Beranikah Kita Mendefinisikan Sejarah?

Mencintai sebuah negara adalah hal yang baik. Tapi mengapa cinta itu harus berhenti di perbatasan? (Pablo Casals)

Sejatinya tulisan ini hanyalah komentarku atas tulisan Sebutan Itu di blog Imelda Coutrier Miyashita. Namun karena pikiran ini kerap semau-maunya sendiri kalau sudah bertemu dengan tema yang menarik, sehingga jari sudah di luar kendali tuannya lagi. Menggerus keyboard tanpa kenal ampun. Maka adalah merupakan kegatalan tersendiri untuk memposting tulisan yang sejatinya merupakan komentar, di blog sendiri. Bukan bermaksud hendak tidak praktis, namun sudah barang tentu akan lebih lengkap jika sebelumnya membaca tulisan Sebutan Itu tersebut di blog Imelda Coutrier Miyashita.

Menurutku sejarah tidak baku sifatnya. Dia elastis mengikuti perkembangan zaman, sejauh ditemukan fakta-fakta baru yang mendukung akan suatu hal. Meski tak bisa dinafikan: sejarah terkadang ditentukan juga oleh siapa yang menang.

Di Indonesia kita bisa lihat pada kejadian-kejadian Tragedi G30S misalnya. Atau Serangan Umum di Yogyakarta. Tiba-tiba ada tokoh atau nama yang diangkat ke permukaan. Kenapa nama itu jadi terangkat dan seolah memegang peran penting? Karena pemerintah yang berkuasa saat itu sedang pegang peran.

Jika sudah demikian, jelaslah, definisi atau cara berpikir tentang siapa yang disebut pahlawan tidaklah baku atau kaku. Setiap negara, bahkan setiap kepala bisa punya frame tersendiri tentang pahlawan.

Menurut pemerintah Indonesia Pangeran Diponegoro adalah pahlawan. Tapi menurut pemerintah Hindia Belanda, adalah pemberontak. Tokok subversif terhadap pemerintahan yang sah menurut versinya. Pertanyaannya adalah: andai makam keluarga Diponegoro tidak akan dijadikan jalan oleh pemerintah Hindia Belanda, akankah ia angkat senjata dan mengajak rakyat pribumi untuk melawan Belanda? Kukira aku tidak dalam kapasitas menjawab pertanyaan tersebut.

Ketika aku menulis bahwa Bung Tomo baru diberi gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2008, aku pun baru menemukannya dan terhenyak. Artinya, aku pun baru mengetahui dan menyadari hal tersebut. Sehingga setiap 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan terkesan menggelikan.

Tapi betul kata suami Mbak Imel: ini Indonesia. Indonesia butuh alat pemersatu. Dan alat itu bisa diambil dari mana pun. Dan setiap negara boleh menggunakan alat tersebut dengan versinya masing-masing. Ingat dengan istilah Ratu Adil? Logika berpikir sehat akan berkata itu hanyalah mitos belaka. Tapi apa boleh buat, dulu negeri ini butuh mitos. Butuh sosok yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Entah agar orang tetap percaya bahwa akan ada sesuatu yang lebih baik lagi di depan atau bagaimana. Dan raja-raja Jawa itu, selalu dipercaya menikah dengan Ratu Laut Selatan. Mengapa? Agar umum mahfum: bahwa raja-raja itu masih lagi memiliki kekuatan dibanding dengan kumpeni, betapa pun hal tersebut sangat irasional.

Sehingga, kita memang butuh sosok. Negeri ini butuh sosok. Dan sosok itu bisa digunakan sebagai alat apa pun dalam konteks bernegara.

Aku pribadi sudah tidak lagi berenang-renang dalam kolam pemikiran siapa pahlawanku. Aku sudah tahu itu. Tapi aku lebih berpikir: apakah aku bakal menjadi pahlawan bagi orang lain. Siapa pun orang lain itu.

Tabik!

10 November 2008 | 14.01 wib

Catatan: mungkin bersambung, mungkin juga tidak. Tadinya hendak menambahi tentang R.M. Tirto Adhisoerjo, tokoh pers nasional yang juga tokoh kebangkitan nasional (sudah banyak kubahas juga di blog ini pada masa-masa lalu).

Boemipoetra pertama yang menerbitkan koran berbahasa Melayu (Medan Prijaji, 1907-1912), pendiri Sarekat Dagang Islamiyah (1909), Sarekat Dagang Islam (1911). Korannya menjadi corong dalam menyuarakan ketidakadilan. Tulisannya tajam menusuk penuh kritik, sementara organisasi yang dipimpinnya membludak secara massal dengan ribuan anggota di seluruh Hindia Belanda.

Khawatir akan sepak terjangnya yang menggurita, tanpa pikir panjang: ia pun dibuang pemerintah Hindia Belanda dari pulau Jawa, dan sejarah tentangnya dihapus secara sistematis. Sejak pemerintahan kolonial Hindia Belanda, masa kemerdekaan, Orde Lama, juga Orde Baru, tak banyak orang tahu siapa Tirto Adhisoerjo. Tak aneh. Perannya memang sengaja ditenggelamkan.

