penganyamkata.net
current   |   rss

Every Month Is Ramadhan? I Don’t Think So…

Published September 4, 2008

Membaca tulisan Ketika Tiga Puluh Hari Itu Usai… Lantas Apa? di blog Lala, jadi tiba-tiba berpikir: lantas di mana sesuatu dianggap istimewa? Bukankah sesuatu dianggap berbeda karena ada perbandingannya? Karena di situlah hukum dialektika berlaku, di mana segala sesuatu yang terdapat di alam semesta ini terjadi dari hasil pertentangan antara dua hal serta menimbulkan hal lain, tukas Hegel.

 

Kenapa orang disebut kaya karena memang ada yang miskin. Kenapa orang disebut pintar, karena ada yang dungu. Kenapa ada hangat, karena memang ada dingin. Selamanya demikian. Karena konsep zakat dalam Islam pun bukan untuk menghapus orang miskin di atas bumi ini. Selamanya akan tetap ada yang disebut kaya dan selalu terdapat si miskin. Karena (lagi-lagi) ini dunia, bukan surga, kan.

 

Pernahkah membayangkan jika semua perempuan dan laki-laki dilahirkan dengan paras yang sama, apa yang bakal terjadi? Bisa kupastikan: takkan terjadi apa-apa. Jelas. Karena memang tak ada yang aneh di sana. Itu kenapa kita tidak pernah mempertanyakan kenapa telinga kita dua kan? 

Seperti halnya mengapa paradigma kecantikan dianggap nisbi. Karena memang tak ada teori kecantikan yang disepakati secara kolektif. Orang boleh punya keputusan sendiri dalam menentukan seperti apa cantik itu. Orang boleh mengatakan istrinya adalah perempuan tercantik di dunia. Seperti halnya seorang istri yang menganggap suaminya merupakan lelaki paling gagah di atas planet ini. Kenapa? Ya karena itu hak individu. Masa bodoh andai pun ada orang lain berkata: “Amit-amit! Gitu aja kok dianggap cantik sih?!” Siapa yang bakal peduli. Bukankah begitu?

Namun itulah yang membuat suatu perbedaan tampak begitu indah dan istimewa. Justru karena perbedaan itu sendiri. Seperti halnya aku percaya: di antara deretan perempuan cantik jelita, satu orang yang manis akan tampak lebih menonjol karena parasnya jelas tidak membosankan. Di sana pula kita bisa memaknai sesuatu perbedaan akan begitu menarik dan istimewanya. Karena dia berbeda!

 

Apa jadinya jika setiap hari merupakan hari libur? Apa jadinya jika semua orang sehat tak pernah lagi sakit? Apa jadinya jika sepanjang tahun hanya bahagia semata yang kita rasakan? Apa jadinya jika semua sendi kehidupan ini berjalan lurus di atas relnya? Maka semua tampak biasa saja. Tak ada perbedaan di sana. Tak ada yang disebut istimewa. Bukankah dalam tangisan pada hakekatnya kita sedang menyukuri betapa indahnya kebahagiaan itu.

 

Maka jika setiap bulan merupakan bulan Ramadhan? Secara pribadi, aku akan berkata: tak ada lagi yang istimewa dengan Ramadhan. Kenapa? Karena sepanjang tahun memang diwajibkan untuk puasa. Dan setiap ibadahnya lipat kali dari biasanya? Memang biasanya apa? Bukankah sudah tidak ada lagi konsep bulan di luar Ramadhan? Bukankah begitu?

 

Ia tampak istimewa, karena ia berbeda! ;)

 

4 September 2008 | 12.57 wib