penganyamkata.net
current   |   rss

Seberapa Kalap Anda Terhadap Buku?

Published November 13, 2008

Secuil Cerita dari Indonesia Book Fair

Hari ini Anda adalah orang yang sama dengan Anda di lima tahun mendatang, kecuali dua hal: orang-orang di sekeliling Anda dan buku-buku yang Anda baca. (Charles Jones)

Kalian pernah kalap akan sesuatu hal yang kalian sukai? Entah itu hobi, belanja, atau apa saja. Kalap bukan dalam arti marah hingga lupa diri. Tapi lebih pada kalap tak kuat menahan diri atas apa yang betul-betul kita sukai. Ada yang suka otomotif, ada yang suka burung, ada yang suka pakaian, dan macam-macam lainnya.

Aku sendiri bukan tipikal orang yang suka belanja (ya iyalah!). Tapi kalo soal buku, weh, baru aku bisa kalap dalam arti sesungguhnya. Aku masih menganggap lebih baik mengenakan pakaian yang itu-itu saja ketimbang tak bisa beli buku. Masih lebih mending pakai sepatu model lama daripada tak bisa beli buku. Juga masih lebih mending pakai handphone tua, daripada tak bisa belanja buku. Tapi setelah kupikir-pikir, rupanya polanya sama saja: tergantung minat seseorang juga. Aku bisa berlebih-lebihan dalam hal buku. Sama halnya seseorang bisa berlebih-lebihan dalam soal pakaian.

Hari Rabu kemarin, bersama teman-teman kantor dan beberapa orang penerbit lain di Bandung, kami menyerbu Indonesia Book Fair yang diadakan di Jakarta Convention Center. Tiba pukul 11, mengikuti sejenak acara pembukaan, lantas kami berpencar. Kalau sudah di acara book fair semacam itu, aku pribadi memang lebih suka kelayapan seorang diri ketimbang berendeng-rendengan. Karena minat masing-masing orang tentu berbeda. Kita bisa tertahan lama di satu stan, sementara teman lain mungkin tak begitu tertarik dengan stan yang kita diami. Jadi lebih enak memang seorang diri (kecuali sama pacar ya? Hehe).

Setelah memutari seluruh area sekadar melakukan survei terlebih dahulu, barulah tahu apa dulu yang mesti dituju. Karena ini hari pertama pembukaan, dan merupakan jam kerja, tentu suasana masih lengang tak hiruk pikuk. Sehingga membuat leluasa untuk menyibak rak demi rak, buku demi buku, dan senyum manis mbak penjaga stan. Inilah liburan yang sesungghnya bagiku.

Mengambil tema The Heritage of Ranah Minang, Indonesia Book Fair kali ini diikuti lebih dari 100 vendor yang meliputi penerbit, pusat kebudayaan, importir dan distributor, fancy dan stationery, juga lembaga pendidikan. Semua menyajikan produk andalan mereka yang disuguhkan dalam balutan desain dan lay out stan aneka rupa. Dari yang paling sederhana, kreatif, mewah, sampai yang bikin ribet pengunjung.

Ada stan-stan yang didesain begitu mewah. Tapi malah bikin segan pengunjung untuk memasukinya. Suasananya mirip sebuah ruang keluarga yang mewah: rapi, luks, dan nyaman. Tapi mereka lupa: ini pameran buku, buka pameran desain interior.

Ada yang ribet dengan desain yang memukau mata. Tapi lay out buku yang tersaji tak begitu banyak. Sehingga yang terlihat keren hanya stannya, tapi tidak isinya. Rupanya mereka masih menonjolkan context ketimbang content. Ada pula yang menyuguhkan desain minimalis, namun buku-bukunya sungguh menggoda. Sisanya berupa stan yang cukup kreatif, dengan display sederhana, namun buku-buku yang dipajang membuat tak tahan untuk mencomotnya. Akhirnya aku mulai berburu satu demi satu.

Hal menggelikan pertama adalah ketika mengetahui buku yang pertama kali kubeli malah Michael. The Unofficial And Unauthorised Biography of Michael Jackson, karya Duane Harewood. Aku sampai nyengir sendiri: kenapa justru buku itu yang pertama kali kucomot. Apa boleh buat, aku memang mengoleksi biografi Michael Jackson. Dan itu kutemukan satu-satunya di deretan buku impor. Aku tak mau kehilangan. Tapi di stan yang sama aku juga menemukan Brida-nya Paulo Coelho. Sialan juga, karena untuk satu eksemplar itu aku mesti merogoh kocek Rp220 ribu. Weh. Dengan uang segitu mestinya aku bisa mendapatkan banyak buku lokal.

