Menulis adalah Soal Keberanian, Eh?

Pabila cinta memanggilmu, ikutilah ia walau jalannya terjal berliku-liku. Dan pabila sayapnya merangkummu, pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu (The Prophet, Kahlil Gibran)

Suatu malam, aku ditelpon oleh seseorang. Ia seorang blogger yang sebentar lagi bukunya akan diterbitkan oleh sebuah penerbit Jakarta. Tapi apa yang ia sodorkan pada kalimat pertamanya di telpon membuatku mengernyitkan dahi. Untuk memudahkan, kita sebut saja dia dengan panggilan Zus. Begini kira-kira isi telpon si Zus itu:

“Aku nih sebetulnya sedang ketakutan, Mas.”
“Ketakutan?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Bukuku bentar lagi terbit…”
“Lha? Kenapa ketakutan?”
“Nggak bisa ngebayangin, apa kata orang-orang nanti…”
“Lha, gimana kamu ini. Belum-belum kok malah sibuk dengan apa kata orang nanti.”
“Ya nggak tau, takut aja kalau nanti bukuku dicela orang. Hu-hu-hu. Gimana dong, Mas…”
“He, Zus, dengar ya: menulis itu soal keberanian!”
“Keberanian gimana maksudnya?”

“Ya keberanian. Kalau kamu berani menulis, ya kamu mesti berani juga menerima reaksinya. Dan reaksi orang itu bukan hak kamu. Itu hak pembaca. Orang mau muji, mau kriktik, mau menyanjung-nyanjung, mau mencaci maki, itu hak pembaca.”
“Tapi kan…”
“Apa?”
“Aku nggak siap…”
“Nggak siap? Lalu kapan waktu yang ideal untuk siap itu? Nggak ada.”
“Iya sih…”
“Menulis itu soal keberanian. Satu orang menghadapi ribuan pembaca. Dan masing-masing pembaca itu berhak berpendapat atas tulisanmu. Kalau kamu kuat, orbitmu makin luas. Kalau nggak kuat, ya habis.”
“Whaaaa… Mas…”
“Ya memang begitu.”
“Aduh, aku nggak bisa ngebayangin. Waktu itu aja, waktu Mas kritik tulisanku di blog, aku aja udah ketar-ketir. Kaget banget ada orang berani kritik tulisanku. Apalagi nanti kalau bukuku terbit…”
“Hei, kamu ini seperti berani berbuat tapi nggak berani bertanggung jawab. Waktu itu, apa yang aku katakan tentang tulisanmu di blog, itu hanya secuil. Secuil banget. Nanti, saat bukumu terbit, kamu akan dapat lebih banyak kritikan lagi. Lebih pedas, lebih keras.”
“Whaaa…. Mas… Ngeri…”
“Lho, ya itu pilihan. Kalau kamu mau jadi penulis, ya mesti gitu. Kalau nggak berani menghadapi berbagai macam hal seperti itu, ya jangan jadi penulis.
“Iya sih…”
“Nah, lantas apa lagi… Kamu memang mesti siap pada hal-hal seperti itu.”
“Bakal lebih banyak lagi ya yang akan kuhadapi?”
“Pasti!”
“Aku nggak kebayang aja, karena ini buku pertamaku.”
“Justru mestinya kamu bersyukur karena ini buku pertamamu. Kamu akan lebih siap dengan berbagai hal yang bakal kamu hadapi. Nggak terlena di awal.”
“Aku bakal diejek-ejek?”
“Juga dipuji.”
“Dikritik?”
“Juga mendapat sanjungan.”
“Apalagi kira-kira?”
“Ya nggak tau. Pasar yang akan bicara. Biarkan pembaca berbicara. Tapi jangan kaget juga kalau ada yang bilang: tulisan apa sih ini? Atau, ini penerbitnya nekat banget mau nerbitin tulisan kayak gini!”
“Whaaaa… Mas…”
“Juga nggak perlu terlena kalau ada yang terinspirasi oleh tulisanmu. Dan berterima kasih karena gara-gara membaca tulisanmu, ia jadi lebih merasa hidup. Semua satu paket. Kamu nggak bisa ambil manisnya aja. Pahitnya juga mesti kamu rasakan.”
“Ya ampun… Tadinya aku ngira nggak bakal dapat kritikan semacam itu. Awalnya aku seneng banget waktu tulisanku mau diterbitkan oleh penerbit. Tapi sekarang, begitu waktu terbit makin dekat, aku malah takut banget rasanya…”