Seorang individu pemula di awal pergerakan negeri ini yang kobar menyerukan kebangkitan. Hingga baru pada 1973, pemerintah mengukuhkan Tirto sebagai Bapak Pers Nasional. Baru pada 3 November 2006, pemerintah memberi gelar sebagai Pahlawan Nasional.

Lihatlah, butuh 100 tahun bagi sebuah pemerintahan untuk memberi gelar pahlawan pada seseorang.

This entry was posted in Kunjungan, Renungan. Bookmark the permalink.

31 Responses to Beranikah Kita Mendefinisikan Sejarah?

  1. Ikkyu_san says:

    Quote:
    Tapi aku lebih berpikir: apakah aku bakal menjadi pahlawan bagi orang lain. Siapa pun orang lain itu.

    Itulah kata kuncinya menurut aku. Move On! bergerak…..
    ternyata Danny juga baru tahu Bung Tomo belum menjadi pahlawan sampai kemarin.
    Untunglah, karena saya merasa malu sekali tadinya. Kok saya tidak pernah tahu itu??? Weird ya. Sekarang saya boleh lega sedikit, karena bukan saya saja yang tidak tahu.

    Tabik
    EM

    Ikkyu_sans last blog post..Sebutan itu….

    DM: Mbak Imel, aku yakin banyak pula yang tidak tahu. Soal Bung Tomo memang sangat esensi sekali. Karena 10 November terlanjur diperingati sebagai Hari Pahlawan. Sementara ia sendiri baru diberi gelar tersebut pada 10 November 2008 (hari ini). Entah bagaimana pertimbangannya seseorang pantas dan layak diusulkan sebagai pahlawan.
    #
    Aku menemukan data tersebut saat hendak menulis “Anyaman Kata Hari Ini” di pojok kiri atas itu. Dan terhenyak mengetahui hal tersebut.

  2. mantan kyai says:

    aku padahal mau nulis persis kayak gini *halah ngaku-ngaku* :D
    kecuali quote diatas yang bagus banget dari pablo casals >>> pamannya maria mercedes kah???

    DM: Huehehe. Ya ndak po-po tho, Mas. Ditulis saja. Pasti beda kepala, beda pula sudut pandangnya.
    #
    Waduh, aku ndak tau apakah dia pamannya Maria Mercedes atau Si Cantik Clara. Entahlah.

  3. marshmallow says:

    Sejarah bukan ilmu eksakta, tak ada pekem bagaimana harus menilainya, terpulang kepada subyektivitas masing-masing.
    Kalau musti dipulangkan kepada subyektivitas negara, tentu penguasa yang jadi penentu harga.
    Setuju, paling tidak kita harus bisa menjadi pahlawan bagi seseorang–kalau tak bisa banyak orang–yang lain.

    PS. Catatannya sudah hampir sama panjang dengan badan posnya. Ternyata DM memang unstoppable writer nih.

    DM: Hihihi. Iya nih. Aku kalo tulisannya “klik”, jari sudah tak bisa dikendalikan lagi oleh tuannya. Bukankah awalnya tulisan ini pun merupakan komentar untuk tulisan mbak Imel. Saat menulis komen tersebut, tanpa sadar, tulisannnya sudah tersulur-sulur hingga berparagraf-paragrah. Baru ngeh setelah sadar bawah itu blog orang. Haha!
    #
    Dan ketika hendak menuliskan tambahan soal Tirto Adhisoerjo, niatnya cuma secuil tambahan belaka, nyatanya… D’oh!
    #
    Coba aku bisa gini setiap hari. Weh. Sebulan satu novel kayaknya.

  4. nkusuma says:

    Selamat hari Pahlawan!!
    Ironisnya, kemarin saya lihat tayangan TV, ditanya 5 orang pahlawan wanita mosok jawabnya:
    Cut nya’ dien, cut tari, cut keke
    Hiks….anak muda sekarang :(

    nkusumas last blog post..Tokoh A-H . . .

    DM: Ya ampun!! Ya ampun!! Betulkan itu?!
    Aku pingin ngakak sejadi-jadinya, tapi juga terasa miris. Betulkah itu? Bukan sahibul hikayat atau kelakar semata?
    #
    Cut Nyak Dhien, Cut Tari, Cut Keke?! Ck!! Mengibakan! Betapa mengibakan!

  5. mascayo says:

    “‘apakah aku bakal menjadi pahlawan bagi orang lain. Siapa pun orang lain itu.”

    dengan catatan bukan menjadi Pahlawan Nasional, maka menikahlah …. minimal nanti jadi pahlawan buat anak-anak kita .. halah, halah kok jadi menggurui!

    mascayos last blog post..Orangtua juga Pahlawan kita

    DM: Walaaahhh… Hahaha! Kok larinya ke menikah lagi-menikah lagi.
    Dunia ini sudah penuh dengan orang menikah ah.

  6. edratna says:

    Sejarah bukan matematika….dan dari semakin banyaknya novel sejarah, sebetulnya ada ruang kosong dalam sejarah tadi yang belum diisi, jadi untuk memahami sejarah tetap harus merangkai diantara bukti/petilasan atau apapun namanya. Lha diantara itu? Penafsiran bisa bermacam-macam….

