Sudah Sebegitu Miskinkah Negeri Ini?

Sulitkah menjawab pertanyaan judul di atas? Rasanya makin absurd saja. Di satu sisi kemiskinan nyata-nyata di depan mata. Untuk sebagian orang mendapatkan uang Rp10 ribu sehari bisa jadi sulitnya minta ampun. Tapi bagi anggota legislatif, juga eksekutif, yang gajinya puluhan juta sebulan (gaji saja!), mengeluarkan uang Rp10 ribu barangkali sembari tertawa saja.

Pagi ini aku mesti terhenyak ketika membuka Kompas edisi Sabtu 18 Oktober 2008. Di halaman 23 terpampang sebuah foto berita tentang ojek sepeda. Yang membuat terhenyak adalah apa yang tertulis di caption foto tersebut:

Seorang pengojek sepeda di Pasar Raya Padang mendorong kendaraannya karena muatan terlalu berat, Jum’at (17/10). Ia hanya mendapat upah Rp1.000. Sementara itu, kehilangan atau kerusakan barang selama pengangkutan menjadi tanggung jawab pengojek. Ikan teri dalam plastik yang sedang ia angkut itu harganya Rp600.000.

Wow!! Seribu perak untuk jasa angkut seperti itu! Memang di caption itu tidak disebutkan jarak angkutnya. Namun jika mengingat tenaga yang dikeluarkan serta risiko pengangkutan yang mesti menjadi tanggung jawabnya, rasanya gila juga.

Seribu perak, bayangkan! Seribu perak!! Sebotol teh dingin pun rasanya tak dapat. Seharga kencing di toilet umum saja. Sementara indent mobil keluaran terbaru di dealer daftarnya minta ampun panjangnya. Sampai berbulan-bulan.

Siapa yang mesti disalahkan? Orang yang memberi upah? Ia yang mau saja menerima upah seribu perak? Atau siapa?

Sudah sebegitu miskinkah negeri ini? Ada yang bisa menjawabnya?

Aku belum bisa menjawabnya.

18 Oktober 2008 | 09.17 wib

Foto oleh: Agnes Rita Sulistyawaty
Di-scan dari Kompas, Sabtu 18 Oktober 2008.

This entry was posted in Catatan Harian, Renungan and tagged , . Bookmark the permalink.

29 Responses to Sudah Sebegitu Miskinkah Negeri Ini?

  1. Rafki RS says:

    Sistem ekonomi yang plin-planlah yang mesti disalahkan dalam hal ini. Sistem seperti sekarang ini memberikan kesenjangan yang begitu jauh di kalangan masyarakat. Ditambah lagi dengan tingkah polah para elite yang berbuat curang untuk kepentingan pribadi, menambah parah ketimpangan ini.

    DM: Sebetulnya mengacu ke mana sistem ekonomi negeri yang kebetulan bernama Indonesia ini?
    Pemodal atau rakyat?

  2. Kita memang butuh pemimpin berkualitas, negara kaya kog jadi miskin begini, dan … yang dipimpim yang cerdas-cerdas; jangan-jangan kita semua memang bodoh dalam konstelasi dunia. Semoga tidak, bro.

    Ersis Warmansyah Abbass last blog post..Menulis (Tentang) Sahabat

    DM: Butuh, Pak Ersis bilang? Berarti yang selama ini tidak berkualitas?
    Aih, Betapa mahal harga yang mesti dibayar untuk memunculkan pemimpin yang berkualitas itu, Pak Ersis.
    Memang tidak, Pak Ersis. Rakyat negeri ini tidak bodoh-bodoh.

  3. edratna says:

    Justru itulah makin banyak orang yang datang ke Jakarta-Bandung, yang asal mau bekerja keras tetap lebih mudah mendapatkan penghasilan. Hanya menodongkan tangan dijalan, bisa mendapat Rp.50 ribu per hari.

    Lha mau kencing saja Rp.1000,-…..ini kan contoh nyata. Sebetulnya, banyak kok pekerjaan halal, seperti halnya menjadi PRT, yang minimal Rp.400 rb/bln, itu sudah net (artinya baju, makan, sikat gigi/odol, dan kalau sakit dibiayai)….kalau makin senior ya malah bisa mendapat nyaris Rp.1 juta per bulan atau bahkan lebih.

