Mencintai sebuah negara adalah hal yang baik. Tapi mengapa cinta itu harus berhenti di perbatasan? (Pablo Casals)
Sejatinya tulisan ini hanyalah komentarku atas tulisan Sebutan Itu di blog Imelda Coutrier Miyashita. Namun karena pikiran ini kerap semau-maunya sendiri kalau sudah bertemu dengan tema yang menarik, sehingga jari sudah di luar kendali tuannya lagi. Menggerus keyboard tanpa kenal ampun. Maka adalah merupakan kegatalan tersendiri untuk memposting tulisan yang sejatinya merupakan komentar, di blog sendiri. Bukan bermaksud hendak tidak praktis, namun sudah barang tentu akan lebih lengkap jika sebelumnya membaca tulisan Sebutan Itu tersebut di blog Imelda Coutrier Miyashita.
Menurutku sejarah tidak baku sifatnya. Dia elastis mengikuti perkembangan zaman, sejauh ditemukan fakta-fakta baru yang mendukung akan suatu hal. Meski tak bisa dinafikan: sejarah terkadang ditentukan juga oleh siapa yang menang.
Di Indonesia kita bisa lihat pada kejadian-kejadian Tragedi G30S misalnya. Atau Serangan Umum di Yogyakarta. Tiba-tiba ada tokoh atau nama yang diangkat ke permukaan. Kenapa nama itu jadi terangkat dan seolah memegang peran penting? Karena pemerintah yang berkuasa saat itu sedang pegang peran.
Jika sudah demikian, jelaslah, definisi atau cara berpikir tentang siapa yang disebut pahlawan tidaklah baku atau kaku. Setiap negara, bahkan setiap kepala bisa punya frame tersendiri tentang pahlawan.
Menurut pemerintah Indonesia Pangeran Diponegoro adalah pahlawan. Tapi menurut pemerintah Hindia Belanda, adalah pemberontak. Tokok subversif terhadap pemerintahan yang sah menurut versinya. Pertanyaannya adalah: andai makam keluarga Diponegoro tidak akan dijadikan jalan oleh pemerintah Hindia Belanda, akankah ia angkat senjata dan mengajak rakyat pribumi untuk melawan Belanda? Kukira aku tidak dalam kapasitas menjawab pertanyaan tersebut.
Ketika aku menulis bahwa Bung Tomo baru diberi gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2008, aku pun baru menemukannya dan terhenyak. Artinya, aku pun baru mengetahui dan menyadari hal tersebut. Sehingga setiap 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan terkesan menggelikan.
Tapi betul kata suami Mbak Imel: ini Indonesia. Indonesia butuh alat pemersatu. Dan alat itu bisa diambil dari mana pun. Dan setiap negara boleh menggunakan alat tersebut dengan versinya masing-masing. Ingat dengan istilah Ratu Adil? Logika berpikir sehat akan berkata itu hanyalah mitos belaka. Tapi apa boleh buat, dulu negeri ini butuh mitos. Butuh sosok yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Entah agar orang tetap percaya bahwa akan ada sesuatu yang lebih baik lagi di depan atau bagaimana. Dan raja-raja Jawa itu, selalu dipercaya menikah dengan Ratu Laut Selatan. Mengapa? Agar umum mahfum: bahwa raja-raja itu masih lagi memiliki kekuatan dibanding dengan kumpeni, betapa pun hal tersebut sangat irasional.
Sehingga, kita memang butuh sosok. Negeri ini butuh sosok. Dan sosok itu bisa digunakan sebagai alat apa pun dalam konteks bernegara.
Aku pribadi sudah tidak lagi berenang-renang dalam kolam pemikiran siapa pahlawanku. Aku sudah tahu itu. Tapi aku lebih berpikir: apakah aku bakal menjadi pahlawan bagi orang lain. Siapa pun orang lain itu.
Tabik!
10 November 2008 | 14.01 wib
Catatan: mungkin bersambung, mungkin juga tidak. Tadinya hendak menambahi tentang R.M. Tirto Adhisoerjo, tokoh pers nasional yang juga tokoh kebangkitan nasional (sudah banyak kubahas juga di blog ini pada masa-masa lalu).
