Hukum Tidak Tertulis

Jika dua orang sampai bersentuhan satu sama lain, tak dapat diragukan, mereka mempunyai kesamaan. Bagaimana burung akan terbang kalau tidak dengan sesamanya? (Jalaluddin Rumi)

Siapa nyana, di dunia ini ada hukum-hukum yang tidak tertulis, yang (sialnya) terlanjur beranjak menjelma stereotype pada banyak orang. Hukum tidak tertulis memang tidak pernah ditorehkan, apalagi dicanangkan secara legal formal. Namun ironisnya dengan mudah dijadikan rujukan bagi sebagian orang dalam membangun image pada jenis kelamin tertentu.

Dulu terkadang aku kerap berkelakar bahwa ada hukum tidak tertulis bahwa laki-laki wajib bisa main gitar. Entah dari mana asalnya, tapi lelaki yang tidak bisa main gitar adalah satu hal paling menggelikan yang pernah ada di bumi ini. Namanya juga kelakar, sudah barang tentu kelakar itu tidak mendasar dan tidak berkorelasi sama sekali dengan hal apa pun.

Sudah barang tentu, kawan-kawan perempuanku yang kekasih atau suaminya tak bisa menggemulaikan jemarinya pada dawai gitar meradang tak terima. Mereka berprotes bahwa lelaki yang tak bisa main gitar bukanlah suatu aib dalam kehidupan. Itu bisa dimengerti, karena memang tak ada perjanjian baik lisan maupun tulisan antara lelaki dan gitar. Keduanya tetap makhluk yang berbeda.

Itu pun terjadi pada perspektif lelaki dan bola. Apakah betul bahwa lelaki identik dengan sepak bola? Apakah semua lelaki mutlak bisa main bola atau harus gila bola? Apa boleh buat: tak ada kesepakatan antara lelaki dengan sepak bola.

Beberapa hari lalu aku memangkas rambut yang sudah menggondrong. Sudah 15 tahun aku pangkas di sana. 15 tahun! 15 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk mengenal satu sama lain dua pribadi yang berbeda jiwa. Dan selama 15 tahun itu cukup membuatku mafhum apa yang selalu dicerocoskan kedua tukang pangkas tua itu sembari memangkas: melulu sepak bola!

TV selalu memutar pertandingan sepak bola. Dan koran yang dibaca adalah halaman-halaman yang memuat pertandingan demi pertandingan. Rasanya hidup mereka sudah cukup bahagia dengan diselingi pertandingan sepak bola. Namun selama 15 tahun itu, mereka selalu membangun frame bahwa setiap lelaki adalah penyuka bola. Sehingga merasa wajar-wajar saja jika tiba-tiba terlontar pertanyaan:

“Ari peuting saha nu meunang?” (kalau tadi malam siapa yang menang?) tanya pak Endang dalam Sunda sembari menyibak rambutku.

Siapa yang menang? batinku dalam hati. Kenapa juga ditanyakan padaku siapa yang menang? Sebegitu pentingkah pertanyaan itu sehingga ia berani memastikan bahwa ada perjanjian tertulis antara aku yang laki-laki ini dengan makhluk bernama sepak bola? Dalam hati aku hanya tersenyum geli. Tapi di luar hati aku hanya nyengir sebagai tanda peduli. Maka ia pun nyerocos soal AC Milan.

Malam harinya sepulang berpangkas, aku kembali ke kantor. Tak lama seorang lay outer datang, hendak meneruskan pekerjaan. Ketika bertemu, kalimat pertama yang ia sodorkan sebagai salam pembuka adalah: “Tadi Persib gimana, Pak?”

Tadi Persib gimana? Kenapa juga aku mesti tahu bagaimana keadaan Persib? Kesebelasan asal Bandung itu. Sore tadi memang kudengar kawan-kawan di kantor meributkan pertandingan Persib yang tak disiarkan TV. Tidak seru kalau sekadar mendengarkan melalui radio, menurut mereka. Tapi soal Persib bagaimana?

Pertanyaannya hanya kujawab dengan cengiran masygul, bahwa aku tak tahu sama sekali soal bola.

“Oh, Bapak nggak suka bola?” dan aku hanya tersenyum menggeleng.

Ia adalah bukti bangun paling nyata yang telah menyusun kerangka dalam bingkai pikirannya bahwa setiap lelaki mutlak suka bola. Sehingga menurutnya adalah wajar pertanyaan semacam itu dilontarkan begitu saja tanpa mengecek terlebih dahulu apakah seorang lelaki suka bola atau tidak.

Sama halnya dengan perempuan. Apakah perempuan mutlak bisa masak? Dan apakah perempuan mesti berambut panjang? Juga apakah kulit putih adalah salah satu syarat kecantikan? Semua itu nyatanya hanya bangunan cara berpikir yang kadung mengendap di frame banyak orang, yang ironisnya menjelma menjadi patokan dalam memandang jenis kelamin. Bukankah demikian?