    Jual rempeyek di pasar Mede (dekat rumah saya), yang seplastik kira-kira isi 20 rempeyek, harganya Rp.10.000,- …..saya kenal dekat dengan ibu (ada 2 ibu, dan betul-betul kenal dekat)….yang hanya jual kue di pasar, tidur sampai malam, pagi2 jam 4 membawa dagangan ke pasar…anaknya 3 orang bisa menjadi sarjana….Rumahnya? Di daerah kumuh…tapi setelah anaknya jadi semua, rumah itu diperbarui, tapi mereka tetap nyaman tinggal dilingkungan tersebut.

    Jadi Daniel, kalau didaerah, memang mencari uang lebih sulit…..
    (termasuk saya, makanya mau kembali ke Bandung ga jadi…soalnya di Bandung malah masuk angin terus, kedinginan…..)

    edratnas last blog post..Uh…uh …tenyata harus belajar ilmu Hukum juga

    DM: Kalau selamanya perputaran uang atau mencari uang lebih mudah di kota besar, Bu, akan betapa mengibakannya negeri ini…

  4. Ikkyu_san says:

    prihatin sekali….
    apa ya yang salah? pendidikan sih menurut saya.
    Tapi gimana membereskannya?

    Ikkyu_sans last blog post..Aroma Terapi?

    DM: Ya revolusi pendidikan, Mbak…

  5. Yoga says:

    Negara ini nggak miskin Dan, hanya jurang antara yang miskin dan kaya sangat dalam dan lebar. Kapitalisme mendorong yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Tiap kali mendengar ada yang mencalonkan diri jadi Presiden Indonesia yang terlintas dipikiranku adalah:- “Hebat!” walau di hati, “Oooh… berani sekali beliau-beliau itu hendak mengambil tanggung jawab yang sedemikian dashyatnya, tolong buktikan satu hal sederhana saja mengentas Bapak-Bapak ojek itu ke kehidupan yang lebih baik, misalnya, tak perlu yang muluk-muluk, baru aku dukung deh.” Yah itu baru pemikiran sederhana dari awam. Sama sejatinya sepertimu aku tak bisa menjawabnya. Ujung-ujungnya aku malah ingat kamu pernah nulis:- “Apa yang sudah kau lakukan untuk mereka? kerjamu toh hanya memindahkan dunia menjadi kata-kata.” Ah.. itu aku banget!

    Have a nice week end!

    Yogas last blog post..Aku, Si Kutu Buku

    DM: Berarti yang miskin bukan negerinya, tapi orang-orang yang mengelolanya. Miskin budaya.

  6. tanti says:

    Aku tidak bisa menjawab, hanya bisa prihatin dan menangis dalam hati.
    Aku yakin, setiap makhluk hidup diberkati dengan kemampuan untuk bertahan hidup,
    dengan uang ‘sedikit’ yang diterimanya, bapak pengojek itu tetap akan bertahan, menyesuaikan kebutuhannya dengan pendapatannya sesuai ‘ukuran’nya. Bicara soal kebahagiaan mungkin dia juga tetap bahagia dengan ‘ukuran’nya yang mungkin tidak sama dengan ‘ukuran’ kita. Yang menjadi tugas pemerintah adalah menyeimbangkan kesenjangan ini. Perlu pemimpin bangsa yang cakap dan punya hati nurani !!

    tantis last blog post..From Manila with Pride

    DM: Baik. Setiap individu memang punya parameter tersendiri dalam mengukur kebutuhannya. Dan bicara soal bahagia, ukurannya memang tidak sama pada setiap orang. Aku sepakat.
    Tapi coba tengok: apa yang sedang ia lakukan. Yang ia bawa bukan sekadar ikan teri. Tapi beban yang mesti ia tanggung. Berapa berat bebannya. Seberapa besar tanggung jawabnya. Semua ada pada dirinya. Kalau sakit, berapa ongkos dokter? Kalau lapar, berapa harga sepiring nasi?
    Mesti sepuluh kali angkut bagi dirinya untuk mendapatkan uang Rp10 ribu. S-e-p-u-l-u-h r-i-b-u.
    Mesti seratus kali angkut bagi dirinya untuk mendapatkan uang Rp100 ribu. S-e-r-a-t-u-s r-i-b-u.
    Apakah itu manusiawi?
    Oke parameter kebutuhan dan kebahagiaan seseorang berbeda-beda. Tapi bahkan untuk hidup paling sederhana saja rasanya tidak cukup.

