Bukan Pasar Malam

Sering kali kawanku bertanya: “Kenapa ID YM-mu terdengar aneh, bukanpasarmalam. Apa artinya?” Biasanya cukup kujawab dengan nyengir saja. Kalau ada kesempatan, ya kuterangkan sebisanya. Tapi memang, aku menyukai filosofi dari tiga kata itu: bukan-pasar-malam. Ada apa dengan nama itu?

Sebetulnya tiga kata itu bukanlah ciptaanku. Dan aku memang tak pernah mengaku-ngaku kalau itu hasil buah pikiranku. Bukanpasarmalam kuambil dari judul novel Pramoedya Ananta Toer: Bukan Pasar Malam. Ceritanya sederhana, tapi pemaknaannya terasa dalam sekali. Paling tidak menurutku.

Kira-kira begini pengertian Bukan Pasar Malam itu: kalau kita ke pasar malam, biasanya datang beramai-ramai, berbondong-bondong, bersama teman-teman. Dan di sana tiada lain hendak bersenang-senang, mencari hiburan, serta tertawa-tawa gembira. Jarang kita dengar ada orang datang ke pasar untuk bersedih hati. Ya kan? Setelah itu kita pulang. Dan pulangnya biasanya tetap beramai-ramai. Bersama teman-teman juga. Menghabiskan sisa tawa yang masih ada. Namun berbeda dengan hidup di dunia.

Di dunia, ketika datang kita seorang diri dilahirkan. Oke ada anak kembar. Tapi bukankah pada hakekatnya kita adalah bayi yang baru brojol seorang diri. Tanpa teman, tanpa kawan. Sementara di dunia, kita tak sekadar mencari kesenangan. Ada duka nestapa, ada persoalan, ada kepedihan, ada aneka macam tantangan hidup, di samping kegembiraan-kegembiraan yang sempat terkecap. Maka ketika pulang atau mati, kita kembali seorang diri. Dikubur dan ditanam dalam tanah sendirian. Sehingga hidup di dunia sejatinya memang tidak seperti kalau kita hendak ke pasar malam. Kurang lebih seperti itulah pemaknaan dari Bukan Pasar Malam.

Pagi tadi setelah sholat ied dan makan, bertiga aku, mamaku, dan adik perempuanku beranjak ke pemakaman almarhum bapak dan kakak lelakiku. Di tengah jalan bertemu banyak tetangga dengan tujuan dan maksud yang sama: ke pemakaman. Ayah-ayah kami memang dimakamkan di pemakaman yang sama, karena memang dekat dengan rumah.

Sesampai di pemakaman, suasana ramai, hiruk pikuk, bahkan malah mendekati suasana pasar malam itu sendiri. Tak ada orang bersedih, tak ada orang berduka, tak ada orang bersedu sedan. Semua tersenyum, tertawa, bersimpuh, serta berdoa.

Ini memang ritual umum ketika lebaran tiba: berkunjung ke pemakaman. Mengunjungi orang-orang terdekat kita yang telah ditanam di sana. Tapi suasana yang kusaksikan justru betul-betul layaknya pasar pagi.

Masing-masing keluarga mulai bersimpuh di samping nisan-nisan penuh keterangan. Tapi tak ada kesedihan di sana. Kita seolah sedang berkunjung dan bersapa ke tempat di mana setiap orang akan dan sedang menuju ke sana juga pada akhirnya.

Lagi-lagi dua nisan membisu itu kami datangi. Dibersihkan. Dirapihkan. Ditaburi bunga. Dimanusiakan. Nisan alhamarhum bapak dan nisan kakak lelakiku. Entah apa kata mereka kali ini. “Weh, si bandel kini datang bersama mama dan adiknya.” mungkin begitu mereka berujar sembari terkekeh.

