Aku, Anak Matahari
Aku kehilangan tangan kiriku sebatas sikut di usia 11 tahun pada Oktober 1974. Setelah itu, Bapak dan Emak mempersiapkanku dengan cinta agar aku bisa menghadapi kehidupan yang keras tanpa merasa rendah diri (Gola Gong)

Orangtua mana yang menginginkan anaknya lahir cacat? Siapa pun di dunia ini tidak ada yang menginginkan mempunyai anak cacat. Semua orangtua ingin anaknya kelak menjadi orang yang berhasil dan berguna di masyarakat. Namun, takdir berbicara lain, siapa pun tak dapat menolaknya.
Begitu lah sepenggal paragraf di cover belakang buku terbaru karya Gola Gong, Aku, Anak Matahari, terbitan Penerbit Semesta (Salamadani), November 2008. Apa yang Gola Gong tulis? Novel kah? Ternyata bukan. Rupanya ia merawi sebuah memoar perjalanan hidupnya. Sebuah memoar pendidikan keluarga di mana peran orangtua sangat mempengaruhi perjalanan hidup seseorang.
Waktu aku SMP, jujur saja, gaya tulisanku bernafaskan Hilman Hariwijaya, pengarang Lupus yang tersohor itu. Apa boleh buat, saat itu Hilman dan Lupus-nya memang sedang berkibar serta sangat mempengaruhi aku dalam menulis.