    Tapi sebetulnya aku ngomong ini belum tentu benar ya (tapi kan opini)…karena tidak punya latar belakang pendidikan sejarah.

    edratnas last blog post..Restrukturisasi perusahaan, penting dilakukan dalam keadaan ekonomi apapun

    DM: Kukira untuk menyukai sejarah, seseorang tak mesti punya latar belakang pendidikan sejarah, Bu. Bukan untuk menjadi ahli toh. Asal memang punya minat di sana.
    #
    Sejarah selamanya mengandung multitafsir. Karena kejadiannya the past dan ditafsir ulang pada saat present.

  7. ricnes says:

    benar bang danil….
    ga usah kita cari2 sosk pahlawan tapi mari bersma2 melecut semangat dalam diri
    agar kita bermanfaat bagi orang lain, syukur2 bisa jdi pahlawan bagi orang lain….
    makasih dorongannya bang….

    ricness last blog post..Alhamdullilah……

    DM: Ya Ricky, menjadi penting adalah hal biasa. Tetapi menjadi bermanfaat jauh lebih penting.
    Kamu bisa menjadi itu. Jangan pernah menyerah ya!

  8. Zulmasri says:

    yang parah, saya pernah membaca, bila fakta atau peristiwa ditulis, ia berubah menjadi fiksi, bukan sejarah.

    bukankah fiksi dimuati fakta dan rekaan pengarang? tak heran bila seorang romo mangun pernah mengatakan bila ingin tahu riak sosial kehidupan pada suatu masa, maka bacalah karya sastra, bukan hanya hasil seminar, laporan pejabat, dan sejenisnya.

    bgm menurut mas daniel?

    Zulmasris last blog post..NYANYIAN FILANTROPI :gus tf dan fadlillah

    DM: Dulu ketika masih sekolah dari SD hingga SMA, praktis aku membaca sejarah dari sumber mainstream, Mas Zul. Begitu mulai mengunyah bangku kuliah, aku banyak menemukan hal-hal di luar mainstream tersebut. Baru aku menyadari: sejarah memang sungguh ditentukan oleh siapa yang berkuasa saat itu (ironis? Apa boleh buat).
    #
    Masih kuingat betul jawaban Pramoedya Ananta Toer ketika ditanya wartawan: Mengapa Bung menulis novel dengan latar belakang sejarah? Jawaban Pram: Kalau menulis sejarah, siapa yang bakal baca? Berapa orang yang membaca buku sejarah? Dan saya bukan sejarawan. Saya sastrawan. Saya ingin setiap orang mengenal sejarah negerinya sendiri. Bagaimana kita bisa tahu hendak kemana tujuan kita jika kita tidak mengenal rumah tempat kita berasal… Itu mengapa karya-karya saya dilatarbelakangi keinginan itu.
    #
    Ya, nyatanya hampir rata-rata karya Pram memang dilatarbelakangi fakta-fakta sejarah. Namun demikian kita tidak bisa menyebutnya sebagai data sejarah. Setelah membaca Tetralogi Buru, Arok Dedes, Arus Balik, Mangir, dsb, baru mataku terbuka. Terbuka bukan karena apa yang dipaparkan Pram. Pram memang tidak bermaksud memberikan jawaban. Pram hanya membuka wacana diskusi lewat karyanya dalam bentuk hipotesis. Sintesisnya mesti dicari sendiri.
    #
    Dari situ aku jadi berburu data-data yang sebenarnya. Baik mainstream maupun di luar mainstream. Seperti mengapa Budi Utomo yang dianggap sebagai pelopor kebangkitan nasonal. Padahal AD/ART-nya saja menggunakan bahasa Belanda. Padahal yang boleh jadi anggota hanya golongan priyayi Jawa. Bagaimana dengan Jawa yang bukan priyayi? Bagaimana priyayi yang bukan Jawa? Dengan demikian, adakah tetap pantas jika Budi Utomo dianggap sebagai pelopor kebangkitan nasional?
    #
    Dari situ, dari karya-karya Pram yang berlatar sejarah itu, aku jadi menyukai sejarah. Aku jadi getol terhadap sejarah kebangkitan nasional, aku jadi jatuh cinta pada berdirinya kerajaan Majapahit, aku jadi asyik masyuk pada sejarah Mataram. Aku jadi melahap pernak-pernik Dipantara ini, yang kemudian menjadi Nusantara, lantas merdeka sebagai Indonesia.
    #
    Ya, bagaimana pun sastrawan bukanlah sejarawan. Namun ia menyodorkan semacam hipotesis. Tentu saja menimbulkan antitesis. Tapi yang terpenting adalah: bagaimana proses kita menuju sintesis itu sendiri. Tidak melahap sesuatu yang disodorkan begitu saja di depan mata kita. Dan itu tidak mungkin kita dapatkan dari sekadar hasil seminar, laporan pejabat semata-dua mata.
    #
    Senang berdiskusi denganmu, Mas Zul.

