingung aku cari alesan ;)

  18. iJul says:

    Kemampuan membaca menurun atau apa ya… Buka blog ini, berpikir ada tulisan baru karena yang terbaca adalah: Seberapa sering anda makan? hahaha gawat :p

    iJuls last blog post..In the Front Line

    Hahahaha!! Udah jarang makan sekarang? :P

  19. laporan says:

    Ya, merenung di makam itu bukan merenungi
    yang dimakamkan. Tetapi sejatinya
    merenungi diri sendiri, bahwa hidup adalah
    penantian untuk mati.

    Saya sendiri jarang ke makam, kenapa ya,
    sepertinya tanpa berkunjung pun, pasti kita
    ke makam juga.

    Rasa kangen pada orang dekat pasti muncul,
    maka ketika berkunjung ke makam sahabat,
    sepertinya saat itu kita memutar film
    dokumenter masa lalu.
    Inilah mungkin fungsi makam, sebagai monumen
    pengingat-ngingat.

    Ada sesuatu yang dapat kita kenang. Karena masa lalu adalah sesuatu yang tak dapat kita kunjungi lagi. Jaraknya tak tertempuh. Waktunya tak terkira. Kita hanya bisa mengenangnya. Meski terkadang mengenang adalah satu seni tersendiri dalam hidup yang tak semua orang dapat melakukannya.

  20. novi says:

    Hmmm ngomongin “rumah masa depan” ya?…kalo liat makam, yang terlintas di kepala adalah “someday dunno when, I’ll be there too”……
    Wah kok jadi kangen berat sama Alm.Bapak ku ya…..

    Mari kita doakan orang tua kita. Baik yang masih ada, maupun yang telah lagi meninggalkan kita. Agar tenang ia di sana :)

  21. jadi inget lirik “malam lebaran”-nya bang sitor situmorang: *mohon dikoreksi kalau salah* “rembulan di atas kuburan” lirik ini selalu mengingatkan akan kematian. sering ke makam seperti yang mas daniel lakukan, bisa jadi akan selalu mendekatkan diri pada suasana religius, ketika mata awam kita melihat batu2 nisan. sayangnya, awal ramadhan ini saya ndak bisa ziarah ke makan almarhum ayah. semoga lebaran nanti saya masih punya kesempatan untuk menengok rumah masa depan itu.

    Malam Lebaran

    Bulan di atas kuburan

  22. nh18 says:

    Aku ke Makam ?
    … sekarang sangat jarang …

    Dulu sering …
    Terutama kalau lagi pas acara Jurit Malam … Kemping sama anak-anak Pramuka atau PMR …

    :)

    nh18s last blog post..PEMULUNG

    Whaaa… jurit malam? Untuk mengetes mental anggota? Padahal tak ada sesuatu yang ngeri di sana… :P

  23. zahra says:

    yup.. bener mas… berdo’a nggak harus pas ngunjungi makam aja kok
    Everyday… bisa pastinya :)
    InsyaAllah^_^

    btw, mas daniel dah brangkat umroh kah?
    Jadi umroh kapan mas??
    Kabar2i ya… Mo nitip oleh2 nih hehe…
    abaya ma jilbab aja gpp kok huehehehe…
    *Ini mo umroh ato kulak-an… jowo style*
    ………………………………
    ——–kabur———-

    oups, balik lagi…
    Sepuluh jari setangkup sembah,
    hihi…
    Met Umroh ya mas, moga baarakah
    dan kerinduannya terpenuhi ^_^

    Berangkat umroh? Belum dong…
    Titip oleh-oleh? Hayah! Yang dijual di sana bikinan Tasikmalaya juga kok! Hehehe.
    Amin… Amin, Zahra. Thanx.

  24. Pada akhirnya persoalan hidup adalah persoalan menunda mati, biarpun orang-orang yang bijaksana lebih suka mati sekali daripada berkali-kali…

    Leinad Ardnehmans last blog post..Why Do We Love If Love Will Die…

    It’s not how long you live that matters, it’s how you live.
    (pinjam ya… ;) )

  25. suhadinet says:

    Wah gila tu si melow, udah nyalip posisi saya di pengomentar di blog Mas Daniel. Gak bisa dibiarin ni orang (*gulung lengan baju tinggi-tinggi. Ngajak perang sama Marshmallow).

