9 Tahun Kesunyian

Setiap menjelang Ramadhan hendak berakhir, aku selalu merasa resah. Yang namanya lebaran, orang yang menjalani pasti menyambutnya dengan suka cita, seperti halnya hari raya pada agama-agama lain. Maka lebaran, orang mulai berkemas, pergi ke kota tempat orangtua tinggal, sibuk persiapan bersama keluarga, atau beres-beres kantor karena hendak ditinggal libur berhari-hari.

Tapi tidak bagiku. Saat menjelang lebaran justru adalah saat-saat yang menyesakkan bagiku. Paling tidak untuk 9 tahun terakhir ini. Setiap orang yang kutemui selalu menunjukkan wajah berseri-seri. Mereka hendak pulang. Ya, pulang. Entah itu ke luar kota, ke kampung halaman, yang pasti pulang. Setiap aku menelpon teman, rata-rata jawabnya: “Hari ini kerja terakhirku. Besok sudah mesti berangkat.” Oh, haruskah selalu seperti itu?

Waktu kecil aku memang kerap mengalami hal-hal seperti itu. Setiap menjelang lebaran, kami sekeluarga berkendara ke Semarang lewat jalur selatan. Kadang sampai dua mobil dengan keluarga lainnya. Dan selama perjalanan melewati kota-kota baik di Jawa Barat maupun Jawa Tengah, aku merasa hubungan kami sekeluarga teramat sangat dekat. Sampai saat ini hal itu masih kuanggap saat-saat menyenangkan dalam hidupku.

Ada sesuatu yang dilakukan. Pergi ke suatu tempat. Pulang. Atau mudik? Apalah istilahnya, tapi ada aktivitas yang membuat lebaran tampak berbeda ketimbang hari-hari lainnya. Kalau pun tidak pergi ke Semarang (atau Palembang), almarhum bapak mengajak kami keliling kota. Pergi ke suatu tempat. Membeli entah apa saja. Semua demi lebaran. Sangat terasa: lebaran adalah saat yang sungguh berbeda. Dan sudah barang tentu kami menyambutnya dengan suka cita.

Sudah sejak 9 tahun terakhir ini aku merasakan suasana lebaran sangat-sangat terpola sekali. Tak ada yang berubah dalam 9 tahun terakhir ini. Tak ada yang sangat-sangat istimewa. Semua terasa sama. Aku tidak tahu, ritual lebarannya yang berubah, atau akunya yang telah berubah? (barangkali akunya yang tak pernah mau berubah).

Sudah sejak 9 tahun terakhir, setiap menjelang lebaran, aku praktis di rumah. Hingga menjelang malam takbiran, biasanya aku mengajak adikku ke luar. Membeli bunga-bunga, es krim, atau kubiarkan ia mengambil segala sesuatu yang diinginkan di mall. Setelah itu pulang ke rumah mama. Di rumah pun tak ada yang dilakukan. Mama sudah setengah tidur di depan tv kamar. Semua masakan dan kue-kue sudah tersiap sejak jauh hari. Kalau sudah seperti itu biasanya aku keluar lagi. Mengililingi kota yang sunyi atau justru ramai oleh pawai takbiran keliling.

Pagi harinya, mama dan adikku sudah duluan pergi ke mesjid. Aku masih tertidur dan gopah gapah terburu-buru mandi dan berlari ke mesjid. Setelah bersalam-salaman dengan tetangga di mesjid, pulang, bermaaf-maafan dengan mama dan adikku, setelah itu makan. Sehabis makan, tak berapa lama keluarga adik mama datang. Bersalam-salaman lagi, lantas pergi ke makam almarhum bapak dan kakak lelakiku.

Pulang dari makam, bincang-bincang di ruang tengah sembari nonton tv yang isinya tetap tak menarik. Bersenda gurau sejenak, lalu mereka pulang. Lantas keadaan kembali seperti biasa. Biasanya kalau tidak nonton tv dengan acara membosankan, ya aku tidur sampai sore hari. Lebaran bagiku selesai tak sampai pada jam 12 siang di hari yang sama. Setelah itu semua kembali seperti biasa. Tak ada yang istimewa.