  9. catra says:

    hmmm pahlawan.
    Saya juga masih bingung bagaimana kriteria pemerintah menetapkan gelar pahlawan. semisal pahlawan2 zaman pre-kemerdekaan, contohnya pattimura, tuanku imam bonjol, diponegoro dlsb. mereka memberontak bukan dalam skala nasional (pada saat itu Indonesia belum dikenal), mereka berjuang membela daerah mereka masing-masoing, seperti di makassar (Sultan Hassanuddin) yang berperang melawan belanda dan pesaing kerajaannya, aru palaka meminta bantuan belanda karena persaingan rival sesama kerajaan di sulawesi selatan pada saat itu.

    tetapi yang benar2 berjuang melawan belanda dan berjuang mendirikan republik ini banyak yang tidak mendapatkan gelar, apakah karena kepentingan politik pada saat itu, HOS cokroaminoto punya tiga murid diskusi dengan konsep Indonesia, Sokarno dengan nasionalisme nya, Muso dengan haluan kirinya, serta Kartosuwiryo dengan faham agamanya. Tapi karena Soekarno yang “lucky” pada saat itu dan Kartosuworyo dan Muso yang telah ter”mindset” sebagai tokoh antagonis bagi kita tidak mendapat gelar pahlawan. padahal mereka juga ikut memperjuangkan berdirinya negara ini awalnya.

    maaf saya berceloteh banyak di sini. maaf yah mas DM

    DM: Hei, kenapa mesti minta maaf? Jangan. Aku suka sekali malah.
    Catra, kawanku yang baik, betul katamu, nama-nama yang kau sodorkan memang skala perjuangannya tidak nasional. Kita saja yang berpikir nasional. Mereka? Barangkali tidak terpikirkan. Lha bagaimana? Memang wacana nasional belum terbentuk saat itu. Mereka melakukan perjuangan dalam bentuk perlawanan yang kongkrit. Nasional dari segi teritori kan baru digerakkan oleh Gajah Mada pada abad ke-13. Namun setelah itu kembali lokal sifatnya.
    #
    Pada tahun belasan pun tidak semua orang berpikir tentang nasionalisme. Jangankan berpikir tentang nasional, bahwa negeri ini dijajah saja tidak banyak yang menyadari. Mereka lahir, tumbuh, dan mati sudah dalam atmosfir kolonialisme. Adakah mereka menyadari kalau yang mengatur negeri ini adalah bukan pribumi merupakan kesalahan? I don’t think so. Mereka mbrojol ke dunia sudah dalam keadaan demikian. Jangan lupa, masa pemerintahan Hindia Belanda kan ratusan tahun. Wajar toh kalau masyarakat saat itu tidak menyadari bahwa mereka (sebetulnya) dijajah.
    #
    Baru mulai tahun belasan, segelintir orang, baik yang berpendidikan barat maupun yang ditempa oleh pengalaman hidup, menyadari dan menghembuskan angin kebangkitan serta nasionalisme dalam satu pemikiran negara kesatuan yang berdiri sendiri.
    #
    Jadi praktis nama-nama yang kau sodorkan di paragraf awal skala perjuangannya jelas tidak nasional. Tapi efeknya memang tak kalah berpengaruh. Sudah barang tentu mereka dianggap subversif oleh pemerintah Hindia Belanda (Budiman Soedjatmiko dan PRD dianggap subversif oleh Orde Baru. Karena saat itu Soeharto yang berkuasa. Ini soal siapa yang sedang berkuasa kok).
    #
    Soekarno, Muso, Kartosuwiryo adalah sederet pribadi pemula-pemula yang juga menyorongkan konsep nasionalisme dalam satu frame negara kesatuan. Soal beda ideologi, lagi-lagi penguasa punya peran dalam menentukan jalannya sejarah itu sendiri. Soekarno dengan Nasionalis, Muso dengan Komunis, dan Karto dengan negara Islamnya (FYI: organisasi pertama yang menggunakan nama Indonesia adalah PKI, Partai Komunis Indonesia).
    #
    Dan Cokroaminoto itu siapa lagi kalau bukan pewaris mahkota dari R.M. Tirto Adhisoerjo itu sendiri. Tirto-lah Sang Pemula dari wacana tersebut. Kok bisa? Seperti sudah kurawi dalam tulisan tambahanku di atas.
    #
    Mengapa nama-nama tersebut tidak semua mendapat gelar pahlawan? Aku tidak bisa menjawabnya, Cat. Bukan kapasitasku. Dan ilmuku belum sampai sana. Tapi sebagai wacana, lagi-lagi kita mesti mahfum: sejarah di negeri ini ditentukan oleh siapa yang menang. Saat itu Soekarno yang berkuasa. Di belakangnya ada militer. Konsep negara Islam jelas tidak diterima di negeri ini. Begitu pun konsep negara komunis. Kalau saat itu PKI menang pemilu (jangan lupa, PKI salah satu partai komunis terbesar di dunia), tak syak lagi, komunis akan ambil bagian di negeri ini. Ini fakta. Namun ini juga sejarah.
    #
    Begitulah tanggapanku, Cat.
    (God! Betapa aku senang sekali pada diskusi semacam ini).
    Jadi jangan kau minta maaf karena berceloteh banyak di sini, seperti katamu. Karena aku menyukai wacana semacam ini, Catra.