Maka, adakah di antara kalian memiliki anggapan-anggapan secara tidak tertulis bahwa lelaki mesti bisa ini-itu. Begitu pun perempuan mesti bisa begini-begitu. Adakah?

Selamat pagi!

1 November 2008 | 02.04 wib

Catatan: Ini adalah tulisan pertama di bulan November 2008. Dan merupakan postingan ke-777 dalam sejarah blog ini (halah!).

This entry was posted in Catatan Harian. Bookmark the permalink.

45 Responses to Hukum Tidak Tertulis

  1. Chandra says:

    Tapi aku sih emang lebih suka cowo yang bisa maen alat musik, dan itu salah satu kriteriaku dalam mencari suami….hehehehe…

    Btw, aku ga putih tapi cantik luoh! (Hueks!).. ^_^

    DM: Cieee… Cieee… Yang punya kriteria lelaki bisa main alat musik.
    Tapi apa dulu nih alat musiknya? Tamborin? Kentongan? Calung? Atau apa? Hihihi.

  2. mantan kyai says:

    sayangnya saya masih memiliki anggapan- itu.
    lelaki harus sunat.
    perempuan harus …. ??? :D

    DM: HAHAHAHA…!!! Dodol!! Ngakak sendiri aku jam 3 pagi begini!

  3. suhadinet says:

    Saya gak pintar main alat musik, malangnya tak suka bola juga. Hu..hu… Laki-laki itu pencari nafkah. Tapi tidak mesti pula di jaman sekarang kan?

    suhadinets last blog post..Lagi-Lagi, Kiriman Buku dari Sang Motivator Menulis: Pak Ersis Warmansyah Abbas

    DM: Aih, jangan dianggap sebagai sebuah kemalangan, Suhu. Kita (kita?) mesti tetap bangga karena tak suka bola. Hidup lelaki tak gemar bola! Hahaha.

  4. Ikkyu_san says:

    saya termasuk orang yang tidak mempunyai anggapan-anggapan secara tidak tertulis bahwa harus gono-gini. Tapi untuk diri sendiri, yang wanita ini, saya menetapkan bahwa harus bisa semua… tidak usah ahli, tapi harus bisa. dan mungkin bukan pada bidang wanita saja…saya harus bisa manjat utk ganti bola lampu, atau harus bisa membetulkan video yang kusut, harus bisa setting audio visual, harus bisa berkebun, harus bisa mencangkul, harus bisa…semua. (bahkan sekarang saya harus bisa ilmu komputer dasar) Lebih yang menyangkut ability–kemampuan praktis, bukan hoby atau kesenangan atau tampak luar ya.

    Apa salahnya berkulit hitam dengan hidung bangir dan bibir tebal?
    Apa salahnya dengan tak suka belanja (bagi wanita) dan tak suka mengendara motor/tidak bisa bersepeda (bagi pria)

    Dan memang ada arus yang besar yang harus dilawan misalnya bagi pria, “Maaf saya tidak suka F1, sepak bola, tinju dsb” dan bagi wanita,”Maaf, saya tidak suka sinetron, gosip artis dan fashion show”…and saya adalah ikan kecil yang biasanya melawan arus itu…hehehhe

    tabik
    EM

    Ikkyu_sans last blog post..Panenan 2 hari

    DM: Wah, ini baru pemikiran mandiri. Tidak tersangkut dengan anggapan-anggapan apa pun yang bertebaran.
    #
    Tapi aku nggak percaya tuh kalimat “ikan kecil yang biasanya melawan arus itu“. Melawan arusnya sih percaya. Percaya banget. Tapi ikan kecil? Kecil? Ah, becanda! Hihihi…

  5. mascayo says:

    sepertinya iya, … diluar bola dan semacamnya, laki-laki harus bisa cari nafkah, perempuan harus bisa masak dirumah … (*tempo doeloe banget yah ? :) )

    mascayos last blog post..Stop Worrying Start living

    DM: Tempo doeloe pun tak apa, Mas. Setiap orang kan punya selera yang cocok bagi masing-masing individu.

  6. piyek says:

    Aku sebenarnya suka cowok yang bisa main gitar & suka nonton bola. Tapi malah dapat pasangan yang gak suka kedua hal tersebut.

    Hukum tak tertulis bagi lelaki ala Piyek:
    Punya kotak peralatan (tools) dan bisa memperbaiki kerusakan2 yang terjadi di rumah. Contoh: kran bocor, kabel setrika yang putus (beneran, dirumahku sering kejadian), ganti bola lampu, sepeda motor mogok, tv rusak, danseterusnyadanseterusnya.

