Secuil Cerita dari Indonesia Book Fair
Hari ini Anda adalah orang yang sama dengan Anda di lima tahun mendatang, kecuali dua hal: orang-orang di sekeliling Anda dan buku-buku yang Anda baca. (Charles Jones)

Kalian pernah kalap akan sesuatu hal yang kalian sukai? Entah itu hobi, belanja, atau apa saja. Kalap bukan dalam arti marah hingga lupa diri. Tapi lebih pada kalap tak kuat menahan diri atas apa yang betul-betul kita sukai. Ada yang suka otomotif, ada yang suka burung, ada yang suka pakaian, dan macam-macam lainnya.
Aku sendiri bukan tipikal orang yang suka belanja (ya iyalah!). Tapi kalo soal buku, weh, baru aku bisa kalap dalam arti sesungguhnya. Aku masih menganggap lebih baik mengenakan pakaian yang itu-itu saja ketimbang tak bisa beli buku. Masih lebih mending pakai sepatu model lama daripada tak bisa beli buku. Juga masih lebih mending pakai handphone tua, daripada tak bisa belanja buku. Tapi setelah kupikir-pikir, rupanya polanya sama saja: tergantung minat seseorang juga. Aku bisa berlebih-lebihan dalam hal buku. Sama halnya seseorang bisa berlebih-lebihan dalam soal pakaian.

Hari Rabu kemarin, bersama teman-teman kantor dan beberapa orang penerbit lain di Bandung, kami menyerbu Indonesia Book Fair yang diadakan di Jakarta Convention Center. Tiba pukul 11, mengikuti sejenak acara pembukaan, lantas kami berpencar. Kalau sudah di acara book fair semacam itu, aku pribadi memang lebih suka kelayapan seorang diri ketimbang berendeng-rendengan. Karena minat masing-masing orang tentu berbeda. Kita bisa tertahan lama di satu stan, sementara teman lain mungkin tak begitu tertarik dengan stan yang kita diami. Jadi lebih enak memang seorang diri (kecuali sama pacar ya? Hehe).
Setelah memutari seluruh area sekadar melakukan survei terlebih dahulu, barulah tahu apa dulu yang mesti dituju. Karena ini hari pertama pembukaan, dan merupakan jam kerja, tentu suasana masih lengang tak hiruk pikuk. Sehingga membuat leluasa untuk menyibak rak demi rak, buku demi buku, dan senyum manis mbak penjaga stan. Inilah liburan yang sesungghnya bagiku.
Mengambil tema The Heritage of Ranah Minang, Indonesia Book Fair kali ini diikuti lebih dari 100 vendor yang meliputi penerbit, pusat kebudayaan, importir dan distributor, fancy dan stationery, juga lembaga pendidikan. Semua menyajikan produk andalan mereka yang disuguhkan dalam balutan desain dan lay out stan aneka rupa. Dari yang paling sederhana, kreatif, mewah, sampai yang bikin ribet pengunjung.
Ada stan-stan yang didesain begitu mewah. Tapi malah bikin segan pengunjung untuk memasukinya. Suasananya mirip sebuah ruang keluarga yang mewah: rapi, luks, dan nyaman. Tapi mereka lupa: ini pameran buku, buka pameran desain interior.
Ada yang ribet dengan desain yang memukau mata. Tapi lay out buku yang tersaji tak begitu banyak. Sehingga yang terlihat keren hanya stannya, tapi tidak isinya. Rupanya mereka masih menonjolkan context ketimbang content. Ada pula yang menyuguhkan desain minimalis, namun buku-bukunya sungguh menggoda. Sisanya berupa stan yang cukup kreatif, dengan display sederhana, namun buku-buku yang dipajang membuat tak tahan untuk mencomotnya. Akhirnya aku mulai berburu satu demi satu.
Hal menggelikan pertama adalah ketika mengetahui buku yang pertama kali kubeli malah Michael. The Unofficial And Unauthorised Biography of Michael Jackson, karya Duane Harewood. Aku sampai nyengir sendiri: kenapa justru buku itu yang pertama kali kucomot. Apa boleh buat, aku memang mengoleksi biografi Michael Jackson. Dan itu kutemukan satu-satunya di deretan buku impor. Aku tak mau kehilangan. Tapi di stan yang sama aku juga menemukan Brida-nya Paulo Coelho. Sialan juga, karena untuk satu eksemplar itu aku mesti merogoh kocek Rp220 ribu. Weh. Dengan uang segitu mestinya aku bisa mendapatkan banyak buku lokal.
Perburuan pun diteruskan. Karya-karya Leo Tolstoi kusikat. Buku-buku obralan jangan ditanya. Dari mulai novel, filsafat, sejarah, kesusastraan, jurnalisme, sampai komik. Ada sebuah stan yang mampu pula membuat aku kalap: stan Pasar Buku Langka TMII. Di sana aku menemukan puluhan Trio Detektif karya Alfred Hitchcock, penulis dan sutradara yang terkenal dengan sebutan The Master of Supense itu.