    Eh gak jadi deh, puasa…sabar…..sabar… :mrgreen:

    Yang mana orangnya, Suhu?! Yang mana?! Berani-beraninya?! Aku bantuin deh!!
    *gulung pipa celana tinggi-tinggi*
    (Lho?) :P

  26. marshmallow says:

    @suhadi:
    wakakakakak…
    itulah buah usaha, suhu.
    memang target saya komen di sini cuman mau ngalahin suhu koq, gak lain.
    :lol:

    Puwas?! Puwas?! Udah ngalahin Suhu, puwas, ha?!

  27. yhadee says:

    2x setahun, klo lebaran ajjjja!!! :d

    Itu pun tak apa, Kawan.

  28. Qizink says:

    aku pulang!

    penutup tulisan yang keren dari kunjungan ke makam. Pada akhirnya kita juga akan pulang, seperti orang-orang yang telah terlebih dahulu dimakamkan!

    Seperti semua dan segala yang bernafas di muka bumi ini, Kang Qizink.

  29. Yari NK says:

    Mudah2an tanpa kunjungan ke makampun kita selalu ingat bahwa kitapun pasti memerlukan “bekal” untuk di hari kemudian kelak. Tentu dengan berbuat positif dan tidak hanya merenung saja. Bukan begitu pak? :D

    Yari NKs last blog post..Music in Islam

    Sangat setuju, Wahai Pak Yari.

  30. Lala says:

    Hehehe…
    Curhatnya nggak kenceng-kenceng lah, Mas… Berbisik-bisik mesra sama Mami aja kok…. :)

    Lalas last blog post..in search of lights

    Ia mendengar, La. Percayalah.

  31. catra says:

    sampai saat ini tuhan masih memberikan kesempatan hidup terhadap kedua orang tua saya, makam yang rutin saya kunjungi ialah makam nenek saya. tapi itupun cuma pertanda saja sebab makam nya sudah tertimbun longsor

    Tertimbun longsor?! Ouw…

  32. Linda Rooroh says:

    Pak ikutan komen ya ; sungguh tulisan2nya enak dinikmati..

    Saya ke makam cuma kalau ada keperluan… keperluan kasi dukungan dan perhatian untuk kerabat yang baru kehilangan. Dari situ baru makam2 lain kebagian kunjungan. Sekalian bagi2 ribuan juga. Di makam saya juga sering jalan2, seakan batu nisan semacam hiasan. Lalu menghitung jatah waktu yang Tuhan beri, buat nama2 yang diukir di batu. Trus merenung… kalo jatah saya kira2 berapa lama yaa..

    Linda Roorohs last blog post..Bapak

    Ibu Linda, beribu terima kasih sudah berkunjung.

    Menarik sekali apa yang Ibu tuturkan. Membuat kita kembali merenungi sepanjang apa kita hidup di dunia ini.

  33. Pingback: pulang | mascayo | personal blog

  34. Ikkyu_san says:

    Ternyata aku belum tulis komentar di sini ya
    aku jarang ke makam apalagi untuk nyekar
    memang karena aku tinggal di LN. Tapi seandainyapun aku di jkt belum tentu aku nyekar ke makam, karena makam kakek nenek yang berjauhan.

    Di Jepang sendiri aku selalu nyekar ke makam keluarga suami, lebih karena ritual. Setahun minimum 2 kali (seharusnya 3 kali). Yaitu di bulan maret tgl 21 (mulai musim semi), agustus untuk upacara arwah dan sept 23 (mulai musim gugur). Kebiasaan orang Jepang untuk menghormati leluhur. Padahal mereka juga mempunyai altar peringatan untuk arwah di rumah anak tertua- penerus garis keturunan.

    EM

    Ikkyu_sans last blog post..Hidup itu….?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>