    (Tiba2 terdengar suara menggelegar dari langit: ‘Bu.. Bu.. Kawin sama tukang reparasi aja Bu..’)

    piyeks last blog post..…so why worry, we say*

    DM: Lha? Lalu siapa yang bicara dari langit dengan suara menggelegar itu? Hihihi.

  7. catra says:

    selamat pagi…….
    yup stereotype itu lah yang kerap lebih populer dibandingkan dengan hukum yang tertulis. ada juga yang ngoceh bahwa laki-laki itu harus ngeroko, terkadang banyak juga orang yang gak percaya bahwa saya ini tidak merokok. memangnya wajib lelaki merokok?
    banyak lagi deh hukum dan tradisi aneh yang telah mengakar di masyarakat. dan masyarakat pun terbawa arus

    DM: Selamat malam, Cat.
    Ya, terkadang stereotype memang jadi kesepakatan bersama. Beda dengan styrofoam, Cat.

  8. goenoeng says:

    saya nggak suka bola walopun punya….saya nggak bisa nggitar walopun punya….
    saya malah suka bunga, senang tanaman, bantu istri masak….tapi saya tetep lelaki tulen dan sudah menghasilkan anak dua ! hahaha…..
    tapi saya tetap nggak suka sinetron, nggak mudeng….soalnya nggak ada terjemahannya….
    *eh, yang kalimat terakhir itu ada hubungannya nggak ? salam mas DM :D *

    DM: Hehehe. Minat seseorang terkadang memang menyesuaikan dengan lapangan hidupnya.
    Masih nyambung tuh, Mas. Sinetron Indonesia memang kerap tidak bisa diterjemahkan ke dalam realita kehidupan sehari-hari.

  9. icha says:

    lelaki harus bisa ini itu atau perempuan harus bisa ini itu? ndak ada tuh…bukan soal jenis kelaminnya, tapi soal bakat, kemampuan, minat.

    beda konteks kalo kita bicara peran suami-isteri, kalo bicara di ranah ini, hukum tak tertulis yang berlaku di sebuah rumah tangga bisa jadi rumusan bersama. eh, tapi malah ada tuh sekarang yang bikin-bikin perjanjian tertulis pra nikah segala. isinya tentang perjanjian peran sang suami yang laki-laki harus begini, sang isteri harus begini bla bla bla….

    ichas last blog post..Metamorfosa

    DM: Perjanjian tertulis pra nikah? Hihihi. Nggak kebayang yang seperti itu. Hidup kok di-setting. Dalam arti, nggak perlu tertulis kaleee… Kalau memahami peran dan tanggung jawab kayaknya nggak seribet itu.

  10. bisaku says:

    Saya gak suka nonton bola, saya cuma suka main bola :lol:
    Saya gak suka gitar karena dari dulu mencoba bisa tapi gak bisa-bisa …

    Tapi anehnya saya suka masak, suka membantu Ibu untuk urusan dapur, suka melihat bunga walau gak suk memeliharanya.

    Well, apakah karena itu saya harus dibilang lelaki sableng? :mrgreen:

    bisakus last blog post..Siapakah Sebenarnya Diriku?

    DM: Haih? Lelaki sableng? Tentu saja tidak, Mas. Itu sisi menarik dari seorang lelaki kukira. Banyak kok perempuan yang suka pada lelaki yang lebih jago masak dari dirinya. Lebih seru lagi kalau si lelaki memanjakan perempuan dengan masakan yang paling digemarinya.

  11. nita says:

    bagiku lelaki itu harus putih, rambut lurus, punya mata indah yg selalu berbinar, pintar masak, bisa ngasuh anak, pinter nawar harga sayur di pasar, pintar beberes rumah, mmmm….apalagi ya….oya, pintar menyenangkan kekasihnya di ranjang

    *kabuuurr*

    nitas last blog post..DAN BLOGGER PUN BERPESTA LAGI

    DM: Huahahahahahaaaa……….. Ini komen paling ciamik. Tapi sekaligus paling dodol! Hahaha!!

  12. nita says:

    oya, lupa, kalo perempuan menurutku gak harus gimana2….suka2 aja:)

    *kabuuur tahap dua*

    nitas last blog post..DAN BLOGGER PUN BERPESTA LAGI

    DM: Wakakakakakkk… Dodooolll…!!!
    *Dodol tahap dua*

  13. marshmallow says:

    batasan keterampilan dan profesi bagi wanita dan pria sudah makin kabur, deh. aku sendiri doyan mengecat rumah dan bereksperimen dengan cat, nongkrongin dan bantuin tukang bangunan, serta mendisain bangunan, yang kata (alm.) ayahku dulu: “itu kan pekerjaan lelaki, nak. jadi dokter saja daripada arsitek!”

    aku juga bisa masak, tapi kalah jauh deh dibandingkan chef resto dan hotel yang kebanyakan lelaki itu.
    rambut panjang? walaupun tetap wanita tulen yang bisa kemayu, rambutku lebih pendek daripada rambutmu, dan aku gunting di barbershop selama di sydney!
    seorang teman perempuan doyan bola dan F1 sampe bela-belain ke KL buat nonton F1 di sirkuit sepang tahun lalu.

    yah, namanya hukum tidak tertulis, jadi gak ada juga standarisasi yang tertulis.