  7. marshmallow says:

    yang jelas, berilah kail dan jangan ikan.
    kalau berkemampuan, bangunlah lapangan pekerjaan.
    lebih ke hulu lagi, siapkan dan bantu dengan pendidikan.

    the biggest problem with poverty is thinking that someone else could take care of the problem. the fact is we are all in this together.

    kalau terus mengupat tanpa melakukan apa-apa, apa bedanya kita dan mereka?
    ya gak, DM?

    marshmallows last blog post..Ananda

    DM: Aku percaya: semata merasa kasihan tanpa melakukan suatu tindakan sama halnya dengan bermegah-megah dengan perasaan.
    Basa-basi baik-baik saja. Tapi hanya basa-basi. Berenang-renang dalam alam ide semata. Yang dibutuhkan si bapak pengojek sepeda itu bukan sekadar basa-basi.
    #
    Biasanya nih ya, menjelang suksesi, uih, banyak yang berbondong-bondong mendadak genit soal rakyat kecil. Wajahnya penuh bedak dan gincu soal kemiskinan.

  8. Anang says:

    sistem kapitalis yang begitu merongrong kesejahteraan rakyat… lihat bagaimana mereka yang kaya semakin kaya…. dan yang miskin makin terjerat kubangan ketiadaan…. makin miskin…. menyedihkan…. tugas bersama buat kita untuk meniadakan kesenjangan diantara kita…. yuk mari

    DM: Kita tetap butuh kapital. Itu mutlak. Tapi kalau kapitalisme, ya seperti yang Mas Anang maksud itulah.
    Sampai kiamat, yang namanya orang kaya dan miskin akan tetap ada. Tidak lantas terhapus. Tapi bahwa jurang kesenjangannya begitu dalam dan curam, itu yang jadi masalah.
    #
    Aku masih nggak bisa paham ada orang bisa seliweran naik mobil Bentley di Indonesia ini.
    Terlepas ada yang suka atau tidak dengan Setiawan Djodi, aku sempat salut saat dia masih lagi punya saham di Lamborghini. Ketika ditanya oleh wartawan kenapa tidak memasukkan Lamborghini ke Indonesia, ia menolaknya dengan alasan tidak manusiawi menjual Lamborghini di Indonesia.
    Aku setuju. Soalnya adalah: yang kaya memang bisa sangat kaya di Indonesia. Tapi yang miskin, miskinnya di luar batas nalar yang bisa kita bayangkan.

  9. iJul says:

    Yang lebih sedih sebenarnya adalah semua persoalan yang ingin kita bantu pecahkan -sebisa kita- ujung-ujungnya kemiskinan juga. Anak-anak miskin tinggal di daerah bahaya (dekat pembuangan sampah, rel kereta, dll) padahal jelas-jelas akses mereka ke pelayanan kesehatan lebih kecil dari yang mampu. Inverse Law. Dosis-nya dobel. Kalau soal “kok bisa segitu miskin-nya”…. terus terang kadang aku ga mau dengar cerita-cerita karena ga tega dengarnya dan jadi marah pada diri sendiri.. Mending ga usah terlalu dipikir, langsung kerjain aja yuk! :)

    iJuls last blog post..Tough Luck

    DM: Betul, Jul. Aku sepakat bahwa melakukan sesuatu yang kongkrit memang lebih berarti. Tapi kenyataan, Jul, bagaimana pun tetap mesti dikabarkan. Melek saja tidak cukup. Orang mesti tergugah. Tidak hanya berdiri tapi berlari untuk melakukan sesuatu yang kongkrit.
    Tidak bisa sendiri-sendiri, Jul. Mesti ada kesadaran kolektif.
    Kesadaran tidak untuk sebagian orang. Mesti menjadi kesepakatan bersama: bahwa kemiskinan adalah makhluk paling terkutuk.

  10. imoe says:

    waduhhhhh sedih sekali…kita butuh pemimpin bangsa yang pro rakyat miskin….apakah ada diantara kita dari 250 juta jiwa ?

    imoes last blog post..‘PREMAN MASUK KAMPUS JUGA YA…’

    DM: Ada, pasti ada, Bung Imoe. Hanya kita belum lagi tau siapa dan di mana.
    Sebagian orang sudah merasa yakin tau siapa dan di mana. Tapi sialnya: yang berpikir begitu pun banyak.

  11. mascayo says:

    Siapa yang salah ?
    as a common sense tentu yang memberinya pekerjaan, jika benar hanya seribu perak, tidakkah ia melihat bahwa pengojek sepeda itu manusia ?
    ah .. tak enak hati membiarkan yang miskin semakin miskin sementara saya hanya bisa melihat dan tak bisa berbuat apa-apa ..