Ketika bersimpuh di samping makam kakakku, tiba-tiba aku tersenyum sendiri. Rasanya aku lebih mengenal dia ketika dia telah tiada ketimbang dulu saat masih hidup. Entah mengapa. Hari ini tanggal 1 Oktober 2008. Aku jadi makin tersenyum saja di samping makamnya, dan secara berbisik berujar:

“Woi, hari ulang tahun kamu nih! Ngapain aja di sana? Kalau kamu masih hidup, berapa umurmu? Tiga enam? Haha!” aku jadi tertawa sendiri.

Tak terpikirkan sama sekali sebelumnya, bahwa kami mengunjunginya tepat di saat hari lahirnya seperti yang tertera pada nisannya: Lahir 1 Oktober 1972, Wafat 22 Agustus 1994, Dimakamkan 6 April 1996.

Ah, andai kau masih hidup, petualangan apa yang akan kita lakukan? Membuat film? Sepertinya menarik. Aku bikin ceritanya, kau sutradaranya. Kita pakai artis yang cantik? Boleh-boleh saja. Haha!

Nah, aku pulang. Baik-baik kau di sana, buddy! Nanti kususul.

1 Oktober 2008 | 22.22 wib

Hidup di dunia memang tak seperti pasar malam…

This entry was posted in Catatan Harian, Renungan and tagged , . Bookmark the permalink.

22 Responses to Bukan Pasar Malam

  1. Ikkyu_san says:

    aaahhhh DM…
    Ternyata 1 Oktober bukan aku saja yang mengingat seorang teman yang telah mendahului kita. Kalau temanku meninggal 1 Okt, kakakmu lahir 1 Okt. Hidup dan mati… pilihan? …takdir…
    Yup, kita akan segera menyusul mereka…. (eh dan mungkin aku akan bertemu kamu di sana? jangan ah…sebelum itu ya …heheheh, aku masih mau membaca novel anak-anak yang segera terbit itu dan meminta tanda tangan pengarangnya)
    EM

    Ikkyu_sans last blog post..Kacamata dsb

    DM: Aih, Mbak. Berarti setiap tanggal itu selalu saja ada yang membuat kita teringat akan seseorang. Kita lihat 1 Oktober 2009 ya, bakal bagaimana cerita kita.
    Bertemu di “sana”? Ah, bertemu di dunia saja dulu, Mbak… Hihihi.

  2. Ikkyu_san says:

    1 Oktober 2008 | 22.22 wib —- uuhhhh aku kok selalu tertarik yang begini-begini ya?

    sorry nyampah…

    Ikkyu_sans last blog post..Kacamata dsb

    DM: Kenapa dengan keterangan waktu itu, Mbak Imel…

  3. nita says:

    bukanpasarmalam…he3x lucu juga ya. tapi gampang diingat
    wah senangnya suasana di pemakaman ramai kayak pasar malam, gak depressing malah bisa dibawa becanda kayak kamu

    nitas last blog post..ACROSS THE UNIVERSE

    DM: Dalam bahasa Inggris ada yang menerbitkan sebagai It’s Not An All Night Fair. Ceritanya sederhana tapi memakau. Dalam tapi memedihkan.

    Suasana makam saat lebaran memang seperti itu. Bener-bener kayak pasar. Jadi nggak ada yang cedih-cedih (haih!).

  4. dana says:

    Wah, benar juga.Hidup ternyata memang bukan pasar malam.

    danas last blog post..Senjakala

    DM: Yup! Tepat sekali…

  5. edratna says:

    Bulan Oktober adalah bulan yang selalu kuingat, saat ini bunga flamboyan mulai berbunga…coba datang ke ITB, bulan Oktober adalah bulan semarak bunga. Dulu, saat saya masih mahasiswa di Bogor, persis di depan kamarku ada bunga flamboyan yang setiap Oktober menaburkan bunganya, yang kemudan berjatuhan ke rerumputan…indah sekali. Dan dirumahku dua orang berulangtahun di bulan ini, anak bungsuku dan aku sendiri. Sedang ayahnya dan si sulung, berulangtahun di bulan Desember, dan kelahirannya diapit oleh hari lahir dua nabi besar, yaitu nabi Muhammad dan nabi Isa, berselang 32 tahun kemudian. Maka di rumah kami, sifatku mirip si bungsu, dan si sulung sangat mirip sang ayah.