    (loh, aku kok malah ngeblog? d’oh! udah ah, balik kanan bubar jalan!)

    DM:
    “Itu kan pekerjaan lelaki, Nak… Jadi kuli bangunan saja daripada jadi dokter… Lebih pantes!”
    Hihihi…
    #
    Ya, memang tidak ada standarisasi karena meski kesepakatan bersama, tapi tetap merupakan hukum tidak tertulis. Tidak ada kekuatan hukumnya.

  14. Ratna says:

    Lelaki harus bisa ngeblog. Makanya saya paksa suami biar ngeblog juga… *halah, ktauan deh*

    Ratnas last blog post..UU Pornografi Disahkan

    DM: Hehehe. Seru juga tuh. Kali pertama berkunjung ke blog-mu, aku pun mampir tuh ke blog sang suami. Mantap kan berdua nge-blog.

  15. writer wanna-be says:

    @Marhsmallow:
    Wah, aku juga suka mengecat dan hobi arsitektur. Boleh bagi alamat emailnya, Mbak? :D

    @Daniel Mahendra:
    Hukum tak tertulis bagiku adalah kalau lelaki dan wanita sama-sama mengakui keberadaan masing-masing dalam aspek yang berkenaan dengan ketertarikan, sifat, hobi, profesi, dan prestasi.
    Kenapa juga anak laki-laki harus dicekoki permainan roket dan mobil-mobilan, sementara anak perempuan harus main boneka?
    Kenapa anak-anak tidak dibiarkan saja memilih permainan apa yang mereka senangi untuk melihat di mana ketertarikan alamiah mereka sebenarnya?

    DM: Suka mengecat? Lho? Bukannya Marshmallow itu hobinya mengecat rambut? Hihi.
    #
    Yup. Sangat jamak kita lihat bahwa minat anak-anak justru dipengaruhi oleh pola pikir dan kesenangan orang tuanya juga.

  16. fahi says:

    nah ini identik-identikan, kan artinya tidak sama dengan …
    kalau tidak sama berarti bukan
    maka sesuatu tidak ada yang sama.

    Repot memang bahasa ini, bola sama dengan lakilah, bunga sama dengan perempuanlah. Yang aman serahin pada yang berwajib saja.
    wajib lapor, wajib tanggungjawab, wajib positif tinking.

    fahis last blog post..POJOK PUISI

    DM: Ya, ini memang soal identik-identikan. Yang lucunya dipersepsikan secara kolektif oleh banyak individu. Jadi seolah kesepakatan bersama. Padahal…

  17. reza says:

    wow angkanya fantastis nih ke-777

    rezas last blog post..Ketagihan Game ayodance ?

    DM: Hehe. Aku juga baru ngeh saat hendak posting.

  18. imoe says:

    Semua yang bisa dilakuin laki-laki bisa juga dilakuin perempuan mas, gitu juga sebaliknya. KECULI yang gak bisa dilakuin laki-laki adalah HAMIL, MENYUSUI dan MENSTRUASI nah tuhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh

    imoes last blog post..“…Syekh Seksi Bin Ajaib Dari Semarang…(jaman udah edan)”

    DM: Eh, Bung Imoe, ada lho laki-laki menstruasi. Cuma bedanya kalo di laki-laki cuma bawaan aura aja. Sok-sok mellow, sentimentil, dan mudah tersinggung gitu. Hihihi.

  19. Zulmasri says:

    gak suka bola mas? wah baru ketemu salah satu perbedaan yg berkaitan dg hobi saya dan mas dm.

    kalau merokok bgm mas? kayaknya juga identik dg laki-laki. hanya saja sejak dulu saya termasuk pembenci barang yg asapnya ngepul di mulut dan hidung tsb.

    Zulmasris last blog post..PENDAFTARAN CPNS JAWA TENGAH 4-16 NOVEMBER 2008

    DM: Nah, akhirnya nemu juga perbedaan yang berkaitan dengan hobi kita berdua nih, Mas Zul. Bola dan rokok. Hehe.

  20. Zulmasri says:

    eit, postingan cukup luar biasa ya mas. yg ke-777. selamat….

    Zulmasris last blog post..PENDAFTARAN CPNS JAWA TENGAH 4-16 NOVEMBER 2008

    DM: Nggak sengaja, Mas. Baru ngeh saat hendak posting.