Trio Detektif yang bertebaran di situ masih karya dan cetakan lama. Bukan Trio Detektif yang sudah ditulis tidak oleh Alfred Hitchcock. Tentu saja aku kalap. Karena koleksi Trio Detektif masa SD-ku sudah tak lengkap lagi di perpustakaan, raib entah kemana. Hanya menyisakan beberapa pucuk. Dan apa boleh buat, aku memang tumbuh bersama Trio Detektif saat masih kecil.
Selain Trio Detektif, di sana aku pun menemukan Tintin, Asterix, Lucky Luke, juga Smurf. Wow!! Ini surga! Tintin-nya masih terbitan Indira, bukan Gramedia. Aku tak suka Tintin yang sudah diterbitkan oleh GPU. Ukurannya jadi kecil, dengan balon berisi teks italic. Tak nyaman. Tapi kata temanku yang sebaya denganku: “Mungkin karena kita terbiasa dengan Tintin terbitan Indira.” ah, bisa jadi.
Tapi harga-harga buku tua dan bekas di stan itu cukup mahal. Satu judul Trio Detektif dihargai 15 ribu perak. Kutawar Rp10 ribu tetap tak dikasih. Hhh! Seorang pengunjung mendapatkan jawaban harga Rp75 ribu untuk buku Tan Malaka-nya Harry A. Poeze. Weh, mahal juga. Untung aku sudah punya, dan dulu tak semahal itu (Harry A. Poeze akan hadir pula di Indonesia Book Fair ke-28 ini sebagai salah satu pembicara). Namun stan itu berhasil melempar aku kembali ke atmosfir masa kecil.
Punggungku makin condong ke belakang. Tas ransel yang kugendong makin sarat beban buku. Baru kuinsyafi: aku menyesal membawa laptop di ransel yang pada akhirnya toh tak kugunakan sama sekali. Tapi perburuan belum lagi usai. Aku masih terus mengitari stan demi stan seorang diri. Kalau bertemu teman di salah satu stan, cuma mesam-mesem sembari menyindir: “Inget… Inget…” Hehe!
Aku terlonjak girang ketika pada akhirnya menemukan The Celestine Prophecy karya James Redfield di stan Gramedia. Bukan apa-apa, bertahun lamanya aku berburu buku itu. Banyak teman yang merekomendasikan. Bahkan Anand Krishna di bukunya Renungan Harian pun merekomendasikan pembacanya untuk melahap The Celestine Prophecy. Aku tak malu untuk mengakui belum membaca The Celestine Prophecy. Soalnya adalah sulitnya minta ampun mencari buku itu. Sudah banyak toko dan pasar buku kuubek-ubek untuk mendapatkan buku itu, selalu saja nihil. Rupanya hari itu adalah hari keberuntunganku.
Ternyata ada banyak karya James Redfield di situ (juga di toko-toko buku lain selama ini, kecuali The Celestine Prophecy). Tapi kutimbang-timbang, selain The Celestine Prophecy, perlukah karya James Redfield lainnya kuambil juga? Aku SMS seorang teman blogger. Bagaimana pendapatnya tentang Calestine Vision, karena kuingat ia pernah menulis sedang membaca Calestine Vision di ShoutBox blog-ku. Aha! Itu juga salah satu alasan mengapa aku memasang ShoutBox semacam itu. Dengan demikian aku bisa bertanya padanya. Baru kemudian aku berani mengambil keputusan.
Rasanya kini aku mesti makin bijak. Bukan apa-apa, sudah sering kali aku mengambil sesuatu yang sejatinya tak sungguh-sungguh ingin kubaca segera. Pada akhirnya aku tak mau mengikuti arus hanya karena judul tertentu sedang ramai dibaca dan dibicarakan orang. Sementara diri pada dasarnya belum sungguh-sungguh tertarik.
Tak jarang, ada buku-buku tertentu yang ketika kupegang, aku jadi berpikir: “Aku sudah punya belum sih buku ini? Rasanya pernah baca, tapi kok belum punya. Rasanya sudah punya, tapi kok belum baca.” Haha! Itu terjadi ketika aku memegang buku yang berisi esai-esai Iwan Simatupang. Maka makin kemari aku makin tahu: aku hanya ingin membeli buku yang memang ingin kubaca, bukan kumiliki.
Matahari makin menggelincir. Dan perut mulai memanggil-manggil. Kutelpon teman:
“Di mana?”
“Merokok di luar.”
“Oke.”
Maka kita pun santap siang. Panasnya Jakarta, weh, bikin keringat menetes.
“Kok bisa orang hidup di kota sepanas ini…” ujarku sembari melahap perkedel.