Aku tidak dalam rangka sedang menyesali hidupku. Insya Allah aku masih bersyukur dengan apa yang terjadi dengan diriku. Ini hanyalah sebuah cerita. Paling tidak aku ingin orang dapat berkaca bahwa tak selamanya lebaran berupa keriangan semata. Sebagai manusia, kita memang mutlak bersenang-senang. Karena hidup tak selamanya melulu berisi kesedihan. Meski nyatanya, batas antara kesenangan dan kesedihan nyaris tipis sekali.

Aku hanya ingin orang-orang dapat bergembira dan berbahagia dengan keluarga mereka. Bagi yang masih lengkap, syukurilah, karena kebahagiaan memang mutlak diciptakan. Cintailah orang-orang yang ada di sekitar kita. Bukankah begitu?

Maka apa yang telah ditulis Pak Sawali dengan cukup apik dalam postingannya ini, sungguh sangat dapat kurasakan maknanya. Menyitir sajak Sitor Situmorang: Malam Lebaran: Bulan di atas kuburan. Seperti itulah yang kurasakan. Ah, semoga kalian berbahagia, Kawan-kawan.

Namun demikian, melalui blog ini aku ingin mengucapkan: Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakannnya. Minal Aidin Walfaizin. Maaf lahir dan batin. Sekiranya ada tulisan, komentar maupun sikap yang dirasa telah menyinggung Kawan-kawan, mohon dimaafkan.

Akhirnya: selamat menikmati opor ayam!

Nah, selamat berlebaran.

Bandung, 30 September 2008 | 04.20 wib

I believe, I am one of the loneliest people in the world.
-Daniel Mahendra-

This entry was posted in Catatan Harian, Renungan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

21 Responses to 9 Tahun Kesunyian

  1. Chandra says:

    Aduuhh…jadi sedih…tenang mas, aku di sini juga kegaringan, sholat Id juga telat mulu, ga ada opor ayam pula coz ga bisa bikinnya…hahahahaha…

    Met lebaran ya mas, mudah2an lebaran taun depan dah ga lonely lagi…Amin!

    Maaf lahir Batin ah suka goda-godain.. (eh colek-colek dong goda-goda…hihihi)

    Salam buat temanku and tante ya…

    DM: Lho, mamah udah pulang ke Indonesia? Ah, kamu mah pasti nyantai banget lebaran kali ini. Maklum lagi seneng-senengnya nimang bayi. Hehe.
    Lebaran tahun depan nggak lonely lagi? Hmm… I don’t think so. Tapi amin deh. Hihi.
    Iya, nanti kusampaikan.
    Nah, maaf lahir batin juga, Chandra. Jangan khawatir, goda-godaanmu sudah kumaafkan. Hihihi. Termasuk email-emailmu tentang aku di inbox adikku. Huahahaha…!!!
    Met lebaran di Sydney.

  2. Chandra says:

    eh…pada mudik yaa…pantes pertamax!
    haha!

    DM: Iya nih… lalu lintas sedang sunyi senyap.
    Sunyi senyap di siang hidup!

  3. iJul says:

    Ah, setelah sering berlebaran di tempat lain selama bertahun-tahun, lebaran di “rumah” terasa istimewa walau dengan menu makanan yang sama (apa istimewanya opor ayam?) dan dihabiskan dengan tidur :) Met Lebaran dan maaf lahir batin.

