Kebiasaan atau Percepatan?

kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka “kemajuan” sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia (Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca, hal. 436)

Dulu aku pernah membuat kartu lebaran dengan konsep halaman depan koran harian. Isinya, meskipun bergaya koran, tetap berupa ucapan lebaran. Kenapa aku bikin seperti itu, alasannya sederhana saja: ingin lain dari yang lain. Siapa nyana, setiap teman yang menerima selalu menilai unik dan suka. Tapi sebetulnya tak ada yang tahu, bahwa aku membuat kartu tersebut dengan teknis yang sangat-sangat manual dan sederhana. Maksudnya?

Aku mengetik di Microsoft Word (atau mungkin Amipro? Lupa!), setelah itu aku print, lalu aku tempel di sebuah karton manila ukuran A2. Ditempel sesuai format halaman koran plus ditempeli foto. Begitu selesai, aku potret, jepret! Lalu aku cetak dengan ukuran 4R atau 5R. Kuperbanyak sesuai kebutuhan sebagai kartu lebaran. Tak ada yang tahu, kartu lebaran berupa foto itu kubuat dengan teknik mounting yang sangat-sangat manual. Orang hanya tahu dalam bentuk jadinya saja.

Beberapa saat sejak masa itu, bermunculan program DTP atau desktop publishing: Pagemaker. Olala!! Bahwa apa yang kubuat dengan kartu lebaran kemarin itu bisa dengan mudah di-lay out di Pagemaker. Bahkan juga di Corel. Hhh! Aku memang tidak pernah mengalami masa Quack Express, salah sebuah program DTP juga (menurut seorang kawan designer, hingga saat ini masih ada penerbit yang menggunakan Quack Express).

Sejak itu aku mulai belajar Pagemaker (belakangan Pagemaker telah diambil alih oleh Adobe). Mencoba belajar bagaimana mengolah halaman media, baik koran, tabloid, majalah, maupun buku. Tidak selihai designer tentu, tapi ingin belajar dan harus bisa. Seorang penulis apalagi editor, memang mesti akrab dengan program-program DTP. Karena ia pun mesti bisa membayangkan format halaman dari tulisan yang ia tulis maupun yang ia edit. Apalagi editor di sebuah penerbitan, komputer kerjanya mesti dengan kapasitas tinggi pula, agar bisa mengoperasikan program DTP dan ia dapat mengedit tulisan di halaman design, yang kadang kerap disebut “emon” oleh beberapa editor, alias edit monitor. Mutlakkah? Tidak. Tapi harus. Hehe.

Setelah Pagemaker, belakangan muncullah Adobe InDesign. Lebih kumplit dan nyaman. Dengan fasilitas yang jauh lebih memudahkan. Hingga sebelum pertengahan tahun 2007, kantor kami sudah menggunakan Adobe Design Premium CS3. Terhitung baru untuk ukuran saat itu. Tapi ada yang kami lupa. Dan kami sungguh belajar dari pengalaman tersebut.

Ceritanya, salah satu klien kami, sebuah penerbit besar di Jakarta, tiba-tiba mengontak ketika order yang mereka pesan sudah mereka terima. Katanya padaku:

“Mas, penerbit kita belum pakai InDesign CS3. Bisa diubah ke CS2 saja? Ribet Mas kalau mesti install CS3. Bisa ya?”

Olala! Kami lupa satu hal: menanyakan terlebih dahulu program DTP apa yang digunakan penerbit bersangkutan. Yang lebih menggelikan, salah sebuah penerbit besar di Yogyakarya melakukan hal yang sama ketika orderan yang kami kirimkan baru saja mereka terima:

“Wah Mas, pakai InDesign ya? Waduh, kita masih pake Pagemaker, Mas… Diubah ke Pagamaker aja bisa?”

Ya-ya-ya. Kami memang teledor. Tapi dari situ kami jadi belajar untuk menanyakan terlebih dahulu pada klien yang hendak melakukan order kerjaan: apa yang mereka gunakan. Tapi apa yang terjadi? Mau tidak mau, kami mesti meng-install semua komputer kantor kami dengan berbagai program DTP. Apalagi tujuannya kalau bukan untuk menyesuaikan dengan permintaan klien.

