30 September 2008
berserobok dengan masa lalu yang tak pernah berkesudahan
tiba-tiba sontak terhenyak:
apa yang sudah kita lakukan selama ini?
memoleskan bedak dan gincu
pada wajah yang memang tak cantik
padahal kita tak pernah bisa melupakan yang sudah-sudah
siapa yang mampu membasuh luka yang menganga?
kalau melupakan adalah satu seni tersendiri dalam hidup
yang tak semua orang dapat melakukannya
mestikah kita kubur dalam-dalam
pura-pura tidak tahu,
serta berjalan menelikung dan hilang di tikungan jalan?
hingga kapan semua ini hendak dipendam,
sementara waktu tetap terus bengis berjalan
padahal kita takkan pernah sampai di mana-mana
jujurlah,
katakan pada dunia:
apa yang pernah terjadi di antara kita
katakan saja,
toh mereka takkan lantas mengutuk
karena yang dibutuhkan hanyalah sebuah pengakuan
karena jika tidak demikian,
maka akan selamanya
darah itu mengalir di wajahmu, di wajah kita
biarlah yang sudah-sudah
toh telah terjadi
kita takkan lantas jadi pahlawan karenanya
pugar candimu
buat yang baru
agar kita tahu: hidup kita lebih bahagia dari sebelumnya
sudah kucoba genggam tangan mereka
mereka menggeliat
namun segalanya tetap berpulang kepadamu
sudah 43 tahun kita terus seperti ini
berusaha dan berdoa
mau sampai kapan bungkam?
30 September 2008 | 17.43 wib
Mengenang 43 tahun tragedi 65. Kutundukkan kepala kepada mereka yang dibunuh, diculik, disiksa, dibuang kerja paksa, cacat dan gila, serta mati sia-sia dalam penjara.
Kutundukkan kepala kepada setiap keluarga yang kehilangan ayah mereka, ibu mereka, anak-anak mereka, serta orang-orang yang mereka cintai.
Malam ini, 30 September 43 tahun yang lalu…
Malam Lebaran: Bulan di atas kuburan. –Sitor Situmorang.
(Aku tulis sajak ini sembari diiringi getir tembang soundtrack King Arthur, Hold The Ice. Gelap, menyayat, sepi, mencekam…)


Bung, semalam aku punya pertanyaan, kenapa Kapten Piere Tendean dikurbankann? Kenapa tak satupun pasukan Cakrabirawa tak mengenal AH Nasution? ANeh bukan ?
Donny Verdians last blog post..Ketergantungan Itu
Ikut menunduk sedalam-dalamnya…
Yogas last blog post..Time and Patience
tak salah kalau fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.
puisi yang menyentuh, DM.
Cerita yang sebenarnya, apa yang terjadi saat itu belum terkuak ya….?
Semoga tak pernah lagi ada kejadian seperti itu….
edratnas last blog post..Ngabuburit di hari-hari menjelang Lebaran
jadi inget dulu waktu SD tiap tahun disuruh nonton film karangan ORBA ini…
ikut nunduk…
shierlys last blog post..Daftar koruptor (pendahuluan)
hhmmm…hanya ada di indonesia tercinta
Ketika umat yahudi di bantai kekuasaan jerman, Hitler dan seluruh kroninya diadili. Namun ketika Hirosima dan Nagasaki di BOM, adakah yg mengadili Sekutu AS dan kroninya? Begitu juga Korban G30S, sampai skrg tak menemukan keadilan itu. Dunia internasional tutup mata, dan tak menjadikannya sebagai bahan untuk diajukan ke mahkamah internasional. Semua seolah dilupakan, dan menjadi sebuah sejarah yg tak utuh, tak jelas betul faktanya!