“Itu karena kita sejak di mobil pakai AC. Di dalam AC-nya pun sejuk. Jadi begitu keluar ya terasa banget.”
“Tapi kukira masih lebih nyaman tinggal di Bandung, meski sudah panas, tapi ya nggak gerahlah.”
“Itu karena kita sudah terbiasa tinggal di Bandung.”
Weh, kawanku ini selalu bisa menyodorkan kalimat bijak. Waktu bicara soal Tintin yang sudah dibeli Gramedia yang tak begitu kusuka, ia beranggapan “Mungkin karena kita sudah terbiasa dengan Tintin terbitan Indira.” jawabnya menenangkan. Usianya satu tahun di bawahku, tapi kepribadiannya matang.
Usai istirahat dan santap siang, kita pun masuk ke hall lagi.
“Kita pisah lagi?” tanyaku.
“Yup.”
“Hati-hati di jalan.”
“Halah!”
Perburuan masih terus berlanjut. Ransel makin terasa berat di punggung. Tapi rak demi rak itu masih juga belum bosan untuk diubek-ubek. Menjelang pukul 15 tubuh mulai merajuk minta sandaran. Aha! Aku ingat, sore ini ada acara bincang buku Shahnaz Haque di panggung. Berarti aku bisa duduk. Dan aku pun memburu Shahnaz Haque!
Kami duduk paling depan (karena itulah deretan kursi yang masih kosong tersisa). Dua orang MC yang merupakan teman-temanku dari penerbit lain mulai memandu acara. Mengusung buku karya Shahnaz, Keep Smiling. Mengasuh Anak Tanpa Panik. Kalau bukan karena pembicaranya dan juga karena letih, tentu aku melewatkan acara bincang buku dengan tema semacam itu. Namun ternyata acaranya menarik.
Dan Shahnaz Haque itu, oh, betapa cantiknya! Tampak sekali ia perempuan cerdas. Dari cara bicaranya, dari cara berpikirnya, dan dari caranya menanggapi pertanyaan-pertanyaan. Aura kecerdasannya terasa. Tapi, kenapa aku jadi sibuk menulis tentang Shahnaz Haque ya? Haha! Tapi satu hal pasti yang juga diamini oleh kawanku dari acara itu adalah: kita sama-sama cemburu pada Gilang Ramadhan, suami Shahnaz Haque. Hahaha!
Usai Shahnaz, eh, usai acara bincang buku, kami melanjutkan pertempuran kembali.
“Kita pisah lagi?” tanyaku.
“Yup.”
“Take care.”
“Hayah!”
Di stan Medpress, ketika sedang membolak-balik sepucuk buku, tiba-tiba ada yang menyapaku. “Mas Daniel!” sapa pria itu dengan wajah jenaka, tapi air mukanya nampak kebingungan. Rupanya Mas Arifin. Manajer Produksi Medpress Group, Yogyakarta. Kami pun berbincang cukup lama.
Kuperhatikan air mukanya yang masih saja kebingungan. “Tampak seperti kebingungan, Mas. Kenapa?”
“Iya’e. Aku masih belum sreg dengan lay out displaynya. Piye yo…” jawabnya dengan logat Yogya yang kental.
Akhirnya kami jadi ngobrol soal kemungkinan-kemungkinan memajang buku agar tampak menarik.
“Weh, ini sebetulnya yang punya stan siapa sih?!” tukasku tersadar.
“Hehehe.”
Di stan Agromedia aku terlonjak girang ketika mendapati The History of Java karya Thomas Stanford Raffles berdiri menantang. Padahal sudah kukitari beberapa kali stannya. Past ini baru dipajang.
“Seratus delapan puluh delapan ribu. Didiskon jadi seratus empat puluh empat.” bisikku sembari menimbang-nimang buku super tebal itu. Kubuka dompet, “Whaaattt…?!! Tinggal delapan puluh ribu uangku!” gawat ini. Lebih gawat lagi karena di stan tersebut tak bisa debet pakai kartu. Bahkan alat penggesek pun tak ada. Siang hari sempat kutanya pada beberapa orang penjaga stan: di mana letak ATM, tak ada yang tahu. Atau aku mendapatkan jawaban: “Meski keluar komplek.” Weh, repot juga. Sementara The History of Java mulai mengedipkan matanya tanda menggoda. Aih!
Putar otak. Akhirnya ketemu jawabannya. Aku ingat, kami ke acara IBF ini juga bersama Manajer Keuangan kantor. Aha! Kutelpon dia.
“Halo… apa kabar…”
“Hah? Manis bener?”
“Hihihi… sedang di stan mana?”
“Grafindo, Mas. Kenapa?”
“Jangan pergi kemana-mana! Jangan pergi kemana-mana! Tunggu aku di sana! Aku ke situ!” Klik. Telpon pun kututup.