“Ya itu wajar. Hanya saja kamu mesti kibas ketakutan macam itu. Karena yang bakal kamu hadapi juga bakal lebih dari itu. Aku kan udah pernah bilang: ini hanyalah permulaan.”
“Uh, kalo yang ngejek itu orang-orang terdekatku, Mas, mungkin aku nggak akan begitu ciut. Mereka tau betul seperti apa aku. Tapi kalau orang lain… Hiii…”
“Kamu tau, waktu Pramoedya Ananta Toer baru pertama kali tampil di panggung sastra Indonesia, waktu tulisan-tulisannya mulai sering muncul di media, ia sangat mengidolakan Idrus. Baginya Idrus itu prosais yang tak tertandingi. Dan ia belajar banyak dari cara Idrus menulis. Ia bahkan sudah mengangkat Idrus sebagai gurunya, tanpa sepengetahuan Idrus.”
“Trus?”
“Nah, ketika Pram ke Penerbit Balai Pustaka, kebetulan ada Idrus berkunjung ke sana. Oleh seseorang Pram diperkenalkan pada Idrus.
‘Bung Idrus, Ini Bung Pram.’ ujar seseorang yang memperkenalkan Pram pada sastrawan Idrus.
‘Oh, kau Pram. Pram, kau tau, kau itu bukan menulis. Kau itu berak!!”
sambut Idrus.
“Hah?! Idrus ngomong gitu, Mas?!”
“Ya, bayangkan, betapa Pram mengidolakan Idrus. Betapa ia kagum pada tulisan-tulisan Idrus. Betapa Idrus sudah ia anggap gurunya. Tapi begitu ketemu langsung dengan orangnya, bukannya bagaimana, malah kalimat itu yang ia terima.”
“Trus Pram gimana?”
“Ya diam saja. Ia terima itu semua. Karena itu memang hak pembaca. Tapi penulis juga punya hak untuk tidak mencampuri hak pembaca. Biarkan itu jadi teritori pembaca.”
“Tapi kan Pram sastrawan, Mas?”
“He, saat itu siapa sih Pram?”
“Iya ya.”
“Apa kamu pikir dulu semua sajak Rendra itu dimuat oleh H.B. Jassin di majalah? Malah banyak yang nggak diloloskan. Tapi saat ini, mungkin kalau Rendra kentut pun bakal dianggap bersajak oleh orang. Kenapa, ya karena ia telah melewati semua tahapan itu. Semua pada awalnya juga bukan apa-apa. Bukan siapa-siapa.”
“Mas pernah dikritik?”
“Ya pernah. Siapa orang tak pernah dikritik.”
“Gimana ceritanya?”
“Ceritanya? Waduh…”
“Ayolah…”
“Ah ya. Aku pernah dicaci maki waktu bedah bukuku di Universitas Udayana Denpasar.”
“Oya?”
“Iya. Waktu itu ada yang bilang kalau tulisanku biasa-biasa aja.”
“Hihhi… Terus Mas gimana?”
“Ya aku senyum-senyum saja. Wong itu hak pembaca kok. Ada yang memuji, tentu ada juga yang mengkritik. Ada yang mengkritik, pasti ada juga yang memuji. Itu hak orang menilai karya kita. Esok paginya, acara bedah buku itu tetap dimuat di koran. Aku malah berterima kasih pada orang yang mengkritik. Karena diskusi bedah buku saat itu terasa hidup. Terjadi dialektika. Antara pro dan kontra.”
“Jadi aku mesti siap nih, Mas?”
“Ya, kamu mesti siap. Menulis itu memang soal keberanian. Satu orang menghadapi ribuan pembaca. Dan masing-masing dari pembaca itu boleh mengkritik, mencaci-maki, juga memuji. Kalau kuat, orbitmu makin luas. Kalau tidak kuat, ya habis.”
“Galak bener…”
“Apa boleh buat, itu syarat kalau mau jadi penulis.”
“Tapi Mas, kalau menurut Mas sendiri, tulisanku itu gimana sih?”
“Halah! Berulang kali kamu tanya itu.”
“Yaaahhh, Mas… kasih penilaian dong…”
“Kan sudah berulang kali kukatakan.”
“Iya, tapi sebetulnya gimana? Bagus nggak sih? Kira-kira gimana saat orang baca bukuku nanti?”
“Hahaha…”
“Ih! Kok malah ketawa? Jahat! Gimana, Mas…”
“Hihihi… Ya nggak tau. Wong aku aja nggak mbaca kok.”
“Hah?! Mas?!”
“Iya.”
“Jadi?!”
“Hihi.”
“Maaasss…?!!”
“……”