Tulisan ini terawi atau terinspirasi karena bulan kemarin Adobe baru saja mengeluarkan InDesign CS4. What?!! Iya. Saat mengetahui hal tersebut, aku dan kawanku di kantor malah jadi cekikikan. Kenapa? Karena di satu sisi kita mutlak mengikuti perkembangan teknologi, kalau tidak mau kesasar di tengah ranah dunia penerbitan. Tapi di sisi lain, hingga saat ini penerbit yang menggunakan CS3 saja masih jarang atau hanya beberapa saja. Bahkan yang menggunakan Pagemaker saja masih lagi banyak.

Akhirnya, InDesign CS4 ini kita pelajari saja dulu. Kita memang mutlak akrab dengan berbagai program DTP. Kalau dijalankan, nanti-nantilah dulu. Karena jangankan program DTP, terkadang ada saja kejadian menggelikan saat aku mengirimkan e-mail berisi data dalam program Microsoft Office Excel 2007 ke sebuah penerbit. Tiba-tiba telepon genggamku berbunyi, dan orang di ujung sana berkata:

“Mas, e-mailnya nggak bisa dibuka. Kenapa ya?”
“E-mailnya? Nggak bisa dibuka? Kalau boleh tau, di sana pakai Excel versi berapa ya, Bu?”
“Versi? Emh, 97-2003 kayaknya…”

Olala…

8 Oktober 2008 | 14.15 wib

Semua ditentukan oleh keadaan, bagaimana pun seseorang menghendaki yang lain. Yang di gurun pasir takkan menggunakan bahtera, yang di samudera takkan menggunakan onta. (Pramoedya Ananta Toer, Jejak Langkah, hal. 394)

This entry was posted in Penerbitan, Perbukuan. Bookmark the permalink.

29 Responses to Kebiasaan atau Percepatan?

  1. Yoga says:

    Hehehehe… itu fotonya…. Lha kok MJ turut lebaran…terus yang cantik itu siapa?

    *komentar ndak mutu ;) *

    Yogas last blog post..Unquestionable Questions

    DM: Oh iya, MJ turut lebaran juga saat itu.
    Terus yang cantik itu, Maudy Koesnaedi. Biasa, mantan pacar. Haha!

    *balasan komentar nggak mutu juga. Hehe.*

  2. Yoga says:

    Komentar seriusnya menyusul nanti-nanti ya Dan :)

    Yogas last blog post..Unquestionable Questions

    DM: Batasnya sampai sebelum matahari tenggelam lho ya. Inget…

  3. qizink says:

    Dulu waktu nikah, saya bikin tabloid dengan nama ‘Souvenir Post’ buat dibagikan ke tamu sebagai pengganti souvenir gantungan kunci atau permen. Isinya kisah pacaran, biodata, dan sajak-sajak, serta testimoni. Cara bikinnya juga sama, dengan sederhana. Ngetik di word, gunting sana-sini, ditambah gambar, dsb.
    Lucu juga ketika ngeliat para tamu, asyik baca tabloid sambil menikmati hidangan.!

    qizinks last blog post..Perempuan Pembawa Pesan

    DM: Wah, itu seru banget, Kang Qizink! Seru banget! Kreatif! Aku jadi bisa membayangkan tetamu asyik membaca tabloid sembari menikmati hidangan. Seru! Seru!
    Souvenirku malah sudah lama jadi, Kang Qizink. Tapi nikahnya yang nggak jadi-jadi. Haha!

  4. Rindu says:

    lagi jatuh cinta ya mas … pengen komen ditulisan sebelum ini sebelumnya :)

    Rindus last blog post..Merpati yang ingkar janji

    DM: Lagi jatuh cinta? Aih! Kenapa mesti dipertautkan pada konteks cinta, Rindu. Tak mesti kan…

  5. Ikkyu_san says:

    Mungkin sama seperti Windows Vista ya… di sini kantor-kantor malah meminta downgrade laptop baru ke XP untuk pegawai yang mobile pakai notebook.
    Hmmm… InDesign yah… musti dipelajari nih hehehe. Adobe yang asli mahal bener sih di sini.

