Jenius adalah satu persen inspirasi dan sembilan puluh sembilan persen keringat. Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras. Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan. (Thomas Alfa Edison)
Dulu, dahulu kala, rasanya aku terlampau keras dalam bersikap. Lamaran pekerjaan yang masuk ke meja kerja, jika statusnya sudah menikah, sudah dengan cepat kusingkirkan. Pikiran negatifku selalu mengatakan: akan mengganggu keleluasaan bekerja! Entah itu laki-laki atau perempuan.
Apa boleh buat, ini semata berangkat dari pengalaman bahwa orang yang sudah menikah rata-rata memiliki keterbatasan waktu karena ada keluarga di rumah. Entah itu mesti pulang cepat, anak tiba-tiba sakit, menemani suami ke dokter, istri sudah terus-terusan menelpon, atau dia sendiri jadi mudah sakit (karena mungkin enak kalau sakit ada yang memanjakan).
Tapi di sisi lain aku kerap terkagum-kagum pada invidivu yang tetap kobar dalam bekerja sementara ia sudah lagi menikah.
“Istrimu nggak pa-pa?” sering aku bertanya seperti itu pada lay outer yang lembur.
“Ouw, dia sudah tau betul bagaimana saya, Pak.”
Atau,
“Suamimu nggak masalah kamu sampai selarut ini?” tanyaku pada seorang editor.
“Oh, itu kenapa dia menikahi saya, Pak.”
Great!
Namun lama-kelamaan sikapmu mulai lebih melunak terhadap hal-hal seperti itu. Apa boleh buat, orang (orang lain) memang mesti menikah dan memiliki keluarga. Sehingga hal-hal seperti itu tak bisa dihindari. Meski kalau diperhatikan, banyak juga perusahaan yang pada awalnya masih menetapkan status lajang tatkala penerimaan karyaawan.
Hari Sabtu lalu ada kejadian yang membuatku terhenyak. Tapi aku jadi kembali belajar. Belajar menghadapi orang. Bagaimana tidak, satu minggu kemarin adalah masa-masa penerimaan lebih dari 10 editor dan 10 lay outer baru di kantor kami. Kami bahkan mesti menyewa lantai baru di sebuah gedung perkantoran karena tidak mungkin menampung puluhan pasukan baru di kantor saat ini.
Setiap hari mesti menerima surat lamaran, menyeleksi, memanggil, mewawancara, mengetes, hingga menerangkan hal yang sama tentang konsep kerja perusahaan. Setiap hari menghadapi berbagai macam orang, dari yang paling berpengalaman, paling cantik, hingga yang paling menggelikan. Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman bekerja berbeda-beda.
Bak digerayangi ribuan semut di punggungku ketika tiba-tiba seorang editor yang baru saja diterima dan baru bekerja selama dua hari menyatakan hendak mengundurkan diri!
Ia masuk ke ruanganku, berdiri di depan mejaku, bertanya ini itu tentang teknis editan buku yang sedang ia kerjakan. Tiba-tiba:
“Satu lagi, Pak,”
“Apa itu?”
“Duh, gimana ya. Gini, Pak. Emh, saya,saya mau mengundurkan diri, Pak.”
“Haih?!”
“Iya, Pak. Tadinya mau ngomong kemarin, tapi kok rasanya baru mungkin sekarang.”
“Kenapa?” tanyaku pura-pura menutupi kekagetanku. Baru bekerja dua hari. Bayangkan! “Ada masalah?”
“Oh nggak. Nggak, Pak. Jujur saya sudah mulai kerasan di sini. Suasana kerjanya fun. Tidak kaku. Tapi…”
“Tapi?”
“Suami saya…” ia menyebutkan sebuah perusaan pertambangkan terkenal di Indonesia. “Meminta saya segera berangkat dengan anak saya, menyusul dia.”
“Kenapa tiba-tiba sekali?”
“Sebetulnya sudah lama ia ingin saya tinggal bersama dia saja di sana. Tapi karena karena bayi kami belum cukup usia, jadi saya tunda-tunda.”