    DM: Huihihi… kalo kamu mah lebaran nggak pernah jelas di mana. Tahun kemarin di kota mana… Tahun depan di negara mana… Maka ketika kamu pulang (uh, lagi-lagi kata “pulang”!), kamu menemukan hal lain.
    Opor ayam mungkin biasa aja, Jul. Hanya soal tradisi. Seperti halnya mudik. Tradisi juga.
    Tapi ada komentar menarik, Jul, soal mudik lebaran itu. Kemarin saat lihat news soal arus mudik di Pantura, aku sempat nyeletuk berkelakar:
    “Tiap taun macet kayak gitu. Kok nggak dibikin jembatan layang aja dari Banten sampai Jawa Timur. Biar lewat atas semua. Atau bikin jalan di atas laut Jawa.” Apa jawaban temanku?
    “Justru yang dicari saat mudik itu macetnya. Di situ seninya. Coba kalau semua lancar. Mungkin mudik terasa biasa saja. Dan tv-tv itu mau memberitakan apa. Semua lancar sudah pada tempatnya. Mau ngapain lagi?”
    Ih, betul juga! Hehe.

  4. Ikkyu_san says:

    HMMMMM DM… aku bisa merasakan “kesepian” atau “kebosanan” mu di atas keriangan teman-teman dalam menyambut hari raya. Saya tidak tahu apa yang menyebabkan dirimu seperti itu, tapi kalau aku mungkin sejak menikah 9 tahun yang lalu, juga merasakan perubahan atas “cara menikmati” hari Raya. Pada hari Natalku yang sudah 9 tahun ini aku tidak lagi merasakan SAKRAL, karena aku tidak berada di lingkungan keluarga yang sama. Pernah aku natalan di Jakarta, tapi itupun sudah tidak sama lagi. Aku yang berubah…itu pasti. Tapi saya rasa sekeliling kita juga berubah… hanya saja kita (baca aku dan kamu) merasakannya lebih cepat dari yang lain. Dan itu —mungkin— karena kedewasaan yang menyebabkan perubahan itu. Kita selalu ingin mengulang apa yang sama dgn waktu sebelum segalanya berubah. Ingin berada di masa itu. Dan itu tidak bisa lagi! Perubahan itu pasti terjadi…di satu pihak saya mempunyai keluarga baru, di lain phak saya rindu pada keadaan sebelum itu. Mungkin memang kita sudah waktunya membuat sendiri cara menikmati hari Raya yang baru…ala DM dan ala saya. OK bung?
    Mohon maaf lahir batin DM… saya masakin opor ayam dan akan saya kirim lewat email …setuju? hihihi… TOSS!!

    Ikkyu_sans last blog post..Beban berat anak SD Jepang

    DM: Mbak Imel… aku ngantuk. Udah jam 8 pagi belum tidur. Aku tidur dulu ya. Nggak kuat nih mau balas komennya. Tapi aku janji begitu bangun langsung mengomentari balik. Tapi jujur aku tersentuh dengan komennya. Memang seperti itulah yang kita rasakan (lho, kok aku terpancing untuk menulis lebih jauh. Hehehe). Tidur dulu deh. Tengkyu, Mbak. Dagh…

    ======================================================

    DM: Nah, Mbak, aku sudah bangun. Hehe.

    Betul, komen Mbak menyentuh sekali. Dan aku rasa betul juga, semuanya berubah. Kita berubah, lingkungan kita juga berubah. Kita tidak bisa menuntut segala sesuatu berlaku sama sepanjang masa. Abrsurd itu namanya. Ah-ah, aku merasa mendapatkan pencerahan hari ini. Tengkyu, Mbak Imelda. Tiba-tiba aku merasa punya kakak perempuan saat ini.

    Yeah!! Oke. Sudah waktunya kita membuat sendiri cara menikmati hari Raya yang baru. Great! Itu kalimat yang hebat, Mbak. Ala DM yeah? Baik, ala DM, Mbak! Mungkin ini terakhir kalinya aku menulis tentang lebaran dengan nada “tersedu-sedu” seperti itu. Cukup! September 2009 (kalau aku masih bisa bertahan hidup) kita lihat apakah semua ini berjalan. Aku akan baca postingan ini lagi, termasuk komen Mbak Imel.

    Nah, tengkyu Mbak Imel. Opornya nggak perlu dikirim lewat email. Karena pada dasarnya, sumprit, aku nggak begitu suka opor ayam. Hehe. Rendang aja ya? (Teteuuuppp…). TOSS!!