    Ikkyu_sans last blog post..Okonomiyaki ala Jakarta

    DM: Betul, Mbak Imel. Saat menggunakan laptop baru dengan OS Vista, aku sempat nggak sreg. Jangankan untuk set up internet, bahkan operasional program sederhana saja bingung. Sempat terbersit untuk downgrade ke XP saja. Tapi dipikir-pikir sayang juga, karena spek laptop yang ada mesti menggunakan XP. Akhirnya aku coba saja beradaptasi. Rupanya gara-garanya sederhana saja: aku terbiasa pakai XP. Soal kebiasaan. Lama-lama terbiasa juga pakai Vista. Hanya soal kebiasaan. Terlampau nyaman dengan satu hal sehingga emoh melihat hal lain. Begitulah.
    Lhaaa… di Indonesia juga nggak murah, Mbak…

  6. edratna says:

    Wahh Daniel, aku ndak mudeng…hehehe
    Di kantor (kadang saya diminta membantu teman, disediaakn ruangan plus kompie mutakhir), programnya windo 2007…ternyata begitu mau ngeprint terpaksa di konversi dulu ke 2003……baru deh bisa diprint pada kompie yang tersambung ke printer. Jadi, saya cuma bisa membayangkan, betapapun kadang pekerjaan menyesuaikan dengen permintaan klien…yang kadang masih enjoy dengan gaya lama(komentarku bener ga sihh???)

    Catt: Kenapa postingan puisi (lagu) nggak bisa dikomentari??? Sama dengan pertanyaan Rindu.

    edratnas last blog post..Teh, kopi atau susu coklat panas?

    DM: Jangan ndak mudeng, Bu Enny yang baik. Itu soal sederhana saja kok.
    Oya, kejadian yang Ibu alami di kantor itu memang kerap terjadi karena program komputer satu dengan lainnya tidak sama. Sampai saat ini terkadang aku pun masih mengalami hal seperti itu meski di kantor sendiri. Aku ngirim file ke komputer di ruangan lain, tapi tidak bisa dibuka hanya karena beda versi. Terkadang bikin geram, terkadang bikin tertawa cekikikan.
    Dan Ibu betul, betapa pun kadang pekerjaan memang mesti menyesuaikan dengen permintaan klien -yang kadang masih enjoy dengan caranya masing-masing. (komentar Ibu betul kok, Bu…)

    Balasan Catatan:
    Postingan yang Ibu maksud, hanya sedang ingin mengungkapkan sesuatu saja kok, Bu. Kalau dikomentari malah aku khawatir, bakal bingung mau membalas bagaimana. Hehe. Maafkan. Tapi terima kasih, Ibu.

  7. imoe says:

    jadi penulis itu emang harus up to date ya mas….jadi mesti mnegikuti perkembangan It juga….tetap semangat mas

    imoes last blog post..‘www.rinduku.wordpress.com’

    DM: Ya semestinya sih begitu, Bang Imoe. Mesti bisa beradaptasi juga dengan pernak-pernik samacam itu.
    Thanx, Kawan. Tetap semangat pula bersama “anak-anak”-mu.

  8. wew… mas daniel ternyata sempat juga belajar pagemaker. saya baru mencoba beberapa kali. ternyata saya termasuk tipe orang yang ndak sabaran, haks. mau belajar setting buku lewat pm, bukan dm, malah lamanya bukan main. akhirnya, menyerah. sampai sekarang, entah masih ingat sama menu barnya atau tidak. saya sendiri ndak tahu.

    sawali tuhusetyas last blog post..Mencermati Pembusukan Penggunaan Bahasa Indonesia

    DM: PM, Pak Sawali, bukan DM. Hehehe. Memang mesti telaten dan sabar sih, Pak. Tapi begitu bisa, aih, nikmatnya bukan main. Bermain-main dengan mouse membedah halaman. Menyenangkan.

