Mayat Hidup

Gairah kerja adalah pertanda daya hidup; dan selama orang tidak suka bekerja sebenarnya ia sedang berjabatan tangan dengan maut (Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca, hal. 460)

Sebetulnya ia sudah mati sejak tahun 2005. Hanya keajaiban semata yang membuatnya masih tampak hidup. Paling tidak: terkesan hidup. Padahal sejatinya, ia sudah lagi mati tak bernyawa. Tak berhasrat. Mati dan tak punya inisiatif lagi.

Apa mau dikata, manusia terkadang kerap tak menyadari bahwa dirinya masih lagi bernafas di tengah ladang kehidupan atau sudah mengabu diterbangkan angin selatan. Tak banyak orang yang menyadari hal itu.

Ada yang begitu merasa hidup. Bangun pagi dengan bersenang hati, dan dengan kobar melantangkan semangat: “Hei dunia, ini aku!”. Di sisi lain, ada yang merasa masih hidup, padahal sudah mati sejak beberapa tahun silam. Mati rasa, mati daya. Sisanya adalah jalan tengah. Jalan di mana orang-orang yang lalu lalang di sana menyadari betul untuk apa mereka hidup dan suatu saat ia pun bakal mati.

Namun begitulah ia kerap kulihat di teras masjid setiap sehabis sholat siang. Ia selalu termenung di sana. Berangin-angin sesudah jam makan. Yang membuatku terkadang berpikir: apa yang ia pikirkan. Jadinya aku dan dia sama-sama berpikir. Sialan!

Sekilas ia tampak seperti manusia kebanyakan. Normal-normal saja. Pakaiannya bersih, janggut dan kumisnya terpangkas rapi. Sepatunya mungkin dari model lama, tapi penampilannya jauh dari memprihatinkan. Pola hidupnya sehat. Punya pekerjaan tetap. Bercinta dengan istri seminggu tiga kali. Dan telah lagi memiliki dua butir kepala bocah yang menyenangkan di rumah. Semua tampak normal. Tapi ia selalu duduk berpikir, termenung di teras masjid itu setiap siang.

“Boleh ikut duduk?” sapaku tiba-tiba.
“Eh, Mas? Silahkan. Silahkan.” ia tersenyum kaku.
“Sedang apa?”
“Ah, sedang santai aja, Mas.”
“Santai yah. Tapi kuperhatikan kamu selalu berpikir.”
“Eh? Ehm, nggak kok, Mas.”
“Kenapa…”
“Hmmmfffhhh… entahlah, Mas…”
“Entahlah bagaimana?”
“Saya ini seperti mayat hidup saja, Mas, rasanya.”
“Mayat hidup?”
“Ya. Mestinya sudah sejak tiga tahun lalu saya mati.”
“Hah?! Mati?!”
“Ya, Mas. Tapi tetap saja begini. Kerja bertahun-tahun. Bangun pagi, lekas-lekas berangkat ke kantor pada jam yang sama, begitu pun pulang pada jam yang sama pula. Sampai di rumah, ketemu anak istri, hingga keesokan harinya lagi. Terus seperti itu. Bertahun-tahun, Mas. Bertahun-tahun. Karir biasa saja, gaji pun seperti hidup di neraka.”
“Hei… kenapa begitu bicaramu. Kamu seperti tidak pernah bersyukur.”
“Sorry, Mas. Tapi memang begitu kenyataannya. Karir saya mentok. Saya melakukan sesuatu yang nyaris sama selama bertahun-tahun. Saya hampir lupa: apa saya masih punya cita-cita. Rasanya sudah tak mungkin.”
“Hmmm…”
“Pesimis ya, Mas? Mungkin. Tapi apa yang masih mungkin saya lakukan. Semua sudah terpola selama bertahun-tahun. Saya ini sudah mati sebetulnya.”
“Kau tak punya hobi? Sahabat dekat? Teman berkelakar barangkali?”
“Ah, semua sudah tersita dengan pekerjaan, Mas. Kalau ada keluangan waktu, pasti sudah letih. Ironisnya, pekerjaanku pun begitu-begitu saja. Ingin mati saja rasanya.”
“Hati-hati kalau bicara. Istri dan anakmu sayang padamu kan.”
“Hanya itu yang masih membuat saya bertahan, Mas. Selebihnya saya hanya menjalani kehidupan yang hampa.”
“Kau mesti banyak bersyukur, Kawan.”
“Lantas apa, Mas? Bertahun-tahun saya pun berdoa pada Tuhan, tapi penghidupanku pun tetap begini-begini saja. Tak ada perubahan.”
“Hei, Kau sinis pada Tuhan itu namanya. Tuhan takkan mengubah hidupmu kalau bukan kamu sendiri yang berusaha mengubahnya. Tak ada yang jatuh dari langit. Semua mesti diusahakan.”
“Ah, sok betul bicara Mas ini. Saya bukan perlu nasihat, Mas. Saya hanya ingin semua ini berakhir. Capek saya. Letih. Begini-begini terus hidup saya.”
“Apa kamu sudah siap mati? Kok dari tadi yang dibicarakan soal mati terus.”
“Mau apa lagi, Mas? Mau apa lagi?”
“Keluargamu?”
“Ah, nggak taulah, Mas. Nggak tau!”
“Hmmm…”
“Lagi pula Mas ini siapa sih? Sok mencampuri hidup saya. Sok perhatian dan memberi nasihat pula. Hidupku bukan urusan Mas.”
“Kalau ternyata hidupmu adalah urusanku, gimana?”
“Hahaha! Nggak usah aneh-aneh, Mas. Memangnya Mas ini siapa, kok ngaku-ngaku hidup saya merupakan urusan Mas.”
“Aku?”
“Ya. Sering saya lihat Mas sholat di sini. Tapi nggak pernah kenal siapa.”
“Aku… Malaikat Pencabut Nyawa.”
“Hah?!!!”

