penganyamkata.net
current   |   rss

Menulis adalah Soal Keberanian, Eh?

Published October 12, 2008

Pabila cinta memanggilmu, ikutilah ia walau jalannya terjal berliku-liku. Dan pabila sayapnya merangkummu, pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu (The Prophet, Kahlil Gibran)

Suatu malam, aku ditelpon oleh seseorang. Ia seorang blogger yang sebentar lagi bukunya akan diterbitkan oleh sebuah penerbit Jakarta. Tapi apa yang ia sodorkan pada kalimat pertamanya di telpon membuatku mengernyitkan dahi. Untuk memudahkan, kita sebut saja dia dengan panggilan Zus. Begini kira-kira isi telpon si Zus itu:

“Aku nih sebetulnya sedang ketakutan, Mas.”
“Ketakutan?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Bukuku bentar lagi terbit…”
“Lha? Kenapa ketakutan?”
“Nggak bisa ngebayangin, apa kata orang-orang nanti…”
“Lha, gimana kamu ini. Belum-belum kok malah sibuk dengan apa kata orang nanti.”
“Ya nggak tau, takut aja kalau nanti bukuku dicela orang. Hu-hu-hu. Gimana dong, Mas…”
“He, Zus, dengar ya: menulis itu soal keberanian!”
“Keberanian gimana maksudnya?”