  21. Yulis says:

    Saya yakin semua anggapan itu terbentuk karena budaya masyarakat sekitar. Ketika dulu di Indo saya juga berfikir bahwa memasak itu hanya untuk wanita dan mengecet rumah adalah kerjaan lelaki.

    Tetapi setelah pindah ke CA dan US baru menyadari bahawa semua laki-laki disini bisa memasak, dan kebetulan suami saya malah jago masak. Mengecat rumah buat saya bukan lagi hal yang harus dikerjakan laki-laki bahkan wanita juga diikut sertakan karena menyangkut interior design, selera dan berhubungan dengan seni yang memerlukan sentuhan wanita, bukan lagi pekerjaan yang harus dilakukan laki-laki. thanks

    Yuliss last blog post..HALLOWEEN PARTY

    DM: Ya, Mbak Yulis. Tak jarang asumsi seperti itu berangkat dari pemikiran irasional. Geografis serta lingkungan juga turut memengaruhi. Yang irasional-irasional memang mesti dikibas.

  22. Lala says:

    DM,
    aku suka nonton bola, tapi nggak bisa masak.
    Kamu bisa masak?
    Kalau iya… let’s be a couple… hahahaha…

    Soal standarisasi atau hukum tidak tertulis itu… well… aku sih biasa-biasa aja. Mungkin ini juga karena aku nggak mau kalau orang menganggap aku bukan perempuan hanya karena aku tidak bisa masak… :)

    Lalas last blog post..And I thank you…

    DM: Whaaattt…?!! Let’s be a couple? Wakakakakkk…
    Aku senang masak. Tapi tidak mutlak mesti punya pasangan kan?
    Haha! Apa hubungannya coba.

  23. Yari NK says:

    Sebenarnya di era modern sekarang ini tidak ada lagi batasan2 ini itu dalam melakukan sesuatu. Bisa saja pria mengerjakan pekerjaan2 tradisional wanita ataupun sebaliknya. Yang penting adalah jika kita melakukan sesuatu (termasuk laki2 bermain gitar tentu saja) lakukanlah dengan baik dan ikhlas. Jangan main gitar setengah hati yang hanya bikin sakit telinga orang2 yang mendengarkannya saja… huehehe…. :mrgreen:

    Yari NKs last blog post..Jangan Menonton Televisi Nak…. Banyaklah Membaca…. Loh??

    DM: Hehe. Setuju, Pak Yari. Sampai sekarang aku masih mencuci baju sendiri (kalo lagi rajin. Kalo males ya laundry! Hihi), menyetrika, juga menjahit kancing kemeja yang lepas. Bukan suatu kehinaan kan lelaki melakukan hal seperti itu. Hal-hal domestik seperti itu kan tidak praktis selalu perempuan. Dikotomi.

  24. thevemo says:

    aku suka bola dari umur 4 tahun…..sampe sekarang umur 28

    DM: Nah, jadi? Berapa 28 dikurangi 4?

  25. ariss_ says:

    Yah, yang penting, saya ternyata tidak sendirian :mrgreen:
    Saya juga paling tidak ngeh dengan bola, meski saya laki-laki, mwahaha…
    Setuju, kalau gender tidak mesti diasosiasikan dengan hal-hal tertentu, meski ia sesuatu yang terlihat umum
    .
    salam kenal,
    dari blogger Bandung

    ariss_s last blog post..Pasipatan Cai (Sifat-Sifat Air)

    DM: Wah, sama-sama dari Bandung rupanya. Bedanya aku bukan blogger. Aku penganyam kata. Hehe.
    Salam kenal juga. Thanx ya…

  26. Bapak saya dulu bilang kalau pria tak suka bola ia biasanya keranjingan wanita, meski ketika beliau sempat keranjingan wanita toh ia tetap suka bola.

    Kalau saya sedang suka menyusu! Ahuahuahu!

    Donny Verdians last blog post..Sydney, Hari Pertama

    DM: Bapaku dulu bilang, kalau pria tak suka bola, ia biasanya playboy. Meski ia playboy juga mudanya, ternyata anaknya jauh lebih playboy. Hahaha!!!
    Pekok tenan kowe!

  27. di arab hukum tak tertulisnya lelaki yg harus bisa memasak.

    untuk yg ini, saya senang tinggal di Indonesia :mrgreen:

    arifrahmanlubiss last blog post..Dalam Doaku

    DM: Kalo di Timbuktu beda lagi, Rif…

  28. Yoga says:

    Hai Niel…
    Kalau buatku batasan itu sudah makin Blurrr…. komentar yang agak serius ntar ya…

    Indah dan cerah harimu Niel! :D

    Yogas last blog post..Mi Manchi…

    DM: Lho kok dientar-entar…

  29. Hery Azwan says:

    Kata istriku, suami harus “care” sama rumah, bisa mengawasi tukang bangunan kalau lagi renovasi rumah.
    Kataku, “Aku tak tertarik. Bayar saja kontraktor. Dia aja yang ngawasin. Kan kita sudah bayar.”

