Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan (Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, hal. 52)
Siapa yang menyimak harian Kompas edisi 9 Oktober 2008 kemarin? Bagaimana menurut Anda? Aku tak begitu suka dengan Kompas edisi tersebut. Bukan, bukan content-nya. Tapi lebih pada ucapan Idul Fitri dari Partai Demokrat yang diletakkan di halaman depan yang terpasang setengah halaman koran penuh berbentuk vertikal.
Memang terkesan unik (aduh, apa jenis iklan koran semacam itu. -Kemana saja ilmu kuliahmu woi!). Setengah halaman vertikal di depan, lantas menyambung ke halaman belakang secara normal. Teks Kompas serta keterangan waktu edisi terbit masih tampak nyata meski berbeda halaman. Namun ya itu tadi, bagiku pribadi cukup mengganggu. Mengganggu?
Ya. Di sana, selain tampak foto Presiden SBY (meski tidak dalam kapasitas presiden), terdapat teks berbunyi: Partai Demokrat Bersama SBY Mengucapkan Mohon Maaf Lahir & Batin. Dilengkapi logo partai plus nomor urut pemilu. Di baliknya, berisi opini orang-orang atas judul pertanyaan Mengapa Rakyat Memilih Partai Demokrat?
Weh, ini jelas koran nasional. Dengan tiras yang tak sedikit tentu. Peletakan ucapan Idul Fitri dari sebuah partai peserta pemilu semacam itu, tidak bisa tidak: jelas mencuri perhatian. Akan berbeda sama sekali jika dipasang di halaman dalam, meski satu halaman penuh sekalipun.

Memang, boleh jadi partai tersebut mampu membayar jenis iklan semacam itu di koran nasional. Dan melihat jenis iklannya serta tempat peletakan, aku yakin tak mungkin murah. Tapi kok aku kurang suka ya (boleh-boleh saja tho? Wong selera pembaca kok). Meski dilihat dari etika bermedia, barangkali sah-sah saja.
Kalau semua partai-partai besar mampu “beriklan” semacam itu, kayak apa ya wajah koran nasional yang beredar di Indonesia…
Oke, ini memang pendapat individu. Tapi boleh tahu juga dong pendapat kalian melihat hal semacam itu.
10 Oktober 2008 | 01.16 wib




coba bunyinya PARTAI PENGANYAM KATA BERSAMA DM… dilengkapi foto mas dm, pasti lebih heboh. dunia bloger bakal histeris.
tapi begitulah media, terlepas dari suka atau gak suka iklan sumber fulus utama.
kita tunggu saja, habis ini pdi atau golkar akan melakukan hal serupa.
Zulmasris last blog post..Ketika Hujan Turun
seperti halnya media yang lain, koran juga sudah termasuk bagian dari industri yang profit oriented, mass daniel, bahkan mungkin juga sudah masuk ke dalam wilayah politik. mereka yangs edang berkuasa biasanya akan mendapatkan tempat dan prioritas. pertimbangan yang lain, mereka yang berani bayar mahal dalam pasang iklan, tentu saja koran yang bersangkutan mustahil menolaknya, termasuk kompas yang terkenal itu.
Apa karena itu partainya penguasa dengan uang besar sehingga bisa ditaruh paling depan gitu ya?
HHmm …. selama ini pendapat saya pribadi tentang kompas adalah koran yang bermutu dan sarat dengan informasi penting yang menarik. Tetapi dengan tampilan edisi itu kok bikin saya sedikit berfikir negative ya? Sepertinya idealisme-nya kurang. Thanks
*ngakak baca komen pak zul*
kebayang juga sih kalau memang ada partai PK (penganyam kata, bukan yang lain–pinter banget sih cari nama partai, bisa mirip gitu?) dengan ketuanya DM pasang iklan dan para santri blogger serta partisipan histeris.
gimana ya? hihi!