  10. DV says:

    Berbicara sejarah itu bagiku seperti bercerita tentang satu kebohongan tadi pagi.
    Tentang siapa yang membersihkan tempat tidur, aku atau istriku…

    Kepada orang lain aku akan bercerita akulah yang membersihkannya, tapi istriku bisa pula bilang bahwa aku terlalu malas untuk membersihkannya.

    Padahal dua-duanya salah kecuali pembantu yang telah melakukan semuanya untuk kami.

    Gitu ?
    Salah ?

    DVs last blog post..Bertemu William Pramana

    DM: Analogimu asyik, Don. Tapi siapa yang berkuasa di rumah itu? Kau atau istirmu? Kau bisa mengatakan kamulah yang melakukannya, sementara istrimu juga bisa mengucapkan hal yang sama. Namun pembantu juga bisa punya suara. Soalnya adalah: mana yang bisa dipercaya?
    #
    Dalam konteks sejarah, penguasa bisa menentukan data mainstream. Kau tahu betul: selama 30 tahun negeri ini di-brainswashing bahwa pemerintah Orde Baru yang benar, PKI yang salah dalam Tragedi ‘65. Tapi bukankah kita bisa belajar dari pengalaman. Belajar untuk tidak memercayai satu sumber semata.
    #
    Aku percaya kau yang membereskan tempat tidurmu. Tapi aku juga bisa percaya pada pengakuan istrimu. Dan aku pun menyisakan ruang untuk juga memercayai jika pembantumu yang melakukannya. Bukankah begitu? Hehe. Analogimu asyik, Dab.

  11. Chandra says:

    Suka ga percaya ma sejarah coz suka beda-beda sih versinya…

    DM: Itu juga gunanya membaca dan belajar kan, Chand…
    Semua memang tergantung minat seseorang. Namun adalah penting bagi seseorang mengetahui rumahnya sendiri. Kau seorang dokter. Tahukah kau, pemuda-pemuda dengan latar pendidikan apa yang dianggap menghembuskan wacara kebangkitan nasional di negeri ini? Kamu harus tahu itu. Aha!

  12. Yoga says:

    Nah yang ini nanti ya komentarnya…. :D

    Yogas last blog post..Pantai Tropi

    DM: Tidak perlu terburu-buru. Endapkan saja dulu. Tulisanku mengajak diskusi. Berwacana. Bukan minta komentar. Hehe. Kalem.

  13. iJul says:

    Sejarah berpihak kepada yang menang. Sederhana saja, jangan selalu percaya pada apa yang dibaca (kalau aku istilahnya: apply with thought). Kalau soal pahlawan sih…. Andy Garcia di film Hero kalau ga salah bilang gini, “I think we’re all heroes, if you catch us at the right time.” Have a remarkable day! :)

    iJuls last blog post..Yes We Can

    DM: Yup. Seperti tanggapanku pada komentar-komentar yang lain: jangan selalu percaya pada apa yang dibaca.
    #
    I think we’re all heroes, if you catch us at the right time.
    Yup. Sejarah memang punya masanya sendiri-sendiri. Sesuatu yang A saat ini belum tentu akan selamanya A di zaman lainnya.
    #
    Bukankah perlu 200 tahun bagi ajaran Kristen untuk bisa diterima dan diamini secara leluasa oleh pengikutnya. Bayangkan, 200 tahun. Di mana sebelumnya merupakan doktrin yang ilegal bagi pemerintahan yang berkuasa di bawah Nero dan Domitian yang terkenal bengis terhadap penganut Kristen di Romawi. 200 tahun!

  14. Yari NK says:

    Buat saya…. sejarah bukanlah masalah menghafal tahun dan tanggal peristiwanya seperti pada saat guru2 kita mengajar kita dulu. Yang penting dari sejarah kita bisa belajar mana yang baik dan mana yang buruk, tanpa membedakan subyek sejarah. Orang Belanda memang dulu mengatakan ‘Pangeran Diponegoro’ itu pemberontak, namun kini banyak orang Eropa sadar bahwa kolonialisme dan penjajahan itu adalah suatu yang keliru.

    Apakah Soeharto bapak pembangunan atau seorang diktator? Kita harus bisa mengambil yang baik dan membuang yang buruk. Soeharto memang berhasil membuat rakyat kita makmur walaupun sebagian orang berkata makmurnya rakyat kita berkat hutang luar negeri. Ya, bolehlah kita menyebutnya sebagai bapak pembangunan. Tetapi soal tiranisme dan kroniisme?? Soeharto mungkin juga nomer satu.

