Cinta hanya dapat tumbuh dalam kebebasan. Orang yang sungguh-sungguh mencintai akan mengusahakan kebaikan orang yang dicintai. Untuk mengusahakan itu, yang utama adalah memberikan kebebasan bagi orang yang dicintai (Anthony de Mello).
Setiap bu guru membacakan daftar hadir di depan kelas, ia selalu mengernyitkan dahi ketika tiba untuk menyebutkan nama Pradnya. Ia selau bingung antara menggunakan intonasi bertanya apakah Pradnya hadir atau intonasi bertanya Pradnya itu anak siapa?
“Pradnya Putri Sesiapa…”
“Saya, Bu…” jawab Pradnya lantang sembari mengangkat tangan dari bangku kelas 1 SD.
Entah bagaimana awalnya, mama Pradnya memberi nama seperti itu: Pradnya Putri Sesiapa.
Setiap pulang dari sekolah, Pradnya berlari-lari menubruk mamanya, dan bertanya:
“Mama, Pradnya putri siapa?”
Bak disambar ribuan petir yang mencelat dari langit ketika mendengar anaknya bertanya seperti itu untuk pertama kalinya. Tapi mama cukup pintar menguasai keadaan hati.
“Hei… tentu saja putri mama, Sayang.” jawab mama tersenyum sembari mencubit hidung Pradnya. “Kenapa bertanya seperti itu?”
“Habis setiap pagi bu guru selalu bertanya begitu…”
“Bu guru?”
“Iya, waktu membacakan daftar hadir anak-anak di depan kelas.”
“Oh… Itu bu guru bukan bertanya, Sayang… Ia memanggil namamu.”
“Jadi Pradnya putri mama?”
“Tentu saja…”
“Putri papa juga?”
“Ah, iya…”
“Aku sayang Mama…” dan kedua manusia itu pun berpelukan.
Dulu suaminya menyerahkan segala nama yang dipilih oleh istrinya bagi anak mereka. Maka terpilihlah nama itu. Nama yang telah lama mama rancang sejak kali pertama mengetahui dirinya: positif hamil.
Pradnya putih, mungil, dan cantik. Tak seperti papanya yang berkulit gelap. Mungkin kulit putih dan cantiknya Pradnya merupakan turunan dari mama. Tapi bagaimana pun Pradnya, sejoli itu sudah tak ambil pusing lagi soal nama apalagi warna kulit. Mereka sudah merasa bahagia bahwa mereka telah lagi mempunyai anak.
Maka ketika Pradnya mulai tumbuh lincah dan cerdas, sejoli itu merasa betapa lengkap hidup mereka. Namun satu hal, di balik kecantikan Pradnya, terkadang mama tersenyum bahagia sembari menitikkan air mata…
Olala!
Betul. Tak ada yang tahu kalau mama kerap menitikkan air mata jika memandangi Pradnya. Terkadang di malam-malam yang sunyi, mama kerap terbangun, memandangi langit-langit kamar, menatap wajah suaminya yang terlelap di sebelahnya. Kalau sudah seperti itu, ia akan turun dari ranjang, bersijingkat ke kamar Pradnya: memperhatikan putri cantiknya, mengecupnya dan mendekapnya begitu erat. Seperti melepaskan kerinduan akan suatu hal.
Mama ingat sekitar enam tahun silam. Ketika mama dinyatakan positif hamil oleh dokter. Ia tahu betul, anak siapa yang sedang ia kandung. Orang pertama yang ia kabari tentang kehamilannya bukanlah suaminya. Tetapi: Bara.
“Aku positif, Ra.” bisiknya di telpon.
“Kamu?!”
“Ya.”
“Kamu hamil?!”
“Iya.”
“Kamu punya anak?!”
“Iya, Bara…”
“Waaahhh…” Bara masih saja tertawa-tawa riang.
“Bara,”
“Ya?”
“Ini anakmu…”
“What?!!”
“Ini anakmu, Bara. Anak kamu dan aku. Bukan anak suamiku.”
“God…!!!”
“Kamu tau sendiri kan sejak bulan apa suamiku dinas luar kota.”
“God… betul juga!”
“Ini anak kita, Ra.”
“Kamu yakin?”
“Sangat yakin.”
“Jadi?”
“Aku akan membesarkannya.”
“Tapi,”
“Bukankah ini yang kuinginkan, Ra, memiliki anak darimu.”
“Iya, tapi bagaimana dengan suamimu? Pernikahanmu? Aku mau bertangung jawab. Dia anakku.”
“Ra, please… terlalu cepat untuk mengambil keputusan. Tolong mengerti, biar semua berjalan normal dulu.”