“Lalu kenapa kemarin apply kemari kalau hal ini memang sudah diwacanakan?”
“Itulah, Pak. Tadinya saya pikir saya masih ingin tinggal di Bandung. Setelah keluar dari tempat kerja lama, lantas mengurus anak, saya ingin aktif bekerja lagi. Tapi tiba-tiba kemarin suami saya minta saya segera berangkat ke sana. Sampai ribut segala. Duh, gimana ya. Saya sudah mulai kerasan di sini.”
“Persoalannya bukan kamu sudah mulai kerasan…”
“Iya, saya tahu, Pak.”
“Gimana posisi buku yang sedang kamu edit?”
“Hampir selesai, Pak. Makanya saya buru-buru menyelesaikan hari ini. Biar masuk semua ke lay outer.”
“Saya nggak mau kamu jadi buru-buru.”
“Iya, Pak. Iya.”
Ini dilema. Sesaat aku sempat bingung mesti memutuskan bagaimana. Satu sisi, ini soal profesionalisme. Kantor ini tetap punya aturan main. Tapi di sisi lain aku mesti bisa memahami persoalannya. Namun pekerjaan jelas tidak boleh sampai terganggu. Soalnya adalah: setiap editor sudah memiliki jatah pekerjaan. Kalau satu terganggu, jelas akan merembet pada waktu penyelesaian. Dan untuk mendapatkan editor yang berpengalaman, tidak sama seperti saat kita mencomot ubi rebus yang tersaji mengepul di gerobak tukang bandrek: asal comot.
“Oke gini.” aku sudah mulai bisa menguasai kekagetanku. “Aku ingin buku yang sedang diedit selesai dulu. Aku nggak mau dilimpahkan ke orang lain. Mesti selesai. Soal pengunduran dirimu akan kudiskusikan dengan bagian HRD. Karena gimana pun kantor ini punya aturan main kan…”
“Iya, Pak. Iya.”
“Biar nanti aku yang bicara dengan bagian HRD. Buku itu selesai sampai tuntas, Senin kamu boleh ketemu sama bagian HRD.”
“Saya kejar hari ini, Pak.”
“Aku nggak mau kamu buru-buru.”
“Iya, Pak. Iya.
“Ya sudah…”
“Makasih banyak, Pak. Makasih.”
Setelah ia keluar ruanganku, aku jadi tercenung-cenung sendiri di balik meja kerja. Rupanya begini rupa orang yang sudah menikah. Betapa indahnya pernikahan. Betapa mericuhkan!
Namun jujur aku jadi belajar lagi. Belajar menghadapi orang dengan berbagai macam karakter. Belajar memahami persoalan orang lain. Belajar mengelola masalah yang muncul ke permukaan. Juga belajar: mesti menikah atau tidak. Haha!
Tapi satu hal, inilah dinamika yang tak mungkin dihindari di ranah dunia kerja. Bagaimana menurut Sampeyan? (halah! Kok jadi ikut-ikutan pak Ersis). Punya pengalaman yang serupa?
27 Oktober 2008 | 06.53 wib




yap memeang unik mas DM saya dulu semasa kerja juga harus dengan berat meninggalkan anak istri atau keluarga untuk mengembangkan karier serta harus rela tidak bersama dengan keluarga dalam jangka waktu yang cukup lama ,disatu sisi memang muncul pertanyaan buat apa menikah kalo nyuci ,tidur,makan tetep sendiri, namun satu sisi lagi emangnya cukup sebuah keluarga hanya ditungguin setiap hari hahahah lama lama nggak makan kali ya mas
jadi saya berpikir yah memang harus berkorban salah satu mengalah toh untuk kebersamaan dan cita cita bersama ,
giliran sudah memiliki karyawan saya melihat karyawan saya baru menikah beberapa bulan dia minta undur diri karena harus pulang kedaerah sebab ke inginan istrinya ,saya awalnya agak bingung melihat paket kerjaan yang sedang berjalan tentu banyak hal yang harus di kondisikan karena dia mundur ,ya memang hak mereka tapi saya juga bingun kenapa orang kadang susah memilah antara profesi dan kesenangan, toh suatu ketika juga bakal bersama ya ….