    Hery Azwans last blog post..Pantai Ancol

    DM: Hihihi… biar praktis ya, Bang?

  30. rifqi says:

    aduh, terlambat saya komennya….
    saya gimana dung? bisa main gitar, suka bola. *halah*
    tapi saya ga pernah nuduh tentang segala stereotype gitu2…tapi emang gitu.
    saya ga juga lancar juga setir mobil, padahal laki2 kan kudu bisa *keluh*

    DM: Nggaji supir saja, Rif. Hehe.

  31. Yoga says:

    Maka, adakah di antara kalian memiliki anggapan-anggapan secara tidak tertulis bahwa lelaki mesti bisa ini-itu. Begitu pun perempuan mesti bisa begini-begitu. Adakah?

    Kalau bukan sedang membicarakan stereotype, mungkin iseng saja aku jawab:- baik lelaki maupun perempuan mesti bisa menjalankan fungsi biologis-nya masing-masing secara alamiah, dengan sebaik mungkin, tak lebih tak kurang hanya itu (mohon pembaca yang transgender tidak tersinggung dengan komentar ini).

    Kalau berbicara tentang stereotype, aku sudah tak punya anggapan bahwa saat ini ada pekerjaan atau hobi atau ketrampilan yang hanya lazim dikerjakan oleh satu gender tertentu, rasanya makin lama sudah makin blur, apalagi jika melihat teman-teman yang bertindak sebagai single parent atau yang hidup melajang. Yang terpikir hanya masalah pembagian kerja, dan aku pikir ini alami saat ini. Eh ngomong-ngomong…jadi Daniel, kapan kau tunjukkan permainan gitarmu? ;)

    Yogas last blog post..Dimulai dari Kantong Plastik

    DM: Nyatanya jelas-jelas sedang membicarakan stereotype, Yog.
    #
    Permainan gitarku? Lha? Emangnya aku bilang kalo di tulisan itu bahwa aku bisa main gitar? Hihihi.

  32. edratna says:

    hehehe…DM, jadi ingat pertanyaanmu saat ketemu…”Apa yang dilihat perempuan dari seorang laki-laki? Karena sibuk akhir-akhir ini, jadi belum baca postingan ini. Kenapa Niel? Kawatir kalau cewek yang kok bidik mempunyai kriteria tertentu dari seorang laki-laki, dan DM tak memenuhi kriteria itu? Setiap orang, entah laki-laki atau perempuan punya kriteria sendiri, yang tak bisa dibandingkan satu dengan lainnya. Dan kadang cinta tak bisa di definisikan..dia datang begitu saja mengetuk pintu hati.

    Hmm tapi pertanyaanmu udah kujawab kan kemarin? Saya suka laki-laki yang pengetahuannya lebih luas dan mengalahkanku….tentunya ada kriteria lain, dan terutama ada rasa “deg” di hati…inilah calon suamiku. Dan saya sulit jatuh cinta pada teman seangkatan….apalagi jika nilai ujiannya dibawahku. Payah ya? Tapi entahlah itu yang kuinginkan…..

    edratnas last blog post..Sudahkan anda registrasi untuk hadir ke pestablogger 08?

    DM: “Khawatir kalau cewek yang kau bidik mempunyai kriteria tertentu dari seorang laki-laki, dan DM tak memenuhi kriteria itu?
    Ouw, tidak sama sekali, Bu Enny. Tidak sama sekali. Aku tidak pernah punya persoalan dengan kalimat pertanyaan Ibu itu. Hihihi.
    #
    Tapi satu hal aku setuju dengan pendapat Ibu bahwa: “Dan kadang cinta tak bisa didefinisikan.. dia datang begitu saja mengetuk pintu hati“.
    Nah-nah-nah… Sepakat sekali aku. Dia kerap datang begitu saja. Tanpa mengetuk pintu. Tanpa permisi. Bahkan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Sekonyong-konyong saja hadir. Diterima di beranda rumah, pinginnya masuk. Giliran diajak masuk, malah mikir-mikir. Ragu. Ya sudah. Ngobrol di teras saja. Selamanya.

  33. Elys Welt says:

    kalau di sini kebanyakan pemasak terkenal yang tampil di TV adalah cowok semua ;)

    Elys Welts last blog post..Pemerkosa Brutal Itu …..

    DM: Sampai sekarang aku masih belum dapat jawabannya tuh, Mbak Ely, kenapa chef di hotel-hotel itu cowok ya… Juga kebanyakan acara masak di TV. Ada korelasinya kah?