Boemipoetra pertama yang menerbitkan koran berbahasa Melayu (Medan Prijaji, 1907-1912), pendiri Sarekat Dagang Islamiyah (1909), Sarekat Dagang Islam (1911). Korannya menjadi corong dalam menyuarakan ketidakadilan. Tulisannya tajam menusuk penuh kritik, sementara organisasi yang dipimpinnya membludak secara massal dengan ribuan anggota di seluruh Hindia Belanda.
Khawatir akan sepak terjangnya yang menggurita, tanpa pikir panjang: ia pun dibuang pemerintah Hindia Belanda dari pulau Jawa, dan sejarah tentangnya dihapus secara sistematis. Sejak pemerintahan kolonial Hindia Belanda, masa kemerdekaan, Orde Lama, juga Orde Baru, tak banyak orang tahu siapa Tirto Adhisoerjo. Tak aneh. Perannya memang sengaja ditenggelamkan.
Seorang individu pemula di awal pergerakan negeri ini yang kobar menyerukan kebangkitan. Hingga baru pada 1973, pemerintah mengukuhkan Tirto sebagai Bapak Pers Nasional. Baru pada 3 November 2006, pemerintah memberi gelar sebagai Pahlawan Nasional.
Lihatlah, butuh 100 tahun bagi sebuah pemerintahan untuk memberi gelar pahlawan pada seseorang.




Quote:
Tapi aku lebih berpikir: apakah aku bakal menjadi pahlawan bagi orang lain. Siapa pun orang lain itu.
Itulah kata kuncinya menurut aku. Move On! bergerak…..
ternyata Danny juga baru tahu Bung Tomo belum menjadi pahlawan sampai kemarin.
Untunglah, karena saya merasa malu sekali tadinya. Kok saya tidak pernah tahu itu??? Weird ya. Sekarang saya boleh lega sedikit, karena bukan saya saja yang tidak tahu.
Tabik
EM
Ikkyu_sans last blog post..Sebutan itu….
aku padahal mau nulis persis kayak gini *halah ngaku-ngaku*
kecuali quote diatas yang bagus banget dari pablo casals >>> pamannya maria mercedes kah???
Sejarah bukan ilmu eksakta, tak ada pekem bagaimana harus menilainya, terpulang kepada subyektivitas masing-masing.
Kalau musti dipulangkan kepada subyektivitas negara, tentu penguasa yang jadi penentu harga.
Setuju, paling tidak kita harus bisa menjadi pahlawan bagi seseorang–kalau tak bisa banyak orang–yang lain.
PS. Catatannya sudah hampir sama panjang dengan badan posnya. Ternyata DM memang unstoppable writer nih.
Selamat hari Pahlawan!!
Ironisnya, kemarin saya lihat tayangan TV, ditanya 5 orang pahlawan wanita mosok jawabnya:
Cut nya’ dien, cut tari, cut keke
Hiks….anak muda sekarang
nkusumas last blog post..Tokoh A-H . . .
“‘apakah aku bakal menjadi pahlawan bagi orang lain. Siapa pun orang lain itu.”
dengan catatan bukan menjadi Pahlawan Nasional, maka menikahlah …. minimal nanti jadi pahlawan buat anak-anak kita .. halah, halah kok jadi menggurui!
mascayos last blog post..Orangtua juga Pahlawan kita
Sejarah bukan matematika….dan dari semakin banyaknya novel sejarah, sebetulnya ada ruang kosong dalam sejarah tadi yang belum diisi, jadi untuk memahami sejarah tetap harus merangkai diantara bukti/petilasan atau apapun namanya. Lha diantara itu? Penafsiran bisa bermacam-macam….
Tapi sebetulnya aku ngomong ini belum tentu benar ya (tapi kan opini)…karena tidak punya latar belakang pendidikan sejarah.
edratnas last blog post..Restrukturisasi perusahaan, penting dilakukan dalam keadaan ekonomi apapun
benar bang danil….
ga usah kita cari2 sosk pahlawan tapi mari bersma2 melecut semangat dalam diri
agar kita bermanfaat bagi orang lain, syukur2 bisa jdi pahlawan bagi orang lain….
makasih dorongannya bang….
ricness last blog post..Alhamdullilah……
yang parah, saya pernah membaca, bila fakta atau peristiwa ditulis, ia berubah menjadi fiksi, bukan sejarah.
bukankah fiksi dimuati fakta dan rekaan pengarang? tak heran bila seorang romo mangun pernah mengatakan bila ingin tahu riak sosial kehidupan pada suatu masa, maka bacalah karya sastra, bukan hanya hasil seminar, laporan pejabat, dan sejenisnya.
bgm menurut mas daniel?