tapi saya juga nggak memaksa orang itu seperti saya ,walaupun saya ceritakan runtut sejarahnya saya jadi begini dulu juga susah harus jauh dari anak istri
tapi gemana lagi ya mas DM manusiawi sekali sih cuman mestinya nggak mendadak ,karena saya sendiri mempersiapkan untuk undur diri dulu selama 6 bulan dan ada masa transisi juga pertanggung jawabanya sampai setahun nah akhirnya saya juga masih memiliki ikatan baik dengan perusahaan yang lama dan akhirnya bos lama saya mengajak kerja sama hehehe tapi dah sama sama bos kikikiki
salam kepanjangan kali yayayayyaya
genthokelirs last blog post..Diskriminasi
Eh DM,
Jadi kamu sudah putuskan: mesti menikah atau tidak?
Salam buat Kekasihmu itu ya DM…
Sudah, nggak usah pake lama-lama….
(komentar nggak nyambung nih.. ntar kalau udah dapet inspirasi, baru balik ke sini lagi… hihihi)
Selamat Pagi, DM!
Have a great day!
Lalas last blog post..the strong one
Daniel, itu manusiawi sekali, aku bisa merasakan kekagetanmu… woo baru dua hari bekerja lantas minta mengundurkan diri ditengah-tengah proyek Roro Jonggrangmu, beruntung (halah), ia masih punya itikad baik untuk menuntaskan pekerjaannya… Memang begitulah dalam berkeluarga (sok teu ya), meski aku belum merasakan punya keluarga sendiri, setidaknya dulu ketika bekerja dan tinggal serumah dengan orang tua, aku juga punya kewajiban (tuntutan?) untuk memikirkan beliau. walaupun kami semua mandiri, masing-masing bekerja dan punya aktivitas sendiri tak urung terkadang aku juga harus ijin untuk mengantar Ibu ke Rumah Sakit misalnya, atau menyempatkan ke kantor pajak mengurus pembatalan NPWP Ayahku misalnya. Terkadang ribet jika bentrok dengan jadwal kegiatan yang penting, tapi jika semua terselesaikan dengan baik, gembiranya tak tanggung-tanggung. Ketika sekarang soliter, aku memang hanya memikirkan diriku sendiri, aku terbebas dari tetek bengek urusan rumah orang tuaku. Di kantor kami, sebagian besar staff dituntut bepergiaan ke luar kota, kerap malah, kadang cuma dua tiga hari, tapi ada juga yang minimal dua minggu. Hanya sedikit yang lajang dikantorku, termasuk aku. Mungkin karena dari awal keluarga masing-masing sudah tahu, bagaimana pekerjaan suami-suaminya (disini perempuan minoritas), jadi tak pernah terdengar mereka mengeluh ada istri-istri atau anak yang protes. Selain itu founder kami menekankan kepada setiap karyawan bahwa Family First!, sehingga makin tenang rasanya dalam bekerja.
Jika kemudian kamu jadi berpikir mesti menikah atau tidak? Hehehe jangan sampai hal seperti ini jadi alasan, terlalu menyedihkan sebagai manusia.
Yogas last blog post..Menjadi Anak-Anak Kembali
Itulah… =))
iJuls last blog post..7 facts about ME
Alasanmu tak menikah apa memang karena itu, Sobat? Jujur saja!
Kau terlalu banyak mengalaskan pekerjaan kulihat.
Kalau setiap perusahaan lebih memprioritaskan orang lajang untuk diterima bekerja, siapa yang bakal memikirkan nasib orang-orang yang berkeluarga, yang notabene punya lebih banyak keperluan karena mengemban tanggung jawab sebagai pencari nafkah? Kau ini!