Ketika pada akhirnya bertemu, aku udah cangar-cengir menyapa.
“Aku dapat kesulitan.”
“Hahahaha… berapa?”
“Hahahaha! Sialan! Seperti sudah bisa menebak.”
“Apalagi… pasti kehabisan uang.” ujarnya masih ngakak.
Kuceritakan kendalaku. Ia mengeluarkan dompet. Awalnya aku mau meminjam 500. Tapi kupikir-pikir, itu malah akan makin membuatku tak terkontrol. Sedang yang di ransel saja sudah sedemikian berat. Akhirnya aku hanya memegang 6 lembar 50 ribuan warna biru. Dan aku pun melesat.
“Pulangnya kita ke ATM!” teriakku dari kejauhan.
“Gampang!”
Ya. Aku memang kerap tak bisa mengontrol kalau urusannya sudah buku. Awal bulan lalu, saat hendak membelikan seseorang sepucuk Recto Verso, hanya sepucuk, aku mampir ke Toga Mas di Bandung. Hanya sepucuk. Dan niatku pun cuma sepucuk. Siapa nyana, keluar dari Toga Mas aku malah mendebet hingga 500 ribu perak. Hhh! Padahal niatnya hanya sepucuk! Selalu tak kuat menahan godaan kalau urusannya sudah buku.
Dan kemarin November masih lagi berjalan 12 hari. Digabung dengan acara IBF ini, entah sudah berapa juta kularikan ke buku. Ck-ck!
Tapi aku tak pernah merasa rugi atau menyesal sama sekali. Yang kubeli adalah buku. Sudah barang tentu yang bisa turut mengkonsumsi tidak semata aku. Aku bukan membeli ikat pinggang atau sepatu yang semata aku yang dapat mengenakannya. Ini buku. Aku selalu berpikir: ini investasi jangka panjang. Dan mengkonsumsi buku merupakan asupan leher ke atas. Bukan leher ke bawah.
Bapak dan mamaku suka membaca. Sama halnya dengan adikku. Ia sama maniaknya terhadap buku. Hingga kini aku masih menyimpan beberapa koleksi almarhum bapak yang diberikan padaku. Maka suatu saat kelak, aku pun ingin membentuk keluarga yang doyan membaca. Istri yang lahap membaca dan anak-anak yang haus membaca. Aku ingin rumahku kelak dindingnya penuh dengan buku bacaan. Ke toko buku beramai-ramai sekeluarga. Aih, betapa menyenangkan. Tapi apakah itu karena minatku semata? Egoiskah? Tentu tidak. Hal seperti itu kan bisa dibentuk. Namun itu semua tidak bisa dibentuk dengan kata-kata.
Meski klise, tetap betul kata Shahnaz Haque: “Kita tidak bisa menyuruh anak kita suka membaca kalau ibunya tak suka membaca. Kalau ayahnya tak pernah memegang buku. Kita harus melakukannya.”
Well, aku tak pernah sedikit pun merasa rugi kalau mesti merogoh kocek untuk membeli banyak buku. Karena bukan aku semata yang kan mengkonsumsinya. Untuk hal tersebut aku kagum pada keluarga Gola Gong. Dia salah satu panutanku dalam membentuk keluarga.
Maka matahari mulai pamit pulang. Langit Jakarta mulai gelap. Maka burung mesti kembali ke sarang. Seperti konsep hidup itu sendiri: pulang.
Jam 19 kami tinggalkan Jakarta. Terjebak macet di tol dalam kota. Weh, Jakarta…
Meski Indonesia Book Fair kali ini terkesan biasa saja, tak banyak negara yang ikut ambil bagian, namun di dalam mobil aku tertidur pulas sembari tersenyum senang karena hariku cukup menyenangkan…

Siapa yang tahan godaannya…

KKG. Minimalis, praktis, manis.

Grafindo. Genjreng.

Menyimpan harta karun masa silam.

Motonya boleh juga: “Cari buku apa saja, semua ada di sini”.

Bebas melenggang. Asal jangan ngutang!

Duhai Shahnaz Haque.

Mesti dikomentari apa ya foto ini… Udah ah.




Aha! Kenapa nggak bawa tas koper yang bisa didorong….jadi nggak capek.
Saya malah baru mau besok ke sana (sekalian mau ketemu Lala…mudah2an ga ada rapat atau apa dadakan)…sayangnya kalau acara beginian, mesti bayar tunai ya…jadi mesti ke ATM dulu….padahal udah males nih bawa uang tunai.
Keluargaku termasuk maniak buku, tapi kayaknya beda deh dengan buku yang dibaca Daniel, kecuali cerita detektif dan lain-lain. Dan masing-masing anggota keluarga minat bacanya beda…sedangkan dulu, saya dan kedua adik seleranya hampir mirp…jadi asyik diskusinya.
edratnas last blog post..Sebuah “pilihan”
saya selaluh kalap dengan apa yg ada dibalik bikini
aaaaaaaarrrrrrrrrrgggggggggghhhhhhhhhhhhhhh trio detektif
duuuuuh aku terbang ke sana deh besok!! masih ada ngga?