* * *

25 Oktober 2008 | 16.26 wib

This entry was posted in Cerpen. Bookmark the permalink.

34 Responses to Mayat Hidup

  1. marshmallow says:

    jadi ceritanya kamu ini joe black ya, DM?

    aku pernah dengar pernyataan ini entah di mana, lupa. tapi intinya: kalau manusia itu tau betapa sakit kematian, maka tak ada yang meminta mati sebelum waktunya.

    work is love made visible, isn’t it, DM?
    hidup berarti bekerja. dan itu adalah pengejawantahan rasa cinta. hmm…

    marshmallows last blog post..Sindrom Imposter dan Bias Gender

    DM: Joe Black? Ya nggaklah… Aku tetap saja tukang rawi. Tukang anyam keliling (keliling kampung. Kampoeng Blagu! Hehe.).
    Aku sebagai kata ganti orang pertama di situ ya seolah si malaikat itu sendiri. Bukan aku si perawi cerita.
    #
    Rasa mati? Ih, sakit. Sumprit sakit!
    #
    Yup. Bekerja adalah cinta yang mengejawantah. Setuju toh?

  2. edratna says:

    Sindiran yang tepat, karena hidup rutin dari pagi sampai malam, dia udah merasa bosan…padahal kalau didatangi malaikat pencabut nyawa, belum tentu siap juga.

    Sebetulnya banyak orang yang merasa seperti itu, bekerja ya hanya bekerja, merasa begitu-begitu saja, gaji tak naik dsb nya…..tapi dia tak pernah memahami dirinya sendiri…bagaimana pendapat orang lain terhadap dirinya, betulkah pekerjaannya memuaskan? Dan kenapa gaji tak naik? Apa memang karena perusahaan tempatnya bekerja sulit berkembang….intinya, kalau orang itu sendiri tak bisa menghargai diri sendiri bagaimana atasan atau lingkungan dapat menilai dia telah bekerja baik.

    Saya ingat cerita mantan bos, bagaimana memilih seorang yang akan bekerja sebagai pelayan masyarakat di unit mikro. Yang penting bukan S1, SMA aja cukup, tapi memilih bahwa orang itu mencintai pekerjaannya, menyenangi lingkungan masyarakat dimana dia tinggal, dan tak pernah ingin pindah….seperti kalau kita dulu pulang kampung, masih ketemu pak pos pengantar surat yang sama (saat itu belum zaman sms), yang selalu tersenyum cerah mengantar surat dari rumah ke rumah, betapa ikut gembiranya dia melihat orang yang didatangi mendapat surat atau kabar dari keluarganya di luar kota…yahh orang tipe pekerja seperti itulah yang kita perlukan.

