Antara Bekerja dan Pernikahan
Published October 27, 2008
Jenius adalah satu persen inspirasi dan sembilan puluh sembilan persen keringat. Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras. Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan. (Thomas Alfa Edison)
Dulu, dahulu kala, rasanya aku terlampau keras dalam bersikap. Lamaran pekerjaan yang masuk ke meja kerja, jika statusnya sudah menikah, sudah dengan cepat kusingkirkan. Pikiran negatifku selalu mengatakan: akan mengganggu keleluasaan bekerja! Entah itu laki-laki atau perempuan.
Apa boleh buat, ini semata berangkat dari pengalaman bahwa orang yang sudah menikah rata-rata memiliki keterbatasan waktu karena ada keluarga di rumah. Entah itu mesti pulang cepat, anak tiba-tiba sakit, menemani suami ke dokter, istri sudah terus-terusan menelpon, atau dia sendiri jadi mudah sakit (karena mungkin enak kalau sakit ada yang memanjakan).
Tapi di sisi lain aku kerap terkagum-kagum pada invidivu yang tetap kobar dalam bekerja sementara ia sudah lagi menikah.
“Istrimu nggak pa-pa?” sering aku bertanya seperti itu pada lay outer yang lembur.
“Ouw, dia sudah tau betul bagaimana saya, Pak.”
Atau,
“Suamimu nggak masalah kamu sampai selarut ini?” tanyaku pada seorang editor.
“Oh, itu kenapa dia menikahi saya, Pak.”
Great!
Namun lama-kelamaan sikapmu mulai lebih melunak terhadap hal-hal seperti itu. Apa boleh buat, orang (orang lain) memang mesti menikah dan memiliki keluarga. Sehingga hal-hal seperti itu tak bisa dihindari. Meski kalau diperhatikan, banyak juga perusahaan yang pada awalnya masih menetapkan status lajang tatkala penerimaan karyaawan.
Hari Sabtu lalu ada kejadian yang membuatku terhenyak. Tapi aku jadi kembali belajar. Belajar menghadapi orang. Bagaimana tidak, satu minggu kemarin adalah masa-masa penerimaan lebih dari 10 editor dan 10 lay outer baru di kantor kami. Kami bahkan mesti menyewa lantai baru di sebuah gedung perkantoran karena tidak mungkin menampung puluhan pasukan baru di kantor saat ini.
Setiap hari mesti menerima surat lamaran, menyeleksi, memanggil, mewawancara, mengetes, hingga menerangkan hal yang sama tentang konsep kerja perusahaan. Setiap hari menghadapi berbagai macam orang, dari yang paling berpengalaman, paling cantik, hingga yang paling menggelikan. Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman bekerja berbeda-beda.
Bak digerayangi ribuan semut di punggungku ketika tiba-tiba seorang editor yang baru saja diterima dan baru bekerja selama dua hari menyatakan hendak mengundurkan diri!
Ia masuk ke ruanganku, berdiri di depan mejaku, bertanya ini itu tentang teknis editan buku yang sedang ia kerjakan. Tiba-tiba:
“Satu lagi, Pak,”
“Apa itu?”
“Duh, gimana ya. Gini, Pak. Emh, saya,saya mau mengundurkan diri, Pak.”
“Haih?!”
“Iya, Pak. Tadinya mau ngomong kemarin, tapi kok rasanya baru mungkin sekarang.”
“Kenapa?” tanyaku pura-pura menutupi kekagetanku. Baru bekerja dua hari. Bayangkan! “Ada masalah?”
“Oh nggak. Nggak, Pak. Jujur saya sudah mulai kerasan di sini. Suasana kerjanya fun. Tidak kaku. Tapi…”
“Tapi?”
“Suami saya…” ia menyebutkan sebuah perusaan pertambangkan terkenal di Indonesia. “Meminta saya segera berangkat dengan anak saya, menyusul dia.”
“Kenapa tiba-tiba sekali?”
“Sebetulnya sudah lama ia ingin saya tinggal bersama dia saja di sana. Tapi karena karena bayi kami belum cukup usia, jadi saya tunda-tunda.”
“Lalu kenapa kemarin apply kemari kalau hal ini memang sudah diwacanakan?”
“Itulah, Pak. Tadinya saya pikir saya masih ingin tinggal di Bandung. Setelah keluar dari tempat kerja lama, lantas mengurus anak, saya ingin aktif bekerja lagi. Tapi tiba-tiba kemarin suami saya minta saya segera berangkat ke sana. Sampai ribut segala. Duh, gimana ya. Saya sudah mulai kerasan di sini.”
“Persoalannya bukan kamu sudah mulai kerasan…”
“Iya, saya tahu, Pak.”
“Gimana posisi buku yang sedang kamu edit?”
“Hampir selesai, Pak. Makanya saya buru-buru menyelesaikan hari ini. Biar masuk semua ke lay outer.”
“Saya nggak mau kamu jadi buru-buru.”
“Iya, Pak. Iya.”
Ini dilema. Sesaat aku sempat bingung mesti memutuskan bagaimana. Satu sisi, ini soal profesionalisme. Kantor ini tetap punya aturan main. Tapi di sisi lain aku mesti bisa memahami persoalannya. Namun pekerjaan jelas tidak boleh sampai terganggu. Soalnya adalah: setiap editor sudah memiliki jatah pekerjaan. Kalau satu terganggu, jelas akan merembet pada waktu penyelesaian. Dan untuk mendapatkan editor yang berpengalaman, tidak sama seperti saat kita mencomot ubi rebus yang tersaji mengepul di gerobak tukang bandrek: asal comot.
“Oke gini.” aku sudah mulai bisa menguasai kekagetanku. “Aku ingin buku yang sedang diedit selesai dulu. Aku nggak mau dilimpahkan ke orang lain. Mesti selesai. Soal pengunduran dirimu akan kudiskusikan dengan bagian HRD. Karena gimana pun kantor ini punya aturan main kan…”
“Iya, Pak. Iya.”
“Biar nanti aku yang bicara dengan bagian HRD. Buku itu selesai sampai tuntas, Senin kamu boleh ketemu sama bagian HRD.”
“Saya kejar hari ini, Pak.”
“Aku nggak mau kamu buru-buru.”
“Iya, Pak. Iya.
“Ya sudah…”
“Makasih banyak, Pak. Makasih.”
Setelah ia keluar ruanganku, aku jadi tercenung-cenung sendiri di balik meja kerja. Rupanya begini rupa orang yang sudah menikah. Betapa indahnya pernikahan. Betapa mericuhkan!
Namun jujur aku jadi belajar lagi. Belajar menghadapi orang dengan berbagai macam karakter. Belajar memahami persoalan orang lain. Belajar mengelola masalah yang muncul ke permukaan. Juga belajar: mesti menikah atau tidak. Haha!
Tapi satu hal, inilah dinamika yang tak mungkin dihindari di ranah dunia kerja. Bagaimana menurut Sampeyan? (halah! Kok jadi ikut-ikutan pak Ersis). Punya pengalaman yang serupa?
27 Oktober 2008 | 06.53 wib