  5. edratna says:

    Daniel, masa kecil, dimana keluarga masih lengkap adalah masa yang paling menyenangkan. Berdesak-desakan antri dijalanan yang macet, hanya ingin ketemu orang tua….namun kemudian ada yang berubah, dan saat itu kalau pulang saya hanya bisa nyekar. Apalagi setelah ibu juga tiada, jadilah saya hanya Lebaran di Jakarta bersama anak yang masih kecil…tapi ini justru merekatkan kita, karena tinggal keluarga inti, tanpa adanya si mbak yang hilir mudik melayani kita.

    Lebaran kali ini, adalah lebaran kedua si sulung tak beserta kami (dulu sempat 3 semester di University of Quensland), dan kali ini si sulung telah membuat sarang baru…walau setelah Lebaran dia juga harus segera ke Fairfield, Iowa untuk meneruskan kuliah S2, dan meninggalkan isteri di Miami.

    Kondisi selalu berubah Daniel, dan mungkin suatu ketika, saya juga tinggal berlebaran dengan suami, jika si bungsu sudah menikah. Sekarangpun, untuk bepergian dengan si bungsu sudah sangat sulit karena kesibukannya, bekerja sambil kuliah S2 di ITB. Semoga Daniel bisa menikmati suasana Lebaran dengan tenang, bersama Mama dan adik, serta mendoakan Papa. Pasti papamu akan tenteram di sana, jika mendengar doa putra tercintanya.

    edratnas last blog post..Ngabuburit di hari-hari menjelang Lebaran

    DM: Ah, akhirnya aku mulai menemukan jawabannya. Aku jadi tau sekarang. Rupanya masih begitu mengendap dalam pikiranku bahwa aku merindukan masa-masa seperti itu. Sementara kondisi selalu berubah.

    Bu Enny, ribuan terima kasih. Aku jadi tersadarkan. Aku jadi bisa lebih memaknai Idul Fitri dari sebelum-sebelumnya. Aku jadi sangat bersyukur akan blog. Di mana kita bisa mencurahkan sesuatu, sementara itu mendapatkan feedback dari orang-orang yang saling peduli satu sama lain. Ah, betapa indahnya.

    Ribuan terima kasih, Mam…

    Semoga begitu pun dengan Bu Enny dan keluarga.

  6. yhadee says:

    met lebaran aja nih bang komennya, mohon ma’af lahir dan bathin ya!!! :D

    DM: Sama-sama Kawan. Mohon maaf lahir dan batin juga. Salam lebaran…

  7. dana says:

    Selamat berLebaran.

    DM: Selamat berlebaran…

  8. nita says:

    gak pa2lah oom, asalkan jangan sampai terjadi seratus tahun kesunyian kayak novelnya si gabriel garcia marquez itu….iih, coba kau merantau jauh dr bandung ya –tinggal di negeri orang, kesepian itu sudah jadi makanan sehari2…kalo gak kesepian justru aneh…wakakakak

    cheers ya. sekali lagi eid mubarak

    nitas last blog post..ACROSS THE UNIVERSE

    DM: Hehehe, memang judul tulisan ini mencontoh Seratus Tahun Kesunyian-nya Gabriel Garcia Marquez.
    Memang nggak pa-pa. Aku pun tidak sedang mengutuki atau menyesali soal kesepian. Karena kesepian bagiku mutlak. Kebahagiaan itu yang relatif. Hehe.
    Ya, kalau nggak kesepian justru aneh. Haha!

  9. Rafki RS says:

    Perhatian-perhatian…..
    Diberitahukan kepada para penumpang RAL (Ramadhan Air Line) dg nomor penerbangan 1429H
    Bhw perjalanan akan ditempuh dalam waktu satu hari lagi.
    Ketinggian jelajah amal DILIPATGANDAKAN. Dengan 7an taqwa.
    Para penumpang diharap tetap mengenakan sabuk AMANAH & menegakkan kursi IMAN & IKHLAS.
    Penerbangan ini bebas asap DENGKI.
    Atas nama awak kabin yang bertugas,
    Kami ucapkan “SELAMAT MENIKMATI BONUS-BONUS PAHALA. SEMOGA SELAMAT SAMPAI TUJUAN”
    MINAL AIDIN WALFAIDZIN.