    Kesimpulannya, jangan melihat sejarah dari subyeknya semata, tetapi ambilah secara obyektif, ambil kenyataan di saat peristiwa buruk dalam sejarah pasti ada sisi baiknya, begitu pula sebaliknya……

    Yari NKs last blog post..“Video Killed The Radio Star”

    DM: Betul, Pak Yari, aku setuju. Tidak semata subyeknya, namun melihat sisi obyektifnya pula.
    Tapi soal Soeharto, Pak Yari, bagiku pribadi adalah soal lain. Mau dia disebut bapak pembangunan, mau dia telah membuat rakyat makmur, bagiku tetap: sebuah pemerintahan yang dibangun di atas darah pembantaian bangsanya sendiri, adalah ironis dan tetap mesti dikoreksi.
    #
    Kalau Orde Baru dimulai dengan langkah yang fair, mungkin ketika di tengah jalan penuh dengan KKN yang menggurita, itu adalah preseden. Tapi kalau ketika mulai berdiri serta membentuk pemerintahannya saja sudah tidak fair, dengan mesin politik yang sangat digdaya tanpa mengindahkan suara serta hak pihak lain, rasanya apa pun yang telah dicapai menjadi kosong.

  15. Lala says:

    DM,
    Mungkin Bung Tomo malah tidak akan menyangka bakal disebut sebagai Pahlawan… Saat itu beliau hanya melakukan apa yang bisa dilakukan… Kalau kemudian beliau disebut sebagai Pahlawan oleh orang lain, bukankah memang suatu sebutan itu datang dari orang yang memandang?

    Malu juga dengan kenyataan bahwa banyak orang-orang berjasa yang baru mendapatkan gelar setelah puluhan bahkan ratusan tahun berikutnya…

    Tapi setahu saya, saat sekolah dasar dulu, saya sudah tahu kalau Bung Tomo itu seorang Pahlawan kok… :)

    *Kamu kepingin jadi Pahlawan, DM? Bukannya kamu sudah? Kan wajahmu seperti orang habis perang gituh… hihihihihi….*

    Lalas last blog post..Sebuah Cerita Hujan

    DM: Ada beberapa buku yang mengulas tentang Bung Tomo. Baik yang ditulis oleh istrinya maupun orang lain. Di situ dapat kita lihat kancah politik Bung Tomo pascakemerdekaan. Jelas ia memang tak mengira sama sekali tentang gelar pahlawan tersebut.
    #
    Aku ingin jadi pahlawan? Oh, aku hanya ingin jadi pahlawan bertopeng, La. Hihi!

  16. prameswari says:

    Apa yang kita lakukan sekarang, mungkin akan menjadi sejarah di masa yang akan datang…………….
    Maka………..kita lakukan yang terbaik untuk negeri..

    DM: Every day create your history…

  17. marshmallow says:

    …Begitu mulai mengunyah bangku kuliah, aku banyak menemukan hal-hal di luar mainstream tersebut…

    aku bisa merasakan gairahmu berdiskusi soal sejarah, DM, sampai-sampai musti mengunyah bangku. ck, ck, ck! hati-hati, seratnya terlalu banyak buat dicerna. pelan-pelan saja, ya?

    marshmallows last blog post..Dance with My Father

    DM: Eh, Dodol! Emangnya aku rayap, ha?

  18. prameswari says:

    Hei mas…..pemahaman kita tentang sejarah tuh akan dipengaruhi oleh cara kita memahami sejarah itu sendiri. Sayang….kita tidak pada SMA yang sama, hanya pada…….. yang sama (bayangin dulu ah……..kayak IIID dan II C itu. hihihi……………..)
    Guru sejarah ade pas SMA adalah guru yang suka menceritakan dengan gaya mendongeng, dengan ilustrasi keadaan pada saat tersebut, dengan penggambaran tokoh2nya yang menarik..
    Mmmm itu membuat pelajaran sejarah menjadi pelajaran yang disukai dan dimengerti (nilai ulangan2 kita bagus2 lo…..)

    DM: Sayang kita tidak pada SMA yang sama?
    Wah, kalo’ sama ntar’ ngajak pacaran lagi. Hihihi.

  19. prameswari says:

    Napak tilas Gajahmadanya gak lupa kan…..hehehe

    DM: Ya nggaklah…

  20. prameswari says:

    Jadi inget asal mula nama prameswari (termangu…..).

    DM: Terlena… (halah!)

  21. imoe says:

    Sejarah itu dibuat dan dikonstruksi oleh yang berkuasa saat itu. Menurut kita SUHARTO pahlawan atau ngak siy ? nah itu contohnya….

    NGak penting gelar ‘kepahlawanan’ itu, karena akan mengungkung kita dengan ‘hayalan semu’ bahwa kita adalah negara yang besar…padahal faktanya kita adalah negara yang ‘kerdil’ merongrong dari dalam dengan korupsi….

    Nah bener apa yang mas DM bilang…kita butuh SOSOJ dan sosok itu ada pada orang-orang MISKIN yang memperjuangkan HIDUP dengan KEJUJURAN…..

    BAgaimana dengan kita ?

    imoes last blog post..…Wali Kelas Nonton Bareng Laskar Pelangi…. (maaf banyak foto niyy)

    DM: Bagaimana dengan kita? Satu-satuya orang yang bisa menjawab pertanyaan itu ya diri kita sendiri, Bung Imoe. Apakah kita menempa diri kita ke arah yang menyejarah atau tidak, ya tergantung kita. Bukan orang lain. Bukankah begitu?