    (sorry kok jadi panjang)….

    edratnas last blog post..Komunikasi, banyak caranya

    DM: Betul Ibu. Cerita di atas memang sesuatu yang kerap kulihat di sekitar kita juga. Begitu banyak orang terjebak dengan rutinitas yang tanpa ia sadari menjadi kuburan bagi dirinya yang sebetulnya masih lagi hidup dan punya banyak kesempatan.
    #
    Rutinitas baik-baik saja. Karena rutinitas membentuk karakter. Seperti halnya produktivitas. Membentuk karakter manusia. Tapi manusia tetap mesti berkembang. Hidup di dalamnya. Tidak stagnan apalagi mati.
    #
    Cerita di atas cerita sederhana saja. Aku hanya ingin berbagi cerita agar manusia tidak menyerah terhadap hidupnya. Coba kalau manusia tau tanggal mati, pasti dia berani berbuat apa saja yang terbaik untuk hidupnya. Soalnya adalah kita tidak pernah tau tanggal mati. Lantas: beranikah kita tetap berbuat yang terbaik dalam hidup kita? Soal logika berpikir saja. Sederhana saja bukan?
    #
    Thanx, Bu Enny.

  3. reza says:

    wah kayaknya semangat hidup orang itu sudah luntur . Coba di indo banyak orang yang semangat hidupnya tinggi , pasti indo bakal maju nih :D

    rezas last blog post..Akhirnya ku Bisa !

    DM: Ya. Untuk hal tersebut aku masih punya impian terhadap nation and character building-nya Soekarno.
    Telat? Tidak juga. Usia Indonesia 100 tahun aja belum kok.

  4. imoe says:

    hanya semangat yang bisa tetap bikin orang bertahan mas….memang bener…kalo kita tak ingin berubah, maka tuhan tak akan merubah..pasti tuhan akan bilang…”ngapain” capek-capek ngerubah dia…dia sendiri ogah ngerubah…

    imoes last blog post..“semangatlah anakku (ananda part III)”…..sekuel lanjutan ananda

    DM: Betul, Bung Imoe. Semangat, namun satu hal lagi: impian!
    Semangat memang baik. Tapi semangat tanpa tujuan bisa salah kaprah juga toh? Membabi buta menendang-nendang bola tanpa arah goal adalah sebuah kedunguan, karena tak pernah tahu di mana gawangnya. Adalah perlu menetapkan impian.

  5. malaikat pencabut nyawa? hah! saya sudah pensaran ingin menayksikan respon dan ekspresi si “mayat hidup” begitu mendnegar pernyataan yang keluar dari sang Izrail itu, mas daniel, hehehe … ternyata dialog yang menarik ini terpenggal, haks.. jadi multitafsir nih. memang keluhan si “mayat hidup” tadi cukup beralasan kok, siapa pun orangnya pasti merasa jenuh dengan rutinitas hidup yang itu2 juga. tapi keluhan saja juga tidak cukup. perlu diciptakan ritme hidup yang dinamis agar rutinitas berubah menjadi sesuatu yang indah dan menyenangkan. *walah, kok jadi sok tahu saya*

    sawali tuhusetyas last blog post..Terkena Kutukan Mbah Google

    DM: Hehehe. Sengaja ku-cut di sana, Pak Sawali.
    Multi tafsir? Bisa jadi. Boleh dibawa ke realis atau surealis. Apakah si aku di sana memang malaikat penyabut nyawa beneran, atau seseorang yang hendak menolong nasib orang tersebut keluar dari kubangan “kematian”. Bisa saja.

  6. Elys Welt says:

    tak kira yg suka bertanya terus itu mas Daniel :) jebule …

    Elys Welts last blog post..Pinggir Danau

    DM: Hehehe. Sengaja kukecoh demikian, Mbak Ely. Menggunakan aku sebagai kata ganti orang pertama. Kugiring agar asumsi pembaca mengacu ke aku sebagai penulis cerita tersebut. Jebule, tidak sama sekali, Mbak. Hehe.