    DM: Maaf lahir batin, Pak Rafki. Tapi aku memilih naik kereta saja.

  10. marshmallow says:

    keriangan dan kebahagiaan itu diciptakan, bukan dicari apalagi ditunggu, eh?
    nah, carilah! siapa tau bakal ketemu di mana.

    kalau perkara sepi, aku merasa lebih kesepian lagi dari kamu.
    sanak keluarga jauh, teman-teman yang ada pun belum tentu berlebaran juga.
    ritual persiapan menjelang lebaran? gak usah cerita deh! nol besar!
    rambutku yang gondrong aja belum sempat dirapikan.
    lebaran berarti liburan? buh! tugas menumpuk, pada kejar tayang.
    itu fisik.

    kalau kulongok ke dalam hati, ternyata aku tak merasa nelangsa, karena aku tau, kedekatan dan kemeriahan bersama orang-orang terkasih tak harus terdinding dimensi ruang dan waktu.

    well, selamat “menciptakan” kebahagiaan lebaran, DM!
    mohon dimaafkan lahir dan batin.

    marshmallows last blog post..Kenalkan, Aku Robert Coote!

    DM: Marshmallow, aku memang tidak sedang dalam rangka membuat perbandingan. Karena tak pernah ada parameter soal kesunyian. Setiap individu memiliki tolak ukurnya masing-masing.

    Posisimu sekarang adalah sementara. Setelah semuanya selesai, kau pun akan pulang. Tapi tidak dengan diriku. Pernahkah kau merasakan kesepian yang permanen? Maka bersyukurlah karena kau tidak merasa nelangsa, karena kedekatan dan kemeriahan bersama orang-orang terkasih tak terdinding dimensi ruang dan waktu. Bersyukurlah akan hal itu.

    Aku setuju, kebahagiaan memang bukan dicari, tapi diciptakan.

  11. tanti says:

    Nikmati kesunyian ini, tahun depan mungkin ada hal lain yang akan kau alami,
    mungkin tak sama dengan tahun ini, who knows? so, just enjoy !! ;)
    Selamat merayakan Idul Fitri,
    Eid Mubarak !!

    tantis last blog post..Ebony and Ivory

    DM: Akan aku nikmati, Mbak Tanti. Tahun depan, ya, who knows.
    Terima kasih, Sis. Selamat menikmati liburan di Yogya. Cepat kembali ke Surabaya.
    Aku hanya minta satu oleh-oleh dari Manila dan Hongkong: jangan berjarak.
    Aku mendoakanmu.

  12. suhadinet says:

    Mas Daniel, saat orang gembira, sahabatku ini kok merasa lonely….
    Sependapat dengan komen melow di atas, ciptakan kebahagiaan itu.

    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H. Mohon maaf lahir dan batin.

    suhadinets last blog post..Tag Award dari Catra, Pak Sawali, dan Mas Donny

    DM: Bukankah pengalaman hidup seseorang mempengaruhi laku orang tersebut di kemudian hari, duhai sahabatku?
    Aku setuju, kebahagiaan memang bukan dicari, tapi diciptakan. Maka aku sedang mencoba menciptakan kebahagiaan yang dimaksud.
    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H, Kawan. Maaf lahir dan batin.

  13. Chandra says:

    Walah mas Daniel…itu imel-imelan jangan dibahas dong ah…nanti ada yang jealous…ihihihi..*wink wink kedip kedip*

    DM: Hehehe. Apa sih…

  14. laporan says:

    Mohon Maaf Lahir dan Batin atas berbagai kesalahan baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Tidak apa-apa, kadang kesedihan menimbulkan perenungan.

    DM: Sama-sama, Mas Aryo. Maaf lahir batin juga. Ya, di saat bersedih, sunyi, sendiri, terkadang kita baru menyadari, betapa berharganya arti dari kebahagiaan.

