Samsara
Published November 6, 2008
Tengah malamnya lewat sudah. Tiada kejutan tersisa. Aku terlunta, tanpa sarana. Saluran tuk ku bicara. (Selamat Ulang Tahun, Rectoverso, Dewi Lestari)
Sering kali aku berpikir apa yang sebetulnya bersemayam dalam kepalamu. Tak jarang aku tergeragap, tak punya sandaran, dan butuh pegangan menyaksikan apa yang telah kau bicarakan. Tak sampai dua kutemui sosok sepertimu.
Sejak kali pertama mengenalmu, aku sudah merasa: kau tak biasa. Yang terkadang membuat kawan-kawanku mengolok-olok aku karena lebih memilihmu ketimbang yang lain. Tapi nyatanya kau memang lebih gemilang lagi sederhana.
Mesti dengan cara apa untuk mengurai tentangmu. Aku tak pernah menemukan kosakata yang pas. Tak juga tesaurus bahkan kamus paling lengkap sedunia untuk mendefinisikan siapa kamu. Kau lebih mandiri ketimbang pengertian mandiri itu sendiri.
Kau lengkingkan suaramu yang bening melirih. Menyentuh jiwa terdalam. Yang membuat air mata ini titik juga terbata-bata demi suaramu yang mendesau bagaikan angin utara ditingkahi gemulai jemarimu di tuts yang cantik.
Kau anyam larik-larik sederhana namun begitu dalam melembutkan rasa. Kau tenun hidup dan kau pindai dalam balutan cinta yang memesona lewat laras nelangsa. Terdiri dari apa struktur otakmu itu? Tak banyak yang dapat betul-betul membuatku tersentuh seperti dirimu.
Dan segala kecerdasanmu pun tumpah ruah lewat rawian ribuan kata yang terbit dari palung terdalam hatimu. Lagi-lagi aku berpikir: gerangan siapakah kamu. Makhluk jenis apa kamu. Malaikat atau manusia?
Banyak hal yang tak terkira nyatanya muncul dari semesta kepalamu. Yang jarang ketemui pada galaksi paling indah sekalipun. Telah kau gemilangkan sinar bintang yang sudah haus masanya. Tak lebih karena kilaumu sendiri.
Ribuan terima kasih. Karena pada akhirnya aku belajar darimu jua. Tentang caramu memandang hidup. Dengan sederhana. Dengan bersahaja. Dengan cinta yang terus kau tenun pada hidup itu sendiri. Nyatanya kau tetap bersemayam.
Andai pun kau tak secantik saat ini, adalah tetap patut kau dikagumi. Atas semua yang telah kau persembahkan. Bukankah orang ditimbang-timbang atas apa yang diperbuat? Semesta menundukan kepala kepadamu, duhai Cassiopeia!
Aku merasa samsara pada larikmu.
1 November 2008 | 05.49 wib