  7. nita says:

    akur dg pak sawali: perlu diciptakan ritme hidup yg dinamis. kalo gak berusaha dinamis dari dulupun aku rasanya sudah ikutan jadi zombie:)

    met wiken, panda

    nitas last blog post..PANTUN POLITIK ABAL-ABAL

    DM: Lho? Jadi sekarang sudah bukan zombie? Hehe.
    Ya, setuju, Nit. Terkadang kita memang mesti main nada tinggi, tapi lain waktu main nada rendah juga.
    Terkadang main rock, yang suka blues oke. Tapi bolehlah sesekali memanjakan telinga dengan jazz.
    Dengan begitu ritme hidup kita jadi dinamis.
    #
    Met wiken juga, petani jagung. Hihihi!

  8. icha says:

    berani mati itu biasa
    berani hidup itu luar biasaaaaaaaaa…..

    ichas last blog post..Fly Me To The Moon

    DM: Berani hidup, mesti berani mati. Kalau mau berani mati, mesti berani menyelami rahasia kehidupan.
    Seperti halnya hidup, aku tak ingin mati biasa-biasa saja. Kamu, Cha?

  9. mantan kyai says:

    Astaghfirullah!!! jadi izroil sekarang ngeblog juga toh??? masyaAllah ….
    btw dialog yang kereeeeeeen tuh mas. two thumbs up !!!

    DM: Apa betul aku di sana memang malaikat pencabut nyawa? Hehe.
    Makasih, Mas.

  10. f474r says:

    Blogwalking Sambil Nyari Kenalan
    Salam Dari duitptc.info

    f474rs last blog post..iTrader not working

    DM: Salam hangat dari DM. Terima kasih…

  11. mascayo says:

    himpitan keadaan seringkali membuat seseorang merasa dirinya manusia termalang di dunia , tapi sebaliknya , kehidupan yang teramat menyenangkan tak urung membuat hati manusia membeku maka, … bersilaturahmilah ..

    DM: Itulah jalan tengah, Mas Cayo. Jalan di mana orang-orang yang melaluinya tahu betul takaran hidup secara seimbang.

  12. writer wanna-be says:

    Manusia sering jumawa dengan kematian, selalu menantang maut seakan-akan hidup tak berarti, tak peduli melalui kata-kata atau perbuatan. Tapi giliran benar-benar dihadapkan dengan maut, hilang nyali juga.

    Cerpen yang menarik, Sobat. Mengingatkanku pada tulisanmu yang berjudul “Ketika Kematian Tinggal Sehari”. Aku jadi bertanya-tanya, apa gerangan yang bakal dipikirkan seorang “mayat hidup” bila dihadapkan dengan maut yang menanti esok hari, ya?

    DM: Nah, agar tak jumawa, rasanya tak perlu seseorang terlampau kobar melantangkan diri “Aku ingin menggenggam dunia!” Karena nyatanya hidup di dunia toh ada batasnya.
    #
    “Ketika Kematian Tinggal Sehari”? Aih, tulisan itu.
    Gerangan apa yang bakal dipikirkan seorang “mayat hidup” di saat sepert itu? Nggak tau. Aku hanya tukang rawi. Mungkin jawabannya ada di tulisan “Ketika Kematian Tinggal Sehari” itu.

  13. omoshiroi_ says:

    saya pun akan merasa sangat bosan ketika harus melakukan suatu rutinitas yang hanya itu-itu saja..saya tidak akan berkembang..oleh karena itu dalam hidup harus ada tantangan..membuat hidup lebih berwarna, dan akan meningkatkan kualitas hidup kita..

    Nice post mas, salam kenal..

    omoshiroi_s last blog post..Cover Majalah

    DM: Nah, sudah terjawab dengan sendirinya tuh, Mas. Hehe.
    Thanx. Salam kenal juga…

  14. shierly says:

    Sebelum membaca komentar2 yang dibawah, saya pikir mas DM ini sedang bercanda…ternyata ini adalah cerita kiasan ya? *gubrak*
    maap….maap….
    saya terkadang emank suka lemot :p

    Biasanya manusia akan merasa di zona nyaman bila dihadapkan pada rutinitas yang berkelanjutan terus menerus, dan biasanya bila sudah terjebak di zona nyaman…manusia jarang mau bergerak dan tidak lagi berani untuk mencari tantangan baru.
    Saya termasuk orang yang tidak pernah suka berada di zona nyaman, begitu saya merasa sudah mencapai di titik yang saya impikan…biasanya saya tidak akan berlama2 dan dengan sesegera mungkin mencari tantangan2 baru lainnya, meskipun kecil dan bodoh tetapi setidaknya saya tidak mau terjebak dalam rutinitas dan kenyamanan semu yang bisa berakhir menjadi seperti ‘mayat hidup’ dalam cerita mas DM diatas.