  22. Yulis says:

    Mungkin karena ada campur tangan kekuasaan dalam memunculkan dan menenggelamkan sejarah itulah sering sekali saya mendengar ada istilah meluruskan sejarah, membengkokkan sejarah dll. Dan semua itu ada hubungannya dengan penguasa dan kepentingan penguasa.

    Semoga tidak ada lagi kekuasaan yang akan memunculkan sejarah seperti masa lalu. Sejarah tetaplah sejarah dan Pahlawan tetap lah Pahlawan jangan pernah ada lagi Pembengkokan sejarah yang menjadikan Pahlawan bangsa sebagai Pecundang bahkan Penghianat bangsa.

    Semoga semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan semakin kritis dan pandainya generasi muda akan menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar, yaitu bangsa yang menghargai jasa Pahlawannya. terimakasih

    Yuliss last blog post..HARI VETERAN

    DM: Wah… semangat sekali, Mbak Yulis. Aku sepakat sekali dengan paragraf ke-3, Mbak. Sudah terbukti, di mana-mana selamanya yang berani melakukan perubahan adalah angkatan muda. Sesuai tidaknya cerita sejarah, angkatan muda juga yang akan punya peran untuk memunculkan sebagai sebuah fakta. Kecuali angkatan muda MTV ya. Lain lagi itu.

  23. catra says:

    saya senang komentar saya di balas rinci, saya tertarik. sangat tertarik. karena saya menemukan teman diskusi, walau saya kuliah di teknik sejarah tetap jadi bahan diskusi yang menarik. saya baru tahu ternyata mas DM, salah satu teman diskusi sejarah yang asyik.

    boleh ya saya menambahkan lagi, bahwa Empat tahun sebelum terjadi Sumpah Pemuda, enam tahun sebelum Hatta menulis brosur “Mencapai Indonesia Merdeka” pada 1930, atau bahkan delapan tahun sebelum Soekarno menulis brosur “Ke Arah Indonesia Merdeka” pada 1932, Tan Malaka telah menulis “Naar de Republik Indonesia” yang berarti “Menuju Republik Indonesia”.

    hal ini konsep ke-Indonesiaan, yang ditawarkan Tan Malaka lebih dahulu dibandingkan sang proklamator kita. Tapi Tan Malaka yang notabene sedikit berhaluan kiri, nama nya seakan hilang ditelan zaman. tidak sepopuler bung karno, tidak sepopuler sudirman dll.

    Sejarah memang milik pemenang pada saat itu

  24. Yoga says:

    Dan,
    Aku menikmati diskusi ini, karena menemukan semangatmu yang luar biasa. Makin seru setelah membaca diskusimu dengan Catra, DV (aku suka analogimu DV), dan Pak Zulmasri, apalagi menemukan Tan Malaka disebut-sebut Catra. Aha!

    Kemarin, aku ngobrol ringan dengan trainer dan observer di kelas management yang terdiri dari orang Inggris, Amerika, dan Indonesia. Aku tanya, apakah mereka tahu kalau tanggal 10 November, bangsa Indonesia merayakan Hari Pahlawan? Jawaban mereka serempak bilang, tentu saja tahu dan ingat! Bahkan mereka tahu mengenai riwayat Bung Tomo, dan kapan gelar kepahlawanannya akan diberikan. Duh, aku sempat merasa malu karena nyatanya mereka lebih meng-up date diri. Tapi yang bikin terhenyak bukan itu kemudian, adalah pernyataan yang dikeluarkan oleh observer kami yang orang Indonesia ketika menanggapi aku yang mengatakan “Bisakah anda bayangkan, seseorang yang baru meninggal kurang lebih tujuh bulan yang lalu telah menerima gelar kepahlawanan, sementara banyak yang yang lainnya baru menerimanya setelah berpuluh-puluh tahun?” (Tentu kalimatku ini kusampaikan dalam bahasa Inggris, mengingat dua bule itu tak bisa berbahasa Indonesia dengan baik — dan aku tak bisa berbahsa Inggris dengan baik sebenarnya). Ia (the observer) berkomentar pendek, “Ah gelar kepahlawanan kan bisa diatur dengan… “–sambil menggerak-gerakkan Ibu jari dan jari tengah, simbolisasi uang. Malu aku!

    Mungkin aku tak terlalu nasionalis, malah mungkin, terkadang rasa nasionalisme-ku suka terselip diantara tumpukan buku-buku, atau menyelip begitu saja dikepalaku atau dihatiku, berbicara tentang sejarah bangsa dan pahlawan negeri sendiri tak mesti harus jadi nasionalis dulu bukan, tapi mau tidak aku jadi malu karena aku berhadapan dengan bangsa lain yang tahu sejarah bangsaku, dan menemukan komentar itu diucapkan di depan hidung mereka. Moga-moga ini enggak benar ya.