Lagipula menurutku pernikahan (zaman sekarang lagi) tak akan menghambat karir, kecuali dalam kasus-kasus spesifik seperti contohmu itu, orang sudah lebih mampu menempatkan prioritas. Zaman sulit, cari kerja nggak gampang, Bung. Lagipula orang menikah (terutama laki-laki) akan lebih stabil emosinya dan sebenarnya lebih jarang sakit, wong terawat. (Kau belum menikah, berarti tak terawat? Haha!)
Sudahlah, kubilang juga terima aku jadi editor di tempatmu, kau tak mau.
wah DM, sorry saya nggak tahu mesti komen apa.
saya juga masih kroco, masih kacungnya orang….
belum bisa ngasih komen di sudut pandang njenengan.
eh, tapi bagaimana kalo dibalik…njenengan melihat dari sudut pandang bawahan ?
salam
correct me if i am wrong, tapi rasanya zaman sekarang orang-orang sudah lebih bijaksana menempatkan prioritas. dan justru keberadaan keluarga akan memotivasi seorang pekerja untuk berbuat lebih baik, sebab prestasi itu juga yang akan mempengaruhi kesejahteraan keluarganya pada akhirnya.
contoh yang baik rasanya masih lebih banyak ketimbang contoh yang tidak baik, DM. tapi lagi-lagi kamu kan hanya membuka wacana. jadi kupikir sah-sah saja mengedepankan cerita tentang editor barumu itu.
dan perkara orang menikah jadi lebih punya seribu satu alasan buat less perform, kok rasanya personal sekali ya, DM? tak bisa digeneralisasi opini ini. yang ada kemampuan time management saja kalau menurutku.
bagaimana menurut sampeyan?
marshmallows last blog post..Sindrom Imposter dan Bias Gender
Bagi saya…. menikah apa tidak itu hak azazi seseorang… walaupun tentu saja (menurut saya pribadi) yang menikah lebih baik. Namun, walaupun begitu, seharusnya kantor yang ‘profesional’ tidak membedakan mana yang menikah dan mana yang tidak menikah. Soal yang menikah nanti akan bikin ‘repot’ itu sebenarnya bukanlah sebuah pertimbangan yang profesional. Begitu juga dengan tampang dan orientasi seks, tidak boleh jadi pertimbangan profesional apakah seseorang dapat bekerja atau tidak. Itulah sebabnya CV dan surat lamaran modern Anglo Saxon tidak boleh menyertakan foto, takut foto mempegaruhi pertimbangan obyektif profesional seseorang ksecuali jikalau wajah merupakan syarat penting dalam suatu pekerjaan misalnya sebagai penyiar ataupun sebagai foto model dan lain sebagainya.
Yang paling penting adalah ‘kejujuran’, kenapa kita tidak suka dengan orang yang menikah atau sebaliknya, mengapa kita tidak suka dengan orang yang begini, begitu dan seterusnya. Jikalau keobyektifan kita hilang, kita sendiri terkadang yang merugi, kita menerima seseorang yang secara subyektif sesuai dengan keinginan kita, tetapi secara obyektif sasaran tersebut kurang mengena….. sungguh sayang…….
Yari NKs last blog post..Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa
saya baru punya satu istri. jadi belum terlalu berpengalaman. maaf
hmmm…bagaimana jika disertakan juga pemikiran yang sedikit terbalik dari di atas…bahwa nilai bekerja akan makin lengkap dan berwarna dengan pernikahan.atas nama pernikahan dan membangun keluarga, maka semangat bekerja makin membara. mempersembahkan sesuatu pada bangunan kecil yang diretas berdua agar makin kokoh. menjadi sebuah labuan bagi lelah bekerja yang tak ada putusnya….
meski tak bisa pungkiri ada paradoks juga dalam hal ini, bahwa satu pilihan hidup akan membawa pernik-pernik konsekuensi yang mengikutinya….dalam pilihan menikah…toh memang menikah berarti berani berlabuh meskipun ribuan kapal pesiar memanggil-manggil…..
ini cuma sekadar pilihan….yang tak mungkin memuaskan semua orang…..
ichas last blog post..Sepenggal Memory di Lereng Gunung
Hehehe… ternyata komentarku di atas panjang dan isinya cuma sharing pengalaman sendiri. Aku juga ingat Niel, bahwasanya hampir sebagian besar pria atau perempuan menganggap keluarga adalah motivasi utama untuk bekerja lebih baik, banyak orang besar yang sukses karena didukung oleh keluarganya dan masing-masing menempatkan diri sesuai dengan proporsinya.