    Kita memang akan meninggalkan dunia ini Daniel, sehingga sebetulnya orang yang meninggal duluan, adalah yang telah memulai perjalanan, lebih dulu dari kita.

    YM? Saya jarang OL, kecuali dengan anak-anak dan menantuku…entah kenapa, rasanya bingung kalau banyak orang menyapa pada saat bersamaan, dan komentarku jadi sering keliru.

    edratnas last blog post..Menjelang Adzan Magrib beberapa tahun lalu

    DM: Wah, hari lahir keluarga kita mirip, Bu Enny. Bapak dan kakakku lahir di bulan Oktober. Sementara mama dan adikku di bulan Juli. Hanya aku saja yang di bulan Agustus. Jadi aku beda sendiri. Anak pungut mungkin. Hihihi. *Becanda*.

    Perjalanan justru dimulai saat kita “pergi” ya, Bu. Setuju sekali.

    Jarang komunikasi via YM pun tak apa, Bu. Setiap invidu kan tahu betul cara paling nyaman untuk diterapkan pada dirinya.

  6. marshmallow says:

    aku baru ngeh kalau idul fitri kali ini memiliki tanggal masehi dan hijriyah yang serupa, 01/10.
    hebat ya?

    …Di dunia, ketika datang kita seorang diri dilahirkan. Oke ada anak kembar….

    mau mengantisipasi komenku yang lalu ya?

    setuju koq, DM. hidup memang tak seperti pasar malam. manusia datang sendiri, dan pasti akan pulang sendiri. kebahagiaan tak semata yang didapat walaupun senantiasa diinginkan.

    tapi yang jelas hidup manusia itu tak juga seperti jelangkung: datang tak dijemput, pulang tak diantar.
    karena saat kita lahir ada manusia lain yang menjemput, dan saat mati kita akan diantar ke kubur (walaupun mungkin tak semua orang beruntung bisa seperti ini).

    jadi H1 dilunaskan dengan menulis ya? hebat!

    marshmallows last blog post..Blogger Made Friendly vs Homeworks

    DM: Ya, Marshmallow, Idul Fitri tahun ini memang unik. 1 Syawal (bulan ke-10) Hijriah jatuhnya tepat 1 Oktober (bulan ke-10) Masehi. Ada apa ini? Aku tidak tahu. Yang jelas unik saja: jatuh secara bersamaan antara Hijriah dengan Masehi.

    Mengantisipasi komenmu yang lalu? Komenmu di postingan yang mana? Komenmu sangat banyak di blog ini. Jangan lupa, kau sudah mencelat ke posisi 5 besar sebagai komentator teratas sekarang ini.

    Manusia memang bukan jelangkung, Dodol. Hihihi! Nggak tau kalo kamu! Hihihi lagi.

    Iya, menjelang dan saat lebaran aku malah gila menulis. Mau nulis dikit 4 sampai 5 paragraf aja malah keterusan 2 halaman A4.

    Tengkyu Jelangkung! Eh, Tengkyu Marshmallow!

  7. windy says:

    mbok ya di foto dari deket… jadi para blogger mania mu bisa liat dua orang terkasih mu ituw de eemmm…….

    DM: Sengaja. Biar nggak ada yang ngomong: “Pantes anaknya ganteng. Lha wong ibunya cantik!”
    Wakakakakakkkkk….!!!

  8. Kalo si Windy itu bau amis kayak ikan so dia pasti bukan Pasar Malam tapi PASAR IKAN!!!

    Donny Verdians last blog post..Ketergantungan Itu

    DM: Wakakakakakkk….!!!
    Bukan, Don, dia bukan amis kayak ikan. Tapi kayak cumi! Wakakakakakk…!!!