    Sekarang aku berpikir tentang sosok yang kau sebutkan ditulisanmu. Aku setuju, dan memang aku sebagai rakyat kecil butuh figur sosok itu. Mestinya ia seseorang yang tak akan pernah lekang meski rezim berganti dan memang pahlawan sejati — orang yang terbukti mengejawantahkan sifat-sifat kepahlawanannya, utuh demi kemanusiaan, tanpa tendensi dan tak menyisakan ruang untuk keraguan. Adakah orang yang bisa diterima oleh siapa saja, tanpa aku perlu ragu atau bahkan menyisakan ruang untuk patah hati atau bahkan mengkhianati figur itu? Aku susah menjawabnya. Mungkin kamu bisa membantuku.

    *Ingin menulis beberapa pertanyaan lagi.. tapi akan jadi sangat panjang! Sementara cukup ini dulu*

    Sore Niel!

    Yogas last blog post..Belajar Tentang Greenwashing

  25. Rafki RS says:

    Sosok pahlawan biasanya diperlukan untuk meletakkan kredo / filosofi dalam sebuah organisasi. Jika negara ini merupakan sebuah organisasi besar, maka para pahlawan inilah yang telah meletakkan nilai-nilai dan prinsip dari negara ini. Sayangnya kalau diamati secara mendalam memang ada yang tidak cocok disebut sebagai pahlawan, malahan dinobatkan jadi pahlawan. Sebaliknya orang yang sudah bertungkus lumus, menumpahkan darah untuk menegakkan prinsip-prinsip negara ini, seringkali terabaikan hanya karena sedikit kesalahannya dalam mengambil keputusan.

    Perlu keputusan politis juga sepertinya untuk menentukan seseorang itu layak jadi pahlawan atau tidak.

  26. omoshiroi_ says:

    membaca tulisan ini ditambah komentar-komentarnya serta tulisan-tulisan mengenai sejarah perjalanan negara ini di blognya mas iman brotoseno, membuatku menjadi sangat tertarik untuk mempelajari sejarah negara ini..ternyata banyak hal lain di luar buku sejarah semasa sekolah dulu..

    omoshiroi_s last blog post..Kami Melawan!!

  27. Pingback: Di Muaralabuh ini

  28. genthokelir says:

    nah kali ini memaksa saya tak sekedar membacanya
    walau dengan megap megapnya GPRS saya runtut untuk mengambil pelajaran dari sini
    saya juga berusaha untuk merefleksikan sejarah dalam kehidupan dan mencari kebenaran tentang paparan sejarah dengan sudut pandang yang berbeda beda
    agar tak salah menentukan sikap dalam memandang sejarah
    dan untungnya saya tak pernah fanatik pada satu paparan sejarah tertentu hingga sangat terbuka sekali bagi saya untuk menerima kebenaran pahlawan yang sebenarnya
    wah jadi panjang juga
    salam dari pulau sumatra

    genthokelirs last blog post..Di Muaralabuh ini

  29. wahyu says:

    wah.. tulisan menarik yang memicu diskusi yang bermanfaat.

    setuju dengan mas DM. Penentuan gelar pahlawan memang sangat tergantung pada pemimpin yang berkuasa. Pahlawan ‘formal’. Pahlawan yang diakui oleh negara (penguasa saat itu). Sementara sangat banyak orang-orang yang tidak bergelar pahlawan namun memiliki jasa untuk bangsa dan negara.

    Tapi tidak umum juga jika semua yang berjasa lantas diberi gelar pahlawan nasional. Tentu akan sangat banyak nanti pahlawan nasional kita. Mungkin yang lebih penting adalah meluruskan sejarah. Cerita tentang perjalanan bangsa Indonesia dan peran para tokoh-tokoh bangsa secara jujur dan terbuka. Sehingga masyarakat tau peran para tokoh dalam membentuk Indonesia menjadi seperti sekarang.

    Cerita sejarah yang jujur juga dapat membantu dalam mengambil pelajaran darinya dan sekaligus memberi penghargaan kepada mereka yang telah berjasa tanpa harus menyematkan gelar pahlawan.

    Dan mari kita membantu dengan sungguh-sungguh sesuai dengan peran masing-masing demi kemajuan bangsa ini. Siapa tau 50 tahun kemudian nama kita ada dalam buku sejarah.

    Lho sudah banyak to. maaf mas DM, tidak terasa ternyata sudah panjang.
    Salam.

    wahyus last blog post..Yuk.. Mengenal lampu

  30. sejarah selalu saja berpihak kepada penguasa, mas daniel. ini artinya, sejarah bisa dibuat hitam atau putih berdasarkan penafsiran sang penguasa. konon, film g30 s yang dulu pernah menjadi film wajib tonton itu juga sarat dg tipu muslihat. arifin c noor tak sanggup menolak karena keadaan memaksanya harus demikian. tapi seiring berjalannya waktu, film itu kini sudah jadi sampah. mungkin penguasa berikutnya akan membuat sejarah yang berbeda. nah, beranikah kita mendefinisikan sejarah? selama penguasa tiran masih bercokol di muka bumi, agaknya sejarah tak akan pernah berpihak kepada fakta dan kebenaran.

    sawali tuhusetyas last blog post..Blog Tanpa Adsense?

  31. Endah says:

    Gak mungkin ada yg ga tau TAS lah.. dia kan tokoh inspirasi dalam karya besar PAT.

    Endahs last blog post..Pupus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>