*tut… tut… tut…*

“Halo, Mas?! Halo?! Ih, sial! Pulsaku habis…”

12 Oktober 2008 | 21.16 wib

This entry was posted in Penulisan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

27 Responses to Menulis adalah Soal Keberanian, Eh?

  1. Yoga says:

    Komentar awalku: Berani berbuat berani tanggung jawab, menghadapi segala resiko. Pekerjaan adalah pengejawantahan cinta, jika sudah demikian ikutilah, lakukan, dan perhitungkan konsekuensinya serta hadapilah.

    Yogas last blog post..Keinginan = Persoalan?

    DM: Nah-nah-nah. Aku menyimak saja.

  2. salam kenal
    trima kasih mas sudah berkunjung di blog yang sederhana
    ada semangat
    yang membuat ku pulang
    sekalipun itu harus berangkat dari kenestapaan

    DM: Salam kenal kembali…
    Terima kasih. Namun kenapa mesti berangkat dari kenestapaan…?

  3. genthokelir says:

    wah wah Mas DM sedang memotifasi kita nih …. saya bukan penulis yang baik namun saya berusaha menjadi pembaca yang baik apalagi tulisan tulisan orang seperti mas DM tentu sangat membantu saya dalam mengembangkan wawasan dan wacana saya
    terima kasih mas DM

    DM: Tulisan-tulisan orang seperti mas DM? Aih, jangan berlebihan, Mas…
    Tapi kalau memang bisa menggugah, aku sudah senang sekali. Sudah cukup.

  4. Ya ya ya … jadilah berani menulis, hindari berani untuk tidak menulis. Setujuuuuuuuuuuuuu banget.

    Ersis Warmansyah Abbass last blog post..Memilih Topik Menentukan Masalah

    DM: Lebih dari sekadar setuju, Pak Ersis…
    (Wah, berapa harakat tuh setujunya, Pak? Hehe).

  5. edratna says:

    Lha awal menulis di blog juga deg2an kok…apa tulisanku layak di baca? Waduhh pokoknya rasa nggak karuwan.

    Tapi saya banyak mengalami gempuran sejak muda, pernah laporan perjalanku di lempar bos, dan dikomentari “Apa ini, anda itu cuma jalan-jalan ya di Surabaya,”kata beliau. Mukaku merah hitam, maluuu sekali…..tapi dalam hati saya berjanji, suatu ketika bos itu harus memuji saya. Ternyata beliau tak pernah memuji saya, tapi beliau merekomendasikan saya di posisi baik pada Direksi… yahh beliau yang paling galak, paling sinis, tapi beliau juga yang berani merekomendasi saya yang masih bau kencur saat itu.