benar kata pak sawali, pertimbangannya banyak dan semuanya bermuara ke profit bagi bisnis ini. selain karena keuntungan material secara langsung, keuntungan karena pemesan adalah penguasa juga jadi bahan rujukan yang penting.
suka atau tidak (karena iklan di media aku memang kurang suka, mengurangi jatah halaman berita), pembaca mau bilang apa?
makanya DM terbitin koran yang idealis dong! kita pasti langganan deh!
ya? ya? ya?
marshmallows last blog post..Naik Beijing ke Canberra
eh, lupa.
selamat pagi, DM.
baru mau istirahat, kan?
aku baru bangun di sini, kamu malah baru mau tidur ya?
kasian banget.
makasih deh (untuk artikel ini maksudnya, serasa ikut baca kompas pagi-pagi, padahal belum gosok gigi malah. hihi!)
marshmallows last blog post..Naik Beijing ke Canberra
Sorry, di tempatku tidak ada Harian Kompas. Jadi tidak menyimak.
Salam kenal.
Juliachs last blog post..Urssaf
Ah, tampaknya uang yang berbicara sangat besar, hingga kompas mau melakukannya.
danas last blog post..Karta
@Zulmasri
Hahaha…ngakak dulu… bisa-bisa pembaca artikel ini jadi nggak konsen dengan tulisan Daniel gara-gara komentar anda.
@Daniel
Tidak bisa dipungkiri media cetak seperti Kompas jelas-jelas profit oriented (tak peduli apa haluan politik pemiliknya). Tidak hanya sekali ini Dan, seingatku hampir sebulan yang lalu PAN memasang iklan di lembar paling depan — ya sama lah dengan PD. Hampir tak kulihat sama sekali walau sebegitu besarnya termasuk punya PD kemarin, karena pembaca seperti aku sudah tahu itu hanya halaman advetorial dan aku jelas tidak punya keinginan menyentuhnya, meski sejujurnya aku juga tidak suka, entah bagaimana menjelaskannya yang enak. Kalau pun diletakkan di halaman dalam, aku makin tak suka, karena mengurangi ruang bagi informasi yang mestinya lebih berharga.
Pendapatku sulit untuk obyektif, karena aku masih alergi dengan segala macam bentuk kegiatan kampanye.
Nah pagi Daniel, cerah harimu.
Yogas last blog post..Keinginan = Persoalan?
Kalau saya bukan pada siapa pengiklannya, tapi cara Kompas membuat setengah halaman, membuat koran gampang tersobek…saya lebih suka halaman pertama ya berita yang penting..lain-lain letakkan belakang.
Saya malah tak mikir ada iklan partai Demokrat, partai lainpun belum dilirik….tapi membuat tulisan setengah halaman, tapi terkait dengan masih adanya berita hal 15 (yang umumnya sambungan hal 1), jadi menyebalkan….
edratnas last blog post..Bagi orang yang berbakat bisnis, apa saja bisa dibisniskan
maklum mas, 2009 mendekat. yah wajar aja, sekarang lagi musim nya, musim senyum musim mengambil hati rakyat.
walau terkadang cara nya malah “mengganggu” rakyat
waw… aku ga langganan kompas tapi PR jadi baru liat tuh tampilannya kompas kemaren…
sombong sekali…
parah deh…
natazyas last blog post..huahahaha
Ini bukan yang pertama, Bung!
Aku ingat betul saat SBY berulang tahun KOMPAS juga menyajikan model iklan seperti itu.
Menurutku, dari sisi efektivitas penyampaian pesan, jelas iklan seperti itu adalah satu terobosan baru, tapi kalau kita menilik dari kenyamanan kita dalam membaca koran, iklan tersebut telah merampasnya!
Cobalah membaca halaman belakang, kamu seakan tak punya pegangan yang seimbang di halaman depannya sehingga apa boleh buat, kamu harus menanggalkan lembar terakhir untuk membacanya secara terpisah dari bundel utama.
Itu pendapatku!