Zulmasris last blog post..NYANYIAN FILANTROPI :gus tf dan fadlillah
hmmm pahlawan.
Saya juga masih bingung bagaimana kriteria pemerintah menetapkan gelar pahlawan. semisal pahlawan2 zaman pre-kemerdekaan, contohnya pattimura, tuanku imam bonjol, diponegoro dlsb. mereka memberontak bukan dalam skala nasional (pada saat itu Indonesia belum dikenal), mereka berjuang membela daerah mereka masing-masoing, seperti di makassar (Sultan Hassanuddin) yang berperang melawan belanda dan pesaing kerajaannya, aru palaka meminta bantuan belanda karena persaingan rival sesama kerajaan di sulawesi selatan pada saat itu.
tetapi yang benar2 berjuang melawan belanda dan berjuang mendirikan republik ini banyak yang tidak mendapatkan gelar, apakah karena kepentingan politik pada saat itu, HOS cokroaminoto punya tiga murid diskusi dengan konsep Indonesia, Sokarno dengan nasionalisme nya, Muso dengan haluan kirinya, serta Kartosuwiryo dengan faham agamanya. Tapi karena Soekarno yang “lucky” pada saat itu dan Kartosuworyo dan Muso yang telah ter”mindset” sebagai tokoh antagonis bagi kita tidak mendapat gelar pahlawan. padahal mereka juga ikut memperjuangkan berdirinya negara ini awalnya.
maaf saya berceloteh banyak di sini. maaf yah mas DM
Berbicara sejarah itu bagiku seperti bercerita tentang satu kebohongan tadi pagi.
Tentang siapa yang membersihkan tempat tidur, aku atau istriku…
Kepada orang lain aku akan bercerita akulah yang membersihkannya, tapi istriku bisa pula bilang bahwa aku terlalu malas untuk membersihkannya.
Padahal dua-duanya salah kecuali pembantu yang telah melakukan semuanya untuk kami.
Gitu ?
Salah ?
DVs last blog post..Bertemu William Pramana
Suka ga percaya ma sejarah coz suka beda-beda sih versinya…
Nah yang ini nanti ya komentarnya….
Yogas last blog post..Pantai Tropi
Sejarah berpihak kepada yang menang. Sederhana saja, jangan selalu percaya pada apa yang dibaca (kalau aku istilahnya: apply with thought). Kalau soal pahlawan sih…. Andy Garcia di film Hero kalau ga salah bilang gini, “I think we’re all heroes, if you catch us at the right time.” Have a remarkable day!
iJuls last blog post..Yes We Can
Buat saya…. sejarah bukanlah masalah menghafal tahun dan tanggal peristiwanya seperti pada saat guru2 kita mengajar kita dulu. Yang penting dari sejarah kita bisa belajar mana yang baik dan mana yang buruk, tanpa membedakan subyek sejarah. Orang Belanda memang dulu mengatakan ‘Pangeran Diponegoro’ itu pemberontak, namun kini banyak orang Eropa sadar bahwa kolonialisme dan penjajahan itu adalah suatu yang keliru.
Apakah Soeharto bapak pembangunan atau seorang diktator? Kita harus bisa mengambil yang baik dan membuang yang buruk. Soeharto memang berhasil membuat rakyat kita makmur
walaupun sebagian orang berkata makmurnya rakyat kita berkat hutang luar negeri. Ya, bolehlah kita menyebutnya sebagai bapak pembangunan. Tetapi soal tiranisme dan kroniisme?? Soeharto mungkin juga nomer satu.Kesimpulannya, jangan melihat sejarah dari subyeknya semata, tetapi ambilah secara obyektif, ambil kenyataan di saat peristiwa buruk dalam sejarah pasti ada sisi baiknya, begitu pula sebaliknya……
Yari NKs last blog post..“Video Killed The Radio Star”
DM,
Mungkin Bung Tomo malah tidak akan menyangka bakal disebut sebagai Pahlawan… Saat itu beliau hanya melakukan apa yang bisa dilakukan… Kalau kemudian beliau disebut sebagai Pahlawan oleh orang lain, bukankah memang suatu sebutan itu datang dari orang yang memandang?