“Tapi, ya Tuhan…”
“Cukup kita yang tahu, Ra. Itu tetap anakmu. Tak kunafikan. Tapi tolong mengerti posisiku.”
“Ras, aduh. Ini dilema. Aku wajib bertangung jawab.”
“Biar kubesarkan, Ra. Aku menginginkannya. Ini bukti nyata aku mencintaimu. Sampai kapan pun. Karena ada anak di antara kita.”
“Duh, Ras…”
Begitulah. Dan mama berharap, suatu hari nanti ia akan mempertemukan Pradnya pada Bara, papanya yang sesungguhnya. Tapi ia tak tahu kapan waktu itu akan tiba. Mungkinkah?
Mama ingin mengajak Pradnya berlibur ke rumah nenek. Hanya berdua. Di kota itu akan ia ajak Pradnya ke sebuah kafe. Sebuah kafe yang dulu selalu dijadikan tempat bertemu antara mama dengan kekasih sejatinya, Bara.
Mama membayangkan sore itu Bara sudah tampak duduk di sana. Lelaki itu tampak gelisah. Bagaimana tidak gelisah, karena ini merupakan pertemuan pertama antara dirinya dengan Pradnya, anaknya. Selama ini ia hanya bisa melihat kecantikan Pradnya dari foto yang dikirimkan mama melalui e-mail. Kini ia akan betul-betul memeluknya. Memeluk anaknya.
Tak lama Pradnya dan mama pun muncul. Betapa degup jantung Bara berdentang-dentang demi menyaksikan gadis mungil dengan rambut ekor kuda. “Cantik sekali anakku.” bisik Bara terpana. Jantungnya masih saja bergemuruh tak karuan.
“Halo…” sapa Raras, mama Pradnya.
“Hai!” balas Bara.
“Halo Oom…” sapa Pradnya tersenyum riang.
Olala! Anakku! Anakku! Duh, kenapa anakku justru memanggilku dengan sebutan Oom. Ia mestinya memanggilku papa. Ya, papa.
Bara berlutut di depan Pradnya. Tersenyum, meraih pipi Pradnya dan membelai rambutnya. “Halo… Kamu cantik sekali. Siapa namamu?”
“Pradnya, Oom. Pradnya Putri Sesiapa…”
Kau putriku, Pradnya, ucap Bara dalam hati. Ia masih memegangi pipi Pradnya yang mungil. Mengusapnya dengan lembut. Nyata sekali kerinduan dan rasa sayang Bara pada Pradnya. Raras dapat menangkap itu. Bara kemudian melirik Raras. Tersenyum kepadanya. Mata Raras sudah berkaca-kaca.
Tak lama ketiganya tampak duduk berbicang sembari menyeruput es krim. Lantas Pradnya sudah duduk di pangkuan Bara sembari menikmati es krim kesukaanya. Mereka tampak akrab. Seperti seharunya antara bapak dan anak, Sesuatu yang tak pernah Raras lihat antara Pradnya dan suaminya.
“Mama, Mama kenapa menangis? Mama kenapa, Mama?”
“Nggak pa-pa, Sayang.”
Tapi mama tersadar, pertemuan itu tak pernah terjadi. Di balik kebahagiaan mama memiliki putri cantik, ia selalu menitikkan air mata.
Hingga Pradnya duduk di kelas SD, setiap pagi gurunya selalu menyebut namanya dari depan kelas:
“Pradnya Putri Sesiapa…”
“Saya, Bu…”
* * *
17 November 2008 | 07.47 wib




Ketua panitia ntuk cari maknya pradnya? nggak ah. mending panitia nikah mas dm aja.
Zulmasris last blog post..MENUNGGU WAKTU
ada gairah yang mencelat, ada rasa yang menyayat
Pradnya, Maya, Nesia, atau sesiapa pun dia
sesuatu yang membuat trenyuh
dan membuat kita merasa galau
salam kenal mas….
mikekonos last blog post..Weekend with Lala
btw, blogku pindah judul dan alamat mas
JelajahiDuniaEly http://duniaely.wordpress.coms last blog post..Seputih Salju ….
Menikmati sembari gimana gitu he he
emank kalau kita ngebahas cinta enggak ada habisnya yah
kasihan tuh suami asli. kalau begitu kenapa tidak menikah aja dengan bara? huhh… jadi terbawa emosi nih. ehehehe
pradnya, putri papa dan mama
duhh.. muelas mas
pertanyaan saya seperti yang lain.
kenapa tidak menikah dg Bara? APakah cinta mereka terbentuk setelah mama-nya Pradnya menikah atau jauh sebelum itu?
wah jadi penasaran. DM harus tanggung jawab nih.
wahyus last blog post..Barrack Obama Indonesia