Donny Verdians last blog post..Selebriti Bertemu Selebriti
Koran nasional butuh iklan, DM.. butuh duit…
Yang jadi permasalahan, setelah iklan dibayar, bagaimana dengan oplahnya? Semakin naik.. atau malah turun? (seperti seorang DM yang kecewa dan pingin berhenti berlangganan! hihi)
Kasusnya, menurut aku lho, sama seperti di3va alias tiga diva yang sekarang dengan lantangnya bilang kalau mereka mendukung Gerindra. Kalau yang nggak sepaham dengan Gerindra, bisa jadi nggak nge-fans lagi sama si tiga diva itu kan….
Aih!
Komentarku nggak mutu ya DM?
Tapi jangan dihapus yaa.. hihihi
Lalas last blog post..I can make it through the rain…
Mumpung lagi di atas, mumpung lagi jadi rezim
sukses deh buat partai demokrat
Mauan aja kompas
utchanovskys last blog post..Polling di Blog Mulan Jameela
oooo, dibelakangnya ada opininya toh
abis halaman iklan yg nyusahin itu keburu saya copot waktu mo baca, bikin ribet sih
*seneng yg ringkas ama praktis*
thimbus last blog post..Langkah Antispasi Krisis Keuangan
wah bias jadi nanti kemarukan partai memborong beberapa halaman depan dengan pesan partai mereka ya mas DM
atau bisa beberapa edisi hanya berisikan perang iklan politik ya
genthokelirs last blog post..Jangan Memalukan Yang Melahirkan
yang jelas “Ribet” , terobosannya bagus sih, setengah halaman sudah pasti langsung menyita perhatian. Cuma kenapa dipotong, kan jadi “Ribet”. Tapi ini mungkin juga strategi,… karena “ribet” jadinya “inget”. halah!
mascayos last blog post..lagi cari solusi masalah
Tak ada lagi yang kuasa menahan godaan yang bernama uang mas, dan itulah kenyataannya
Achmad Sholehs last blog post..Bingung Dengan PR, Aleka dan SEO
ah… aku tidak mengerti karena aku di negara antah berantah…
dan aku paling-paling baca versi onlinenya, yang tidak harus dilipat-lipat atau disobek-sobek. Selamat menikmati ketidaknyamanan yang mungkin akan berlangsung terus ke depan…
Tabik
EM
Ikkyu_sans last blog post..Bermula dari air
oh tentu boleh om…
ini kan ceritanya bentuk loyailtas pada PR yang merupakan eyangnya Mustika hauahuhauhauhau
SO NOT TRUE!!!
entah kenapa di rumah langganannya PR… ya suds lah… berhubung bukan diriku juga yang bayar… ikut baca ajah
natazyas last blog post..I was[NOT] born to cook!!!
TOM gw pas liat KOMPAS edisi itu, malah salut, hebat…! Bukan karena gw simpatisan partai itu, tapi mungkin karena gw pernah gabung di advertising company. Perasaan terganggu sih ada tapi lenyap dengan dominai salut itu…! Kalau iklah di TV, salut sama iklannya Prabowo, sekali lagi, gw bukan simpatisannya Prabowo.
Saya khawatir makin dekat Pemilu media masa bakal ndak ada beritanya lagi penuh dengan iklan partai…
Jadi beritanya tetep OL saja
Bloguniks last blog post..10 Kemampuan Unik Hewani
Aduh, DM..
kapan bisa selesainya berargumentasi dengan kamu??
Butuh at least dua gelas starbucks buat menjelaskannya sama kamu… hihihi…
semakin besar modal yang dikeluarkan untuk kampanye, semakin besar estimasi harga yang harus dibayar rakyat nantinya. Karena kebanyakan orang masih berpikir untung rugi. Gue udah keluar biaya sekian milyar, gue harus segera balik modal.
Dan akhirnya balik modalnya ya dengan memeras rakyat.. hiks.. indonesaaaa indonesaaa
*keluh*
Endahs last blog post..Sweeney Todd vs Johnny Andrean