(Dari Harry Potter, Ayat-ayat Cinta, hingga Laskar Pelangi)

-sebuah kado kecil untuk hari ulang tahun Ibu Enny-

Hari Minggu pagi lalu aku sarapan di tempat tidur. Bukan sarapan dalam arti sebenarnya. Tapi lebih pada sarapan berupa obrolan akrab dengan bu Enny. Hampir satu jam kami berbincang di telpon soal blog, bank, manajemen keuangan (bayangin!), keluarga, suaminya, anak-anaknya, pekerjaan, pernikahan, pasangan hidup (aih!), sampai editor. Editor? Ya.

Suatu saat Bu Enny ingin bertemu denganku untuk bincang-bincang soal editor dan penulisan, tukasnya. Tiba-tiba, saat masih lagi berbincang dengan bu Enny, aku teringat tentang satu tema yang sudah hendak aku tulis. Tentang peran editor itu sendiri. Awalnya berangkat dari obrol-obrol santai dengan Pak Bambang Trim, Vice President Penerbit Salamadani, dan beberapa teman di Mie Aceh Buah Batu Bandung di satu sore yang cerah.

Awalnya kita sedang ngobrol santai tentang film Laskar Pelangi. Tiba-tiba obrolan berbelok tentang buku Laskar Pelangi. Berkembang menjadi siapa editor-editor penemu naskah Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta, dan Harry Potter. Bagaimana peran editor dalam hal ini. Setelah kurangkum, dan kususun di sana sini, maka beginilah obrolan ringan tersebut:

Saat buku laris manis, penulis atau pengaranglah yang dielu-elukan dan memperoleh segudang penghargaan. Saat buku jeblok di pasar atau mengandung kesalahan maka orang yang kali pertama pantas dicari adalah editor!

Pak Bambang mengaku tertegun ketika membaca sales copy novel Tunnels terbitan Mizan karya Roderick Gordon dan Brian Williams. Novel yang disebut-sebut the next Harry Potter ini telah diterjemahkan ke dalam 21 bahasa dan di covernya versi Mizan dicantumkan nama Barry Cunningham, editor si penemu Harry Potter dan juga Tunnels, atau si penemu bakat JK Rowling.

Tangan dingin Barry Cunningham yang sukses meramu Harry Potter menjadi novel berdaya imajinasi luar biasa juga dipertaruhkan di dalam novel Tunnels. Barry termasuk editor yang beruntung menjadi pesohor dan namanya disebut-sebut di balik sukses sebuah buku meskipun kami yakin tidak banyak yang tahu tentang Barry Cunningham ini.

Barry Cunningham adalah penggiat buku yang merintis karier awal sebagai seorang marketer yang kemudian menjabat sebagai managing director di Chicken House Publishing (penerbit asal Tunnels), imprint dari penerbit besar Scholastic (penerbit Harry Potter). Spesialisasinya adalah mencari bakat baru di bidang buku anak, seperti JK Rowling dan Cornelia Funke (Inkheart, Dragonrider).

Barry sebelumnya sempat menemani Road Dahl berkeliling Inggris untuk mencari tahu buku apa yang diinginkan anak-anak. Dari sinilah ia mendapat input banyak tentang dunia penulisan dan penerbitan buku anak. Ia mengasah kemampuannya di bidang promosi, tetapi ia justru memperoleh banyak pengetahuan tentang apa yang paling diinginkan anak-anak dari sebuah buku. Penerbit Bloomsbury pernah memintanya membuat semacam laporan tentang judul-judul buku anak, lalu ia pun berpikir, “I can do this. I’m not a proper editor, but I know a lot about children’s books.” So I tried for it. I think it was a good decision!

Pengalaman mengamati dunia anak-anak, berinteraksi dengan anak, serta meriset kebutuhan bacaan anak, mengantarkan Barry Cunningham ke dalam dunia editing buku anak. Ia menjadi editor akuisisi yang bekerja dengan hati. Kredibilitas Barry kemudian dikenal sehingga JK Rowling lewat agennya Christopher Little, memercayakan Harry Potter padanya. Tidak banyak editor atau penerbit yang bisa melihat cahaya sukses Harry Potter seperti Barry melihat, begitulah kira-kira pikiran Christopher Little saat itu. Barry hanya melihat beberapa lembar naskah Harry Potter dan memutuskan untuk menerbitkannya. Dan ternyata, Harry Potter benar-benar sukses mendunia.

Mungkin bagi sebagian besar editor selalu punya obsesi bisa seperti Barry Cunningham, yaitu memiliki kemampuan plus intuisi menemukan bakat baru dalam penulisan buku, baik itu fiksi maupun nonfiksi. Intuisi yang menalar naskah akan menjadi booming atau buah bibir tidak pelak memerlukan pengetahuan tentang kebutuhan serta kecenderungan yang terjadi pada pembaca sasaran. Dan hal ini tentu tidak gampang bagi seorang editor karena melibatkan berbagai macam wawasan serta informasi.

Adakah editor di Indonesia yang seperti Barry? Lalu, siapa editor yang menemukan Habbiburrahman El-Shirazy dengan novel Ayat-Ayat Cinta-nya -konon novel ini juga sempat ditolak beberapa penerbit? Adakah ia Bapak Awod Said? Siapakah penemu Andrea Hirata dengan novel Laskar Pelangi-nya yang sekarang masih menjadi buah bibir? Adakah ia manajer penerbit di Bentang ataukah seorang Haidar Bagir? Siapa editor yang sesungguhnya menemukan bakat kedua orang penulis baru itu dan bisa melihat bahwa naskah novel tersebut merupakan calon best seller, bahkan mega best seller? Siapa tahu editornya malah orang biasa yang tidak terkenal, tapi dia bisa jadi terkenal dan dicari penerbit lain.

Soalnya adalah, calon naskah seperti Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi berpotensi muncul lagi dalam tahun-tahun ke depan. Beruntunglah editor yang bisa menemukannya dan tahu bagaimana menemukannya. Beruntunglah penerbit yang memiliki editor seperti itu. Jadi, editor tidak sekadar dicari karena ada kesalahan di dalam buku, tetapi dicari karena ada reputasi.

Begitulah.

(Materi tulisan ini adalah hasil obrolan di kedai makan Mie Aceh dan oleh Pak Bambang Trim telah dituangkan dalam bentuk tulisan di mailing-list Forum Editor Indonesia, di mana ia menjabat sebagai Ketua FEI).

Nah, Bu Enny, ini secuil ulasan atas apa yang sempat kita bincangkan tempo hari. Namun kali ini kuposting khusus sekadar kado kecil buat Ibu di hari yang bahagia ini. Sehat selalu ya, Bu. Salam hangat.

14 Oktober 2008 | 08.11 wib