Jika dua orang sampai bersentuhan satu sama lain, tak dapat diragukan, mereka mempunyai kesamaan. Bagaimana burung akan terbang kalau tidak dengan sesamanya? (Jalaluddin Rumi)

Siapa nyana, di dunia ini ada hukum-hukum yang tidak tertulis, yang (sialnya) terlanjur beranjak menjelma stereotype pada banyak orang. Hukum tidak tertulis memang tidak pernah ditorehkan, apalagi dicanangkan secara legal formal. Namun ironisnya dengan mudah dijadikan rujukan bagi sebagian orang dalam membangun image pada jenis kelamin tertentu.

Dulu terkadang aku kerap berkelakar bahwa ada hukum tidak tertulis bahwa laki-laki wajib bisa main gitar. Entah dari mana asalnya, tapi lelaki yang tidak bisa main gitar adalah satu hal paling menggelikan yang pernah ada di bumi ini. Namanya juga kelakar, sudah barang tentu kelakar itu tidak mendasar dan tidak berkorelasi sama sekali dengan hal apa pun.

Sudah barang tentu, kawan-kawan perempuanku yang kekasih atau suaminya tak bisa menggemulaikan jemarinya pada dawai gitar meradang tak terima. Mereka berprotes bahwa lelaki yang tak bisa main gitar bukanlah suatu aib dalam kehidupan. Itu bisa dimengerti, karena memang tak ada perjanjian baik lisan maupun tulisan antara lelaki dan gitar. Keduanya tetap makhluk yang berbeda.

Itu pun terjadi pada perspektif lelaki dan bola. Apakah betul bahwa lelaki identik dengan sepak bola? Apakah semua lelaki mutlak bisa main bola atau harus gila bola? Apa boleh buat: tak ada kesepakatan antara lelaki dengan sepak bola.

Beberapa hari lalu aku memangkas rambut yang sudah menggondrong. Sudah 15 tahun aku pangkas di sana. 15 tahun! 15 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk mengenal satu sama lain dua pribadi yang berbeda jiwa. Dan selama 15 tahun itu cukup membuatku mafhum apa yang selalu dicerocoskan kedua tukang pangkas tua itu sembari memangkas: melulu sepak bola!

TV selalu memutar pertandingan sepak bola. Dan koran yang dibaca adalah halaman-halaman yang memuat pertandingan demi pertandingan. Rasanya hidup mereka sudah cukup bahagia dengan diselingi pertandingan sepak bola. Namun selama 15 tahun itu, mereka selalu membangun frame bahwa setiap lelaki adalah penyuka bola. Sehingga merasa wajar-wajar saja jika tiba-tiba terlontar pertanyaan:

“Ari peuting saha nu meunang?” (kalau tadi malam siapa yang menang?) tanya pak Endang dalam Sunda sembari menyibak rambutku.

Siapa yang menang? batinku dalam hati. Kenapa juga ditanyakan padaku siapa yang menang? Sebegitu pentingkah pertanyaan itu sehingga ia berani memastikan bahwa ada perjanjian tertulis antara aku yang laki-laki ini dengan makhluk bernama sepak bola? Dalam hati aku hanya tersenyum geli. Tapi di luar hati aku hanya nyengir sebagai tanda peduli. Maka ia pun nyerocos soal AC Milan.

Malam harinya sepulang berpangkas, aku kembali ke kantor. Tak lama seorang lay outer datang, hendak meneruskan pekerjaan. Ketika bertemu, kalimat pertama yang ia sodorkan sebagai salam pembuka adalah: “Tadi Persib gimana, Pak?”

Tadi Persib gimana? Kenapa juga aku mesti tahu bagaimana keadaan Persib? Kesebelasan asal Bandung itu. Sore tadi memang kudengar kawan-kawan di kantor meributkan pertandingan Persib yang tak disiarkan TV. Tidak seru kalau sekadar mendengarkan melalui radio, menurut mereka. Tapi soal Persib bagaimana?

Pertanyaannya hanya kujawab dengan cengiran masygul, bahwa aku tak tahu sama sekali soal bola.

“Oh, Bapak nggak suka bola?” dan aku hanya tersenyum menggeleng.

Ia adalah bukti bangun paling nyata yang telah menyusun kerangka dalam bingkai pikirannya bahwa setiap lelaki mutlak suka bola. Sehingga menurutnya adalah wajar pertanyaan semacam itu dilontarkan begitu saja tanpa mengecek terlebih dahulu apakah seorang lelaki suka bola atau tidak.

Sama halnya dengan perempuan. Apakah perempuan mutlak bisa masak? Dan apakah perempuan mesti berambut panjang? Juga apakah kulit putih adalah salah satu syarat kecantikan? Semua itu nyatanya hanya bangunan cara berpikir yang kadung mengendap di frame banyak orang, yang ironisnya menjelma menjadi patokan dalam memandang jenis kelamin. Bukankah demikian?

Maka, adakah di antara kalian memiliki anggapan-anggapan secara tidak tertulis bahwa lelaki mesti bisa ini-itu. Begitu pun perempuan mesti bisa begini-begitu. Adakah?

Selamat pagi!

1 November 2008 | 02.04 wib

Catatan: Ini adalah tulisan pertama di bulan November 2008. Dan merupakan postingan ke-777 dalam sejarah blog ini (halah!).