berserobok dengan masa lalu yang tak pernah berkesudahan
tiba-tiba sontak terhenyak:
apa yang sudah kita lakukan selama ini?

memoleskan bedak dan gincu
pada wajah yang memang tak cantik
padahal kita tak pernah bisa melupakan yang sudah-sudah

siapa yang mampu membasuh luka yang menganga?
kalau melupakan adalah satu seni tersendiri dalam hidup
yang tak semua orang dapat melakukannya

mestikah kita kubur dalam-dalam
pura-pura tidak tahu,
serta berjalan menelikung dan hilang di tikungan jalan?

hingga kapan semua ini hendak dipendam,
sementara waktu tetap terus bengis berjalan
padahal kita takkan pernah sampai di mana-mana

jujurlah,
katakan pada dunia:
apa yang pernah terjadi di antara kita

katakan saja,
toh mereka takkan lantas mengutuk
karena yang dibutuhkan hanyalah sebuah pengakuan

karena jika tidak demikian,
maka akan selamanya
darah itu mengalir di wajahmu, di wajah kita

biarlah yang sudah-sudah
toh telah terjadi
kita takkan lantas jadi pahlawan karenanya

pugar candimu
buat yang baru
agar kita tahu: hidup kita lebih bahagia dari sebelumnya

sudah kucoba genggam tangan mereka
mereka menggeliat
namun segalanya tetap berpulang kepadamu

sudah 43 tahun kita terus seperti ini
berusaha dan berdoa
mau sampai kapan bungkam?

30 September 2008 | 17.43 wib

Mengenang 43 tahun tragedi 65. Kutundukkan kepala kepada mereka yang dibunuh, diculik, disiksa, dibuang kerja paksa, cacat dan gila, serta mati sia-sia dalam penjara.

Kutundukkan kepala kepada setiap keluarga yang kehilangan ayah mereka, ibu mereka, anak-anak mereka, serta orang-orang yang mereka cintai.

Malam ini, 30 September 43 tahun yang lalu…

Malam Lebaran: Bulan di atas kuburan. –Sitor Situmorang.

(Aku tulis sajak ini sembari diiringi getir tembang soundtrack King Arthur, Hold The Ice. Gelap, menyayat, sepi, mencekam…)