penganyamkata.net
current   |   rss

Beranikah Kita Mendefinisikan Sejarah?

Published November 10, 2008

Mencintai sebuah negara adalah hal yang baik. Tapi mengapa cinta itu harus berhenti di perbatasan? (Pablo Casals)

Sejatinya tulisan ini hanyalah komentarku atas tulisan Sebutan Itu di blog Imelda Coutrier Miyashita. Namun karena pikiran ini kerap semau-maunya sendiri kalau sudah bertemu dengan tema yang menarik, sehingga jari sudah di luar kendali tuannya lagi. Menggerus keyboard tanpa kenal ampun. Maka adalah merupakan kegatalan tersendiri untuk memposting tulisan yang sejatinya merupakan komentar, di blog sendiri. Bukan bermaksud hendak tidak praktis, namun sudah barang tentu akan lebih lengkap jika sebelumnya membaca tulisan Sebutan Itu tersebut di blog Imelda Coutrier Miyashita.

Menurutku sejarah tidak baku sifatnya. Dia elastis mengikuti perkembangan zaman, sejauh ditemukan fakta-fakta baru yang mendukung akan suatu hal. Meski tak bisa dinafikan: sejarah terkadang ditentukan juga oleh siapa yang menang.

Di Indonesia kita bisa lihat pada kejadian-kejadian Tragedi G30S misalnya. Atau Serangan Umum di Yogyakarta. Tiba-tiba ada tokoh atau nama yang diangkat ke permukaan. Kenapa nama itu jadi terangkat dan seolah memegang peran penting? Karena pemerintah yang berkuasa saat itu sedang pegang peran.

Jika sudah demikian, jelaslah, definisi atau cara berpikir tentang siapa yang disebut pahlawan tidaklah baku atau kaku. Setiap negara, bahkan setiap kepala bisa punya frame tersendiri tentang pahlawan.

Menurut pemerintah Indonesia Pangeran Diponegoro adalah pahlawan. Tapi menurut pemerintah Hindia Belanda, adalah pemberontak. Tokok subversif terhadap pemerintahan yang sah menurut versinya. Pertanyaannya adalah: andai makam keluarga Diponegoro tidak akan dijadikan jalan oleh pemerintah Hindia Belanda, akankah ia angkat senjata dan mengajak rakyat pribumi untuk melawan Belanda? Kukira aku tidak dalam kapasitas menjawab pertanyaan tersebut.

Ketika aku menulis bahwa Bung Tomo baru diberi gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2008, aku pun baru menemukannya dan terhenyak. Artinya, aku pun baru mengetahui dan menyadari hal tersebut. Sehingga setiap 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan terkesan menggelikan.

Tapi betul kata suami Mbak Imel: ini Indonesia. Indonesia butuh alat pemersatu. Dan alat itu bisa diambil dari mana pun. Dan setiap negara boleh menggunakan alat tersebut dengan versinya masing-masing. Ingat dengan istilah Ratu Adil? Logika berpikir sehat akan berkata itu hanyalah mitos belaka. Tapi apa boleh buat, dulu negeri ini butuh mitos. Butuh sosok yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Entah agar orang tetap percaya bahwa akan ada sesuatu yang lebih baik lagi di depan atau bagaimana. Dan raja-raja Jawa itu, selalu dipercaya menikah dengan Ratu Laut Selatan. Mengapa? Agar umum mahfum: bahwa raja-raja itu masih lagi memiliki kekuatan dibanding dengan kumpeni, betapa pun hal tersebut sangat irasional.

Sehingga, kita memang butuh sosok. Negeri ini butuh sosok. Dan sosok itu bisa digunakan sebagai alat apa pun dalam konteks bernegara.

Aku pribadi sudah tidak lagi berenang-renang dalam kolam pemikiran siapa pahlawanku. Aku sudah tahu itu. Tapi aku lebih berpikir: apakah aku bakal menjadi pahlawan bagi orang lain. Siapa pun orang lain itu.

Tabik!

10 November 2008 | 14.01 wib

Catatan: mungkin bersambung, mungkin juga tidak. Tadinya hendak menambahi tentang R.M. Tirto Adhisoerjo, tokoh pers nasional yang juga tokoh kebangkitan nasional (sudah banyak kubahas juga di blog ini pada masa-masa lalu).

Boemipoetra pertama yang menerbitkan koran berbahasa Melayu (Medan Prijaji, 1907-1912), pendiri Sarekat Dagang Islamiyah (1909), Sarekat Dagang Islam (1911). Korannya menjadi corong dalam menyuarakan ketidakadilan. Tulisannya tajam menusuk penuh kritik, sementara organisasi yang dipimpinnya membludak secara massal dengan ribuan anggota di seluruh Hindia Belanda.

Khawatir akan sepak terjangnya yang menggurita, tanpa pikir panjang: ia pun dibuang pemerintah Hindia Belanda dari pulau Jawa, dan sejarah tentangnya dihapus secara sistematis. Sejak pemerintahan kolonial Hindia Belanda, masa kemerdekaan, Orde Lama, juga Orde Baru, tak banyak orang tahu siapa Tirto Adhisoerjo. Tak aneh. Perannya memang sengaja ditenggelamkan.

Seorang individu pemula di awal pergerakan negeri ini yang kobar menyerukan kebangkitan. Hingga baru pada 1973, pemerintah mengukuhkan Tirto sebagai Bapak Pers Nasional. Baru pada 3 November 2006, pemerintah memberi gelar sebagai Pahlawan Nasional.

Lihatlah, butuh 100 tahun bagi sebuah pemerintahan untuk memberi gelar pahlawan pada seseorang.