penganyamkata.net
current   |   rss

Sudah Sebegitu Miskinkah Negeri Ini?

Published October 18, 2008

Sulitkah menjawab pertanyaan judul di atas? Rasanya makin absurd saja. Di satu sisi kemiskinan nyata-nyata di depan mata. Untuk sebagian orang mendapatkan uang Rp10 ribu sehari bisa jadi sulitnya minta ampun. Tapi bagi anggota legislatif, juga eksekutif, yang gajinya puluhan juta sebulan (gaji saja!), mengeluarkan uang Rp10 ribu barangkali sembari tertawa saja.

Pagi ini aku mesti terhenyak ketika membuka Kompas edisi Sabtu 18 Oktober 2008. Di halaman 23 terpampang sebuah foto berita tentang ojek sepeda. Yang membuat terhenyak adalah apa yang tertulis di caption foto tersebut:

Seorang pengojek sepeda di Pasar Raya Padang mendorong kendaraannya karena muatan terlalu berat, Jum’at (17/10). Ia hanya mendapat upah Rp1.000. Sementara itu, kehilangan atau kerusakan barang selama pengangkutan menjadi tanggung jawab pengojek. Ikan teri dalam plastik yang sedang ia angkut itu harganya Rp600.000.

Wow!! Seribu perak untuk jasa angkut seperti itu! Memang di caption itu tidak disebutkan jarak angkutnya. Namun jika mengingat tenaga yang dikeluarkan serta risiko pengangkutan yang mesti menjadi tanggung jawabnya, rasanya gila juga.

Seribu perak, bayangkan! Seribu perak!! Sebotol teh dingin pun rasanya tak dapat. Seharga kencing di toilet umum saja. Sementara indent mobil keluaran terbaru di dealer daftarnya minta ampun panjangnya. Sampai berbulan-bulan.

Siapa yang mesti disalahkan? Orang yang memberi upah? Ia yang mau saja menerima upah seribu perak? Atau siapa?

Sudah sebegitu miskinkah negeri ini? Ada yang bisa menjawabnya?

Aku belum bisa menjawabnya.

18 Oktober 2008 | 09.17 wib

Foto oleh: Agnes Rita Sulistyawaty
Di-scan dari Kompas, Sabtu 18 Oktober 2008.