Banyak perusahaan besar yang melihat hal ini sebagai benefit dan opportunity untuk menyewa profesional yang berkualitas, bahkan mereka tak segan memfasilitasi profesionalnya agar dua kehidupan mereka saling menunjang, misalnya dengan memberikan cuti kelahiran bagi karyawan wanita dan bahkan karyawan pria yang istrinya melahirkan, menyediakan tempat penitipan bayi di kantor, menyediakan ruang khusus untuk Ibu yang menyusui, sehingga sang bayi bisa menyusul Ibunya dan menyusui di kantor dsb.
Nah mengenai kekhawatiran mengenai keleluasaan kerja, itu juga tergantung pada banyak hal, bisa 3 sks menerangkannya.Time management yang disebutkan Marshmallow itu salah satunya (hei aku setuju dengan pendapatmu Ni), hal yang lain misalnya pendelegasian kerja… yang lainnya.. hehehe kamu lebih tahu aku pikir.
Oh ya Niel, memang untuk posisi tertentu disyaratkan mesti lajang, tapi itu juga nggak selamanya, misalnya di industri perbankan, tapi untuk menjadi lay outer, editor, atau designer ?
Syukur kalau sekarang kamu bisa belajar banyak dari pengalamanmu.
*makin panjang deh komentarku…
*
Yogas last blog post..Menjadi Anak-Anak Kembali
Dan, pak tri apa kabarnya ya?
Hhmm… rasanya “being professional” itu tidak ditentukan oleh status menikah atau tidak menikah deh. Dalam kadar tertentu pengaruhnya mungkin ada, tetapi menurutku seseorang yang profesional punya kualitas tertentu sehingga mampu menentukan dengan tepat langkah dan prioritas yang diambil, dalam pekerjaannya. Jadi, rasanya kok kurang tepat kalau alasan menikah atau tidak menikah didasarkan pada “hal” tentang pekerjaan, menikah atau tidak lebih merupakan sesuatu yang bersifat personal dan spiritual. Kalau memang profesional, ya profesional aja…
tantis last blog post..The Journey
Daniel,…aduhh..kenapa ya kok aku merasa kayaknya ribet banget.
Entah kenapa, selama ini saya tak merasakan kendala apa-apa, begitu juga teman-temanku, padahal sering turne, bahkan kadang mesti keluar negeri…tapi nyaman aja kok. Yang penting sebetulnya komitmen saat awal pernikahan, kita mau membina hubungan rumah tangga seperti apa, bagaimana pembagiannya dsb nya…dsb nya….Jika sama-sama memahami, nggak ada yang merasa dikorbankan.
Memang konyol, kalau baru 2 hari minta berhenti…entah siapa yang salah, yang jelas sayapun agak heran, kenapa dia mau melamar kerja…kalau akhirnya harus keluar setelah dua hari? Tapi siapa sih yang tahu jalan pikiran orang lain?
