kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka “kemajuan” sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia (Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca, hal. 436)

Dulu aku pernah membuat kartu lebaran dengan konsep halaman depan koran harian. Isinya, meskipun bergaya koran, tetap berupa ucapan lebaran. Kenapa aku bikin seperti itu, alasannya sederhana saja: ingin lain dari yang lain. Siapa nyana, setiap teman yang menerima selalu menilai unik dan suka. Tapi sebetulnya tak ada yang tahu, bahwa aku membuat kartu tersebut dengan teknis yang sangat-sangat manual dan sederhana. Maksudnya?

Aku mengetik di Microsoft Word (atau mungkin Amipro? Lupa!), setelah itu aku print, lalu aku tempel di sebuah karton manila ukuran A2. Ditempel sesuai format halaman koran plus ditempeli foto. Begitu selesai, aku potret, jepret! Lalu aku cetak dengan ukuran 4R atau 5R. Kuperbanyak sesuai kebutuhan sebagai kartu lebaran. Tak ada yang tahu, kartu lebaran berupa foto itu kubuat dengan teknik mounting yang sangat-sangat manual. Orang hanya tahu dalam bentuk jadinya saja.

Beberapa saat sejak masa itu, bermunculan program DTP atau desktop publishing: Pagemaker. Olala!! Bahwa apa yang kubuat dengan kartu lebaran kemarin itu bisa dengan mudah di-lay out di Pagemaker. Bahkan juga di Corel. Hhh! Aku memang tidak pernah mengalami masa Quack Express, salah sebuah program DTP juga (menurut seorang kawan designer, hingga saat ini masih ada penerbit yang menggunakan Quack Express).

Sejak itu aku mulai belajar Pagemaker (belakangan Pagemaker telah diambil alih oleh Adobe). Mencoba belajar bagaimana mengolah halaman media, baik koran, tabloid, majalah, maupun buku. Tidak selihai designer tentu, tapi ingin belajar dan harus bisa. Seorang penulis apalagi editor, memang mesti akrab dengan program-program DTP. Karena ia pun mesti bisa membayangkan format halaman dari tulisan yang ia tulis maupun yang ia edit. Apalagi editor di sebuah penerbitan, komputer kerjanya mesti dengan kapasitas tinggi pula, agar bisa mengoperasikan program DTP dan ia dapat mengedit tulisan di halaman design, yang kadang kerap disebut “emon” oleh beberapa editor, alias edit monitor. Mutlakkah? Tidak. Tapi harus. Hehe.

Setelah Pagemaker, belakangan muncullah Adobe InDesign. Lebih kumplit dan nyaman. Dengan fasilitas yang jauh lebih memudahkan. Hingga sebelum pertengahan tahun 2007, kantor kami sudah menggunakan Adobe Design Premium CS3. Terhitung baru untuk ukuran saat itu. Tapi ada yang kami lupa. Dan kami sungguh belajar dari pengalaman tersebut.

Ceritanya, salah satu klien kami, sebuah penerbit besar di Jakarta, tiba-tiba mengontak ketika order yang mereka pesan sudah mereka terima. Katanya padaku:

“Mas, penerbit kita belum pakai InDesign CS3. Bisa diubah ke CS2 saja? Ribet Mas kalau mesti install CS3. Bisa ya?”

Olala! Kami lupa satu hal: menanyakan terlebih dahulu program DTP apa yang digunakan penerbit bersangkutan. Yang lebih menggelikan, salah sebuah penerbit besar di Yogyakarya melakukan hal yang sama ketika orderan yang kami kirimkan baru saja mereka terima:

“Wah Mas, pakai InDesign ya? Waduh, kita masih pake Pagemaker, Mas… Diubah ke Pagamaker aja bisa?”

Ya-ya-ya. Kami memang teledor. Tapi dari situ kami jadi belajar untuk menanyakan terlebih dahulu pada klien yang hendak melakukan order kerjaan: apa yang mereka gunakan. Tapi apa yang terjadi? Mau tidak mau, kami mesti meng-install semua komputer kantor kami dengan berbagai program DTP. Apalagi tujuannya kalau bukan untuk menyesuaikan dengan permintaan klien.

Tulisan ini terawi atau terinspirasi karena bulan kemarin Adobe baru saja mengeluarkan InDesign CS4. What?!! Iya. Saat mengetahui hal tersebut, aku dan kawanku di kantor malah jadi cekikikan. Kenapa? Karena di satu sisi kita mutlak mengikuti perkembangan teknologi, kalau tidak mau kesasar di tengah ranah dunia penerbitan. Tapi di sisi lain, hingga saat ini penerbit yang menggunakan CS3 saja masih jarang atau hanya beberapa saja. Bahkan yang menggunakan Pagemaker saja masih lagi banyak.

Akhirnya, InDesign CS4 ini kita pelajari saja dulu. Kita memang mutlak akrab dengan berbagai program DTP. Kalau dijalankan, nanti-nantilah dulu. Karena jangankan program DTP, terkadang ada saja kejadian menggelikan saat aku mengirimkan e-mail berisi data dalam program Microsoft Office Excel 2007 ke sebuah penerbit. Tiba-tiba telepon genggamku berbunyi, dan orang di ujung sana berkata:

“Mas, e-mailnya nggak bisa dibuka. Kenapa ya?”
“E-mailnya? Nggak bisa dibuka? Kalau boleh tau, di sana pakai Excel versi berapa ya, Bu?”
“Versi? Emh, 97-2003 kayaknya…”

Olala…

8 Oktober 2008 | 14.15 wib

Semua ditentukan oleh keadaan, bagaimana pun seseorang menghendaki yang lain. Yang di gurun pasir takkan menggunakan bahtera, yang di samudera takkan menggunakan onta. (Pramoedya Ananta Toer, Jejak Langkah, hal. 394)