    Teman saya satunya, yang juga ikut kena makian, menjadi murung…malu, dan akhirnya karirnya juga segitu aja….

    Jadi, Dan, mesti berani ya.
    Saya beli bukunya Andrea Hirata, gara-gara baca kritikan keras pak Jacob Sumardjo (ini teman suami di STSI Bandung) di Kompas…entah saya kalau baca buku yang dibuat resensi di Kompas menjadi tertarik. Novel Andrea Hirata memang hiperbola, tapi ya saya kurang tepat kalau membandingkan dengan “To Kill a Mockingbird” yang dapat Pulitzer…..setelah baca, walau geleng-geleng kepala, karena gaya bahasa Andrea, tapi saya tetap suka dengan jiwa petualangannya, inspirasi yang ditimbulkannya.

    Siapa temanmu tadi Dan…jangan kuatir saya mau beli bukunya…dan jelas saya nggak mengkritik, wong tulisanku juga masih kaca balau….hahaha…kata anakku, kelas tulisan ibu kayak mendongeng atau bercerita pada kita, sambil mengobrol di meja makan atau sambil nonton TV…hehehe

    (maaf kepanjangan)

    edratnas last blog post..Bos besar

    DM: Awal menulis di blog merasa deg-degan dan apa tulisannya layak dibaca? Nah, Ibu bisa lihat kan sekarang buktinya: orang berduyun-duyun ke blog Ibu. Dan rasanya meraka selalu haus ke sana serta terlegakan setelah mereguk tulisan-tulisan Ibu. Ibu sudah membuktikannya. Bukan orang lain. Tapi tak lain Ibu sendiri.

    Sebentar… Sebentar… Prof Jakob teman suami Ibu di STSI Bandung? Dan rumah Ibu yang di Bandung itu di Kayu Agung kan? Apa suami Ibu dosen STSI Bandung? A-a-a… Boleh tahu nama suami Ibu? Ai, nanti biar kucari tahu.

    Kalau anak-anak Ibu menilai tulisan Ibu levelnya seperti mendongeng di meja makan atau sembari nonton tv, nah, di situlah kelebihan Ibu. Ibu bisa membawa obrolan ranah keluarga ke dalam sidang pembaca blogger. Namun tetap berisi dan memberikan asupan vitamin yang tak terkira.

    Ya, memang mesti berani, Bu. Dan soal temanku itu, apakah Ibu mengira tulisan ini kejadian nyata? Hihihi. Thanx.

  6. dana says:

    Betul juga, memang menulis itu harus berani menerima resikonya. Wong, nulis di blog aja sudah bermacam komentar yang diterima. Apalagi sudah menulis sebuah buku, tentu semakin banyak juga komentar yang bakal diterima. Mau tidak mau harus siap mental.

    DM: Menulis di blog malah lebih seru: reaksi yang didapat justru langsung, tertuju pada penulisnya. Lebih seru lagi: si penulis bisa menanggapi atas reaksi pembaca. Terjadi dialektika. Mental? Mau tidak mau itu…

  7. marshmallow says:

    tulisanku pernah dikritik seseorang di blog, saat orang-orang lain memujinya.
    karena aku penasaran (kebetulan komen orang itu memang anticipated) maka kukirimkan naskah lengkap kepadanya dengan tak sabar–sampai tulisan itu tamat–saat di blog tulisan itu bersambung dalam beberapa entry.
    tentunya aku ketar-ketir, karena baru dia yang membaca, dan aku mikir: dia mau kritik apa lagi sekarang?
    taunya dia (menurut pengakuannya) terhenyak karena tak menyangka tulisan itu berkembang seperti itu. tapi teteup, katanya kritik yang sudah pernah dilontarkan tak dia tarik.
    waktu itu aku ambil kritiknya sebagai kekuatan pendorong untuk lebih maju.

    aku setuju, reaksi atas suatu karya adalah hak prerogatif pembaca, dan sebagai penulis–yang sudah mati setelah karyanya luncur if i am not mistaken?–wajib menghormati penilaian tersebut ya?
    namun teman kamu ada benarnya, bahwa kritik dari orang-orang dekat akan lebih linient karena tau sikon si penulis saat kritik diberikan.
    pembaca yang notabene awam tak akan sungkan-sungkan memberikan kritik pedas tak peduli kondisimu sedang bagaimana.
    dan menghadapi kritik seperti itu yang butuh tempaan pengalaman.