Malu juga dengan kenyataan bahwa banyak orang-orang berjasa yang baru mendapatkan gelar setelah puluhan bahkan ratusan tahun berikutnya…
Tapi setahu saya, saat sekolah dasar dulu, saya sudah tahu kalau Bung Tomo itu seorang Pahlawan kok…
*Kamu kepingin jadi Pahlawan, DM? Bukannya kamu sudah? Kan wajahmu seperti orang habis perang gituh… hihihihihi….*
Lalas last blog post..Sebuah Cerita Hujan
Apa yang kita lakukan sekarang, mungkin akan menjadi sejarah di masa yang akan datang…………….
Maka………..kita lakukan yang terbaik untuk negeri..
aku bisa merasakan gairahmu berdiskusi soal sejarah, DM, sampai-sampai musti mengunyah bangku. ck, ck, ck! hati-hati, seratnya terlalu banyak buat dicerna. pelan-pelan saja, ya?
marshmallows last blog post..Dance with My Father
Hei mas…..pemahaman kita tentang sejarah tuh akan dipengaruhi oleh cara kita memahami sejarah itu sendiri. Sayang….kita tidak pada SMA yang sama, hanya pada…….. yang sama (bayangin dulu ah……..kayak IIID dan II C itu. hihihi……………..)
Guru sejarah ade pas SMA adalah guru yang suka menceritakan dengan gaya mendongeng, dengan ilustrasi keadaan pada saat tersebut, dengan penggambaran tokoh2nya yang menarik..
Mmmm itu membuat pelajaran sejarah menjadi pelajaran yang disukai dan dimengerti (nilai ulangan2 kita bagus2 lo…..)
Napak tilas Gajahmadanya gak lupa kan…..hehehe
Jadi inget asal mula nama prameswari (termangu…..).
Sejarah itu dibuat dan dikonstruksi oleh yang berkuasa saat itu. Menurut kita SUHARTO pahlawan atau ngak siy ? nah itu contohnya….
NGak penting gelar ‘kepahlawanan’ itu, karena akan mengungkung kita dengan ‘hayalan semu’ bahwa kita adalah negara yang besar…padahal faktanya kita adalah negara yang ‘kerdil’ merongrong dari dalam dengan korupsi….
Nah bener apa yang mas DM bilang…kita butuh SOSOJ dan sosok itu ada pada orang-orang MISKIN yang memperjuangkan HIDUP dengan KEJUJURAN…..
BAgaimana dengan kita ?
imoes last blog post..…Wali Kelas Nonton Bareng Laskar Pelangi…. (maaf banyak foto niyy)
Mungkin karena ada campur tangan kekuasaan dalam memunculkan dan menenggelamkan sejarah itulah sering sekali saya mendengar ada istilah meluruskan sejarah, membengkokkan sejarah dll. Dan semua itu ada hubungannya dengan penguasa dan kepentingan penguasa.
Semoga tidak ada lagi kekuasaan yang akan memunculkan sejarah seperti masa lalu. Sejarah tetaplah sejarah dan Pahlawan tetap lah Pahlawan jangan pernah ada lagi Pembengkokan sejarah yang menjadikan Pahlawan bangsa sebagai Pecundang bahkan Penghianat bangsa.