    DM: Yang memberi upah seribu perak hanyalah satu dari sekian banyak mata rantai kehidupan ekonomi negeri ini, Mas Cayo. Meski demikian, tetap saja tak manusiawi.

  12. catra says:

    sungguh ironi, ketika pak urip menego dari 6 minta ke tujuh (milyar), dilakukan hanya dengan bercanda dan tertawa. ketika artalyta menawar uang dengan tertawa cekikikan. ketika anggota dewan mendapat cek masing2 50 juta ketika gubernur BI usungannya terpilih ketika itu.
    sedangkan disisi lain 1000 perak sungguh berharga, 4000 perak penghasilan seseorang sehari-hari mereka.
    jadi kita kaya atau miskin ya

    DM: Jadi kita kaya atau miskin? Itulah kenapa aku bertanya seperti itu, Cat. Dan ketika kita melihat kenyataan yang kau sodorkan di komentarmu, aku menjadi tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Ironi bukan?

  13. Tatanannya yang salah.
    Entahlah bagaimana membetulkannya yang pasti tak bisa mudah dan membutuhkan hil-hil yang hampir mustahil yang harus dilakukan.

    Tapi dengan bantuan Tuhan mana ada yang mustahil sih sebenernya ?

    Donny Verdians last blog post..Satu Hal yang Tak Pernah Mati

    DM: Kalau gitu, gimana, Don? Revolusi kita? Ah, ongkos revolusi terlampau mahal ya, Don.
    Meski kalau hanya termanggu-manggu pada kenyataan yang ada, tanpa berani membuat kenyataan baru, lebih baik bersila menadahkan tangan saja di pintu candi. Apa bedanya. Ya toh?

  14. Pingback: Antara Uang dan Kredibilitas

  15. genthokelir says:

    nah sekarang baru komentar kemarin cuman lirik pake gprs
    sebenarnya saya bingun apakah salah menerima uang seribu maksudnya menentukan tarifnya yang tak sebanding dengan resikonya yah atau mungkin bukan karena miskin uang bangsa kita namun miskin moral itu iya kaliii
    apa sih ruginya kasih uang tips lebih pada tukang ojek ,bajaj ,becak,dlll toh selama bisa berbagi kita kan nggak miskin ya mas

    genthokelirs last blog post..Antara Uang dan Kredibilitas

    DM: Nah! Itu bisa dua-duanya, Mas Totok. Bisa karena tarifnya tak sebanding dengan resikonya, bisa juga karena miskin moral itu sendiri. Nggak manusiawi!
    Yang jelas nggak ada orang jatuh miskin karena berbagi.

  16. reza says:

    kasihan ya orang itu , seandainya semua orang bisa hidup bahagia pasti negeri ini damai :D

    rezas last blog post..Bertapa Di Persembunyian

    DM: Ouw. Kebahagiaan itu berbanding lurus dengan kedamaian ya? Wah…

  17. andalusia says:

    negeri ini gak miskin, cuma yg ngelolanya pada gak punya hati dan akal

    coba jika para pemimpin kita sedikit bisa mandiri dalam mengelola kekayaan negeri ini, dan bukan cuma untuk kepentingan segelintir kelompok, mungkin gak akan ada lagi kisah sedih seperti itu…

    DM: Sedikit bisa mandiri dalam mengelola kekayaan negeri? Wauuuwww… mewah sekali itu.
    Tolong kasih contoh dong, kekayaan apa yang dikelola sendiri oleh negeri ini? Aku nggak tau nih.
    Tolong kasih contoh dong, kekayaan apa yang prosentasenya lebih banyak dinikmati negeri ini secara luas? Aku nggak tau nih.

  18. prameswari says:

    kita mulai dengan saling ‘berbagi’ ya….
    kata kerja yang keliatannya mudah tapi ternyata susah dilaksanakan…
    tapi jika semua orang mau berbagi….
    tak akan ada orang susah…

    mmm…pemerintahnya juga
    sistem sosial kita sesuai dengan pasal 34 UUD 1945 musti dikelola betul2…
    gimana mas?

    DM: Kata kerja itu sebetulnya tidak susah untuk dilakukan. Mudah kok. Sangat mudah.
    Persoalannya bukan susah atau tidak susah. Tapi mau atau tidak mau. Itu saja.
    Banyak orang bisa, tapi tidak banyak orang mau.
    #
    Pasal 34 UUD ’45? Haih… Mimpi!