  34. achoey says:

    Kita terlahir dengan kelebihan dan kekurangan
    Dan kelak kita kan dipasangkan dengan sosok yang semestinya bisa saling melengkapi

    Kita terlahir dengan keadaan yang lemah
    Dan kita bisa melakukan sesuatu karena adanya motivasi untuk belajar dan belajar

    achoeys last blog post..Hakekat Kita

    DM: Aha! Konsep melengkapi. Suka aku!
    #
    Tapi kita terlahir dengan keadaan yang lemah? Ah, jangan dong… Kita kuat dan tangguh.

  35. itulah budaya patriarki yang kadung mencengkeram negeri ini bertahun0tahuh, bahkan berabad-abad lamanya. citraan ttg stereotipe bahwa lelaki harus begini, suka bola, misalnya, perempuan tak pantas berbuat seperti itu, juga merupakan konstruksi sosial yang telah memfosil. bukan hal yang mudah untuk mengubahnya. makanya, di dunia pendidikan sekarang ini sedang ada upaya untuk memasukkan pengarusutamaan gender ke dalam proses pembelajaran agar kelak generasi masa depan negeri ini memiliki sikap yang responsif terhadap gender sehingga mampu menghilangkan stereotipe semacam itu.

    DM: Tapi bagaimana pun, Pak Sawali, mesti ada yang berani membuat kenyataan baru. Setiap zaman memang punya masanya sendiri-sendiri. Dulu perempuan Jawa kalau berbicara pada suaminya sembari memandang matanya, merupakan aib atau bentuk ketidak santunan. Para sudra mesti menggelesot jika berbicara di hadapan brahmana. Ilmu pengetahuan telah mengibaskannya. Ilmu pengetahuan telah memberikan jawaban: jahat betul nenek moyang para Jawa itu. Melulu ingin diagung-agungkan.

  36. ay says:

    Seingat saya, saya tak pernah mengkotak2an manakah untuk pria dan manakah untuk wanita.
    Sudah 5 bulan belakangan ini saya sedang belajar gitar. Dan sudah sejak 4 tahun lalu saya menggemari sepak bola liga inggris. Manchester United terutama.
    Lantas, apakah hal tersebut menjadikan saya tidak normal??
    Menurut saya, pengkotakan itu hanya kita bersama pikiran kita sendiri yang membuatnya. Buat apa membatasi diri dan juga orang lain kalau bebas terbang itu lebih menyenangkan?

    ays last blog post..pesan singkat tengah malam

    DM: Tentu saja tidak praktis dianggap tidak normal, Ay. Justru manusia mesti bisa mengibaskan hal-hal atau anggapan seperti itu. Karena kebenaran tidak pernah mutlak sifatnya.
    #
    Buat apa membatasi diri dan juga orang lain kalau bebas terbang itu lebih menyenangkan?
    Ouw. Dalam konteks ini, aku setuju dengan kalimatmu.
    Tapi dalam konteks lain, menurutku tak ada kebabasan terbang yang hakiki. Suatu saat kau butuh pulang. Suatu saat kau pasti mengiyakan hal itu.

  37. adit says:

    Hukum Tidak Tertulis : Orang Brazil pasti suka bola

    ini sy alami kemaren lusa, dan sampe skrng pun masih terasa aneh… waktu itu sy nanya ke kawan chatting saya yg berasal dari Brazil , ketika sy tanya apa pemain sepakbola favoritnya

    dia lalu jawab, “sy nggak suka sepakbola, olahraga yang saya suka adalah jiijitsu”

    langsung dalam hati sy bilang, “nah pasti ini bukan orang Brazil, atau kalopun orang brazil pasti bukan keturunan orang asing yg tinggal di Brazil”

    DM: Nah, berati teori bahwa anggapan-anggapan seperti itu dipengaruhi juga oleh geografis dan lingkungan seseorang tumbuh, ada benarnya.

  38. indra kh says:

    Minat seseorang, baik pria maupun wanita kerap dipenagruhi dengan lingkungannya. Ketika sejak masa kanak-kanak seseorang banyak diajak main bola oleh teman-temannya, lambat laun setelah dia menjalani akan dia suka. Saya juga memiliki seorang teman laki-laki yang hidup di lingkungan keluarga peminat masakan, ibu dan bapak serta kakaknya hobi memasak. Akhirnya kini teman saya itu menjadi koki di salah satu hotel berbintang kota kembang.

    Jadi, seorang laki-laki tak melulu harus suka sepakbola, dan bisa memainkan gitar. Seorang lak-laki pun tetap bisa memasak. Ada kebiasaan atau minat yang bisa universal. Kecuali yang bersifat mutlak. Melahirkan misalnya.

    indra khs last blog post..Pasar Kosambi Surga Penganan Bandung

    DM: Wah, setuju banget tuh, Kang: ada kebiasaan atau minat yang bisa universal. Nuhun ah.