Duh MJ adalah buku pertamamu ya?
baru tau aku, danny demen banget sama MJ.
emikos last blog post..Semoga abadi
Quote:
Baru kuinsyafi: aku menyesal membawa laptop di ransel yang pada akhirnya toh tak kugunakan sama sekali.
kok baru sadar sih? Tujuan beli buku mana ada waktu buka laptop?
Pasti tak bisa sedetikpun tidak tersambung internet tuuuuh.
mau chatting sama sapa sih?
hihihi
EM
emikos last blog post..Si Penyambung nyawa
golek buku opo wae
kabeh ono neng kene
slogannya boleh juga
tapi di sini kayaknya adanya buku boso jowo semua…. not for me deh.
emikos last blog post..Si Penyambung nyawa
wah, kegiatan kolektif, DM.
tapi ngapain bawa laptop? kan aku udah bilang gak bakal available juga seharian, sama-sama sedang berburu buku, toh?
marshmallows last blog post..Wisata Toko Buku
Smurf?… Smurf juga ada? makhluk mungil berwarna biru itu? Gargamel? Azrael? Aiih… jadi rindu Smurf !!!…
tantis last blog post..Untuk Ayah Tercinta
Awas punggungnya lo….tas ranselnya jangan keberatan . Hehehe…
Kalap ama baju eh buku…… belum pernah siy…. (hem hem)
‘Serius’ : Buku memang membentuk generasi bangsa yang pintar dan berwawasan…….. mestinya ada hari Buku Nasional…(eh ada nggak..)
Alfred Hitcock, Leo Tolstoi, Tintin.. mbok ya beli satu lembar kaos Giordano atau apa kek biar ganti bajunya.
Ngono lho cah sombongggggg….
DVs last blog post..Mulai Kerasan di Hari Keenam
@ Emiko
Mbak, slogan Jawa itu cocok banget buat mas Niel, Stan buku kuwi kudu lengkap isine, ben diborong kuuuabehhh …..ben ra cukup ransele…..ben ra kuat ngangkat ransele, bar tuku buku trus mangan sego pecel…..hehehe
Hhh… nggak tahan bacanya…!!! Emosi jiwa.
Nggak terima!
Ini namanya ngiming-ngimingi!
Ah belum baca The Celestine Prophecy apalagi sekuelnya.. Ya ampun… itu mah jaman aku masih gondrong! Awal 2000-an.
ck-ck-ck
Aku sering lupa daratan juga kalo ketemu buku..tapi alhamdulillah hanya kalo nemu diskonan dan masuk akal. Ditemani supervisor yang cukup tegas, nggak pernah lupa injek rem..inget pengeluaran rumah tangga. Dan ada bagusnya, tinggal di pedalaman..yang kalo ke toko buku terdekat mesti naik motor setengah jam-an..
Yah sebetulnya kalau ditanya seberapa kalap aku dengan buku….
pasti kalap sangat. Karena paling ke Indonesia setahun 1-2 kali, jadi peluang untuk bisa membeli buku dimanfaatkan. Sebelum Kai lahir, saya masih sering membeli buku online di gramedia online, lalu minta dikirim ke rumah di jakarta. Ditumpuk begitu saja. Nah begitu saya pulang ke Jkt saya bawa ke Jepang. Tapi terkadang tidak masuk bagasi karena terlalu berat, sehingga harus memberikan prioritas pada buku tertentu, dan yang tidak terpilih harus tetap tinggal di Jakarta. Dan ternyata “sisa” buku yang saya tinggal di Jakarta masih cukup banyak. Kebetulan kemarin waktu pulang hanya membawa 1 koper, jadi buku saya masukkan handbag utk masuk bagasi. hanya 11 kg (sedikit menurut saya)…. Hanya buku bahasa Indonesia. Karena kalau buku bahasa Inggris, lebih mudah mencari di amazon. Nah kalau saya pergi ke book Fair seperti begini? mungkin saya harus mengajak supir yang bisa membawakan dan taruh dalam mobil dulu selama saya ngider-ngider. Sudah lama tidak ke pameran buku Ikapi… terakhir saya pergi ke gelar buku gramedia di palmerah sana, dan memborong sekitar 6 kg buku sehingga yang tadinya mau nyoba naik busway tidak jadi karena keberatan. Taxi deh….
Kalap dengan buku, CD dan….. perangko. Baju? ngga ada sizenya. Sepatu juga. tas? ngga minat enakan ransel…. apa lagi ya?
sorry kepanjangan ….