  19. prameswari says:

    Ada satu sistem yang ade amati belum bekerja optimal
    yaitu sistem asuransi
    baik untuk kesehatan maupun untuk kesejahteraan sosial.
    di negara2 maju yang sistem asuransinya berkembang, masyarakatnya dapat mendapatkan pelayanan sosial dan kesehatan secara layak…
    artinya sistem itu bisa mendukung pemerintah dalam pengentasan kemiskinan
    mmm…harus ada andil pemerintah lagi untuk mensukseskan asuransi sebagai salah satu prioritas untuk kesejahteraaan masy…
    ya kan mas?

    DM: Asuransi memang punya potensi besar.
    Sebesar Lehman Brothers.

  20. rifqi says:

    saya ga bisa komentar banyak. tapi disini pentingnya kita mencari pemimpin yang bener…dan itu susah sekali. sangat susah. sementara Kompas hari ini membahas masalah politik kekeluargaan, apa bedanya mereka2 dengan Pak Harto dan Golkar jaman dulu? podho wae…

    juga, kita harus banyak2 berbagi dan melembutkan hati. banyak cara untuk itu.

    DM: Melembutkan hati? Aih! Kamu menemukan kalimat yang indah, Rif. Melembutkan hati. Olala…

  21. Lala says:

    Hai, DM

    Bukan karena saya emang kagum sama Mbak Tanti, makanya saya jadi setuju dengan pendapatnya.. :)
    Tapi memang, ukuran masing-masing orang itu tidak sama. Belum tentu nilai seribu itu sangat kecil dan tidak bisa menjadi apa-apa buat hidup si Pengojek Sepeda. Bisa jadi itu sudah cukup. Coba kamu tanya sama dia, DM, baru nanti kita komentarin lagi.. ^_^

    Oh ya,
    kemarin saya lihat Oprah di Metro. Seorang janda dengan empat anak yang ditinggal mati suaminya yang bunuh diri. Si suami meninggalkan hutang yang gila-gilaan sementara si Janda tidak berpenghasilan sama sekali. Bayangkan, dia harus membayar cicilan minimum perbukan (at least) 9ribu sekian dollar Amerika! WOW!

    Jalan keluarnya, dibantu dengan Ahli Keuangan ternama Amerika, seluruh keluarga (dari pihak suami juga) berniat membantu. Mulai dari memberikan sebagian masakan setiap hari, membantu menjaga anak-anak, bahkan ada yang dengan rela menyumbang seribu dolar setiap bulannya! Again… WOW!

    Lantas saya jadi ingat…
    Memang kemiskinan adalah tanggungjawab masing-masing orang…
    Tapi alangkah indahnya kalau kita bisa membantu mereka.
    Tidak harus dengan uang…
    tapi dengan berbuat baik, seperti yang dibilang oleh salah satu keponakan si Janda: “Aku nggak punya uang banyak… tapi aku bisa membantu menjaga anak-anakmu kalau kamu sedang bekerja…”
    Simpel, but sweet, you think? :)

    Lalas last blog post..telepon yang berdering

    DM: Nah, karena kamu kagum pada mbak Tanti. Dan karena komentarmu setuju serta sebangun dengannya, maka balasan komentarku atas komentarmu bisa dibaca di balasan komentarku pada mbak Tanti ya… Wokeh?
    #
    Cerita Oprah-mu menyentuh.

  22. Endah says:

    Astagfirullah, Oom kamu tuh tega banget cuma ngasi seribu perak… eling eling…
    itu cape nariknya.. beli bakwan aja cuma dapet 2. Dasar pelit…

    Endahs last blog post..Sweeney Todd vs Johnny Andrean

    DM: …

  23. Yulis says:

    Saya tidak bisa berkomentar mas DM… :( turut prihatin saja sepertinya saya ini manusia yang paling lemah imannya, karena tidak bisa berbuat lebih dari sekedar prihatin. thanks

    Yuliss last blog post..SALAH TARUH JADI FITNAH Si GUNDUL

    DM: Jangan merasa dan berkata begitu, Mbak Yulis… Masih begitu banyak yang dapat kita lakukan kok.