  9. mascayo says:

    bukan pasar malam artinya makam. wah, buat isi TTS nih :)
    tapi bedanya jadi semakin jelas, hidup di dunia bukan seperti “makam”

    mascayos last blog post..Mohon Maaf Lahir Bathin

    DM: Haih? Kok TTS, Mas…

  10. Zahra says:

    Mas daniel..
    Oh..God..
    Betapa terkejutny aq
    tertulis dinisan kakak laki2ny mas daniel
    “lahir 1 oktober 1972
    wafat 22 agustus 1994
    dimakamkan 6 april 1996″

    benarkah itu..
    Kakak mas daniel..Yg di epitaph itu?? It’s true?

    Zahras last blog post..Kupu-Kupu…

    DM: Hap!!! Oke. Cukup kau batin dalam hati saja, Zahra. Bukan tanpa alasan aku menulis keterangan waktu pada nisan itu di postingan ini. Aku memang ingin tahu, siapa yang punya pikiran jeli dan betul-betul membaca blog-ku ini, dan mempertautkan dengan postingan-postingan sebelumnya. Nah, aku senang, kau adalah salah satu di antara yang sedikit itu. Kau jeli, Zahra.

    Sorry, ribuan maaf Zahra, aku tak bisa jawab di sini. Sekali lagi: cukup kau batin dalam hati saja. Oke Dear?

  11. Yoga says:

    I knew it Dan ;)

    Diluar uraianmu, aku teringat orang Jawa (maaf terpaksa menyebut etnis tertentu), punya quote;- suami istri itu ibaratnya “surga ikut, neraka terbawa/terkena”. Nah, bagaimana dengan ini?

    Yogas last blog post..Pulang Bagiku…

    DM: Maaf Yoga, karena keterbatasanku, aku belum bisa mempertautkan antara postinganku dengan quote itu. Di mana korelasinya? Jujur saja aku belum menangkap. Sudi menguraikan? Thanx.

  12. Zahra says:

    Mas daniel..
    Oh..God..
    Betapa terkejutny aq
    tertulis dinisan kakak laki2ny mas daniel
    “lahir 1 oktober 1972
    wafat 22 agustus 1994
    dimakamkan 6 april 1996″

    benarkah itu..
    Kakak mas daniel..Yg di epitaph itu?? It’s true?

    Zahras last blog post..Kupu-Kupu…

  13. Zahra says:

    Oups.. Maafin aq mas daniel..
    Commentku terkirim lagi
    aq nulis comment itu sebelum aq tidur malam tadi, aq ndak tau klo dah terkirim kerena disini tertulis gagal dan paginy commentku terkirim lagi
    I’m so sorry..

    Baiklah mas dan..
    Aq batin dalam hati saja..
    Thanks.

    Zahras last blog post..Kupu-Kupu…

    DM: Nggak pa-pa, Zahra. Online pakai hp memang kadang suka gitu. Makanya kalau pakai hp aku hanya baca-baca saja, jarang nulis komen. Never mind…

  14. suhadinet says:

    Sama berarti ya, saya juga ke makam ayah bersama ibu pas lebaran itu. Selepas sholat ied. Kebetulan makamnya di samping mesjid.

    suhadinets last blog post..Tag Award dari Catra, Pak Sawali, dan Mas Donny

    DM: Nggak, nggak sama… makam yang kukunjungi di Bandung, bukan di Danau Panggang. Hehe.
    Kalau di sebelah mesjid, iya, sama.

  15. Yoga says:

    Begini Dan, penjelasanmu:- pada dasarnya manusia ketika lahir dan mati berangkatnya sendiri-sendiri, membawaku ke pertanyaan bagaimana kelak ketika di akhirat? Apakah kehidupan di sana masih juga seperti “Bukan Pasar Malam”? Itu saja kok. :)

    Yogas last blog post..Time and Patience

    DM: Yoga, analogi “bukan pasar malam” adalah penggambaran hidup di dunia. Jelas bukan di akhirat. Di akhirat, tak seorang pun tahu bagaimana. Di sana tempatnya kekekalan. Jelas tak ada istilah “pergi”. Begitu yang kutahu.