Ikkyu_sans last blog post..Pentas Kabuki
Aduh, aku baca posting ini jadi ngos-ngosan dan jantung berdebar.
Serasa ikutan heboh…kebayangnya mas daniel lari sana lari sini cari buku sambil bawa koper (eh ransel ya…) di punggung…aku jadi haus…
“Bebas melenggang. Asal jangan ngutang!” (lha…bukannya duitnya sempet minjem?) hihi…
deuh… yang di Sydney sono, gi semangatnya mosting perjalanan berburu buku, di sini, ternyata mas Daniel juga ~_~ IBF ya… doh!
.
Kalau saya sih, paling banter Pameran Buku di Landmark Braga itu. Tapi selalu saja kecewa berat. Daftar buku-buku yang saya cari ndak ada satupun! Islam and The Destiny of Man & Remembering God-nya Charles Le Gai Eaton, Eroica, The Devil and Miss Prym, sampai Tetralogi Pulau Buru ndak saya temukan. What the heck…?! o_0″;
.
Yah, akhir bulan kemarin sih cuci-mata ke Togamas dan Palasari. Mwehe, kali aja kapan-kapan kita bisa ketemu, mas
.
Tapi yeah! Mending ndak makan seminggu ketimbang ndak bisa membeli buku yang dikangenin
ariss_s last blog post..Stasi Kedua
sepertinya mas DM emang lupa bawa koper deh…. hehehe bener banget kata bu edratna. bdw, kok postingannya rada2 familiar yah sama postingan uni marshmallow?
Hehehe..iya, Dan. Soalnya aku kalo udah masuk toko buku, nggak enak badan pun jadi seger buger. Apalagi kalo di Togamas, mesti diseret baru mau keluar. Betah banget ngedeprok di lantai, soalnya mas-mas dan mbak-mbak di sana nggak pernah melototin atau nyuruh baca sambil berdiri aja kayak di toko…kamu tau kan:p
Tapi aku dapat jurus membunuh keinginan yang lumayan ampuh kok, dari ‘boss cinta’ [ini sebutan baru buat beliau, sang supervisor]. Kalo liat buku, bayangin aja judulnya FULUS-FULUS-FULUS semua. Sukses nggak tergiur:))
Ya ampun Niel… kamu terlampau serius. Kalem. Sorry kalau merasa sebal. Maksudku becanda lagi.
Kalau ditanya seberapa kalap terhadap buku? Aku bilang aku akan sangat kalap. Seberapa pun uang disaku atau jika bisa gesek, bakal dijabani deh. Oleh karenanya jika datang ke acara seperti IBF, aku cuma membawa uang tunai sejumlah yang kubutuhkan, yang ku-estimasi dari list buku yang akan ku cari plus dua puluh persen dari anggaran itu untuk membeli buku yang tak ada dalam list tapi menarik untuk dibeli. Belajar dari pengalaman dulu-dulu, saking kalapnya, stabilitas keuangan terganggu, udah gitu ternyata sampai IBF berikutnya, buku-buku yang kubeli ada yang masih terbungkus plastik rapi. Padahal aku membeli buku yang memang ingin kubaca. Jadi selama masih dengar akan ada Books Expo yang lain lagi, aku nggak mau terlalu kalap, apalagi, dalam sebulan selalu ada kesempatan ke toko buku dan aku paling nggak bisa keluar dari toko buku tanpa menenteng sebuah buku.
Sama! Aku kerap mengalaminya.
Selamat pagi… mudah-mudahan perjalananmu lancar dan sukses hari ini.
Yogas last blog post..Rasa
Ah, aku ga maniak baca buku, apalagi beli. Biasa aja
iJuls last blog post..Wisata Kuliner 1: Sagu
Nyari Celestine Prophecy sulit ?……., mosok seh ? film nya aja udah ada, tapi ya gitu…kurang pas ama bukunya.
Kalau mau menulis harus membaca. Setidaknya ini prinsip yang kutanamkan bagi diriku yang wanna be a writer ini.
Apa kabar, Bung Daniel?
Perlu dipijat setelah capek berburu buku?
Aku bisa rekomendasikan tempat yang bagus.
celestine prophecy??
emang bagus. dulu baca waktu awal kuliah tahun 2002. sempet mempengaruhi cara pandang.
oh iya..
udah aku kembaliin belum ya bukunya..? lupa..
DM mau dibantuin baca buku-bukunya gak? kayaknya kewalahan tuh, saking banyak nya.
wahyus last blog post..Yuk.. Mengenal lampu
Hai DM…
Hari ini aku bertemu lala, dan bunda
enny..