Semoga semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan semakin kritis dan pandainya generasi muda akan menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar, yaitu bangsa yang menghargai jasa Pahlawannya. terimakasih
Yuliss last blog post..HARI VETERAN
saya senang komentar saya di balas rinci, saya tertarik. sangat tertarik. karena saya menemukan teman diskusi, walau saya kuliah di teknik sejarah tetap jadi bahan diskusi yang menarik. saya baru tahu ternyata mas DM, salah satu teman diskusi sejarah yang asyik.
boleh ya saya menambahkan lagi, bahwa Empat tahun sebelum terjadi Sumpah Pemuda, enam tahun sebelum Hatta menulis brosur “Mencapai Indonesia Merdeka” pada 1930, atau bahkan delapan tahun sebelum Soekarno menulis brosur “Ke Arah Indonesia Merdeka” pada 1932, Tan Malaka telah menulis “Naar de Republik Indonesia” yang berarti “Menuju Republik Indonesia”.
hal ini konsep ke-Indonesiaan, yang ditawarkan Tan Malaka lebih dahulu dibandingkan sang proklamator kita. Tapi Tan Malaka yang notabene sedikit berhaluan kiri, nama nya seakan hilang ditelan zaman. tidak sepopuler bung karno, tidak sepopuler sudirman dll.
Sejarah memang milik pemenang pada saat itu
Dan,
Aku menikmati diskusi ini, karena menemukan semangatmu yang luar biasa. Makin seru setelah membaca diskusimu dengan Catra, DV (aku suka analogimu DV), dan Pak Zulmasri, apalagi menemukan Tan Malaka disebut-sebut Catra. Aha!
Kemarin, aku ngobrol ringan dengan trainer dan observer di kelas management yang terdiri dari orang Inggris, Amerika, dan Indonesia. Aku tanya, apakah mereka tahu kalau tanggal 10 November, bangsa Indonesia merayakan Hari Pahlawan? Jawaban mereka serempak bilang, tentu saja tahu dan ingat! Bahkan mereka tahu mengenai riwayat Bung Tomo, dan kapan gelar kepahlawanannya akan diberikan. Duh, aku sempat merasa malu karena nyatanya mereka lebih meng-up date diri. Tapi yang bikin terhenyak bukan itu kemudian, adalah pernyataan yang dikeluarkan oleh observer kami yang orang Indonesia ketika menanggapi aku yang mengatakan “Bisakah anda bayangkan, seseorang yang baru meninggal kurang lebih tujuh bulan yang lalu telah menerima gelar kepahlawanan, sementara banyak yang yang lainnya baru menerimanya setelah berpuluh-puluh tahun?” (Tentu kalimatku ini kusampaikan dalam bahasa Inggris, mengingat dua bule itu tak bisa berbahasa Indonesia dengan baik — dan aku tak bisa berbahsa Inggris dengan baik sebenarnya). Ia (the observer) berkomentar pendek, “Ah gelar kepahlawanan kan bisa diatur dengan… “–sambil menggerak-gerakkan Ibu jari dan jari tengah, simbolisasi uang. Malu aku!
Mungkin aku tak terlalu nasionalis, malah mungkin, terkadang rasa nasionalisme-ku suka terselip diantara tumpukan buku-buku, atau menyelip begitu saja dikepalaku atau dihatiku, berbicara tentang sejarah bangsa dan pahlawan negeri sendiri tak mesti harus jadi nasionalis dulu bukan, tapi mau tidak aku jadi malu karena aku berhadapan dengan bangsa lain yang tahu sejarah bangsaku, dan menemukan komentar itu diucapkan di depan hidung mereka. Moga-moga ini enggak benar ya.
Sekarang aku berpikir tentang sosok yang kau sebutkan ditulisanmu. Aku setuju, dan memang aku sebagai rakyat kecil butuh figur sosok itu. Mestinya ia seseorang yang tak akan pernah lekang meski rezim berganti dan memang pahlawan sejati — orang yang terbukti mengejawantahkan sifat-sifat kepahlawanannya, utuh demi kemanusiaan, tanpa tendensi dan tak menyisakan ruang untuk keraguan. Adakah orang yang bisa diterima oleh siapa saja, tanpa aku perlu ragu atau bahkan menyisakan ruang untuk patah hati atau bahkan mengkhianati figur itu? Aku susah menjawabnya. Mungkin kamu bisa membantuku.
*Ingin menulis beberapa pertanyaan lagi.. tapi akan jadi sangat panjang! Sementara cukup ini dulu*
Sore Niel!
