penganyamkata.net
current   |   rss

Persahabatan Blogger, Ada dan Nyata

Published October 15, 2008

Persembahkan yang terindah bagi persahabatan. Jika ia harus tahu musim surutmu, biarlah ia mengenali pula musim pasangmu. Karena persahabatan kan kehilangan makna jika mencarinya sekadar bersama guna membunuh waktu. Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu (The Prophet, Kahlil Gibran)

Pagi tadi aku mendapatkan sebuah kiriman paket bersampul coklat. Melongok siapa pengirimnya membuatku terlonjak girang. Pasti isinya oleh-oleh dari luar negeri, batinku. Cepet-cepet kuambil cutter, membuka dengan rapi, jangan sampai ada satu sisi sampul pun yang tersayat apalagi tersobek.

Begitu sampul terbuka, isinya ternyata berupa dus biskuit coklat TamTam. Weh?! Dari luar negeri kok ngoleh-ngolehi TamTam? Hehehe. Rupanya itu hanya dus belaka. Ketika kubuka, di dalamnya bersembunyi selembar t-shirt putih bertuliskan Filipino dan manisan mangga. Aih…

Sudah jelas ini kiriman dari Kristanti Parisihni atau akrab kupanggil Mbak Tanti. Ia memang baru kembali dari Filipina dan Hongkong beberapa hari lalu. Tak menyangka sama sekali kalau aku kebagian oleh-oleh dari sana. Yang bikin ngakak, selembar kaus dan manisan mangga itu dibungkus di dalam kantung plastik laundry Hotel Manila. Haha! Ada-ada saja.

Di samping bingkisan itu, ada sepucuk surat. Ditulis di atas kertas putih meringis berlogo Manila Hotel. Manis sekali rawian tangannya. Simaklah:

Dear Daniel,

I bring you something from Philippine
It’s just nothing but delivered from something I really mean

A little something to remember
that we think and care for each other

A little something from a happy sister
presented gladly to her beloved brother

Love,
Tanti

God! Betapa manis pesannya. Betapa indah kata-katanya. Aku terharu ketika membacanya.

Tahukah kalian, kalau aku belum pernah bertemu dengan Mbak Tanti. Jangankan ngobrol secara langsung, berjabatan tangan pun belum pernah. Semua ini hanya karena internet dan blog. Dari sana kami jadi akrab melalui YM. Ia selalu mau mendengarkan cerita-ceritaku. Begitu pun sebaliknya aku terhadapnya. Tapi satu hal yang pasti: kami belum pernah bertemu sama sekali.

Komunikasi dan persahabatan di blog memang ada dan nyata. Tak sedikit kawan-kawanku yang mencibirku aneh hanya karena membangun hubungan akrab di dunia blog semacam itu. “That’s not real, Man…” ejek mereka. Tapi nyatanya semua itu bisa dikibaskan.

Tak pernah kuduga sama sekali bahwa aku bisa berdiskusi akrab dengan Bu Enny, berbincang sastra dengan Mas Zulmasri, terbahak-bahak bersama Pak Suhadi, belajar banyak dari Pak Sawali, bercerita soal buku dengan Yoga Amaliasari, gila-gilaan dengan Donny, dan merasakan semilir angin kota Sydney dengan Hemma Yulfi. Kecuali Donny, mereka semua tak pernah kutemui sebelumnya. Bukankah itu menyenangkan?

Begitu pun dengan Mbak Tanti. Siapa yang mengira kalau aku bisa kenal dan begitu dekat dengan seorang Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran Gigi sebuah Universitas di Surabaya? Ia selalu mau mendengarkan keluh kesahku. Ia juga mau ikut tersenyum atas kebahagiaanku. Kami belum kenal lama. Tapi kami seolah sudah saling mengenal berabad lamanya.

Kami banyak diskusi soal buku, film, terutama musik, cinta, persahabatan, juga pernikahan. Ia yang beragama Nasrani, tetap membuat kami tak risi untuk berbincang soal Injil maupun Fikih Islam. Aku bisa merasakan betul arti dari persahabatan sesungguhnya. Bukankah yang seperti itu indah, eh?

Maka selembar kaus dan sebungkus manisan mangga tetaplah bendawi. Tapi makna di balik itu semua yang tak ternilai harganya.

Nah, Mbak Tanti, terima kasih atas oleh-olehnya. Kausnya pas, dari bahan yang kusuka, dan tidak bikin gerah. Senang sekali mendapatkan bingkisan darimu. Sejak dulu aku selalu mendambahkan sosok seorang kakak perempuan. Seseorang yang menamparku saat aku berbuat salah. Seseorang yang menegurku saat aku keluar jalur. Seseorang yang memapahku ketika aku terjatuh. Juga seseorang yang memberikan pelukan hangat ketika aku merasa kesepian. Kini aku tahu, siapa sosok itu.

Terima masih, Mbak Tanti. Tulisan ini, sekadar bentuk ucapan terima kasihku, meski tak sebanding, atas persahabatan, kasih sayang, dan waktu yang hangat selama ini. Salam untuk mas Bambang, suamimu terkasih.

Love,
D.M.

15 Oktober 2008 | 13.14 wib

(nama-nama blogger yang kusebutkan di atas hanyalah contoh. Kebetulan saja semua namanya berakhiran bunyi i. Sudah barang tentu ada kawan-kawan blogger lainnya yang kualitas persahabatannya tak kalah apik dan mesra)