Perburuan pun diteruskan. Karya-karya Leo Tolstoi kusikat. Buku-buku obralan jangan ditanya. Dari mulai novel, filsafat, sejarah, kesusastraan, jurnalisme, sampai komik. Ada sebuah stan yang mampu pula membuat aku kalap: stan Pasar Buku Langka TMII. Di sana aku menemukan puluhan Trio Detektif karya Alfred Hitchcock, penulis dan sutradara yang terkenal dengan sebutan The Master of Supense itu.

Trio Detektif yang bertebaran di situ masih karya dan cetakan lama. Bukan Trio Detektif yang sudah ditulis tidak oleh Alfred Hitchcock. Tentu saja aku kalap. Karena koleksi Trio Detektif masa SD-ku sudah tak lengkap lagi di perpustakaan, raib entah kemana. Hanya menyisakan beberapa pucuk. Dan apa boleh buat, aku memang tumbuh bersama Trio Detektif saat masih kecil.

Selain Trio Detektif, di sana aku pun menemukan Tintin, Asterix, Lucky Luke, juga Smurf. Wow!! Ini surga! Tintin-nya masih terbitan Indira, bukan Gramedia. Aku tak suka Tintin yang sudah diterbitkan oleh GPU. Ukurannya jadi kecil, dengan balon berisi teks italic. Tak nyaman. Tapi kata temanku yang sebaya denganku: “Mungkin karena kita terbiasa dengan Tintin terbitan Indira.” ah, bisa jadi.

Tapi harga-harga buku tua dan bekas di stan itu cukup mahal. Satu judul Trio Detektif dihargai 15 ribu perak. Kutawar Rp10 ribu tetap tak dikasih. Hhh! Seorang pengunjung mendapatkan jawaban harga Rp75 ribu untuk buku Tan Malaka-nya Harry A. Poeze. Weh, mahal juga. Untung aku sudah punya, dan dulu tak semahal itu (Harry A. Poeze akan hadir pula di Indonesia Book Fair ke-28 ini sebagai salah satu pembicara). Namun stan itu berhasil melempar aku kembali ke atmosfir masa kecil.

Punggungku makin condong ke belakang. Tas ransel yang kugendong makin sarat beban buku. Baru kuinsyafi: aku menyesal membawa laptop di ransel yang pada akhirnya toh tak kugunakan sama sekali. Tapi perburuan belum lagi usai. Aku masih terus mengitari stan demi stan seorang diri. Kalau bertemu teman di salah satu stan, cuma mesam-mesem sembari menyindir: “Inget… Inget…” Hehe!

Aku terlonjak girang ketika pada akhirnya menemukan The Celestine Prophecy karya James Redfield di stan Gramedia. Bukan apa-apa, bertahun lamanya aku berburu buku itu. Banyak teman yang merekomendasikan. Bahkan Anand Krishna di bukunya Renungan Harian pun merekomendasikan pembacanya untuk melahap The Celestine Prophecy. Aku tak malu untuk mengakui belum membaca The Celestine Prophecy. Soalnya adalah sulitnya minta ampun mencari buku itu. Sudah banyak toko dan pasar buku kuubek-ubek untuk mendapatkan buku itu, selalu saja nihil. Rupanya hari itu adalah hari keberuntunganku.

Ternyata ada banyak karya James Redfield di situ (juga di toko-toko buku lain selama ini, kecuali The Celestine Prophecy). Tapi kutimbang-timbang, selain The Celestine Prophecy, perlukah karya James Redfield lainnya kuambil juga? Aku SMS seorang teman blogger. Bagaimana pendapatnya tentang Calestine Vision, karena kuingat ia pernah menulis sedang membaca Calestine Vision di ShoutBox blog-ku. Aha! Itu juga salah satu alasan mengapa aku memasang ShoutBox semacam itu. Dengan demikian aku bisa bertanya padanya. Baru kemudian aku berani mengambil keputusan.

Rasanya kini aku mesti makin bijak. Bukan apa-apa, sudah sering kali aku mengambil sesuatu yang sejatinya tak sungguh-sungguh ingin kubaca segera. Pada akhirnya aku tak mau mengikuti arus hanya karena judul tertentu sedang ramai dibaca dan dibicarakan orang. Sementara diri pada dasarnya belum sungguh-sungguh tertarik.

Tak jarang, ada buku-buku tertentu yang ketika kupegang, aku jadi berpikir: “Aku sudah punya belum sih buku ini? Rasanya pernah baca, tapi kok belum punya. Rasanya sudah punya, tapi kok belum baca.” Haha! Itu terjadi ketika aku memegang buku yang berisi esai-esai Iwan Simatupang. Maka makin kemari aku makin tahu: aku hanya ingin membeli buku yang memang ingin kubaca, bukan kumiliki.