Yang jelas saya menikmati bekerja, menikmati kesibukan yang kadang perlu akrobat untuk menyelaraskan antara kehidupan kantor dan keluarga…tapi justru disitulah nikmatnya. Justru kalau tak ada tantangan, rasanya kurang greget….hahaha
Dan, jangan sampai hal tsb mempengaruhi keputusan, apa perlu menikah apa tidak…kan harusnya yang susah cewek, karena yang hamil (pusing, mual dsb nya) dan merasakan kesakitan…hehehe…(bercanda nih). Tapi urusan ini memang susah gampang kok…ntar aja deh japri…..
edratnas last blog post..Ga usah baca koran dulu bu…..
aku ngak bisa komen soal menikah mas. soalnya belum menikah siy…tapi aku mau komen soal ini nih…
BTW, BOLEHKAH AKU NGAJUIN LAMARAN UNTUK GANTIIN STAF YANG MENGUNDURKAN DIRI ITU hehehehehehehehe\
Kok jadi lamaran pekerjaan siy…hehehehe tapi yang jelas…pernikahan bukan jadi batu penghalang….
imoes last blog post..“…Syekh Seksi Bin Ajaib Dari Semarang…(jaman udah edan)”
Menikahlah! Menikahlah! Menikahlah!
Kalaupun 6 tahun lalu itu aku belum menikah, aku tetap akan mengundurkan diri dari kantor. Karena memang nggak cocok jadi orang kantoran.
Aku percaya pada yang namanya kerja keras dan rizki. Alhamdulillah, selama ini pekerjaan datang saja tanpa mempermasalahkan status. Ada sih satu-dua klien yang tanya mengenai keluarga, tapi kalau bukan untuk sopan-santun dalam obrolan, ya jika mereka sudah akrab saja.
Soal menikah atau tidak bagimu, itu PR buat diri sendiri ya..
Err… belum menikah sih saya, tapi rasanya urusan profesionalisme itu diukur dari rasa tanggung jawab orang tersebut bukan dari menikah atau belumnya d om
Staff saya yang belum menikah pun banyak aja alasannya untuk menghindari pekerjaan tertentu….
Saya setuju dengan hampir semua komentar diatas, bahwa status tidak mempunyai pengaruh dalam profesionalisme. Tetapi secara pribadi saya belum memiliki pengalaman karena setelah menikah belum sempat bekerja. InsyaAllah tahun depan, thanks
Yuliss last blog post..GREAT FRIENDS
Saya bekerja hampir setiap hari, bahkan sabtu dan minggu sebelum menikah.
Setelah menikah, berkurang hari minggu tidak bekerja (toh dia tidak ada di rumah juga sabtunya)
Tapi…setelah punya anak satu, saya bekerja 4 hari seminggu. Karena apa? Badan saya juga tidak kuat dipakai terus setiap hari dengan beban yang bertambah. Dan setelah punya anak dua, saya sekarang hanya bekerja 2 hari seminggu. Itu yang keluar rumah…tapi saya masih bisa bekerja di rumah yang mungkin lebih banyak butuh waktu penanganannya. Semua tergantung individu, tapi kalau di Jepang sulit untuk bisa bekerja di kantor yang fixed jam kerjanya kalau punya 2 bayi. Kalau di Indonesia sih mungkin saja, karena ada baby sitter. Semuanya tergantung balance juga, antara keinginan mempertahankan keharmonisan keluarga atau kantor.
Seharusnya pegawai TAHU DIRI, tahu kemampuannya, dan tidak menganggap enteng semua pekerjaan baik pekerjaan sebagai pegawai, atau sebagai ibu RT.
Saya tidak tahu hukum buruh di Indonesia, tapi kalau di Jepang perlu 1 month notice untuk berhenti. Tidak bisa tidak. Kenapa si suami tidak bisa menunggu 1 bulan saja untuk istrinya? Betapa egoisnya dia? Atau kenapa si Ibu tidak bisa meyakinkan suaminya satu bulan saja pasti akan menyusul? Bukan darurat emergency kan kondisinya? Berarti dia menganggap enteng pekerjaan karena tetap melamar pekerjaan itu padahal tahu kondisi yang tidak pasti itu (Maaf kok jadi sewot heheheh. Tapi saya menjunjung peraturan meskipun tidak hendak mengabaikan hati nurani)
tabik
EM
Ikkyu_sans last blog post..Jinx
berdasarkan pengalaman kerja bertahun2 (yg lebih banyak dg orang yg sudah menikah) saya malah merasa betah dan kerasan bekerjasama dg mereka. secara emosi mereka lebih stabil, lebih dewasa, dan mantap menghadapi permasalahan. saya banyak punya teman single yg begitu egois, hostile, dan individualistik –sulit diajak kerjasama dlm tim, tapi hebatnya mereka jadi berubah setelah menikah: emosi lebih stabil, banyak tersenyum, wajah lebih cerah, egonya bisa ditekan sehingga kerja tim jadi lebih menyenangkan dr sebelumnya
nitas last blog post..AH, AKU SUKA SI PEMBERI KOMENTAR
Sukur DM sudah tidak diskriminatif lagi terhadap orang yang telah menikah. Keprofesionalan seseorang tak banyak kaitannya dengan ini. Setelah menikah dengan orang yang sevisi, bekerja saya jadi lebih enak dan mantap.
