Break of Dawn
Published November 24, 2008
Seekor burung hantu yang bijaksana duduk di sebatang dahan. Semakin banyak ia melihat, semakin sedikit ia berbicara. Semakin sedikit ia berbicara, semakin banyak ia mendengar. Mangapa kita tidak seperti burung hantu yang bijaksana itu? (Edward Hersey Richards)
Ternyata seminggu sakit membuat perubahan dalam pola hidup. Kalian pernah merasakannya? Ya, nyaris seminggu tak masuk kantor memang bukan berarti tak melongok pekerjaan kantor sama sekali. Meski di rumah, telpon dan internet melulu berisi urusan kerjaan. Tapi yang menarik, ada perubahan dalam pola keseharian.
Yang biasanya makan kalau inget saja, kini makan sehari jadi 3 kali (Mewah itu! Mewah banget itu! Hehe). Yang biasanya minum air putih kalau haus saja, kini terus-terusan menkonsumsi air putuh melulu. Yang biasanya emoh minum susu, kini mau nggak mau minum susu (biar cepet sembuh katanya!). Yang biasanya tidur setelah Subuh, kini jam 10 malam tubuh sudah minta dibaringkan. Dan yang menarik, biasanya di jari tengah dan jempol kiri selalu terdapat lingkaran kuning bekas nikotin, kini malah hilang sama sekali. Rupanya itu karena absen merokok selama seminggu. Wah-wah…
Sakit semacam ini memang bukan sakit parah. Obatnya pun hanya satu: istirahat total! Meski di ranjang bukan berarti diam tanpa acara. Apalagi kalau tidak memboyong setumpuk buku dan mengusung laptop ke tempat tidur. Tapi kantuk cepat sekali hadir tanpa permisi.
Hal paling mewah yang dapat kurasakan kembali adalah mendengarkan lagi ceceritan burung. Burung? Yup. Aku menulis ini karena terinspirasi membaca tulisan Mbak Ely di blog-nya yang bercerita soal burung-burung yang mampir di depan dapurnya.
Di depan jendela kamarku hingga ke teras depan ruang kerja, kalau pagi pukul 5 atau 6, ada puluhan burung yang cerewet memulai hari. Entah apa yang mereka cereweti. Mungkin membangunkan tidur yang punya rumah. Tapi bahwa rumahku dijadikan tempat bagi burung-burung dalam memulai hari sungguh menyenangkan.
Mereka akan ribut setengah mati. Herannya tidak demikian dengan rumah tetangga. Mungkin karena posisi kamar dan ruang kerjaku di lantai 2, sementara samping rumah merupakan jalan turun, sehingga dari bawah seolah-olah rumah itu berlantai 3. Pada kenyataannya memang demikian. Dari bawah akan tersusun berupa garasi di lantai 1, gudang di lantai 2, dan ruang kerja dan perpustakaan di lantai 3. Sehingga posisinya memang tinggi sekali. Mungkin itu kenapa burung-burung menjadikan teras ruang kerjaku sebagai warung kopi di pagi hari.
Suara burung memang merupakan kemewahan tersendiri bagiku. Kalau di tengah-tengah kota ada kudengar samar-samar suara burung, aku pasti mencari asal suaranya. Berarti ada taman dan pepohonan di sekitar situ. Dan aku bersyukur, berarti pemerintah kota tidak tamak seutuhnya dengan menjadikan ruang terbuka melulu sebagai bangunan. Begitu pun kalau ada suara burung bagus di antara komplek perumahan, pasti dahiku pengernyit mencari asal suara. Meski miris juga: ada suara burung bagus, tapi yang mengeluarkan suara dikerangkeng sedemikian rupa.
Ya, lama sekali aku tidak mendengar cerewetnya burung-burung di depan jendela kamarku itu. Mau mendengarkan bagaimana, setiap hari aku selalu tidur sesudah Subuh. Tepat di saat burung-burung itu melek mata. Dan kini aku mulai kembali menyantap kecerewetan mereka di setiap pagi. Karena tidur lekas membuat bangun lebih lekas pula.
Kalau sudah seperti itu, acara setelah Subuh adalah: beranjak ke ruang kerja, buka komputer, menyeduh teh panas, dan bakar ro… eh, nggak jadi ding. Hehe!
Yang jadi pertanyaan adalah: berapa lama aku bisa bertahan seperti ini? Jangan-jangan setelah sehat: begadang lagi, tidur Subuh lagi, bakar ro… nggak jadi lagi ah…
Bagaimana kalian memulai hari? Mendengarkan burung cerewet atau mendengarkan istri cerewet? Haha! (becanda!)
24 November 2008 | 20.28 wib