  9. genthokelir says:

    saya rasa cara mas DM dalam membikin kartu adalah lebih cepat ketimbang ide pembuat program nya atau jangan jangan melongok dari hasil mas DM bikin Desain hhehehe
    salute Untuk semua tulisan mas DM deh dan salam hormat dari Gunungkelir

    genthokelirs last blog post..Jangan Memalukan Yang Melahirkan

    DM: Ahahaha! Ada-ada saja, Mas Totok ini. Kalau saat ini, jelas lebih cepat menggunakan program DTP untuk me-lay out halaman seperti itu, Mas.
    Salam santun pula dari Bandung…

  10. Yulis says:

    Semua ditentukan oleh keadaan, bagaimana pun seseorang menghendaki yang lain. Yang di gurun pasir takkan menggunakan bahtera, yang di samudera takkan menggunakan onta. (Pramoedya Ananta Toer, Jejak Langkah, hal. 394)

    Kalimat bijak yang bener benar sesuai dengan kehidupan. Saya malah ga tau semua program itu mas DM. Maaf ngak nyampek ilmunya. thanks

    DM: Aih, Mbak Yulis, bukan nggak nyampe ilmunya. Bukankah quote di atas sudah menggambarkan, bahwa setiap individu memiliki ranahnya masing-masing. Aku kalau disuruh pegang pesawat Mirage buatan Prancis juga bakal gelegepan, karena memang bukan bidangku menerbangkan pesawat tempur. Bukankah begitu, Mbak Yulis… Tapi thanx.

  11. Emang benar mas kita harus bisa menyesuaikan diri dengan teknologi apalagi yang berhubungan dengan dunia yang kita geluti mohon maaf lahir batin mas

    Achmad Sholehs last blog post..Krisis Ekonomi Global Siapa Kena Dampaknya

    DM: Aha. Betul sekali Mas Achmad. Jangan sampai kita kesasar di bidang kerja kita sendiri. Itu yang sebetulnya hendak kusodorkan dari tulisan di atas.
    Maaf lahir batin juga, Mas…

  12. marshmallow says:

    sewaktu mahasiswa dulu aku sempat bikin terbitan kampus bersama teman-teman, yang kami kerjakan dengan program words, gunting tempel seperti yang kamu lakukan dengan kartu itu, DM.

    ternyata sekarang dunia percetakan sudah sangat berkembang, ya?
    tau gitu aku kan gak jadi marhsmallow dengan profesi yang sekarang.

    tapi intinya, perkembangan memang terus terjadi dalam bidang apa pun tanpa kecuali, sejauh manusia masih terus penasaran dan mencari tau jawaban rasa penasaran itu.
    asal jangan terlalu penasaran, karena curiosity kills the cat, toh?

    btw, aku kok menangkap kesan bagini: kamu sebenarnya pengen ngasih tau kalau perusahaanmu itu terus being updated.
    hmm… seperti biasa, aku yang keliru kali, ya?
    maapkeeenn…
    *seperti biasa, dalam hati ketawa, teteuup….*

    marshmallows last blog post..Tautan Kosong

    DM: Aha, rupanya kita pernah sama-sama aktif di pers mahasiswa dulu. Cuma bedanya, pers mahasiswa di kampusku sedikit melek teknologi. Hehehe. Teknis mounting manual seperti itu langsung kita tinggalkan begitu program DTP bermunculan.

    Dunia percetakan sudah demikian berkembangnya sekarang. Dulu aku membayangkan, mestinya setelah di-lay out, kita tidak perlu capek-capek burn ke CD, dibikin film, di-mounting, baru naik mesin cetak. Apa yang terjadi kemudian? Setelah computer to film, berkembang ke computer to plate, berkembang lagi ke computer to print. Tak pernah berhenti.
    Malah pada beberapa percetakan sudah memiliki mesin POD, Print on Demand. Mencetak sebanyak yang diinginkan. Tapi untuk saat ini harga mesin itu masih begitu mahal.