suhadinets last blog post..Seperti Pagi-Pagi Sebelumnya Di Puncak Bukit Ini
wah, dilematis juga, ya mas daniel. pada satu sisi, tenaga dan pikiran editor baru ini sangat dibutuhkan, bahkan sudah menunjukkan kinerja yang bagus. juga sudah menyingkirkan saingan2 terbaiknya. sayangnya, lagi2 masalah keluarga jadi satu hal yang mesti dipertimbangkan. semoga saja mendapatkan pegganti editor yang lebih yahud. bisa juga yang sudah keluarga, asalkan *walah kok jadi sok tahu saya* masalah domisili tetap perlu juga dijadikan sebagai bahan petimbangan dalam proses reruitmen.
sawali tuhusetyas last blog post..Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2)
Yey! MENIKAH atuh!
Dijamin deh, insyaallah bakal tambah giat bekerja…kalo ngga, siap-siap aja diomelin istri…hahaha…
Sekarang komen yg agak serius…
Kisahku mirip-mirip mba Ikyu a.k.a mba Imel…
Sebelum punya anak aku kerja tiap hari…
Nah, baru 3 bulan kerja aku hamil…
Akhirnya, waktu hamil 7 bulan aku putuskan berenti soalnya kecapean, tp kerjaan bagianku aku beresin dulu, dan aku dah bilang mo berenti dari bbrp bulan sebelumnya…
Sayangnya, karena masa kerjaku lom mencapai 1 th, aku ga dapet maternity leave…
Sekarang anakku dah lahir, bulan depan umurnya 3 bulan, tp karena di sini aku cuma b2 aja ma suamiku, ga ada sodara, baby sitter or pembantu yg bisa bantuin, akhirnya aku putuskan untuk stay di rumah aja dulu, belum tau sampe kapan, yg pasti sampe aku ngrasa siap n tega masukkin anakku ke child care…hehehe…
Jadi ya Mas, seperti kata bu Enny…yang susah alias lebih banyak kendalanya buat kerja tuh cewe… :p
So, kesimpulannya….MENIKAHLAH!
Eh, aku pernah mimpi mas daniel nikah…tapi bajunya pake baju-baju kaya di film kungfu gitu!!!
heuheuheuhe ah… sebalnya kalo cuma gara gara nikah ga bisa melakukan pekerjaan yang dipengenin! mati gaya….
ga tau juga deh om yah kalo ada di posisimu, tapi yang jelas memang kurang pertimbangannya keliatan sekali itu sang pegawai yang ibu muda…
aaaaaaaahhhhhhhhhhhh
tapi kan tetep pengen nikaaaaaaahhhh
tapi kan butuh dan memang pengen kerjaaaaaaaaaaaa
aaaaaaaaaahhhhhhhhh
*mengeluhngeluhtapuguh
natazyas last blog post..Ingin Tertawa
menikah mas. ada banyak ‘keajaiban’ rumah tangga yg akan mas temukan dibandingkan dg hidup membujang.
untuk sementara lupakan telegram putu wijaya, atau cerpen-cerpen bre redana.
