Sejatinya tulisan ini adalah merupakan komentarku terhadap sebuah tulisan di mana pemilk blog-nya telah bertandang ke blog-ku dan meninggalkan komentar. Saat berbalas beranjang ke sana dan hendak meninggalkan komentar pula, rupanya aku mendapatkan kesulitan untuk login di tempanya. Sejak pertengahan Oktober hingga saat ini, masih juga belum bisa. Daripada tidak memberikan respon, ada baiknya tulisan tersebut ku-posting di blog sendiri dengan memberikan tautan terhadapnya.

Maka beginilah tulisan yang sejatinya merupakan komentar itu:

Membaca tulisan ini, aku jadi teringat saat SD dulu.

Waktu itu Presiden Soeharto hendak ke Bandung. Salah satu jalan yang hendak dilewati adalah Jalan Merdeka, persis melewati SD-ku. SD Banjarsari.

Guru-guru di sekolah mengharuskan anak-anak membuat bendera kecil di rumah, agar besok saat rombongan presiden lewat, kami diminta berbaris di trotoar depan pagar sekolah, dan melambai-lambaikan bendera menyambut rombongan presiden.

Esok harinya, bukan hanya setangkai bendera yang kubawa, tapi beberapa tangkai sengaja kubuat dan kubawa dari rumah. Karena aku yakin: pasti ada yang tidak bikin dan tidak bawa.

Bendera-bendera itu kujual. Seperti dugaanku: ternyata memang banyak yang beli. Aku girang sekali. Setelah bendera-bendera habis terjual, kusisakan satu untukku sendiri. Kusimpan di bawah meja, di sudut laci.

Setelah istirahat, tidak berapa lama rombongan presiden pun hendak lewat. Seluruh murid diminta segera ke luar kelas, berbaris di trotoar depan pagar sekolah, membawa bendera.

Dengan cepat aku menuju mejaku, merogoh laci di mana aku menyimpan setangkai bendera yang kusisakan untuk diriku sendiri. Tapi apa yang terjadi? Olala!! Ternyata bendera itu telah raib!! Tidak ada!! Kucari kemana-mana, tetap tidak ada! Aku kalut! Sementara panggilan guru-guru sudah makin lantang untuk segera berbaris di trotoar depan sekolah. Rasanya aku geram sekali saat itu.

Akhirnya dengan langkah gontai aku menuju ke sana. Tapi di sana, bukannya memandangi rombongan presiden lewat, melainkan menyaksikan sorak dan tawa kawan-kawanku yang melambai-lambaikan bendera bikinanku. Bendera bikinanku!

Aku hanya tersenyum kecut saat itu. Akhirnya rombongan presiden pun berlalu. Menyisakan sirene yang meraung-raung di kejauhan.

Setelah dewasa, aku suka geli kalau mengingat kejadian itu. Betapa naifnya.

Dan ketika membaca tulisan ini, ingatanku jadi terlempar ke kejadian bodoh puluhan tahun lalu itu.

14 Oktober 2008