    DM: Siapa seseorang yang kau maksud itu, Marshmallow… Tak tahu diri betul dia. Mestinya kan dibaca baik-baik dulu, baru bereaksi.

    Reaksi atau komentar tanpa argumen, tak perlu dihiraukan. Karena orang seperti itu tak memiliki dasar saat berbicara. Pendapatnya kosong. Tapi kalau ia bisa menyodorkan argumen atas apa yang ia bicarakan. Apalagi jika argumennya kuat, meskipun pedas, kita mutlak bersaluir padanya.

    Jadi mending pilih yang mana, Marshmallow: dikomentari oleh orang-orang dekat atau orang-orang yang tak kau kenal sama sekali?

  8. icha says:

    ah ya..cukup nyentil aku juga tulisan di atas…belum berani punya karya sendiri yang patut dibanggakan..aku cuma punya blog sederhana yang bisa dinikmati secara sederhana juga. selama ini menulis berdasarkan pesanan…ya aku cuma pabrik kata-kata dan jari ini adalah buruhnya….bermain di era kapitalisasi penulisan…

    hmm….

    ichas last blog post..Perih dan Pedas

    DM: Untuk bisa seperti apa yang kau lakukan pun tetap butuh keberanian, Icha…

  9. Yari NK says:

    Salah satu hal yang menarik tentang menulis bagi saya, ya soal keberaniannya itu. Saya harus berani mempertahankan argumentasi saya terhadap para pembaca yang tidak sealiran fikiran dengan saya. Terkadang memang capek, tetapi setelah kita bisa menjawab argumentasi mereka dengan tepat dan logis, rasa terpuaskan serasa mengalir deras…. hehehe…..

    Yari NKs last blog post..Manusianse

    DM: Nah! Pak Yari rupanya menangkap semangat dari tulisan ini. Betul, Pak Yari. Memang semua kembali apakah kita bisa mempertahankan argumen kita. Kalau kuat, ya nggak perlu takut. Kan kita punya argumen. Begitu pun orang yang berkomentar, kalau komentarnya disertai argumen yang kuat dan mendasar, tentu menarik dan patut ditanggapi.

    Keberanian yang kumaksud memang bukan sekadar berani menulis atau berani menerima tanggapan orang lain terhadap tulisan kita. Pada tahapan selanjutnya, ada pula keberanian-keberanian lainnya yang patut dimiliki. Apalagi kalau bukan berani mempertahankan argumen kita.

    Terima kasih, Pak Yari.

  10. Yoga says:

    Komentar lanjutan, kali ini narsisis karena tentang diri sendiri. Menulis sebenarnya bukan barang baru bagiku kalau sekadar untuk mengisi halaman majalah dinding, majalah sekolah, buku harian dan terkadang ya hanya menulis saja untuk menyalurkan pemikiran walau untuk konsumsi diri sendiri. Rupanya aku lupa dengan kebiasaan itu, hingga seorang sahabat menghasut untuk membuat sebuah blog. Kagok memang, kritik banyak baik yang off line maupun on line. Malu, tentu aku sempat merasakannya. Tapi justru kritik itu menyemangati untuk berbuat yang lebih baik semampuku, dalam setiap tulisan aku tidak terlalu mengharap kata great! atau pujian sekecil apa pun, justru aku mencari setitik semangat (encouragement). Itulah sebabnya aku camkan quote William A. Ward, yang bunyinya begini:
    Flatter me, and I may not believe you. Criticize me, and I may not like you. Ignore me, and I may not forgive you. Encourage me, and I will not forget you…