Berasa udah kenal kamu banget hahahah
cuma gara gara bunda Enny cerita cerita gituh tentang dirimu kekekekek
Salam kenal ya ..
meninggalkan komen yang pertama..setelah selama ini saya ngintip saja..gak tau mau komen apa..hahahahha
Ehem…
termasuk dapet gosip ..kamu deket ..sama si ..annu…(annu sapee lagi yesss)
yessy muchtars last blog post..Nama mu..Nama ku…
walah, aku belum sekalap mas daniel dalam soal buku. maklum, saya mesti lari ke semarang jika ingin berburu buku. itu pun paling hanya bisa kulakukan sebulan sekali, hiks, jadi malu. kalau ada bookfaoir semacam itu, saya kok ndak yakin kalau negeri kita bangsa yang malas membaca, bahkan mas daniel sendiri malah sudah kalap, wakakaka …..
sawali tuhusetyas last blog post..Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin Parah (3)
budayakan membaca..
tapi membaca terus jadi suntuk ya
andifs last blog post..Sangkuriang
maap .. maap .. saya juga lagi kalap nih
tapi kalap beli buku-buku buat zia .. belajar menulis, mewarnai barbie, ..macem-macem deh hehehe
trio detektif? glek! buku-buku trio detektif saya pada kemana yah? eh .. anak-anak sekarang detektifnya apa yaa? ada yang tau?
mascayos last blog post..dampak krisis global mulai terkuak
kalo mo kalap, biasanya saya melihat isi kantong dulu..kalo bisa buat modal kalap..ya saya kalap dengan buku buku
Kalau saya memang senang dengan buku, terutama buku-buku nonfiksi. Dulu2 saya takut dibilang “kutu buku” karena takut nanti tampangnya jadi culun katanya. Tetapi setelah saya berumur awal 30an, saya justru jadi percaya diri dengan keadaan saya yang mencintai buku ini. Walaupun saya kutu buku, tampang saya tetap
gantengnggak culun. Bahkan banyak orang yang nggak senang buku tetapi wajahnya lebih culun dari saya…. huehehehe……**halah komen apa aku ini, kok nggak mutu banget**
Yari NKs last blog post..Gamba Osaka Juara Piala Champions Asia
*ngakak guling-guling baca komen mas yari*
jadi buku itu obat ganteng ya, mas?
berarti musti disediakan di salon-salon kecantikan juga, dong?
huehehe…
Banget, Dan. Tadi pagi aja aku mampir ke Togamas dan hanya beli dua buku yang dibutuhkan..lagi-lagi sukses..!! Huhuuuu… layak dirayakan dengan makan-makan enak
Rinurbads last blog post..LYM di Koran Priangan
hahahaha kalap bener mas DM tuh….kemaren di PADANG BOOK FAIR saya juga hampir kalap…beli KOMIK hehehehe murah banget siy harganya, walalupun udah lama….tapi sayang Padang BOok Fair kagak banyak nyediain penerbit…ngak banyak penerbit yang mau ikutan…..tapi seru juga tuh…
O ya mas DM…saya baca di kompas, tema indonesian book fair emang the heritage of ranah minang…nah kenapa mereka ngambil tema itu ya ?
imoes last blog post..‘mohon maaf’
Mas Dan …
Hah ini reportase yang lengkap …
kombinasi antara laporan perjalanan … sedikit komentar buku plus juga dokumentasi Stand … (dan juga komentarnya terhadap stand)
Sempet-sempetnya mas Dan ini …
Salam saya mas Dan …
Diposting dari Bandung nih …
nh18s last blog post..ROOM MATE # 2
saya kamrin juga dari sana. ada buku harganya cuma 3.000 ada juga yang sampai 300ribu, bahkan lebih. saya cuma beli 2 komik buat refernsi
salam kenal
main ke blog saya mas
antowns last blog post..Ya Asu…, Ya Kartolo…
Selama ini saya selalu paksakan untuk membaca tapi terkadang susah untuk bisa sampai selesai. Kalau Novel bisa semalam suntuk selesai dan ga bisa nunggu hari berikutnya, harus hari itu juga tamat.
Setelah membaca tulisan mas DM dan mbak Marsmallow mengenai buku sekarang minat baca saya mulai tumbuh lagi..
Thanks untuk semangatnya mas.
Yuliss last blog post..SATU TAHUN DI NEGERI PAMAN SAM
Wah kalau ditanya seperti itu, tentu saja aku kalap sekali, coz aku suka sekali baca buku.
redesyas last blog post..Satu Hari Tanpa Uang
walah walag sudah bisa di tebak kalo mas Daniel pecinta buku dan sering baca buku dilihat dari tulisan tulisan jelas sekali mas DM memiliki wawasan luas yang tentu bisa di dapati dari buku koleksi tersebut saya juga yakin kalo mas DM pasti memiliki koleksi buku yang banyak dan pasti meruntut sejarah kepemilikannya
salut buat mas DM ah
untung saya kenal jadi boleh dong saya juga belajar sama Om eh mas DM
ah bandung di mana ya Mas jadi pengen maen kesana hahaha
salam hormat saya dan sukses selalu
genthokelirs last blog post..Buah Manis Persaudaraan
trio detektif ? dulu hari2ku juga ditemani oleh mereka lho, jupiter, dkk…
hardy boys, nancy drew, tintin,….wah jadi ingat juga sama NONI, ASTRID, PULUNG..cerita detektif cilik indonesia karya BUNG SMAS. yg terakhir aku sebut itu susah banget carinya, sampai ngubek2 toko buku loakan juga belum nemuin. haha…pengen nostalgia saja sih.