Matahari makin menggelincir. Dan perut mulai memanggil-manggil. Kutelpon teman:
“Di mana?”
“Merokok di luar.”
“Oke.”

Maka kita pun santap siang. Panasnya Jakarta, weh, bikin keringat menetes.
“Kok bisa orang hidup di kota sepanas ini…” ujarku sembari melahap perkedel.
“Itu karena kita sejak di mobil pakai AC. Di dalam AC-nya pun sejuk. Jadi begitu keluar ya terasa banget.”
“Tapi kukira masih lebih nyaman tinggal di Bandung, meski sudah panas, tapi ya nggak gerahlah.”
“Itu karena kita sudah terbiasa tinggal di Bandung.”

Weh, kawanku ini selalu bisa menyodorkan kalimat bijak. Waktu bicara soal Tintin yang sudah dibeli Gramedia yang tak begitu kusuka, ia beranggapan “Mungkin karena kita sudah terbiasa dengan Tintin terbitan Indira.” jawabnya menenangkan. Usianya satu tahun di bawahku, tapi kepribadiannya matang.

Usai istirahat dan santap siang, kita pun masuk ke hall lagi.
“Kita pisah lagi?” tanyaku.
“Yup.”
“Hati-hati di jalan.”
“Halah!”

Perburuan masih terus berlanjut. Ransel makin terasa berat di punggung. Tapi rak demi rak itu masih juga belum bosan untuk diubek-ubek. Menjelang pukul 15 tubuh mulai merajuk minta sandaran. Aha! Aku ingat, sore ini ada acara bincang buku Shahnaz Haque di panggung. Berarti aku bisa duduk. Dan aku pun memburu Shahnaz Haque!

Kami duduk paling depan (karena itulah deretan kursi yang masih kosong tersisa). Dua orang MC yang merupakan teman-temanku dari penerbit lain mulai memandu acara. Mengusung buku karya Shahnaz, Keep Smiling. Mengasuh Anak Tanpa Panik. Kalau bukan karena pembicaranya dan juga karena letih, tentu aku melewatkan acara bincang buku dengan tema semacam itu. Namun ternyata acaranya menarik.

Dan Shahnaz Haque itu, oh, betapa cantiknya! Tampak sekali ia perempuan cerdas. Dari cara bicaranya, dari cara berpikirnya, dan dari caranya menanggapi pertanyaan-pertanyaan. Aura kecerdasannya terasa. Tapi, kenapa aku jadi sibuk menulis tentang Shahnaz Haque ya? Haha! Tapi satu hal pasti yang juga diamini oleh kawanku dari acara itu adalah: kita sama-sama cemburu pada Gilang Ramadhan, suami Shahnaz Haque. Hahaha!

Usai Shahnaz, eh, usai acara bincang buku, kami melanjutkan pertempuran kembali.
“Kita pisah lagi?” tanyaku.
“Yup.”
“Take care.”
“Hayah!”

Di stan Medpress, ketika sedang membolak-balik sepucuk buku, tiba-tiba ada yang menyapaku. “Mas Daniel!” sapa pria itu dengan wajah jenaka, tapi air mukanya nampak kebingungan. Rupanya Mas Arifin. Manajer Produksi Medpress Group, Yogyakarta. Kami pun berbincang cukup lama.

Kuperhatikan air mukanya yang masih saja kebingungan. “Tampak seperti kebingungan, Mas. Kenapa?”
“Iya’e. Aku masih belum sreg dengan lay out displaynya. Piye yo…” jawabnya dengan logat Yogya yang kental.

Akhirnya kami jadi ngobrol soal kemungkinan-kemungkinan memajang buku agar tampak menarik.
“Weh, ini sebetulnya yang punya stan siapa sih?!” tukasku tersadar.
“Hehehe.”

Di stan Agromedia aku terlonjak girang ketika mendapati The History of Java karya Thomas Stanford Raffles berdiri menantang. Padahal sudah kukitari beberapa kali stannya. Past ini baru dipajang.

“Seratus delapan puluh delapan ribu. Didiskon jadi seratus empat puluh empat.” bisikku sembari menimbang-nimang buku super tebal itu. Kubuka dompet, “Whaaattt…?!! Tinggal delapan puluh ribu uangku!” gawat ini. Lebih gawat lagi karena di stan tersebut tak bisa debet pakai kartu. Bahkan alat penggesek pun tak ada. Siang hari sempat kutanya pada beberapa orang penjaga stan: di mana letak ATM, tak ada yang tahu. Atau aku mendapatkan jawaban: “Meski keluar komplek.” Weh, repot juga. Sementara The History of Java mulai mengedipkan matanya tanda menggoda. Aih!