    Sekarang menulis jadi bagian aktivitasku, blog-blog-ku sebenarnya adalah living chart yang akan menunjukkan learning curve-ku, blog menjadi sarana yang paling tepat sebagai playground dalam penulisan bagi seorang amatiran sepertiku karena media internet memungkinkan pembaca yang besar bahkan lebih besar lagi jika menggunakan bahasa internasional, tak ada peranan editor, jadi kalau tulisanku jelek orang sedunia tahu begitu juga kalau bagus, malah menantang toh? Hei ini mengingatkanku pada buku Thomas L. Friedman – The World is Flat.

    Peranan pembaca seperti katamu aku sepakat, aku nggak ingin mengarahkan, malah pantang bagiku menghapus atau mengedit komentar pembaca blog, kecuali kalau dipaksa oleh yang empunya komentar itu sendiri. Itu benar-benar hak pembaca, yang bakal memperkaya wacana.

    Akhir kata pada komentar yang ini, Daniel ini seperti de ja vu ketika membaca quote Maslow disebelah. Terutama untuk kalimat baris kedua…

    Indah harimu :)

    Yogas last blog post..Monday Morning

    DM: Komentar balasan lanjutan juga.
    Kalau ada orang yang menghasut dirimu untuk menulis buku gimana? Kamu bakal terhasut nggak? Toh akhirnya kamu sekarang berani tampil menulis di blog -sesuatu yang mungkin tadinya tak terpikirkan olehmu. Dan orang-orang tampil bereaksi pula atas tulisanmu.

  11. Lala says:

    Zus?
    Kayak temen-temen Arisan aja, DM.. hihi…

    Eniwei..
    You’re right.
    Ketika penulis menulis dan tulisannya dibaca, berarti ia harus rela hasil tulisannya itu mendapatkan dua reaksi. Diterima dengan baik atau dicela.
    Tapi ketakutan-ketakutan itu wajar kan, DM?
    Terkadang, sejuta macam teori-pun akan mental ketika kita sangat-sangat ketakutan.. dan tentunya, butuh telinga orang lain untuk mendengarkan, dan butuh nasehat orang lain untuk mengingatkan.

    Yang jelas,
    si temanmu itu beruntung sekali bisa curhat dengan orang seperti kamu, DM. Karena sebagai penulis, kamu bisa menenangkan pikirannya, pastinya… :)

    Eh, tapi, tapi…
    Kasian amat si Zus bisa nggak ada pulsa.
    Jangan-jangan dia emang udah nggak tahan dengerin celotehanmu itu, DM! Haha…

    Oya,
    sekarang.. gimana kabarnya si Zus? :D

    Lalas last blog post..Mamma Mia!

    DM: Arisan? Iya, Jeung. Tapi sudah tanggal 14 sekarang, Jeung. Siapa yang menang bulan ini, Jeung? (Halah!).

    Temanku? Beruntung? Hayah! Ini kan cerita sahibul hikayat saja. Aku hanya ingin ngobrol-ngobrol soal penulisan tanpa mesti menggurui pembaca. Hanya berdiskusi saja. Maka kubuatlah seolah-olah ada adegan semacam itu. Hihihi.

    Soal nggak ada pulsa? Oh, si Zus itu memang jatah pulsa dari kantornya cuma 50 ribu perak. Itu pun sudah dipake pacaran sana-sini (sana-sini?). Makanya wajar kalau cepat habis. Haha!

    Kabar si Zus itu sekarang? Aih, tambah centil dia. Hihihi.