  16. Zulmasri says:

    wah terkesan sekali pak (atau mas?) daniel tentang pemaknaan ‘bukan pasar malam’ pram via suasana makam. karya pram memang bagus-bagus. nggak bisa hanya sekedar menyebut korupsi, gadis pantai, hingga tetraloginya yg membius.

    salam buat pecinta karya pram dan selamat berlebaran

    Zulmasris last blog post..Libur nan Sepi

    DM: Aih, panggil saja DM, Mas Zul.
    Setuju, Mas. Karya-karya Pram memang membius. Tak kurang, dalam setiap karyanya kita nyaris menangkap pantulan semangat untuk tidak menyerah bagi orang-orang kalah, orang-orang tertindas, orang-orang yang dinafikan oleh keadaan serta sistem. Membuat kita tidak harus terlena dan selalu ada yang mesti diperjuangkan dalam hidup ini.

    Salam hangat pula serta selamat berlebaran.

  17. prameswari says:

    Bahwa akhirnya kita akan sendiri….. itu pasti
    Asal jangan pemaknaan itu membentengi mas tentang sesuatu yang bersifat riil.
    Kehidupan nyata (baca : bukan maya) memang mengkodratkan kita sebagai makhluk sosial.
    Makhluk yang selalu tergantung satu sama lainnya, dan hidup bersama-sama…

    DM: Aku bisa menangkap maksudnya. Hei, aku kan tidak pernah menafikan soal pernikahan. Hanya urutannya ada di nomor 16. Wakakakakk…!!!

  18. prameswari says:

    Sejatinya, ade kurang setuju dengan pemaknaan itu
    sepertinya hidup hanya berarti asal dan akhir saja
    sedangkan proses yang prosentasenya lebih besar, sepertinya hilang maknanya
    tapi semua berpulang pada yang memberi makna…….
    akuuurrrrr

    DM: Lha, tidak setuju tapi akur? Piye tho… Hihihi.

  19. Cak Ri says:

    pasar malam pun kini tak seindah dulu bung……:-(

    DM: Mungkin di kota iya, Cak. Tapi di kampung, tetap menarik…
    (Menarik kerusuhan maksudnya. Hehe!)

  20. prameswari says:

    Eh….ade bicara tentang pemaknaan hidup bukan tentang pernikahan
    a…..a…..a….
    mengena rupanya….
    hihihi

    DM: Nah kan… Bener kan…

  21. anak ilang says:

    Ooh… ternyata itu toh makna dari bukan pasar malam.

    Tapi menurutqu ketika sampai du pasar malam tidak semua yang hadir akan senang gembira. Ada juga kesedihan dan isak tangis. Seorang anak yang mpermintaan nya tidak di kabulkan oleh Ibu nya untuk dibelikan mainan. Seorang pengunjung yang bisa nangis meraung-raung ketika sadar telah di copet di pasar malam. dll

    Memang sih sejatinya tujuan pergi ke pasar malam memang untuk bersengn-senang. Tapikan kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

    Tapi kadang ada rasa saat dimana merasa kesepian di tengah keramaiaan. Aq tidak begitu suka keramaian.

    Dan tentang kehidupan dan kematian….. itu semua Rahasia sang pencipta alam semesta. hehehe

    Makasih untuk semua tulisan-tulisan nya.

  22. anak ilang says:

    Oia ada yang lupa.

    1 Oktober itu pun seperti pasar malam. Di jalan, tiap ganng, tiap rumah ramai penuh dengan kegembiraan. Saat itu lah sebuah awal dimana sebuah keputusan terasa sangat menyakitkan.

    Sayonara Bapakqu…..ternyata semua ini hanya masalah waktu untuk melupakan mu. Dan pada tanggal itu pla aq resmi menyandang status anak ilang.

    Ooops… sory kalaw sedikit ngelantur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>