Putar otak. Akhirnya ketemu jawabannya. Aku ingat, kami ke acara IBF ini juga bersama Manajer Keuangan kantor. Aha! Kutelpon dia.
“Halo… apa kabar…”
“Hah? Manis bener?”
“Hihihi… sedang di stan mana?”
“Grafindo, Mas. Kenapa?”
“Jangan pergi kemana-mana! Jangan pergi kemana-mana! Tunggu aku di sana! Aku ke situ!” Klik. Telpon pun kututup.

Ketika pada akhirnya bertemu, aku udah cangar-cengir menyapa.
“Aku dapat kesulitan.”
“Hahahaha… berapa?”
“Hahahaha! Sialan! Seperti sudah bisa menebak.”
“Apalagi… pasti kehabisan uang.” ujarnya masih ngakak.

Kuceritakan kendalaku. Ia mengeluarkan dompet. Awalnya aku mau meminjam 500. Tapi kupikir-pikir, itu malah akan makin membuatku tak terkontrol. Sedang yang di ransel saja sudah sedemikian berat. Akhirnya aku hanya memegang 6 lembar 50 ribuan warna biru. Dan aku pun melesat.
“Pulangnya kita ke ATM!” teriakku dari kejauhan.
“Gampang!”

Ya. Aku memang kerap tak bisa mengontrol kalau urusannya sudah buku. Awal bulan lalu, saat hendak membelikan seseorang sepucuk Recto Verso, hanya sepucuk, aku mampir ke Toga Mas di Bandung. Hanya sepucuk. Dan niatku pun cuma sepucuk. Siapa nyana, keluar dari Toga Mas aku malah mendebet hingga 500 ribu perak. Hhh! Padahal niatnya hanya sepucuk! Selalu tak kuat menahan godaan kalau urusannya sudah buku.

Dan kemarin November masih lagi berjalan 12 hari. Digabung dengan acara IBF ini, entah sudah berapa juta kularikan ke buku. Ck-ck!

Tapi aku tak pernah merasa rugi atau menyesal sama sekali. Yang kubeli adalah buku. Sudah barang tentu yang bisa turut mengkonsumsi tidak semata aku. Aku bukan membeli ikat pinggang atau sepatu yang semata aku yang dapat mengenakannya. Ini buku. Aku selalu berpikir: ini investasi jangka panjang. Dan mengkonsumsi buku merupakan asupan leher ke atas. Bukan leher ke bawah.

Bapak dan mamaku suka membaca. Sama halnya dengan adikku. Ia sama maniaknya terhadap buku. Hingga kini aku masih menyimpan beberapa koleksi almarhum bapak yang diberikan padaku. Maka suatu saat kelak, aku pun ingin membentuk keluarga yang doyan membaca. Istri yang lahap membaca dan anak-anak yang haus membaca. Aku ingin rumahku kelak dindingnya penuh dengan buku bacaan. Ke toko buku beramai-ramai sekeluarga. Aih, betapa menyenangkan. Tapi apakah itu karena minatku semata? Egoiskah? Tentu tidak. Hal seperti itu kan bisa dibentuk. Namun itu semua tidak bisa dibentuk dengan kata-kata.

Meski klise, tetap betul kata Shahnaz Haque: “Kita tidak bisa menyuruh anak kita suka membaca kalau ibunya tak suka membaca. Kalau ayahnya tak pernah memegang buku. Kita harus melakukannya.”

Well, aku tak pernah sedikit pun merasa rugi kalau mesti merogoh kocek untuk membeli banyak buku. Karena bukan aku semata yang kan mengkonsumsinya. Untuk hal tersebut aku kagum pada keluarga Gola Gong. Dia salah satu panutanku dalam membentuk keluarga.

Maka matahari mulai pamit pulang. Langit Jakarta mulai gelap. Maka burung mesti kembali ke sarang. Seperti konsep hidup itu sendiri: pulang.

Jam 19 kami tinggalkan Jakarta. Terjebak macet di tol dalam kota. Weh, Jakarta…

Meski Indonesia Book Fair kali ini terkesan biasa saja, tak banyak negara yang ikut ambil bagian, namun di dalam mobil aku tertidur pulas sembari tersenyum senang karena hariku cukup menyenangkan…

13 November 2008 | 09.14 wib

Siapa yang tahan godaannya…

KKG. Minimalis, praktis, manis.

Grafindo. Genjreng.

Menyimpan harta karun masa silam.

Motonya boleh juga: “Cari buku apa saja, semua ada di sini”.

Bebas melenggang. Asal jangan ngutang!

Duhai Shahnaz Haque.

Mesti dikomentari apa ya foto ini… Udah ah.