  12. Elys Welt says:

    saya sih masih belajar menulis :)

    Elys Welts last blog post..Srengengeku

    DM: Ndak pa-pa, Mbak. Itu pun sudah bentuk keberanian…

  13. zulmasri says:

    seperti saran pak ewa di bukunya, kalau ingin jadi penulis haruslah berani. pram telah melewati dengan sangat elegan.boleh dikata, ia melewati idrus dalam hal kualitas.

    tapi bagian akhir tulisan ini, mengapa mas dm nggak berani mengatakan bagaimana kualitas tulisan si zus? atau jawabnya sudah tersirat?

    zulmasris last blog post..Sastra: Antara Penilaian dan Penelitian (bagian 1)

    DM: Betul, Mas Zul. Pram telah melewatinya dengan sangat elegan.
    Bagian akhir tulisan ini? Apakah cerita di atas nyata, Mas Zul? Hehe.

  14. rifqi says:

    kapan ya saya punya keberanian menulis untuk umat *halah* untuk umum maksudku…semuanya terendam di dalam banjir kesibukan dan keseharian yang berjalan secepat kilat…

    HHHHHHHH……*keluh*

    DM: Hei, jangan mengeluh, Kawan. Saat ini kau sudah memulainya melalui blog. Dulu waktu SMP kau pun rajin menulis. Kemana itu… Kemana…
    Jangan beralasan karena terendam dalam banjir kesibukan dan keseharian. Bukankah kita bisa kalau mau, eh?

  15. imoe says:

    bagi saya, menulis adalah proses membebaskan jiwa…jadi biar aja orang diluar mau bilang apa…..yang penting jalan terus….asal jangan SARA….

    imoes last blog post..“Derita Yang Tak Berbunyi”

    DM: Setuju, Kawan. Menulis merupakan proses membebaskan jiwa. Ada yang kita curahkan. Kita lepaskan. Biar orang lain yang menilai.

  16. laporan says:

    Mungkin masalah senioritas dan pengalaman ya. Apa yang dibilang berak, tak tahunya nanti jadi penulis besar.

    laporans last blog post..Well, Come to Reality

    DM: Nah, itu dia, Mas Aryo. Buah dari kesabaran. Juga panenan dari keberanian.

  17. nita says:

    saya juga punya pengalaman tak terlupakan waktu boss melempar paper yg saya bikin. “ini kamu bilang paper? bagaimana sih kualitas master kamu?”
    sakiiit banget sampai latar belakang pendidikan dibawa2. malah doi bilang kalo cara berpikir saya tak sistematis… well, udah resiko pekerjaan –seperti juga resiko seorang penulis

    jadi ingat tulisan ttg dewi sartika pemenang sayembara dkj 03 yg novel dadaisme-nya dikritik habis dimana2, sampai ia jadi letih, kuyu…wajar lah. tapi gak bikin dia berhenti menulis, buktinya novelnya dunia duniya udah terbit lagi

    nitas last blog post..BAHASA DAERAH: SEKARAT?

    DM: Hei, mengikuti cerita si Dewi Sartika dengan Dadaisme-nya juga rupanya? Iya tuh. Dikritik habis di sana-sini. Tapi dia tetap nulis dan nggak nyerah. Ada juga novel-novel dia versi chiklit, meski dengan nama lain. Destika kalau aku nggak salah ingat nama yang ia gunakan pada buku-buku itu. Memang menulis itu soal keberanian.

    Eh, terus setelah paper-nya dilempar, yang ngambil dari lantai siapa? Hihi.

  18. Syalala lalala.. matahari semakin condong ke timur.. timur tanah Jawa ini :)
    Cihuyyy…

    Donny Verdians last blog post..Simbok dan Revolusi Teknologi

    DM: Syalala lalala… Uhuy! Syalala lalala… Uhuy!
    (nyanyi apa sih aku ini. Hehe!)

  19. SQ says:

    Meskipun hanya lewat telepon, tapi pesan yang disampaikan sarat makna. Jadi ingat pertama kali belajar menerbitkan buku sendiri waktu mahasiswa, saya juga dihantui perasaan sama. Dari takut dicecar dosen sampai dikejar mahasiswa.