    Mudah2an banyak manusia Indonesia yang bisa mencari motivasi2 baru untuk mengisi dan mewarnai hidup mereka yang semu :)
    Cheerz…

    shierlys last blog post..Ada juga polisi yang baik hati

    DM: Beruntunglah seseorang yang bisa mengelola letak dan waktu zona nyaman bagi dirinya serta mengantisipasinya. Ya, zona nyaman kalau tak waspada betul memang bisa melenakan. Terkadang ia mengintai kita tanpa kita sadari kehadirannya.

  15. Chandra says:

    Yap, harus banyak bersyukur…

    Btw, kok ampe tau jadwal bercinta-nya 3x seminggu…?
    Yang gini-gini ditanyain juga? Aih…

    DM: Yang 3x seminggu itu pun sebetulnya udah males banget dia. Bosan dan jenuh. Haha! Kamu ini!

  16. Chandra says:

    lho bukan tanya jawab beneran ya..kirain…hihihi…

    DM: Iiiihhh… Gimana siiihhh…

  17. Yoga says:

    Jika pekerjaan dan ritme kehidupan mulai terasa hambar dan monoton, tanpa gairah apakah lantas kehidupan menjadi statis? Sehingga diumpamakan PAT seperti berjabat tangan dengan maut. Ah apa iya sebegitunya Niel? ;)

    Yogas last blog post..Menjadi Anak-Anak Kembali

    DM: Oh, yang dimaksud PAT itu orang yang tidak suka bekerja. Berbeda dengan yang kamu tanyakan, Yog.

  18. abeeayang says:

    astaghfirullahal adzim….. :-(

    DM: Kenapa, Kawan…

  19. Rafki RS says:

    Hidup jika tidak memiliki harapan lagi, memang bisa diibaratkan mayat hidup. Luar biasa Mas Daniel.

    DM: Itulah salah satu yang hendak kusampaikan melalui cerita di atas, Pak Rafki…
    Tengkyu.

  20. writer wanna-be says:

    Gerangan apa yang bakal dipikirkan seorang “mayat hidup” di saat sepert itu? Nggak tau. Aku hanya tukang rawi. Mungkin jawabannya ada di tulisan “Ketika Kematian Tinggal Sehari” itu.

    Jadi maksudmu, jawaban siapa yang musti kulongok di situ, Mas Daniel? :lol:

  21. Zulmasri says:

    cerita khas dm, bikin surprise di bagian akhir.

    tapi kadang rutinitas bikin orang jenuh mas. masalahnya segala sesuatu yg dilakukan senantiasa jadi bahan pemikiran. dia lupa untuk menikmatinya.

    mudah-mudahan bukan mas dm yg ngalami. bahaya. soalnya ada tamu yg datang: malaikat!

    Zulmasris last blog post..SEAKAN

    DM: Huehehe. Ini memang bukan cerita tentangku, Mas Zul.

  22. genthokelir says:

    hem unik dan sentilan menarik ,bila kita terjebak literatur dan tersesat kedalam rutinitas kerja tentu kita menjadi ngap dan penat ,apalagi tak bisa memaknai ibadah yang sesungguhnya ,ntuh si dia mayat hidup berarti kan putus asa ya mas DM
    hidup memang berdasar ke inginan kalo keinginan nya musnah ya hidupnya musnah ya mas
    Salam mas DM

    genthokelirs last blog post..Diskriminasi

    DM: Katanya keinginan itu sumber penderitaan, Mas Totok.

  23. Lala says:

    Aku malah kepingin hidup lama DM…
    Tapi dengan umur yang berguna dan bermanfaat, buat aku dan orang-orang lain…. :)

    Lalas last blog post..the strong one

    DM: Sampai umur berapa, lama itu, La?