  39. prameswari says:

    777 angka hoki lo mas….
    Kebetulan, ade adalah orang yang konservatif
    percaya pada kodrat yang diberikan oleh-Nya
    bahwa laki-laki dan perempuan itu berbeda, mempunyai kewajiban dan hak yang berbeda, dan punya pengejawantahan yang berbeda…..
    jadi…..teteup, yang jemput tuh bagian cowok, yang nggandeng tuh bagian cowok……hehehe

    DM: Ouw, konservatif ya? Dalam konteks apa aja nih konservatifnya? Hihihi…
    Jadi berpikir: apakah perbedaan hak serta kewajiban lelaki dan perempuan itu mesti diejawantahkan pada semua hal? Hehe!
    #
    777 hokinya di mana? Kalau 7 langit dan 7 bumi, iya. Percaya itu.

  40. Rinurbad says:

    Buatku, cewek yang bisa main musik lebih seksi daripada cowok yang main musik..
    Kalo cowok bisa main musik, hanya indah dipandang jangan dipegang.

    DM: Wah, setuju banget, Rin. Setuju banget!
    Nggak ada alasan buat nggak setuju deh. Seksi!

  41. ay says:

    Mas Daniel,
    Iya.. aku setuju, mengiyakan kalau suatu saat kita butuh pulang.. Maksudku sebelumnya juga bukan bebas yang terwelu alias keliwatan..melainkan bebas mengikuti apa yang hatimu katakan..
    Hmm.. Tapi bagaimana dengan orang2 yang merasa tidak punya “rumah”.. Hendak kemana mereka untuk pulang??
    Hehehe… Ingin tahu pendapatmu saja, Mas..

    Terimakasih sudah menyempatkan diri untuk mampir..
    Senangnyaa.. :D

    ays last blog post..pesan singkat tengah malam

    DM: Seorang trevaller, ia mengelilingi setengah dari dunia, setengah dari impiannya. Kemana pun ia singgah, ia tak pernah merasa itu sebagai rumahnya. Rumah-rumah tanpa alamat surat itu. Tapi ia terus saja berjalan. Menggendong ransel sarat beban. Sendiri, kesepian, terluka.
    #
    Tapi satu hal: kemana pun traveller pergi, ia tetap merindukan pulang. Ia tetap mendambakan konsep rumah. Betapa pun jumawa ia berkata tak membutuhkan cinta, jauh di palung terdalam hatinya tetap mendamba ia tentang konsep sebuah rumah.
    #
    Tanyakan saja pada setiap traveller yang kau temui di jalanan.

  42. marshmallow says:

    DM: Seorang trevaller, ia mengelilingi setengah dari dunia, setengah dari impiannya. Kemana pun ia singgah, ia tak pernah merasa itu sebagai rumahnya…

    home is to where your heart belongs.
    wherever your heart lies, that’s home!
    i would argue that a traveler might have more homes than you can think of, because he doesn’t have to stick to a particular one throughout his life journey.
    the question is: is he willing to let the heart rest for good in that home he finds?
    a traveler may well not be.

    *wise man mode: on*

    (diskusinya jadi merembet deh, from tacit agreement through stereotyping to freedom, and now… traveler? masih nyambung gak ya? bodo ah, embat ajah!)

    DM: Ya ampun, Marshmallow!! Ck! Aku kan nggak bisa Bahasa Inggirs! Hhh!

  43. natazya says:

    hukum tidak tertulis apa pendoktrinan bias gender? hahaha

    aku ta bisa masak… ga bisa jait… ga suka boneka… benci binatang dan tanaman yang merepotkan…

    still i have those things that only woman has… ;)

    natazyas last blog post..FORCE MAJEUR … SHITTY?? :p

    DM: Hihihi… Kok pendoktrian bias gender.
    Kamu tetap perempuan, Nat… (sejauh yang aku kenal di blog) Hehe.

  44. Rinurbad says:

    Yang jelas aku suka lelaki..yang beda sama aku. Iya lah! Teu rame pisan kalo segalanya sama. Apa lagi disama-samain dengan selera orang lain.

    DM: Iyalaaahhh…

  45. panggiring says:

    hukum tidak tertulisku tetang laki-laki :)

    mereka yang tidak/belom berani menikah adalah pengecut.

    mereka yang menikah dan beristri satu adalah lelaki penakut.

    mereka yang menikah dan beristri lebih dari satu, dan kemudian bertungkus-lumus memperdjoeangkan nafkan hidup keluarganya, maka dialah lelaki sejati.

    hanya lelaki sejati yang bisa memajukan Indonesia :)

    DM: Namanya juga hukum tidak tertulis, setiap individu berhak mempunyai parameter buat dirinya sendiri. Terima kasih…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>