    Ujung-ujungnya mereka lebih banyak diam. Soalnya, buku saya juga tidak terlalu penting untuk diributkan. (dasar ge-er) :lol:

    SQs last blog post..Saat Qolbu (Saya) Terpidana

    DM: Dikejar mahasiswa? Wah, kenapa Mas? Pada minta tanda tangan ya? Hihihi…
    Itu bentuk reaksi juga toh?

  20. natazya says:

    oh ya ampun…

    jadi berat yah kalo dibilangnya menulis itu soal keberanian hueheuheue

    susah… susah….

    natazyas last blog post..Itik Buruk Rupa

    DM: Ya apa boleh buat, Nat, itu hanyalah satu dari sekian syarat kalau mau jadi penulis…

  21. Yulis says:

    Semoga Zus, atau Jeung L…. ups sok tau saya,

    Siap menerima apapun reaksi pembaca. Bagaimanapun jika tulisannya diterbitkan oleh penenerbit. Pasti ada kelebihannya dan setidaknya dari sudut pandang penerbit layak untuk diterbitkan pasti ada niali plusnya.

    Semoga sukses bukunya dan jika ada kerikil dan badai datang semoga tetap kuat dan tidak putus asa. Sukses selau buat mas DM dan semua penulis Indoensia. thanks

    DM: Betul, Mbak Yulis. Karena ada kelebihan atau sudut pandang lain dari penerbit itulah, berarti pembaca pun berhak punya sudut pandang berbeda pula kan.

    Terima kasih, Mbak Yulis. Tapi Zus? Jeung L? Aih, siapa pula itu, Mbak… Hihihi!

  22. catra says:

    berarti setiap penulis harus berani ya mas, hehehe, berani menerima cercaan, pujian ata hinaan.
    Boleh gak saya mengirim tulisan mas untuk diterbitkan? hehehehe :mrgreen:

    DM: Huehehe… Kok ujungnya beda, Cat? Hihihi…
    Silahkan saja.

  23. Yoga says:

    Terhasut nggak? Itu tergantung siapa yang menghasutnya mah… pakai apa pula menghasutnya?
    *siul-siul*

    Yogas last blog post..Awareness for Everyone

    DM: Wah, termotivasinya masih tebang pilih rupanya? Hihihi.

  24. Juliach says:

    Ah menulis itu sama saja berpidato/berbicara. Dulu sewaktu aku kecil, aku takut untuk berbicara. Sungguh bikin perut mules. Sesudah aku besar, aku mulai sadar, kalo aku berpidato maka aku anggap orang di depanku itu kambing congek semua (sorri ya).

    Sekarang, aku seperti orang Perancis saja, sering dalam pertemuan atau sekedar minum-minum kita berdiskusi. Apa saja didiskusikan: dari politik, ekonomi, edukasti, sampai kebiasaan di rumah…
    Dari berdiskusi kita bisa sampai berdebat keras karena kami mempertahankan ide masing-masing. Tapi tak ada yang pernah marah, karena kita harus toleransi dan menghargai pendapat dan hak setiap orang.

    Juliachs last blog post..Bantulah Anak Mandiri Sedini Mungkin

    DM: Bahkan pidato pun butuh keberanian ya, Mbak.
    Keberanian untuk menganggap orang lain kambing congek. Hehe.

  25. Endah says:

    Jadi kapan buku yang smartphone itu di deal mas DM…

    *innocent look mode on*

    Endahs last blog post..Sweeney Todd vs Johnny Andrean

    DM: Aduh pingin njitak deh rasanya…

  26. Ratna says:

    Tulisanmu inspiring sekali. Thanks ya… Eits, jangan terlena! :D

    Ratnas last blog post..On Your 32nd…

    DM: Terima kasih, Teh Ratna. Insya Allah tidak terlena. Hehe.

  27. Acacicu says:

    Komentarnya bagus2,,saya banyak belajar dari semuanya;

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>