  24. icha says:

    sudah………………

    ichas last blog post..Jendela Kecil

    DM: Oya? Kenapa bisa begitu, anak-anaaakkk…………

  25. wahyu says:

    memang cari uang di kota lebih mudah. di daerah jakarta utara dekat ancol masih banyak para ojek sepeda. tarif rata-rata 3 rb. mungkin kalau agak jauh (3 km) tarifnya 5 rb. penghasilan perhari sekitar 30 – 50 rb.
    tapi ya itu. pengeluaran juga lebih besar dibanding di daerah.

    nice site..

    wahyus last blog post..Seperti apa bunga seroja??

    DM: Betul Mas. Tapi cobalah lihat apa yang dibawa si bapak itu di foto di atas. Dia tak sekadar mengojekkan sepedanya kan.

  26. shierly says:

    Rasanya sering sekali melihat dan membaca hal2 yang mengharukan seperti itu, bahkan sudah menjadi konsumsi sehari2.
    Kita memang tidak bisa menyalahkan para imigran dari desa untuk datang ke kota jakarta mengadu nasib, bisa dibayangkan kalau ojek sepeda itu narik ojeknya di jakarta?? minimal yang dia minta pasti 5000 – 10000. Saya sering naik ojek sepeda di daerah kota tua, untuk manusia sekecil saya dan jarak yang hanya 1km itu saya diharuskan merogoh kocek 7000 rupiah…

    Sebenarnya siapa yang harus disalahkan??? tidak adil rasanya kalau kita hanya menyalahkan pemerintah untuk hal2 seperti ini. Apa yang sudah kita lakukan untuk saudara2 kita yang seperti mereka??
    kalau kita hanya terdiam dan tidak bisa menjawab, apa kita masih pantas menyalahkan orang lain???
    waktunya untuk bertindak, sekecil apapun usaha kita untuk membantu para saudara kita akan berarti banyak bagi mereka… :)

    Cheerz

    shierlys last blog post..Hair trimming day :)

    DM: Ya, memang tak adil kalau semata menyalahkan pemerintah. Dan pemerintah memang bukan tempat melemparkan kesahalahan. Hanya saja pemerintah memang yang punya otoritas mengelola negara beserta isinya.

  27. kemiskinan itu bener2 ada dan tampak di depan mata, mas daniel. mereka yang hidup terlunta-lunta semacam itu seharusnya mendapatkan jaminan sosial dri pemerintah sehingga mereka tak terlalu tenggelam dam kesusahan dan derita hidup berkepanjangan. sungguh, kemiskinan seharusnya menjadi “mush bersama” yang mesti diperangi.

    sawali tuhusetyas last blog post..Mengapa Guru Mesti Ngeblog?

    DM: Ya, musuh bersama, Pak Sawali. Jadi teringat pada Khalifah Ali yang berkata, “Seandainya kemiskinan itu adalah seorang makhluk, niscaya sudah kubunuh”.

  28. Yari NK says:

    Hmmmm….. terlalu banyak penduduk juga merupakan faktor yang menyebabkan negara ini masuk ke dalam jurang kemiskinan…. tidak seimbang dengan pertumbuhan kualitas SDM dan juga lapangan kerja. Sungguh masalah klasik…….

    Yari NKs last blog post..Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa

    DM: Betul, Pak Yari. Indonesia ini begitu kompleks. Wilayahnya luas, penduduknya banyak. Namun amunisi untuk mendukung sebagai negara yang besar masih terlunta-lunta. Yang ada adalah ketikdaseimbangan.

  29. Negerinya ngga begitu miskin. PDB nya aja nomor 20 sedunia. Tapi begitu dibagi jumlah penduduk yang nomor 4 sedunia, jadi aja PDB per kapitanya nomor 115. Kalo kayak gitu ya ada yang dapat banyak sekali dan ada juga yang dapat sedikit sekali.
    Harus digimanain tuh? Digimanain uangnya ya terserah yang punya uang deh. Kalo yang agama Islam ada yang namanya zakat. Dari pemerintah juga ada yang namanya pajak. Seharusnya sih bisa jadi solusi buat mengurangi jurang antara yang dapat banyak dengan yang dapat sedikit.
    Akhirnya jadi tolonglah diri sendiri, kalau bisa tolonglah orang lain. Ngga bisa mengharapkan orang lain, ya harapkan saja diri sendiri. Mudah-mudahan bisa jadi jalan rejeki buat orang lain sembari kita pun tidak kekurangan rejeki.

    Iwan Awaludins last blog post..Sakratul Maut

    DM: Wah, data yang menarik, Mas. Secara PDB nomor 20 dunia, tapi jumlah penduduknya nomor 4 dunia. Betapa kompleksnya negeri ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>