    Tidak. Apa yang kuceritakan di atas tak seperti paragraf terakhirmu. Justru semangat dari tulisan ini tercermin dari paragraf ketigamu. Itu justru yang terpenting. Apa yang kuceritakan di atas yang berhubungan dengan perusahaan hanyalah contoh kasus. Agar ada bentuk kongkrit. Sehingga tidak mengawang-awang semata. Tapi intinya justru ada di paragraf ketigamu.
    Dan kau tetap jadilah Marshmallow yang sekarang, Marshmallow…

  13. Cak Ri says:

    btw tuh software nya asli apa ‘asli’ ?…..

    DM: ‘Asli’, Cak. Sumprit, ‘asli’! Hihi.

  14. Rafki RS says:

    Saya jadi teringat ketika saya membuat slide presentasi menggunakan powerpoint 2007. Ternyata rata-rata kampus tempat saya mengajar masih mempergunakan powerpoint 2003 di komputernya. Akibatnya, kalau saya lupa menyimpan slide presentasi saya ke dalam format powerpoint 1997-2003, jadilah saya nggak bisa presentasi dan mengajar di kelas. :D

    DM: Aha! Pak Rafki memberikan contoh kongkrit rupanya. Ya, mau tidak mau, Pak Rafki. Terkadang “geram” juga kalau mengirim e-mail mesti bikin 2 versi, 2007 dan 97-2003. Biar aman bisa dibuka.
    Terkadang aku kerap tergeragap juga mengikuti perkembangan teknologi (yang tidak merata). Negara kita terlampau luas dan heterogen atau bagaimana.

  15. kalau saya urusan ini tetep dengan i-work ( page ) dari Macs….he he he

    DM: Hehehe. Kalau udah bicara macs, masih taluk dulu deh, Mas. Belum mampu kalau kantor mesti menggunakan macs semua. Haha!

  16. marshmallow says:

    @DM:
    kenapa musti geram?
    ketimpangan dalam teknologi itu wajar, toh?
    lagipula tak semua orang seberuntung sebagian lainnya yang bisa menikmati software tertentu.
    aku sendiri tak pakai Microsoft Word, melainkan produk open source yang sejauh ini hanya kompatibel dengan Word 97/2003, sehingga justru sering miris kalau dikirimi file yang tidak kompatibel dengan komputerku.
    padahal kupikir pengguna teknologi yang lebih tinggi mustinya bersedia menyesuaikan, karena yang lebih rendah sudah pasti tak mampu.

    mengikuti teknologi memang baik, tapi tak musti dengan begitu kita jadi feeling good karena merasa lebih baik dari yang lain, kan?
    kupikir teknologi rendah hati kok, makanya dia diciptakan, untuk membantu manusia agar hidup lebih mudah. rendah hati dan memudahkan!
    idealnya para penggunanya juga bisa bersikap seperti itu.

    marshmallows last blog post..Tautan Kosong

    DM: Kan geram yang kutulis di balasan komen Pak Rafki pakai tanda kutip. Tentu itu bukan bentuk kejengkelan.
    Dan aku pun setuju, ketimpangan dalam teknologi adalah wajar. Biasa itu. Yang nggak biasa kalau kita tergeragap tidak bisa mengantisipasi perkembangan itu semua. Membatu sebagai arca di ladang tebu, tanpa tau apa mesti diperbuat.
    Kita memang wajib tetap rendah hati. Karena teknologi toh tetap saja sekadar membantu memudahkan kehidupan manusia. Bukan lantas menjadikan manusia beranjak jumawa. Ya toh?
    (ngomong apa aku ini… Hihi!)

  17. Lala says:

    Intinya…

    Mau secanggih apapun, musti fleksibel dengan lingkungan di sekitarnya, DM.
    Seperti orang modern yang kesasar di desa terpencil,
    ya terpaksa dia yang menyesuaikan diri… bukan orang-orang di desa itu..