dg menikah, hidup lebih nyaman dan indah
Zulmasris last blog post..HADIAH HEADER DARI BABEH
Pernikahan adalah sebuah fitra yang tidak mungkin dihindari. Memang harus diakui bahwa dengan pernikahan terkadang seseorang akan memiliki keterbatasan waktu untuk bekerja di kantor entah dengan berbagai alasan keluarga. tapi seseorang ternyata akan lebih produktif saat bertemu dengan keluarganya terlebih dahulu. Sebagai contoh, rasa jenuh dalam beraktifitas kerja rutin akan segera sirna saat bertemu dengan anak/istri/suami di rumah. dan ketika kembali bekerja layaknya sebuah baterai yang telah ter-charge penuh.
Bagaimana ya
Kalo aku malah ama atasan di suruh segera menikah
Bahkan beliau mau turut serta kena sibuknya
achoeys last blog post..Menyenangkan dan Menenangkan
teman kerjaku dulu rata2 bujangan sih mas, jadi nggak banyak pengalaman dgn mereka yg sudah menikah
Elys Welts last blog post..Danau Biru
ttg pernikahan saya ga bs komentar deh mas…
cm baik pekerjaan maupun pernikahan bkn slg mnghambat
kalo bs ya sejalan….
duh sok bgt ya mas kyk udh dua2na padahal blm
rickys last blog post..Kebangkitan Nasional (EMAS)
Bagi laki2 kayaknya yang menikah lebih bertanggungjawab deh, karena dia sudah punya tanggungan, jadi lebih hati-hati dalam bersikap. Kalau masih bujangan, jika ada masalah dia tak takut2 untuk keluar, mesti tidak pake pesangon. Bagi perempuan, setelah menikah memang lebih repot, apalagi kalau sudah punya anak.
Btw, dulu pernah tinggal di mana di Medan?
Hery Azwans last blog post..Kamus Mini Bahasa Medan
Nikah oom nikaaaah.. udah waktunya tuh…
du du du…
Hidup jomblo, bisa tidur bareng laptop dan berbagai gadget semalam suntuk sampe pagi \:d/\:d/
Endahs last blog post..Sweeney Todd vs Johnny Andrean
Seharusnya tidak perlu didikotomikan antara bekerja dan menikah. Sebab dua2nya merupakan kebutuhan fitrah. Yg lebih penting dipikirkan adalah prioritasnya. Mana yg lebih diutamakan, tanpa berarti mengabaikan yg lain.
Jika seseorang memutuskan untuk menikah, maka dia harus kommit dg tujuan pernikahannya. Pun, jika dia menginginkan tetap bekerja. Maka dia harus menjaga sekuat tenaga bagaimana pekerjaannya tidak sampai “menggoyang” pernikahannya. Sebaliknya juga bagaimana dia tetap berkarya namun rumah tangganya juga tetap harmonis.
Atau jika dia memutuskan untuk berhenti bekerja (sementara atau permanen) demi tuntutan rumah tangga, maka itu lebih baik jika dirasa dia tidak bisa membalance kan dualisme perannya.
Tapi jika memutuskan untuk tidak menikah demi alasan karir……wah sayang sekali.
Berarti dia telah melewatkan satu tahapan hidup yg begitu indah. Saking indahnya, (menurut saya) itu tidak bisa terukur dg karir setinggi apapun.
Jangan2 ketika karir sedang berada di puncak tertingginya, kemudian kita melongok ke bawah betapa sedihnya ternyata kita menemukan kenyataan bahwa saat itu kita tetap sendiri dan kesepian! Betapa menyedihkannya…..:(
editor yah
sy tidak tahu pasti sih detail pekerjaan ini seperti apa, tapi tidak bisakah hal itu dikerjakan secara jarak jauh ?, sekarang zaman internet ……. pekerjaan yg based-nya tulisan bisa di delivery dan dikerjakan secara online dari rumah
so dengan begitu pernikahan ataupun jarak bukan halangan lagi
setujuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu
Endahs last blog post..Annulment or Divorce?