Yogas last blog post..Belajar Tentang Greenwashing
Sosok pahlawan biasanya diperlukan untuk meletakkan kredo / filosofi dalam sebuah organisasi. Jika negara ini merupakan sebuah organisasi besar, maka para pahlawan inilah yang telah meletakkan nilai-nilai dan prinsip dari negara ini. Sayangnya kalau diamati secara mendalam memang ada yang tidak cocok disebut sebagai pahlawan, malahan dinobatkan jadi pahlawan. Sebaliknya orang yang sudah bertungkus lumus, menumpahkan darah untuk menegakkan prinsip-prinsip negara ini, seringkali terabaikan hanya karena sedikit kesalahannya dalam mengambil keputusan.
Perlu keputusan politis juga sepertinya untuk menentukan seseorang itu layak jadi pahlawan atau tidak.
membaca tulisan ini ditambah komentar-komentarnya serta tulisan-tulisan mengenai sejarah perjalanan negara ini di blognya mas iman brotoseno, membuatku menjadi sangat tertarik untuk mempelajari sejarah negara ini..ternyata banyak hal lain di luar buku sejarah semasa sekolah dulu..
omoshiroi_s last blog post..Kami Melawan!!
Pingback: Di Muaralabuh ini
nah kali ini memaksa saya tak sekedar membacanya
walau dengan megap megapnya GPRS saya runtut untuk mengambil pelajaran dari sini
saya juga berusaha untuk merefleksikan sejarah dalam kehidupan dan mencari kebenaran tentang paparan sejarah dengan sudut pandang yang berbeda beda
agar tak salah menentukan sikap dalam memandang sejarah
dan untungnya saya tak pernah fanatik pada satu paparan sejarah tertentu hingga sangat terbuka sekali bagi saya untuk menerima kebenaran pahlawan yang sebenarnya
wah jadi panjang juga
salam dari pulau sumatra
genthokelirs last blog post..Di Muaralabuh ini
wah.. tulisan menarik yang memicu diskusi yang bermanfaat.
setuju dengan mas DM. Penentuan gelar pahlawan memang sangat tergantung pada pemimpin yang berkuasa. Pahlawan ‘formal’. Pahlawan yang diakui oleh negara (penguasa saat itu). Sementara sangat banyak orang-orang yang tidak bergelar pahlawan namun memiliki jasa untuk bangsa dan negara.
Tapi tidak umum juga jika semua yang berjasa lantas diberi gelar pahlawan nasional. Tentu akan sangat banyak nanti pahlawan nasional kita. Mungkin yang lebih penting adalah meluruskan sejarah. Cerita tentang perjalanan bangsa Indonesia dan peran para tokoh-tokoh bangsa secara jujur dan terbuka. Sehingga masyarakat tau peran para tokoh dalam membentuk Indonesia menjadi seperti sekarang.
Cerita sejarah yang jujur juga dapat membantu dalam mengambil pelajaran darinya dan sekaligus memberi penghargaan kepada mereka yang telah berjasa tanpa harus menyematkan gelar pahlawan.
Dan mari kita membantu dengan sungguh-sungguh sesuai dengan peran masing-masing demi kemajuan bangsa ini. Siapa tau 50 tahun kemudian nama kita ada dalam buku sejarah.
Lho sudah banyak to. maaf mas DM, tidak terasa ternyata sudah panjang.
Salam.
wahyus last blog post..Yuk.. Mengenal lampu
sejarah selalu saja berpihak kepada penguasa, mas daniel. ini artinya, sejarah bisa dibuat hitam atau putih berdasarkan penafsiran sang penguasa. konon, film g30 s yang dulu pernah menjadi film wajib tonton itu juga sarat dg tipu muslihat. arifin c noor tak sanggup menolak karena keadaan memaksanya harus demikian. tapi seiring berjalannya waktu, film itu kini sudah jadi sampah. mungkin penguasa berikutnya akan membuat sejarah yang berbeda. nah, beranikah kita mendefinisikan sejarah? selama penguasa tiran masih bercokol di muka bumi, agaknya sejarah tak akan pernah berpihak kepada fakta dan kebenaran.
sawali tuhusetyas last blog post..Blog Tanpa Adsense?
Gak mungkin ada yg ga tau TAS lah.. dia kan tokoh inspirasi dalam karya besar PAT.
Endahs last blog post..Pupus