    (idih, kayaknya setelah dibaca-baca lagi kok ga nyambung ya komentarku ini? hihihi… tapi males ngehapusnya! biarin dah.. )

    Psstt..
    If I could be where you are?
    Aduh, tinggal beli tiket ke Surabaya aja, kan, DM?
    Ntar aku ajak ngupi-ngupi.. hihi

    (gembul nggak tahu diri!) :D

    Lalas last blog post..I can make it through the rain…

    DM: Betul Mbul, eh, La. Seperti orang dari desa terpencil yang kesasar di kota modern, ya terpaksa dia yang menyesuaikan diri. Itu persis untuk menggambarkan kalau kamu pergi ke Jakarta atau ke Bandung. Wakakakakkk… (padahal besar Surabaya ketimbang Bandung. Hihihi…).

    # # #

    Ha? Beli tiket? Ke Surabaya? Oh, dibalas pakai pantun saja ya:
    Beli tiket ke Surabaya…
    Hati jadi kaget, kenapa juga mesti ketemu si Lala…
    Wakakakakkk…

  18. mantan kyai says:

    wah keduluan deh idenya. padahal sayah jugah mo bikin MANTAN POST :D kalo saya bikin gpp ya oom :D

    DM: Hehehe… Nggak pa-pa, Mas. Tetap dibikin saja. Buat seru-seruan.

  19. Catra says:

    CS 3 aja belum sempat diinstall2 padaha installernya sudah ada, tapi emang saya gak handal dalam2 hal2 mengedit2 gambar :mrgreen:

    DM: Sekalian nunggu yang CS4 aja, Cat. Hehe. Tapi CS2 juga masih oke kok… Masih banyak yang pakai.

  20. natazya says:

    mau dong dikirimin kartu lebaran!!! heheheu

    ah… kurang mengerti yang begini begini…

    hands up! heheu

    natazyas last blog post..huahahaha

    DM: Kartu lebaran? Haiiihhh… Pake SMS aja, Nat.
    Eh, tapi udah beli hp baru belum, Nat? Buat ngeganti hp-mu yang hilang di kereta itu, hehe.

  21. Rinurbad says:

    Aku termasuk yang terseok-seok juga soal perkembangan IT ini, Dan. Waktu ponakan kemaren nanya soal sinkronisasi Outlook 2007, aku cuman ‘heh’?
    Tapi dengan berbesar hati aku ngaku, ga ngerti caranya..

    DM: Iya, Rin. Dulu tahun 2003 sempat pakai Outlook. Tapi sekarang malah bingung sinkronisasinya. Hehe. Sekarang cukup pakai Mozilla Thunderbird aja buat e-mail sehari-hari.

  22. tanti says:

    *komentar gak nyambung*

    jadi gambar yang ada di kartu lebaran itu Maudy Kusnaedi, MJ, lalu yang pake topi diatas itu siapa? selebriti?
    (waduuuh.. nyesel ganti monitor kecil…udah di view largest tetep gak kelihatan)

    tantis last blog post..From Manila with Love

    DM: Hihihi… salah sendiri, kenapa ganti laptop kecil. Aku nggak pernah suka pakai di bawah 10 inch. Untuk kerja, aduh, repot. Tapi kemarin sempet lirik-lirik juga, Hp yang kecil, boleh juga. Mumpung masih ada jatah kantor. Hehe.

  23. shierly says:

    bener banget mas. kadang memang bagus untuk update dalam teknologi, tetapi kalau lingkungan sekitar ga make rasanya koq sia2 ya???
    meskipun saya ga update2 banget, tapi jadi merasa ga ada gunanya untuk update teknologi kalau orang2 sekitar saya masih belom update :p
    susah ya kerja di bumi Indonesia ini…

    DM: Sebetulnya nggak sia-sia juga sih, Shierly. Karena paling tidak kita bisa mengikuti perkembangan. Jika suatu saat dibutuhkan, kita siap dan tidak tergeragap. Meski “lingkungan sekitar” belum lagi mengikuti, wajar. Tak apa. Bukankah kita tidak mutlak mengharuskan atau mengharapkan setiap orang sama seperti yang kita inginkan, eh?
    Susah kerja di bumi Indonesia? Justru di situ tantangannya untuk menjadikannya tidak susah. Bukankah begitu?
    Thanx, Shierly.