beli buku sampai berjuta2……? waduh !
goenoengs last blog post..ujung sepi
Semoga sukses selalu buat anda
aih, michael jackson….tetep ya niel?
btw, tolong deh Book Fair kelas atas gini mampir ke ibukota propinsi. Aku juga pernah mampir beberapa kali di Indonesian Book Fair ini tapi alangkah nikmatnya kalo juga ada di Surabaya paling tidak…disini Hall Expo gitu2 banyak lho.
Tolong disampaikan IKAPI kalo sempet
Salam
sayang udah habis yah masa nya
Rannys last blog post..My Playlist
wow, benar-benar rakus bin kalap ya mas dm ini. Saya juga selalu beli buku, tapi kalah jauuuuh dibanding mas dm
Zulmasris last blog post..MIGRASI KULTURAL DALAM KARYA SASTRA
DM, dikau rupanya hadir di IBF.
Sayang, aku tidak begitu hapal rupamu. Baru, setelah aku baca majalah Matabaca yang jadi souvenir IBF, aku bau ngeh kalau kau yang itu. Aku duduk di belakang saat kau datang dengan ransel dan berdiri sebentar di acara pembukaan IBF.
Btw, stan Grafindo genjreng banget ya?
Ya nih, kita juga udah bosan menang terus sebagai stan terbaik.
Kayaknya tahun depan pake stan standar aja deh…
Yang penting content-nya kan?
Hery Azwans last blog post..Peluncuran Buku the Blings of My Life
aku kalap kalau di depanku ada seribu lebih angsa lagi transit di dekat perumahan, motretnya puluhan kali ……
Elys Welts last blog post..Kepergok Selingkuh Online !
emh, pastinya, kang! *kedip-kedip ganjen*
tapi alasan serius: mungkin karena banyak sastrawan indonesia berasal dari ranah minang. dan kenapa tahun ini? karena tahun ini salah seorang calon sastrawan hebatnya sedang ngelmu di luar, jadi biar cepat pulang. ahuhuhu…
(sumpah, aku mules banget narsis gini! bukan karena gak pernah, tapi karena yang ini bener-bener faktual dan justifiable!)
*permisi ke toilet, kang, sumpah mules banget!*
upiks last blog post..Sculpture by The Sea
aku malah lebih suka beli ketimbang membacanya
hehe, ini penyakitku
achoeys last blog post..Kesuksesan Persohiblogan
Kok ga ngajak2 oom?
huahhh.. akhirnya aku punya temen yg kalap klo soal beli buku..
aku jg gt mas, waktu di IBF aku juga beli pe 11 buku. klo dah denger yg namannya diskon buku, pengennya semua buku dibeli..
sebisa mungkin setiap bulan beli buku buat nambah2 koleksi, bis cita2nya pengen punya perpus, klo dah punya rumah sendiri ^_^
mimas last blog post..JCC, buku, paku, nyasar, laperrrr
“wani mati wis biasa, wani urip hebat tenan, wani malih iku ngedab-edabi”
membaca komentar-komentar semua tentang buku…saya jadi nangis…(hiks…hiks…) saya termasuk orang yang “gila” dengan buku…..sayang di kota ku ini…jarang ada book fair….sekalinya ada cuma 1 hari..itupun gak komplit… saya harus merogoh kocek lebih jika keinginan baca buku itu dah sampai “keubun-ubun” Bayangkan aja untuk bisa dapetin buku saya harus ke luar kota…….
yeah…tapi bersyukur….masih ada internet…
he…he…he…
Saya ingin sekali kalap dengan buku-buku, hanya saja tak mampu utk memiliki mereka..
Hikss..
HeLL-dAs last blog post..Susah Lupa Salah Orang..
DM…
Ntar kalau kapan-kapan aku ke Bandung…
Aku boleh ke rumahmu, kan?
Aku boleh pinjam buku-bukumu kan?
Aku boleh minta makan siang di rumahmu, kan?
Aku boleh minta air dingin, kan?
eh..
tapi aku boleh pulang ke Surabaya, kan?
tapi aku tetep boleh pulang sebentar ke Surabaya buat minta ijin Papi terus tinggal sama kamu, kan?
Wekekekeke…
(Si Gembul lagi sinting!…. sinting kok tiap hari… hihihihi)
Lalas last blog post..the answered question