Malam, ketika masih mendekam di ruang kerja di perpustakaan rumah, tiba-tiba dari arah bawah ada mobil berhenti di depan pagar. Seorang perempuan mengetuk pintu. Perempuan?! Olala, aku tak punya janji dengan siapa-siapa.

Sebutir kepala menyembul, tersenyum. Tangannya membawa bungkusan besar berisi kue dengan 10 buah stroberi mengelilingi 9 butir anggur di mana di tengahnya berdiam sepucuk stroberi merah yang nongkrong sendirian.

“Dan?”
“Hei, Grace!”
“Ini ada kiriman,”
“A-a-a… aku tau dari mana…” potongku tertawa.
“You know-lah…”
“Alah, paling dia titip, kamu juga yang beli.”
“Ya iyalah. Masa’ iya dia terbang dari Denpasar ke Bandung cuman buat ngasih kue ini.”
“Hehehe.”

Setelah kuucapkan terima kasih, ia pun pamit pulang, dan aku membawa bungkusan besar berisi kue itu ke ruang perpustakaan. Ada sepucuk kartu di atasnya. Seperti sudah kuduga, bingkisan ini dari Windy. Sudah jadi kebiasaannya, kalau menjelang lebaran atau saat aku ulang tahun, ia kerap mengirim hal yang bukan-bukan. Hehe. Entah itu tiramisu, kue-kue kering, atau apa saja. Dan si Grace itu, selalu jadi kurirnya (Hihihi. Thank you, Grace!).

Nah, kini aku membuka kartunya. Dan ketika aku membaca isinya, aku tercekat. Apa yang tertuang di sana betul-betul seperti apa yang kurasakan pada postingan-postingan sebelumnya di blog ini. Isinya memang bukan tulisannya, tapi sebuah sajak milik Elisabeth Kubler-Ross:

Lebaran 2008…

Dear Daniel,

There is no need to go to India to find peace. You will find that deep place of silence in your room, garden or even your bathtub.

Elisabeth Kubler-Ross
1926-2004

‘Big hug,
ndi’

Aih, so sweat. Eh, so sweet. Sahabatku ini emang baek bener. Thanx, ndi. Kuenya udah kuterima. Semoga lebaranmu indah di Bali. Sekali lagi makasih.

Nah, kini aku hendak melahap kue ini dengan kalap. Ada yang mau? Terlalu banyak kalau kumakan sendirian…

30 September 2008 | 10.26 wib