  24. Yoga says:

    Ah ya betul juga… aku kurang cermat membacanya…
    Pagi Daniel, cerah harimu :D

    Yogas last blog post..Menjadi Anak-Anak Kembali

    DM: Naaahhh…

  25. Yulis says:

    Cerita sedih tetapi menarik, rutinitas terkadang memang bisa membuat manusia seperti robot. Sepertinya hiburan, dan hobby itu sangat penting untuk keseimbangan dalam hidup.

    Waktu terjadi percakapan itu mas DM, lagi dimana ya.. :wink: kok bisa dengar percakapan mereka ya?.. :) thanks

    DM: Aku? Tak jauh dari mereka, Mbak. Mendengarkan sembari mencatat percakapan mereka dengan diam-diam. Hihihi.

  26. Pingback: Pernahkan merasa jenuh dan bosan? «

  27. suhadinet says:

    Saya ingin membuat hidup saya penuh warna, tidak rutin. Saya tak mau jadi mayat hidup!

    suhadinets last blog post..Seperti Pagi-Pagi Sebelumnya Di Puncak Bukit Ini

    DM: Sekali berarti, sudah itu mati, kata Charil Anwar.

  28. Ratna says:

    Ngeblog bikin saya nggak keterusan jadi mayat hidup. Tapi mayat beneran. Eh, hehehe… Bukan. Malah bikin saya ‘hangat dan berdarah’ lagi. :D
    Nice post! DM= Djago Menulis.

    DM: Hangat dan berdarah lagi? Ahuhuuu…

  29. ehem, saya baru saja mendengar cerita istri saya seputar meninggalnya mertua. Jadi kepikiran, apa sih yang sudah saya siapkan untuk mati. Bagaimana ya kalau tiba-tiba malaikat maut sudah datang di depan mata saya. Padahal saya sedang sibuk mikirin urusan dunia. Kalau mendengar cerita orang-orang yang baik, kayaknya mereka itu enak banget meninggalkan dunia ini. Bahkan kalaupun terasa sakit, kayaknya mereka pingin mati dan mati lagi kali ya. Lah kalo saya kayak gimana ya? Siapa yang sudah mendapatkan amal baik dari saya? Siapa yang akan mendoakan saya? Siapa yang mengantarkan saya ke kubur?
    Sedih juga kalo dipikirin. Jadi gimana dong? Ngga usah dipikirin kalo mati mah, sekarang nikmati saja hidupnya. Hidup!

    Iwan Awaludins last blog post..Sakratul Maut

    DM: Setuju, Mas. Mari menikmati hidup dengan mengisinya. Mengisinya.

  30. natazya says:

    hmmm om kalo menurut saya sih wajar kadang orang yang sudah ga ada lagi tujuan dan gairah dalam menjalani hidupnya akan lebih memilih buat mati saja…

    tapi

    yah sebisa mungkin yang harus dihindari yah merasa ga punya tujuan dan kehilangan gairahnya itu dong ah…

    kayanya dalam satu dua masa kalau saja bukan penganut agama pasti tiap orang sudah berkali kali bunuh diri…

    DM: Nah, betapa pentingnya menetapkanya tujuan, Nat…

  31. bisaku says:

    Ketidakberdayaan manusia sebenarnya dalam menghadapi rutinitas, ditambah dengan pemikiran yang bersitegang pada kekurangan dan kekurangan tanpa bisa bersyukur, akhirnya membuat seorang manusia baru sadar bahwa ia memiliki sesuatu yang lebih, tepat disaat dia mau mati …

    *moga bukan aku*

    bisakus last blog post..Cinta Wajib Disampaikan!

    DM: Ya, Mas, bersyukur. Bersyukur memang melegakan jiwa.

  32. Endah says:

    mau dunks dicabut nyawanya…

    Endahs last blog post..Sweeney Todd vs Johnny Andrean

  33. Lala says:

    “Lama itu sampai kapan, La?” tanya DM.

    Hmmm…
    Jadi bertanya-tanya sendiri. Berapa lama ya kira-kira? Emang kamu mau aku temenin sampai berapa lama lagi DM? hihihi.. :)

    Lalas last blog post..And I thank you…

  34. arukta says:

    Nih cerita lumayan buat direnungi untuk hidup ini

    Mungkin ini cerita hidup dan untuk direnungi tapi yang pasti cerita ini sangat Bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>