“Ya keberanian. Kalau kamu berani menulis, ya kamu mesti berani juga menerima reaksinya. Dan reaksi orang itu bukan hak kamu. Itu hak pembaca. Orang mau muji, mau kriktik, mau menyanjung-nyanjung, mau mencaci maki, itu hak pembaca.”
“Tapi kan…”
“Apa?”
“Aku nggak siap…”
“Nggak siap? Lalu kapan waktu yang ideal untuk siap itu? Nggak ada.”
“Iya sih…”
“Menulis itu soal keberanian. Satu orang menghadapi ribuan pembaca. Dan masing-masing pembaca itu berhak berpendapat atas tulisanmu. Kalau kamu kuat, orbitmu makin luas. Kalau nggak kuat, ya habis.”
“Whaaaa… Mas…”
“Ya memang begitu.”
“Aduh, aku nggak bisa ngebayangin. Waktu itu aja, waktu Mas kritik tulisanku di blog, aku aja udah ketar-ketir. Kaget banget ada orang berani kritik tulisanku. Apalagi nanti kalau bukuku terbit…”
“Hei, kamu ini seperti berani berbuat tapi nggak berani bertanggung jawab. Waktu itu, apa yang aku katakan tentang tulisanmu di blog, itu hanya secuil. Secuil banget. Nanti, saat bukumu terbit, kamu akan dapat lebih banyak kritikan lagi. Lebih pedas, lebih keras.”
“Whaaa…. Mas… Ngeri…”
“Lho, ya itu pilihan. Kalau kamu mau jadi penulis, ya mesti gitu. Kalau nggak berani menghadapi berbagai macam hal seperti itu, ya jangan jadi penulis.
“Iya sih…”
“Nah, lantas apa lagi… Kamu memang mesti siap pada hal-hal seperti itu.”
“Bakal lebih banyak lagi ya yang akan kuhadapi?”
“Pasti!”
“Aku nggak kebayang aja, karena ini buku pertamaku.”
“Justru mestinya kamu bersyukur karena ini buku pertamamu. Kamu akan lebih siap dengan berbagai hal yang bakal kamu hadapi. Nggak terlena di awal.”
“Aku bakal diejek-ejek?”
“Juga dipuji.”
“Dikritik?”
“Juga mendapat sanjungan.”
“Apalagi kira-kira?”
“Ya nggak tau. Pasar yang akan bicara. Biarkan pembaca berbicara. Tapi jangan kaget juga kalau ada yang bilang: tulisan apa sih ini? Atau, ini penerbitnya nekat banget mau nerbitin tulisan kayak gini!”
“Whaaaa… Mas…”
“Juga nggak perlu terlena kalau ada yang terinspirasi oleh tulisanmu. Dan berterima kasih karena gara-gara membaca tulisanmu, ia jadi lebih merasa hidup. Semua satu paket. Kamu nggak bisa ambil manisnya aja. Pahitnya juga mesti kamu rasakan.”
“Ya ampun… Tadinya aku ngira nggak bakal dapat kritikan semacam itu. Awalnya aku seneng banget waktu tulisanku mau diterbitkan oleh penerbit. Tapi sekarang, begitu waktu terbit makin dekat, aku malah takut banget rasanya…”
“Ya itu wajar. Hanya saja kamu mesti kibas ketakutan macam itu. Karena yang bakal kamu hadapi juga bakal lebih dari itu. Aku kan udah pernah bilang: ini hanyalah permulaan.”
“Uh, kalo yang ngejek itu orang-orang terdekatku, Mas, mungkin aku nggak akan begitu ciut. Mereka tau betul seperti apa aku. Tapi kalau orang lain… Hiii…”
“Kamu tau, waktu Pramoedya Ananta Toer baru pertama kali tampil di panggung sastra Indonesia, waktu tulisan-tulisannya mulai sering muncul di media, ia sangat mengidolakan Idrus. Baginya Idrus itu prosais yang tak tertandingi. Dan ia belajar banyak dari cara Idrus menulis. Ia bahkan sudah mengangkat Idrus sebagai gurunya, tanpa sepengetahuan Idrus.”
“Trus?”
“Nah, ketika Pram ke Penerbit Balai Pustaka, kebetulan ada Idrus berkunjung ke sana. Oleh seseorang Pram diperkenalkan pada Idrus.
‘Bung Idrus, Ini Bung Pram.’ ujar seseorang yang memperkenalkan Pram pada sastrawan Idrus.
‘Oh, kau Pram. Pram, kau tau, kau itu bukan menulis. Kau itu berak!!”
sambut Idrus.
“Hah?! Idrus ngomong gitu, Mas?!”
“Ya, bayangkan, betapa Pram mengidolakan Idrus. Betapa ia kagum pada tulisan-tulisan Idrus. Betapa Idrus sudah ia anggap gurunya. Tapi begitu ketemu langsung dengan orangnya, bukannya bagaimana, malah kalimat itu yang ia terima.”
“Trus Pram gimana?”
“Ya diam saja. Ia terima itu semua. Karena itu memang hak pembaca. Tapi penulis juga punya hak untuk tidak mencampuri hak pembaca. Biarkan itu jadi teritori pembaca.”
“Tapi kan Pram sastrawan, Mas?”
“He, saat itu siapa sih Pram?”
“Iya ya.”
“Apa kamu pikir dulu semua sajak Rendra itu dimuat oleh H.B. Jassin di majalah? Malah banyak yang nggak diloloskan. Tapi saat ini, mungkin kalau Rendra kentut pun bakal dianggap bersajak oleh orang. Kenapa, ya karena ia telah melewati semua tahapan itu. Semua pada awalnya juga bukan apa-apa. Bukan siapa-siapa.”
“Mas pernah dikritik?”
“Ya pernah. Siapa orang tak pernah dikritik.”
“Gimana ceritanya?”
“Ceritanya? Waduh…”
“Ayolah…”
“Ah ya. Aku pernah dicaci maki waktu bedah bukuku di Universitas Udayana Denpasar.”
“Oya?”
“Iya. Waktu itu ada yang bilang kalau tulisanku biasa-biasa aja.”
“Hihhi… Terus Mas gimana?”
“Ya aku senyum-senyum saja. Wong itu hak pembaca kok. Ada yang memuji, tentu ada juga yang mengkritik. Ada yang mengkritik, pasti ada juga yang memuji. Itu hak orang menilai karya kita. Esok paginya, acara bedah buku itu tetap dimuat di koran. Aku malah berterima kasih pada orang yang mengkritik. Karena diskusi bedah buku saat itu terasa hidup. Terjadi dialektika. Antara pro dan kontra.”
“Jadi aku mesti siap nih, Mas?”
“Ya, kamu mesti siap. Menulis itu memang soal keberanian. Satu orang menghadapi ribuan pembaca. Dan masing-masing dari pembaca itu boleh mengkritik, mencaci-maki, juga memuji. Kalau kuat, orbitmu makin luas. Kalau tidak kuat, ya habis.”
“Galak bener…”
“Apa boleh buat, itu syarat kalau mau jadi penulis.”
“Tapi Mas, kalau menurut Mas sendiri, tulisanku itu gimana sih?”
“Halah! Berulang kali kamu tanya itu.”
“Yaaahhh, Mas… kasih penilaian dong…”
“Kan sudah berulang kali kukatakan.”
“Iya, tapi sebetulnya gimana? Bagus nggak sih? Kira-kira gimana saat orang baca bukuku nanti?”
“Hahaha…”
“Ih! Kok malah ketawa? Jahat! Gimana, Mas…”
“Hihihi… Ya nggak tau. Wong aku aja nggak mbaca kok.”
“Hah?! Mas?!”
“Iya.”
“Jadi?!”
“Hihi.”
“Maaasss…?!!”
“……”

*tut… tut… tut…*

“Halo, Mas?! Halo?! Ih, sial! Pulsaku habis…”

12 Oktober 2008 | 21.16 wib