  15. andalusia says:

    di hari raya idul fitri, semua orang termasuk Mas Daniel gak sendirian. Mudah-mudahan lebaran dapat merekatkan tali persaudaraan kita selalu.

    Taqabalallahu minna waminkum…
    maafin neneng ya Mas…

    andalusias last blog post..Bersama Pak Pieter F Gero

    DM: Mudah-mudahan memang demikian adanya.
    Terima kasih juga ya. Maaf lahir batin.
    Semoga lebaran kali ini menjadi hari paling bahagia dalam tahunmu.

  16. sigid says:

    Minal Aidin wal Faidzin
    Mohon Maafku Lahir Bathin

    *ayo-ngeblog* sekeluarga

    DM: Maaf lahir batin juga, Kawan. Selamat menyambut lebaran.
    Ayo nge-blog beramai-ramai…

  17. Bung DM, selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri.
    Semoga kamu semakin dimurnikan dan disucikan …

    Donny Verdians last blog post..Ketergantungan Itu

    DM: Ah, thanx Bung DV.
    Tapi dimurnikan dan disucikan? Aih. Masih jauhlah itu…

  18. mascayo says:

    yah kesunyian ternyata hinggap di beberapa tempat ..
    tapi seperti kata marsmallow , maka saya coba ciptakan keriangan
    baru saja iku bersaut-saut mengumandangkan takbir .. sampai suaraku sedikit parau …

    mascayos last blog post..Mohon Maaf Lahir Bathin

    DM: Tak apa walau parau, Mas. Teruslah berkumandang. Karena mereka butuh suaramu.
    Ayoh ciptakan keriangan…

  19. mascayo says:

    eh lupa ..
    mial aidin wal faidzin
    Mohon Maaf Lahir bathin atas salah dan khilaf saya

    mascayos last blog post..Mohon Maaf Lahir Bathin

    DM: Walah, sama-sama, Mas. Maaf lahir batin juga.
    Salah-salah ucap, salah-salah sikap.
    Ribuan terima kasih…

  20. Yoga says:

    Dan, Apa makna lebaran yang sebenarnya? Bertahun-tahun aku memaknainya benar-benar seperti definisinya, berakhirnya bulan Ramadhan dan dimulainya bulan Syawal. Jikalau ada ritual yang dilaksanakan yang terutama adalah sholat Ied. Sudah itu, sungkem, silahturahmi, mudik dan sebagainya sama saja rasanya seperti di hari-hari biasa dan itu tidak mengurangi kesakralan 1 Syawal. jangan bersedih, ciptakanlah kebahagiaanmu sendiri. Siapa tahu lebaran berikutnya kamu mendapatkan pengalaman baru. :)

    Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan bathin atas segala kesalahan yang tak sengaja.

    ps. aku sudah memaafkan semua kesalahanmu :D

    Yogas last blog post..Time and Patience

    DM: “Siapa tahu lebaran berikutnya kamu mendapatkan pengalaman baru.
    Di depan adalah sesuatu yang belum terjadi. Tapi dapat digapai, direncanakan, dan ditempuh.
    Ya, siapa tau. Siapa yang bisa tau…
    Selamat berlebaran juga. Bersama keluargamu di Surabaya. Maaf lahir batin atas segala kesalahan yang disengaja.
    ps. kesalahanku? What?! Aku berbuat salah apa kepadamu? Huehehe. Becanda.

  21. Bismillahirrahmanirrahim

    Assalamualaikum wr wb

    Selamat hari Raya Idul Fitri 1429 H.

    Mohon maaf atas semua salah, khilaf, tulisan yang menyakitkan hati, menyinggung perasaan, serta bersitan-bersitan hati yang pernah berprasangka.

    Semoga Allah SWT menyempurnakan pahala ibadah kita di bulan Ramadhan tahun ini.

    arifrahmanlubiss last blog post..Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429

    DM: Sama-sama, Kawan. Maaf lahir batin juga. Selamat berlebaran. Semoga menjadi hari yang menyenangkan.
    Cerah harimu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>