  24. Zulmasri says:

    kebiasaan atau percepatan ya? yg pasti kebiasaan akan tertinggal oleh percepatan. oleh karena itu percepatan pun harus dibiasakan, biar tak ketinggalan

    DM: Setuju, Mas Zul. Percepatan memang mesti dibiasakan. Agar kita terbiasa dengan perkembangan. Bukankah begitu.

  25. Yoga says:

    Dalam percepatan kimia dibutuhkan katalis, dalam mempercepat aplikasi teknologi pun diperlukan katalis atau proses akan berjalan biasa saja, bahkan malah nggak maju-maju. Siapa yang menyediakan katalis? Bisa semuanya. Tapi dalam kasusmu aku lihat justru kamu yang kadang-kadang mesti menyesuaikan diri dengan kondisi penerbitnya yang masih gaptek, padahal katalisnya mestinya seharusnya lebih banyak porsinya dari mereka.

    Btw Daniel, masih terima softcopy dalam disket besar itu nggak? :mrgreen:

    Yogas last blog post..Keinginan = Persoalan?

    DM: Iya Yoga, seperti yang sudah kusinggung dalam tulisanku, pada akhirnya posisi kami yang memang mesti bisa fleksibel mengikuti klien. Bukan klien yang mengikuti keinginan kami. Itu mengapa kita terus meng-up date perkembangan teknologi, agar bukan kami yang tergeragap. Klien yang mesti dipuaskan.
    # # #
    Softcopy dalam disket besar? Rasanya nggak pernah sih. Cuma ada pengalaman lucu. Suatu hari aku menerima wawancara pelamar untuk posisi editor. Ketika kutanyakan contoh-contoh hasil kerjanya, ia mengeluarkan disket kecil dari dalam tasnya.
    “Ada di sini semua, Pak.” tukasnya.
    Aku mau terbelalak nggak etis. Mau ngakak, lebih nggak etis lagi. Akhirnya kutakatakan padanya:
    “Andai saya bisa membukanya, Mbak, tentu akan sangat membantu sekali. Tapi betul-betul minta maaf, kami tak punya lagi floppy disk untuk membaca disket kecil semacam ini…”
    Hihihi. Haaduh, pengalaman sungguhan itu.

  26. fisha17 says:

    wah pagemaker.. dah lama gak pake. paling enak buat koran/majalah pake apa yah??

    fisha17s last blog post..Lirih

    DM: Koran atau majalah? Ada macam-macam, Mas. Tapi sebetulnya tergantung karakter medianya, serta selera kerja juga sih. Ada yang pakai Quack Express, Pagemaker, malah beberapa majalah sengaja menggunakan Corel.

  27. Rinurbad says:

    Aku lebih suka pake The Bat! Mengepak-ngepak sesuai karakterku..bukan penggemar Batman lho, tapinya:p

    DM: Mengepak-ngepak ya, Rin? Hehe. Produk keluaran Gotham City ya?
    Aku belum pernah pakai The Bat, Rin.

  28. Lala says:

    Balas pantun ah….

    Kota Jakarta, kota Madiun
    Si Penganyam Kata, memang EDUN!!!

    (eh, bagusnya memang EDIUN, biar pas.. hahahaha)

    ppsssttt.. jadi kalo ke surabaya, nemuin siapa DM.. uhui! Koleksi wanitamu ada berapa sih??? :)

    Lalas last blog post..I can make it through the rain…

    DM: Yeee… Edun apanya nih?
    Kalo ke Surabaya? Mau nemui monumen Jalesveva Jayamahe. Hehehe!
    Koleksi wanita? Maksuuuddd…?!!

  29. Lala says:

    Edun ya Edun aja, deh..
    suka-suka.. :D

    Kamu ke Jalesveva Jayamahe? Mampir kantor lah.. hahahaha…

    Dan soal koleksi wanita?
    Nggak usah sok kaget gitu deh.. hihihihi…

    Lalas last blog post..Mamma Mia!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>